Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Pagi itu, suasana mendadak canggung sebab Elvara dan Ayasha tidak kembali ke kamar masing-masing setelah mengambil minum semalam.
"Sore ini bersiaplah!" suara rendah Rayandra terdengar dingin di ruang makan itu.
"Bersiap? Kemana?" tanya Elvara dengan melirik sedikit.
"Ada kunjungan ke Dokter sore ini, dan kamu harus bersiap!" jelasnya.
"Dokter? Siapa yang sakit? Kamu?" tunjuk Elvara dengan rasa penasaran.
Rayandra menarik napas pelan, meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang, lalu tatapannya beralih pada Elvara yang menunggu jawaban.
"Apa?" tanya Elvara saat Rayandra tak kunjung bicara.
"Dokter itu untuk kamu," jawaban Rayandra membuat Elvara terkejut.
"Aku? Maksudnya bagaimana?" tanyanya tak paham.
"Kamu rutin melakukan pemeriksaan tahunan itu yang sering kamu katakan padaku dan yang sering kali juga kamu jadikan alasan menganggap aku tak peka," balasanya dengan suara datar.
DEGH!
Bibir Elvara terkatup rapat, dia meringis dan merutuk pelan atas kelakuan Elvara asli yang merepotkan.
"Bahkan kamu juga meminta aku mengingat tentang perawatan tubuh kamu ke salon, dan dokter kulit, apa kamu hanya berpura-pura lupa agar aku mengingat semuanya?" imbuhnya dengan penuh curiga.
"Siapa juga yang minta di ingatkan? Kalau kamu lupa ya sudah, lagipula itu bukan hal penting," Jawabnya acuh.
Rayandra memicing penuh curiga dengan tatapan datar yang nyaris tak percaya atas jawaban yang ia dengar pagi ini.
"Pergilah ke Dokter, aku akan jemput nanti sebab Mahatara tidak mau menerima wanita sakit-sakitan!" balasnya telak.
DEGH!
"APA MAKSUD MU?" teriak Elvara tak Terima sedang Ayasha hanya terkikik pelan.
"Kamu juga, pergilah ke rumah sakit yang sama agar bisa di periksa sama-sama!" Ardhanaya ikut-ikutan dan itu membuat Ayasha mendesis sinis.
Dasar Fomo! Itulah kata yang ingin Ayasha lontarkan tapi kembali ia telan sebab takut Ardhanaya bertanya tentang arti Fomo itu.
Pagi ini nenek Mahira tak turun ke lantai bawah, wanita paruh baya itu sedang istirahat di kamar sebab kata Ayunda sedang tak enak badan.
"Mbak," panggil Elvara pada sosok Ayunda yang berjalan melewati ruang makan.
"Iya, Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ayunda, wajahnya ramah dengan senyum tulus. Namun, dibalik semua itu jelas Elvara dan Ayasha tahu ada niat buruk yang berbahaya.
"Bagaimana keadaan nenek?" tanya Elvara.
"Nyonya Tua sudah jauh lebih baik, Non," jawabnya dengan ramah.
"Bisa kami ketemu?" Ayasha bertanya dengan tak sabaran.
"Maaf, Nyonya Tua sedang sakit dan beliau meminta untuk tidak ada yang mengganggu!" jelasnya dengan pelan.
Elvara dan Ayasha mengangguk, dia membiarkan Ayunda pergi dari sana meninggalkan keduanya di ruang makan yang sunyi.
"Jadi apa menurut mu Ayunda itu jujur? Aku takut Nenek kenapa-napa," bisik Ayasha takut.
"Dia tidak akan berani sekarang, tapi entah jika nanti," jelas Elvara dengan nada yakin setengah ragu.
Ayasha harus percaya dia yakin sebab di cerita itu juga Ayunda tidak berani menyakiti Mahira walaupun kerap kali berada di sisi wanita itu.
Hanya saja entah bagaimana kisah selanjutnya Ayasha sedikit melupakan plot twist dalam novel yang ia buat itu.
...****************...
Sedangkan di sisi lain.
"Kamu bilang akan mendapatkan berkas itu, lalu mana buktinya?" bentak Devon dengan nada tinggi pada Calista.
"Sabar, aku juga sedang berusaha," jawabnya dengan nada marah.
"Kapan? Benda itu harus sudah ada sebelum lelang, dan aku butuh itu sekarang," jelasnya marah.
"Beri aku kembali waktu, kamu tahu butuh waktu mendekati Rayandra kembali sebab sudah lama aku meninggalkan pria itu," jelasnya dengan menurunkan suaranya.
Devon mendengus sinis, dia akhirnya hanya bisa setuju sebab sudah sulit memerintah Elvara kembali untuk melakukan hal itu.
...****************...
Di sebuah unit apartemen mewah yang megah, Melinda Melati wanita paruh baya dengan pesona yang tak lekang oleh waktu duduk termenung di sofa ruang tamu.
Paras cantiknya masih memikat, menutupi obsesi yang selama ini tersembunyi di balik senyum manisnya.
Ia adalah ibu kandung Ayasha Calindra Adinata, sekaligus pemilik usaha bisnis kosmetik terkenal hasil kerja kerasnya sendiri.
Namun malam itu, pikirannya dipenuhi oleh satu obsesi merebut kembali mantan suaminya, Hardian, yang kini berada dalam genggaman adiknya sendiri.
Dadanya bergemuruh oleh rasa cemburu dan dendam yang mengeram. “Apa yang harus aku lakukan agar bisa merebut Hardian kembali?” gumamnya pelan, jari-jarinya mengetuk dagu dengan gelisah.
Sesaat kemudian, bayangan licik menyambar benaknya seperti petir di malam gelap. Senyum miring merekah di bibir Melinda, penuh rencana terselubung.
“Ah... aku tahu caranya. Aku akan menggunakan Ayasha sebagai senjata untuk bisa kembali masuk ke keluarga Adinata.”
Melinda, yang dulu memilih meninggalkan suami dan putrinya demi ambisi karir yang membara, kini bermimpi untuk kembali masuk ke dalam rumah yang pernah ia tinggalkan rumah yang sudah hancur berantakan oleh keputusannya sendiri.
Tanpa sadar, ia telah menancapkan belati tajam di hati Haidar dan anak yang dicintainya, meninggalkan mereka terluka dan patah hati.
Namun kini, keberanian dan obsesi menggelora dalam dada Melinda. Dia yakin, keluarga yang pernah ia rusak itu bisa ia rebut kembali.
Nindi, adik kandungnya, yang dulu menggantikan posisinya, telah menjahit luka dan membawa kebahagiaan yang kini membuat Melinda semakin terpacu.
Tapi tekad Melinda tak luntur. “Toh, Nindi tak bisa memberinya keturunan. Aku yang akan membawa Harapan baru untuk Mas Haidar. Aku pasti bisa merebut kembali apa yang dulu hilang.” Suaranya dingin, penuh keyakinan, seperti badai yang siap menghancurkan apapun yang menghalangi jalannya.
Di balik senyum itu, tersimpan niat membara untuk membalikkan nasib dan menuntut balas waktu yang telah terbuang.
Melinda menatap layar ponselnya dengan jantung berdebar, lalu dengan tangan gemetar ia menekan nama putrinya, Ayasha.
Panggilan pertama, kedua hening tanpa jawaban. Hingga panggilan ketiga akhirnya diangkat, suara Ayasha yang pelan terdengar dari seberang sana.
“Halo...” suara itu seperti melewati jarak yang membentang antara mereka.
Melinda tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan semangatnya, “Halo sayang, bagaimana kabarmu?”
Di ujung sana, Ayasha terdengar ragu. “Yasha baik, Mi. Ada apa, kok tiba-tiba mami nelpon?” Kata-katanya dipenuhi kebingungan. Ia hampir lupa kapan terakhir kali sang ibu menghubunginya.
Melinda menarik napas dalam-dalam, suaranya bergetar sedikit, “Kok ngomongnya gitu, apa mami nggak boleh telepon putri kandungnya sendiri?” Nada sedih yang dipaksakan membuat Ayasha seketika tersentak.
“Bu-bukan begitu, Mi... Aku cuma... ya, memang lama banget nggak denger kabar dari mami. Makanya aku kaget,” jawab Ayasha tergagap, merasa bersalah sekaligus canggung.
Melinda merasakan retakan kecil di hatinya, “Mami... rindu, sayang. Kapan kita bisa bertemu? Aku ingin melihatmu, mendengar suaramu lebih lama,” bisiknya penuh harap.
Namun jawaban Ayasha menusuk seperti duri, “Bukannya mami yang selalu nggak punya waktu buat aku?” Mendengar itu, air mata melinda tanpa sadar menetes.
Melinda terdiam sesaat, suaranya sesak saat menjawab, “Sayang... Mami tidak seperti itu... Aku cuma ingin kita dekat lagi...”
" Besok sore aku ada waktu, kita ketemu di Cafe Mentari saja." Ucap Ayasha.
" Baiklah, kalau begitu mami tutup teleponnya ya, I love you putriku." Ucap Melinda.
" Love you mam." Jawab Ayasha.
Setelah itu Melinda mematikan sambungan telepon itu, senyum cerah terpatri di bibirnya. Sekarang kemenangan ada di depan matanya.