Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Banjir Memori dan Janji Seorang Dewa
Li Tianming masih kecil. Mungkin baru dua ratus tahun, usia yang masih sangat belia untuk ukuran seorang murid Alam Dewa. Mereka berdua duduk di bawah pohon besar di halaman perguruan, dengan cangkir teh herbal di antara mereka yang sudah lama dingin karena tidak ada yang ingat untuk meminumnya. Li Tianming sedang berlatih membentuk qi di telapak tangannya, lidahnya sedikit terjulur keluar karena konsentrasi, dan Zhao Fei yang duduk di seberangnya harus menahan senyum agar tidak tertawa keras.
"Guru, kenapa Guru tersenyum?" tanya Li Tianming setelah konsentrasinya buyar.
"Tidak ada," kata Zhao Fei. "Lanjutkan."
Li Tianming cemberut, tapi lanjut berlatih. Kali ini wajahnya bahkan lebih serius dari tadi, sampai keningnya berkerut seperti orang tua yang memikirkan hutang. Zhao Fei benar-benar tidak bisa menahan tertawanya kali ini.
Tapi hari ini, langit di Alam Bawah terlihat sangat biru kala Zhao Fei membuka matanya. Merasakan dada tubuh ini yang masih terasa seperti sakit, meski lukanya sudah mulai menutup perlahan berkat sisa qi yang mengalir dari rohnya.
Dia hendak berdiri ketika sesuatu menghantamnya dari dalam lebih buruk dari serangan fisik. Segala memori tentang pemilik asli tubuh ini datang sekaligus, seperti bendungan yang jebol dan melepaskan seluruh isinya tanpa peringatan. Ribuan momen dalam satu waktu, berdesakan masuk ke dalam pikirannya yang sudah terbiasa tenang selama sepuluh ribu tahun.
Anak kecil yang duduk di sudut ruangan saat kakak-kakaknya dipuji. Pemuda yang berdiri di pesta pernikahan saudaranya sambil menunduk karena tidak tahu harus menaruh tangan ke mana. Malam-malam panjang di kamar sempit mendengar ibunya terbatuk-batuk dari balik dinding. Setiap hinaan dan siksaan yang diingat satu per satu, tidak ada yang terlupakan, seperti koleksi luka yang disimpan rapi karena tidak ada tempat lain untuk meletakkannya.
Seketika itu juga, air mata keluar dari sudut matanya.
Zhao Fei tidak menangis. Dia tidak pernah menangis sejak tiga ribu tahun terakhir. Tapi tubuh ini menangis untuk pemiliknya, dan dia tidak bisa menghentikannya. Air mata mengalir bukan dari dadanya, melainkan dari ingatan yang bukan miliknya, dari kehidupan yang bukan kehidupannya, dari rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan sendiri tapi entah mengapa terasa sangat nyata.
Dia hanya duduk di sana, membiarkan tubuh ini melakukan apa yang perlu dilakukannya.
Kau hidup dalam kegelapan yang cukup panjang, pikirnya untuk arwah yang sudah pergi. Dan tidak ada satu pun yang mengulurkan tangan untukmu.
Ketika air mata berhenti, pikirannya kembali jernih seperti biasa.
Zhao Fei mulai menyortir memori-memori itu dengan metodis. Dari sekian ribu kenangan yang masuk, dia mencari apa yang paling penting. Kemudian di antara semua kesakitan yang tersimpan di sana, ada tiga hal yang berulang kali muncul seperti bintang dalam kegelapan.
Menyembuhkan Ibunya. Membuat Ibunya bangga. Menemukan seseorang wanita yang mau menerimanya.
Tiga keinginan yang sederhana sekali, terlalu sederhana untuk seorang dewa yang terbiasa menginginkan hal-hal sebesar langit. Tapi justru karena kesederhanaannya itulah sesuatu di dalam dada Zhao Fei bergerak dengan cara yang tidak biasa.
Baiklah, putusnya. Aku akan menyelesaikan semua itu untukmu.
Alih-alih berdiam terlalu lama dengan perasaan itu, dia langsung beralih ke hal yang lebih mendesak seperti kondisi Ming Lianhua atau ibunya. Lalu dari memori pemilik tubuh yang asli, dia mengumpulkan semua informasi tentang penyakit wanita itu. Gejalanya dia bandingkan dengan pengetahuan medis yang dikumpulkannya selama ribuan tahun di Alam Dewa.
Hasilnya cukup untuk membuat dirinya menghela napas santai.
Penyakit itu bisa disembuhkan. Di Alam Dewa, cukup dengan beberapa lembar daun Darah Naga Abadi yang direndam dalam air embun pagi selama tujuh hari. Mudah sekali, bahkan untuk murid tingkat pemula. Sayangnya, tanaman itu tidak tumbuh di dunia ini. Dia perlu mencari alternatif, entah itu resep lain atau tabib yang benar-benar paham dengan kondisi seperti ini. Bagaimanapun, ada jalan. Selalu ada jalan.
Yang menjadi pertanyaan lain adalah kekuatannya sendiri.
Dia mencoba memanggil petir birunya lagi. Mengalirkan kesadaran ke dalam titik-titik meridian di tubuh ini, mencari jalur qi yang seharusnya ada, namun malah tidak seperti yang dia pikirkan.
Lebih tepatnya, ada, tapi sangat sedikit. Seperti mencoba mengisi lautan dengan setetes embun, hasilnya tidak ada yang bisa dilihat dengan mata biasa. Tubuh ini belum pernah dikultivasi sama sekali. Meridiannya seperti jalan setapak yang sudah lama tidak dilalui, tertutup semak belukar dari segala sisi.
Rupanya Sang Pencipta merasa aku terlalu sombong, pikirnya dengan datar yang bahkan dalam kepalanya sendiri terdengar seperti sindiran. Maka diberikan lah kehidupan kedua yang dimulai dari nol.
Lantas dia berdiri. Tubuh ini masih sakit, tapi cukup untuk bergerak.
Seekor rusa besar di depannya tidak akan pergi ke mana-mana setelah dia lempar dengan bambu yang telah dia runcingkan dengan pisau yang sejak awal memang dia bawa ke sini.
Zhao Fei menaksir beratnya sebentar, lalu mengangkatnya ke pundak dengan gerakan yang lebih mudah dari yang dia perkirakan, karena ternyata tubuh ini, meski kurus, cukup terbiasa dengan kerja keras. Dari memori pemilik aslinya, dia mengikuti jalur sungai kecil di balik pohon-pohon besar itu. Beberapa menit kemudian, sekarung ikan sudah menemaninya. Dia juga memetik beberapa tanaman herbal di sepanjang jalan yang dia kenali dari pengetahuannya sendiri, bukan dari memori pemilik asli.
Perjalanan kembali ke Klan Zhao tidak jauh. Tapi cukup panjang untuk dia habiskan dalam keheningan pikirannya sendiri, membuat daftar hal-hal yang perlu dilakukan, menyusun prioritas satu per satu. Kultivasi. Obat untuk ibunya. Masuk sekte. Menjadi kuat.
Dan suatu hari nanti, kembali ke Alam Dewa.
Teras rumah keluarga Zhao ramai dengan suara orang tertawa.
Zhao Kun dan Zhao Jie duduk berhadapan dengan kartu di tangan, wajah mereka memerah karena mabuk. Istri Zhao Kun duduk di samping suaminya sambil mengipasi dengan malas. Sementara istri Zhao Jie menuangkan minuman ke cangkir yang sudah hampir kosong.
Ketika Zhao Fei muncul dari kegelapan dengan rusa besar di pundaknya, semua suara berhenti.
Zhao Kun memandangnya dengan ekspresi yang berubah dari terkejut menjadi tidak senang dalam waktu yang sangat singkat. Zhao Jie menelan ludah. Istri Zhao Kun, yang paling cepat menguasai diri, langsung memasang senyum paling manisnya.
"Adik ipar pulang," katanya dengan kehangatan yang terlalu sempurna. "Wah, membawa banyak sekali. Pasti capek sekali ya, sudah susah payah ke hutan."
Matanya menatap rusa itu seperti seseorang yang sudah menghitung berapa porsi yang bisa dibagi.
Sementara Zhao Fei berhenti di depan teras. Matanya menatap dua saudara yang menyuruhnya pergi ke tempat kematiannya dengan senyuman yang sama seperti tadi, hanya dengan wajah yang berbeda.
"Tentu saja untuk semua orang," kata istri Zhao Kun lagi. "Cukup untuk satu keluarga kan?"
Zhao Fei hampir mengatakan apa yang benar-benar ada di pikirannya. Tapi dia ingat bahwa tubuh ini masih level nol. Dia masih butuh atap ini untuk beberapa waktu. Perang tidak dimenangkan oleh orang yang menyerang terlalu cepat sebelum siap.
"Aku yang akan memasak," katanya, meski suaranya datar. "Kalian tentu saja juga akan kebagian."
Zhao Kun mendengus. Dia melempar kartu di tangannya ke meja dengan lebih keras dari yang diperlukan. "Bisa berbicara lebih sopan sedikit? Ayo cepat masak! Jangan sampai gosong seperti biasanya."
Zhao Jie ikut tertawa, wajahnya masih kemerahan karena mabuk.
Adapun Zhao Fei masuk ke dalam tanpa menambahkan apa pun.
Kemudian saat di dapur, tangannya bergerak dengan presisi yang tidak pernah dimiliki pemilik asli tubuh ini.
Pengetahuan tentang rempah dan teknik memasak ternyata tidak berbeda jauh antara Alam Dewa dengan dunia ini. Api yang tepat. Waktu yang tepat. Bumbu yang tidak berlebihan tapi tidak juga kurang. Hasilnya adalah aroma yang bahkan membuat istri Zhao Kun menengok dua kali dari luar pintu.
Setelah semua piring tersaji untuk seluruh rumah, Zhao Fei mengambil satu porsi terbaik dan membawanya ke kamar di ujung koridor.
Ming Lianhua duduk di ranjangnya dengan punggung bersandar pada dinding. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, tapi matanya menyala begitu melihat anak bungsunya masuk membawa makanan.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya segera. "Tidak ada yang melukaimu di hutan?"
"Semuanya baik-baik saja, Ibu," kata Zhao Fei. Dia duduk di sisi ranjang dan mulai menyendok makanan.
"Tapi kau terlihat berbeda."
Zhao Fei berhenti saat matanya bertemu dengan mata wanita yang sudah menjadi satu-satunya cahaya dalam kehidupan pemuda itu selama dua puluh tahun. Ada sesuatu yang dia rasakan ketika bertatapan dengan wanita ini, sesuatu yang bukan miliknya tapi tetap terasa seperti miliknya.
"Ibu, tentu saja tidak ada yang berubah dari anakmu ini," katanya pelan. "Hanya saja... sekarang aku terasa lebih yakin dalam mengambil keputusan."
Dia menyuapi ibunya dengan sabar. Ming Lianhua makan dengan perlahan tapi matanya terus memandang anaknya dengan pertanyaan yang tidak diucapkan.
Ketika piring sudah setengah kosong, Zhao Fei meletakkan sendok dan berkata dengan tenang, "Ibu pasti akan sembuh seperti dulu bahkan lebih baik. Aku berjanji."
Ming Lianhua sampai dibuat bisu olehnya. Dua puluh tahun, tidak pernah satu kali pun dia mendengar anaknya berbicara dengan nada seperti itu. Sebuah pernyataan yang terdengar seperti keputusan yang sudah dibuat dan tidak bisa dibatalkan.
"Aku juga akan masuk Sekte Garuda Putih," lanjutnya. "Dan aku akan berhasil masuk."
"Nak..." Ming Lianhua mengangkat tangannya yang kurus dan menyentuh pipi anaknya dengan lembut. "Sekte itu sangat sulit. Banyak orang berbakat yang gagal di seleksinya."
"Aku tahu." Zhao Fei tidak mengelak dari sentuhan itu. "Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak akan gagal."
Ada jeda panjang di antara mereka, sebelum Ming Lianhua merangkul anaknya. Pelukannya itu ringan karena tubuhnya memang tidak punya banyak tenaga, tapi Zhao Fei diam saja di sana, membiarkan tubuh ini merasakan apa yang sudah lama tidak dirasakannya.
Dalam hati, dalam bagian terdalam kesadarannya yang tenang itu, dia mengulang janjinya sekali lagi, kali ini bukan untuk Ming Lianhua, melainkan untuk arwah pemuda yang memberikan tubuh ini padanya.
Semua yang kau impikan akan terwujud. Itu janji seorang dewa.