Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
"G-Gus Zayn." Tenggorokan Keira tercekat, lidahnya bahkan terasa amat kelu saat melihat sosok yang menjulang tinggi itu. Matanya bergerak gelisah, seolah ia tengah kepergok melakukan sebuah kesalahan yang amat fatal.
Gus Zayn, ia menghela nafasnya kasar. Ia memang sedari tadi mengikuti kedua gadis itu keluar dari ndalem. Tadi, ia tidak bisa tidur, ia ingin mengambil air wudhu dan membaca mushaf Al-Qur'an. Namun, siapa sangka ia malah melihat keduanya. Jadilah ia mengikuti kemana perginya keduanya. Rupanya mereka pergi ke mushalla.
Sesampainya di mushalla, ia tidak langsung menghampiri keduanya. Ia bersembunyi, dan mendengar semua perbincangan keduanya.
Saat ia melihat sang adik pergi, Gus Zayn langsung menghampiri Keira yang sama sekali tidak melaksanakan shalat seperti yang gadis itu janjikan tadi.
Gus Zayn langsung saja menghampiri Keira. Terlebih ia ingin mendengar langsung alasan apa yang di berikan oleh Keira saat mengambil air wudhu yang salah tadi..
"Bisa kamu jelaskan dengan saya?"
Wajah Gus Zayn benar-benar tidak bersahabat, matanya menatap datar sepasang mata indah milik Keira..
Keira jadi tergeragap, ia tak tahu harus menjelaskannya. "Anu–"
"Bicara yang jelas, Keira Dinda. Jangan ada yang di tutupi. Sungguh kebohongan itu tidak baik. Lebih baik berbicara jujur walaupun itu menyakitkan daripada berbicara kebohongan."
Deg!!
Kata-kata itu sungguh menyesakkan, Keira sungguh bingung harus bagaimana, ia sungguh malu jika harus mengatakan hal yang sebenarnya.
Keira menunduk dalam. Tak berani menatap langsung wajah pria yang berstatus suaminya itu.
"Keira.."
"Saya tidak bisa shalat." Ucap Keira lirih yang masih mampu di dengar oleh Gus Zayn.
Sejenak, hanya terdengar keheningan yang begitu dalam di dalam mushalla itu. Udara malam terasa dingin menusuk, seolah menyerap setiap helaan napas yang terlepas. Di sudut ruangan, lampu minyak kecil berayun pelan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding putih. Suara jangkrik malam menggema nyaring, mengisi ruang kosong dengan irama alami yang monoton dan menenangkan. Tak ada satupun kata yang terucap, hanya detak jantung yang berdengung pelan dalam keheningan itu.
Gus Zayn diam, ia tidak bereaksi berlebihan, hanya diam menatap gadis yang menunduk dalam itu.
"Boleh kita berbicara?" Setelah beberapa saat, suara Gus Zayn terdengar, membuat Keira mendongak.
"Bo-boleh."
"Mari ikut saya." Ucap Gus Zayn.
Dan Keira mengikuti suaminya itu.
*
"Gimana?"
"Nggak ketemu bang. Udah di cari juga. Capek aku nyarinya."
Dua orang itu langsung mendudukkan dirinya di sofa sana mereka menghembuskan nafasnya kasar.
"Yogi kemana?" Tanya Bagas pada Jaka dan juga Pras, kedua kakaknya.
"Yogi pergi ke rumah pacarnya." Sahut Jaka santai, ia mengambil rokok yang ada di saku bajunya, lalu menyesapnya.
"Mama gimana?" Tanya Bagas.
Pras mendesah, "mama masih kepikiran sama adik. Kalian aja nggak becus jaga adik sampai adik hilang begini."
Bagas dan Jaka saling pandang, seperti berbicara bahasa isyarat.
"Bang, Keira itu lasak banget. Dia juga liar. Dia itu susah banget di bilangin." Ucap Bagas.
Pras mendelik ke arah Bagas, membuat pria itu menciut. "Dia memang bandel..Tapi dia adik kita. Kalian bertiga mestinya jaga dia. Jangan sampai dia pergi jauh-jauh. Kalau sudah seperti ini bagaimana? Kasihan mama dan Papa. Kalian juga nggak kasihan Keira apa? Dia sama sekali nggak bawa uang ataupun ponselnya." Pras menunjukkan ponsel milik adik bungsunya itu.
Bagas dan Jaka melotot, itu ponsel yang mereka cari-cari selama ini. Tangan keduanya ingin mengambil ponsel milik Keira, namun Pras langsung mengantonginya. "Kalian istirahat. Besok Abang akan bantu cari, kerahkan anak buah." Ucap Pras bangkit dari duduknya dan langsung pergi.
Jaka dan Bagas mendengus sebal. "Sialan!" Maki keduanya bersamaan..