Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12:Perjalanan Ke Negara Bai Xue
Keheningan di Vila Teratai Putih selama tiga hari terakhir terasa lebih menyesakkan daripada ledakan energi yang meratakan Distrik Selatan. Di dalam kamar meditasi yang kini dilapisi oleh kerak es setebal tiga inci, Chen Lin duduk mematung laksana patung giok yang tak bernyawa.
Tubuhnya tak ubahnya seperti porselen retak yang dipaksa menyatu kembali oleh lem yang dingin dan menyakitkan.
Setiap embusan napasnya mengeluarkan kabut perak yang langsung membeku di udara, dan setiap detak jantungnya mengirimkan gelombang rasa sakit yang berdenyut dari sumsum tulang belakang hingga ke ujung saraf terkecil.
Raga Marrow Purification Tingkat 1 miliknya telah dipaksa melampaui batas kodrat manusia. Membiarkan jiwa dewi sekelas Lin XingYu memanifestasikan kekuatan Pure Essence Tingkat 8 ke dalam wadah yang belum matang adalah tindakan bunuh diri yang sangat artistik sekaligus mengerikan.
Jika bukan karena Lin XingYu secara aktif menstabilkan meridiannya dengan energi primordial selama tujuh puluh dua jam tanpa henti, Chen Lin mungkin sudah meledak menjadi butiran debu daging di malam pembantaian itu.
Di dalam kesadarannya yang gelap, Chen Lin bisa merasakan aliran energi Lin XingYu yang merambat pelan, menjahit kembali setiap retakan mikro pada tulang-tulangnya yang perak.
Itu adalah proses yang lambat dan menyiksa, seolah-olah ribuan semut api sedang menggerogoti sumsumnya sementara air es disiramkan ke atas luka yang terbuka. Chen Lin tidak mengeluh, ia menerima rasa sakit itu sebagai hukuman atas kelemahannya sendiri.
Ia menyadari bahwa kemenangan besar di Distrik Selatan hanyalah sebuah ilusi yang dipinjam dari entitas lain. Tanpa Lin XingYu, ia hanyalah mangsa di hadapan Qin Tian.
Kesadaran ini menusuk egonya lebih dalam daripada luka fisik mana pun. Ia adalah seorang kultivator yang mengejar puncak langit, namun ia justru merasa seperti pengemis yang memamerkan harta curian.
"Berhenti merintih di dalam hatimu, Chen Lin. Rasa sakit ini adalah pengingat terbaik bahwa kau masih hidup dan masih sangat lemah. Jika bukan karena aku memaksakan energi asalku untuk menambal raga rongsokanmu ini, kau sudah menjadi sejarah di hari ketiga kemarin," suara Lin XingYu bergema di dalam rongga tengkoraknya, membawa nada dingin yang tak menyisakan ruang untuk belas kasihan.
Chen Lin membuka matanya perlahan, memperlihatkan pupil perak yang tampak lebih redup dari biasanya. Ia memuntahkan segumpal darah hitam yang sudah membeku menjadi kristal sebelum sempat menyentuh lantai giok.
Ia menarik napas panjang, merasakan paru-parunya yang seolah baru saja ditempa ulang dari besi es.
"Aku tidak merintih, XingYu. Aku hanya sedang mencerna betapa menjijikkannya rasanya menjadi pecundang yang harus diselamatkan berkali-kali.
Kekuatan tingkat delapan yang kau tunjukkan tempo hari... itu membuatku sadar bahwa Kota Qingchu ini tak lebih dari sebuah kolam dangkal penuh sampah. Aku merasa seperti katak di dalam sumur yang merasa sudah menaklukkan dunia hanya karena berhasil membunuh seekor lalat. Jika aku tetap di sini, membusuk bersama sanjungan klan-klan kecil yang ketakutan itu, aku tidak akan pernah mencapai apa pun. Aku butuh sesuatu yang lebih dari sekadar pemulihan. Aku butuh tempat yang sanggup menghancurkanku berkali-kali agar aku bisa tumbuh menjadi sesuatu yang benar-benar kuat," jawab Chen Lin dengan suara serak yang bergetar.
Lin XingYu muncul di hadapannya, sosok jiwanya tampak transparan dan sedikit memudar, pertanda bahwa ia pun kelelahan setelah tiga hari menyembuhkan Chen Lin.
"Setidaknya kau punya cukup otak untuk menyadari bahwa kau hanyalah anak kecil yang memegang pedang raksasa. Kau tidak mengayunkannya, justru pedang itulah yang menyeretmu jatuh. Jika kau ingin benar-benar memiliki kekuatan itu, kau tidak bisa mencarinya di tempat yang nyaman seperti ini. Di Utara, melampaui pegunungan yang menusuk awan, ada sebuah negeri yang dibalut oleh musim dingin abadi yang disebut Negara Bai Xue. Di sana, energi spiritual tidak mengalir dengan lembut seperti di sini; ia membeku dan tajam. Bagimu yang memiliki Esensi Tulang Rembulan, itu adalah tempat di mana kau bisa ditempa menjadi pedang yang sesungguhnya, atau hancur menjadi serpihan es yang terlupakan."
"Negara Bai Xue? Aku pernah mendengar legenda tentang tempat itu, tempat di mana matahari pun tak sanggup mencairkan saljunya. Apakah di sana aku bisa menemukan cara untuk menstabilkan kekuatanku sendiri tanpa harus selalu bergantung pada manifestasimu yang merusak raga ini?" tanya Chen Lin sambil menatap telapak tangannya yang masih bergetar.
"Di Negara Bai Xue, ada enam sekte utama yang menguasai daratan es tersebut. Mereka memiliki metode kultivasi yang jauh lebih brutal dan efektif untuk pengguna elemen es sepertimu.
Bergabunglah dengan salah satu dari mereka. Tanpa bimbingan manual teknik tingkat tinggi, potensi tulangmu hanya akan menjadi sia-sia. Tapi ingat, Chen Lin, di sana kau bukan siapa-siapa.
Tidak ada yang akan peduli dengan prestasimu meratakan klan kecil di kota antah berantah ini. Jika kau ingin pergi, pergilah malam ini. Jangan biarkan ikatan di kota ini menahan langkahmu, karena hati yang hangat adalah racun bagi es yang murni," jelas Lin XingYu sebelum menghilang kembali ke dalam kalung giok.
Chen Lin berdiri, merasakan sendi-sendinya yang berderak keras seolah-olah engsel tubuhnya sudah berkarat. Ia berjalan menuju jendela, menatap rembulan yang menggantung tinggi di atas Kota Qingchu.
Pikirannya beralih pada sosok Wei Lan, gadis yang selama tiga hari ini setia berjaga di depan pintu kamarnya tanpa tidur dan tanpa makan.
Ia bisa merasakan kecemasan gadis itu merembes melalui celah pintu, sebuah pengabdian yang tulus namun kini terasa seperti beban bagi Chen Lin. Ia tahu bahwa ia tidak bisa membawa Wei Lan bersamanya.
Negara Bai Xue adalah tempat bagi mereka yang sudah mati rasa, dan Wei Lan memiliki hati yang terlalu hangat untuk bertahan di sana. Membawanya hanya akan memberi gadis itu hukuman mati yang lambat di tengah badai salju abadi.
Tengah malam tiba dengan kesunyian yang mencekam. Chen Lin mulai mengemasi kebutuhannya dengan gerakan yang efisien dan tanpa suara.
Ia tidak membawa emas atau permata, ia hanya membawa pedang kayu yang telah menemaninya, beberapa botol esensi sisa, dan tekad yang sudah membatu. Di atas meja kerja yang terbuat dari kayu cendana, ia meletakkan selembar kertas perkamen.
Tangannya sempat ragu sejenak saat menggenggam kuas, namun logika dingin Lin XingYu telah merasuki jiwanya. Ia menuliskan beberapa patah kata, sebuah salam perpisahan yang tak menyisakan ruang untuk harapan palsu.
Ia tahu ini akan menyakitkan, namun bagi Chen Lin, kebencian Wei Lan jauh lebih baik daripada kerinduan yang sia-sia di bawah langit yang berbeda.
Chen Lin keluar melalui jendela, melompati pagar Vila Teratai Putih dengan seringan bulu. Ia berlari menembus kegelapan malam, menghindari patroli penjaga yang kini sedang siaga tinggi pasca runtuhnya Klan Qin.
Ia tidak menoleh ke belakang, bahkan ketika ia melewati gerbang utara kota yang selama ini menjadi batas dunianya. Di depannya terbentang hutan gelap dan pegunungan raksasa yang menanti untuk ditaklukkan.
Langkah kakinya terus melaju, setiap pijakannya di tanah seolah-olah mengukuhkan keputusannya untuk meninggalkan kemanusiaan yang lemah demi kekuatan yang mutlak.
Perjalanan menuju Bai Xue akan memakan waktu berminggu-minggu, menembus wilayah-wilayah tanpa hukum yang penuh dengan monster dan praktisi jahat, namun Chen Lin hanya merasakan kegembiraan yang dingin di dalam dadanya.
Fajar mulai menyingsing di Kota Qingchu, memberikan cahaya pucat pada atap-atap bangunan yang masih diselimuti embun dingin. Wei Lan terbangun dari sandarannya di pintu kayu kamar Chen Lin.
Wajahnya tampak sangat pucat, matanya sembab karena kelelahan, namun ada sedikit senyum harapan saat ia merasa bahwa hari ini mungkin tuannya akan keluar dari meditasi penyembuhan.
Ia telah menyiapkan air hangat dan pakaian bersih, berharap bisa melihat senyum Chen Lin yang langka.
"Tuanku? Apakah kau sudah bangun? Matahari sudah mulai naik, dan aku telah menyiapkan segalanya untukmu," panggil Wei Lan dengan suara serak yang penuh dengan kasih sayang.
Tidak ada jawaban. Hening yang keluar dari dalam kamar itu terasa berbeda dari tiga hari sebelumnya. Tidak ada lagi tekanan energi yang biasanya terpancar dengan kuat.
Jantung Wei Lan berdegup kencang, firasat buruk mulai merayap di punggungnya seperti ribuan jarum es. Dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri mendorong pintu yang selama ini terlarang baginya.
Pintu itu terbuka dengan bunyi derit yang panjang, menyingkapkan kamar yang kosong dan dingin.
Kerak es di dinding mulai mencair, menciptakan tetesan-tetesan air yang terdengar seperti tangisan yang lambat di tengah kesunyian ruangan.
Wei Lan melangkah masuk dengan langkah yang goyah, matanya liar mencari ke setiap sudut ruangan. Ia melihat tempat tidur yang rapi dan sebuah kertas putih yang diletakkan tepat di tengah meja, ditekan oleh sebuah batu giok kecil.
Wei Lan meraih kertas itu, jemarinya yang dingin tak sanggup menahan gemetar yang hebat. Saat matanya membaca tulisan tangan yang kaku dan tajam itu, seluruh dunianya seakan runtuh seketika, hancur berkeping-keping menjadi debu yang tak berarti.
"Wei Lan, aku akan pergi selama beberapa tahun, dan mungkin takdir tidak akan membiarkan kita bertemu lagi dalam kehidupan ini. Jangan mencariku, aku harap kau bisa menjalani hidupmu sendiri dengan damai tanpa bayang-bayangku."
Kertas itu jatuh dari jemari Wei Lan, melayang pelan di udara sebelum mendarat di genangan air es di lantai. Ia berdiri mematung selama beberapa detik, otaknya menolak untuk memproses kenyataan yang begitu pahit.
"Pergi? Selamanya? Tanpa sepatah kata pamit secara langsung? Harapan-harapan yang ia bangun selama tiga hari berjaga di depan pintu itu kini menguap begitu saja, digantikan oleh kekosongan yang menghisap seluruh jiwanya. Tidak... ini tidak mungkin. Tuanku tidak mungkin meninggalkanku seperti ini. Dia berjanji... tidak, dia bahkan tidak pernah berjanji. Aku yang terlalu bodoh untuk percaya bahwa aku memiliki tempat di hatinya," bisik Wei Lan dengan suara yang kecil.
Kesedihan itu kemudian meledak menjadi raungan yang menyayat hati. Wei Lan jatuh berlutut di tengah kamar yang dingin itu, tangannya mencengkeram dadanya sendiri seolah-olah ia sedang mencoba menahan jantungnya agar tidak pecah.
Raungan histerisnya memecah kesunyian Vila Teratai Putih, sebuah suara penuh keputusasaan yang sanggup membuat siapa pun yang mendengarnya merasa merinding.
Ia menangis sejadi-jadinya, air matanya membanjiri pipinya yang pucat, menetes ke lantai yang masih menyimpan jejak dingin Chen Lin. Ia merasa seperti kehilangan separuh jiwanya, sebuah kehilangan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.
Pria yang telah ia sembah sebagai dewa, pria yang menjadi satu-satunya tujuannya untuk menjadi kuat, kini telah mencampakkannya dengan sebaris kalimat yang begitu dingin.
"Kenapa?! Kenapa kau begitu kejam, Chen Lin?! Aku telah memberikan segalanya untukmu! Aku telah membuang martabatku sebagai Nona Besar hanya untuk menjadi pelayanmu! Dan kau pergi begitu saja?! Kau menganggapku apa selama ini?! Sampah yang bisa kau tinggalkan setelah kau bosan?!" teriak Wei Lan di antara isak tangisnya yang tak kunjung berhenti.
Ia mulai memukul-mukul lantai batu dengan tinjunya hingga buku jarinya pecah dan berdarah, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka yang menganga di hatinya.
Ia merangkak menuju tempat tidur, memeluk bantal yang masih memiliki sedikit aroma dingin Chen Lin, dan terus menangis hingga suaranya hilang, hanya menyisakan sedu sedan yang menyedihkan di tengah ruangan yang kian menghangat karena matahari.
Sementara itu, ratusan mil dari perbatasan Qingchu, Chen Lin terus melangkah ke arah Utara dengan kecepatan yang stabil. Ia bisa merasakan perubahan suhu udara yang kian drastis seiring dengan semakin dekatnya ia dengan Pegunungan Giok.
Langit tidak lagi biru cerah, melainkan mulai dipenuhi oleh awan kelabu yang membawa aroma salju pertama. Di dalam dirinya, ia mencoba menutup rapat kenangan tentang air mata Wei Lan yang mungkin sedang mengalir saat ini.
Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa di jalan kultivasi, perasaan hanyalah penghambat yang akan membuat esnya menjadi rapuh.
"Kau benar-benar tidak punya hati, Chen Lin. Aku menyuruhmu untuk tidak membawanya, tapi kau justru menghancurkan mentalnya secara total. Kau tahu bahwa bagi gadis itu, kau adalah dunianya. Dan kau baru saja menghancurkan dunia itu tanpa ampun," suara Lin XingYu terdengar sedikit mengejek namun juga penuh rasa ingin tahu.
"Hati yang hangat tidak akan pernah bisa menghasilkan es yang paling keras, XingYu. Bukankah itu yang kau katakan? Aku tidak ingin dia hidup dalam bayang-bayangku selamanya. Jika dia membenciku karena kepergian ini, maka biarlah. Kebencian adalah motivasi yang jauh lebih kuat daripada cinta yang tak sampai. Jika dia ingin mengejarku, dia harus menjadi monster seperti aku. Jika tidak, maka kedamaian di kota Qingchu itu adalah hal terbaik yang bisa ia dapatkan," balas Chen Lin dengan nada bicara yang datar dan kasar.
Perjalanan menembus wilayah perbatasan bukanlah hal yang mudah bagi seorang praktisi Marrow Purification Tingkat 1. Chen Lin harus menghadapi berbagai gangguan, mulai dari binatang buas yang haus darah hingga kelompok perampok yang berkeliaran di jalur perdagangan.
Namun, setiap pertarungan ia jadikan sebagai latihan untuk menyempurnakan kendali energinya sendiri. Ia menolak untuk menggunakan bantuan Lin XingYu, memilih untuk menderita luka-luka kecil demi mendapatkan pengalaman bertarung yang sesungguhnya.
Ia menyadari bahwa di Negara Bai Xue nanti, ia tidak akan memiliki perlindungan dari siapa pun. Kekerasan alam di Utara akan menjadi gurunya, dan rasa sakit akan menjadi teman setianya.
"Bagus. Semakin kau menderita sekarang, semakin kuat kau saat sampai di sana. Tapi jangan berpikir sekte-sekte di Bai Xue akan menerimamu hanya karena kau punya nyali. Mereka butuh hasil nyata. Kau harus membuktikan bahwa Esensi Tulang Rembulan milikmu layak untuk mereka lindungi dan kembangkan," tambah Lin XingYu.
"Aku tidak butuh perlindungan mereka. Aku hanya butuh teknik mereka. Dan aku akan mengambil apa pun yang kubutuhkan, tidak peduli apa syaratnya," sahut Chen Lin sambil menepis salju yang mulai menempel di jubahnya.
Setiap malam, ia bermeditasi di tengah hutan yang membeku, membiarkan tubuhnya diselimuti oleh salju tipis. Ia bisa merasakan bagaimana tubuhnya mulai merespons energi dingin dari lingkungan sekitar dengan lebih aktif.
Esensi Tulang Rembulannya seolah-olah sedang bernapas, menyerap setiap bit kedinginan dari udara untuk memperkuat fondasinya. Ia merasa bahwa keputusannya untuk pergi adalah hal paling benar yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.
Di sini, di bawah langit kelabu yang asing, ia merasa benar-benar hidup sebagai seorang kultivator yang mandiri, jauh dari keterikatan emosional yang bisa melemahkannya.
Pegunungan Giok yang menjadi gerbang menuju Negara Bai Xue kini berdiri megah di hadapannya. Puncak-puncaknya yang putih seolah-olah sedang menantang siapa pun yang berani melintasi batas tersebut.
Angin kencang bertiup membawa serpihan es yang sanggup menyayat kulit, namun Chen Lin hanya menarik jubah hitamnya lebih erat dan terus melangkah maju dengan pandangan yang tajam. Ia tahu bahwa di balik pegunungan itu, sebuah dunia baru yang jauh lebih luas dan kejam sedang menantinya.
"Enam sekte utama di Bai Xue... aku akan melihat seberapa tinggi standar mereka. Jika mereka menganggap bakat adalah segalanya, maka aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa ketangguhan tulang rembulanku melampaui segala bakat yang pernah mereka temui," gumam Chen Lin saat ia mulai mendaki tanjakan pertama menuju puncak pegunungan.
Di belakangnya, masa lalu di Qingchu telah terkubur oleh salju yang mulai turun dengan lebat, menutupi setiap jejak langkahnya seolah-olah dunia ingin membantunya melupakan segalanya.
Hanya ada jalan ke depan, hanya ada kedinginan yang abadi, dan hanya ada puncak kekuatan yang harus ia daki, tidak peduli berapa banyak nyawa atau perasaan yang harus ia korbankan.
"Jangan sombong dulu, Chen Lin. Gunung ini baru pintu masuknya. Jika kau tidak bisa bertahan sampai ke sisi lain, maka semua kata-kata besarmu ini hanya akan membeku di sini bersamamu," ejek Lin XingYu diiringi tawa tipis yang memudar ke dalam kesadaran Chen Lin.
Chen Lin tidak membalas. Ia terus mendaki, melawan angin yang mencoba mendorongnya jatuh ke jurang. Setiap embusan napasnya kini adalah perjuangan, namun matanya tetap tertuju pada puncak.
Di sana, di daratan putih yang luas, ia akan memulai langkah pertamanya di Negara Bai Xue yang sesungguhnya.