Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.
Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.
Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.
Rahasia apa yang tersembunyi?
Apa yang akan terjadi kepada Rani?
Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?
Ikuti kelanjutan ceritanya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sebuah batu menghantam dinding kaca, permukaan kaca yang tadinya rata berubah menjadi retakan-retakan dan berakhir menjadi serpihan kaca yang berhamburan di lantai.
Rama dan Dinda secara spontan berlari ke luar melihat apa yang terjadi. Rama menahan tangan kekar yang ingin memukul Damin. Dinda dengan tendangannya berhasil mendorong jatuh orang yang ada di belakang Rama
Lima orang bertampang preman penuh dengan tato itu, meminta uang keamanan kepada Damin. Uang keamanan itu wajib karena Damin baru membuka rumah makan di area mereka.
Damin memberikan uang 100 ribu kepada pimpinan preman tapi langsung ditolak. Dia ingin Damin memberinya 2 juta. Tidak hanya Damin yang terkejut, Mira, Rama dan Dinda menganggap itu pemerasan.
Preman-preman marah dan kembali melakukan serangan. Rama dan Dinda maju menghadapi kelima preman itu. Terjadi perkelahian.
Pak Latif, Bu Sekar dan Dita keluar rumah makan. Pak Latif mengenali pimpinan preman.
"Hentikan!" Lantang suara Pak Latif.
Semua berhenti. Para preman kaget saat melihat pak Latif. Rama mengadu kepada ayahnya. Pak Latif memandangi preman-preman itu dengan penuh kemarahan. Pimpinan preman memberi kode kepada anak buahnya agar segera menjauh.
"Maaf, maaf. Kami akan pergi," pimpinan preman mengatupkan kedua tangannya.
Preman-preman itu setelah meminta maaf langsung meninggalkan rumah makan Damin.
"Yah, kok mereka takut lihat Ayah?" tanya Dita.
"Masa sih?" Pak Latif sedikit tertawa.
"Bang Damin, saya yakin, mereka gak akan berani lagi datang kemari," kata Pak Latif.
Damin memerintahkan karyawannya untuk memperbaiki kaca yang rusak. Rama, Dita dan Dinda pulang duluan ke rumah. Sebelumnya, Mira meminta Dinda agar bermalam di tempat mereka. Dinda masih belum terbiasa, dengan sopan Dinda menolak. Dinda akan mampir lagi lain kali.
Di perjalanan pulang, Rama mendapatkan telepon dari seseorang. Rama menuju suatu tempat dan berhenti di depan sebuah gudang.
"Kak, mau balapan?" tanya Dita.
"Teman Kakak menemukan Kenzo. Dia ada di jalan Kecubung," Rama keluar dari mobil dan membuka pintu gudang.
Dinda menyusul Rama masuk ke dalam gudang. Gudang itu sangat terawat. Di dalamnya dipenuhi dengan peralatan perbengkelan. Yang lebih mengejutkan Dinda, di sana ada dua buah motor sport. Dinda tidak pernah tahu Rama punya gudang untuk menyimpan motor sportnya.
"Waw, motor siapa ini Ka?" Dinda menaiki motor berwarna biru hitam.
"Kaka," jawab Rama sambil membuka lemari dan mengambil baju balap.
"Aku gak ikutan. Dinda kamu ikut?" tanya Dita.
"Aku ingin ketemu Kenzo. Kak Rama, boleh aku ikut?" pinta Dinda.
"Oke," Rama memberikan baju balap untuk Dinda.
Dinda mengganti bajunya dengan baju balap. Dinda merapikan rambutnya dan menutupnya dengan helm full face. Dinda siap untuk balapan bersama Rama.
Dita berpesan agar Dinda berhati-hati. Dinda jangan ikut balapan. Dita takut Dinda kenapa-kenapa. Dita tahu betul bagaimana Rama kalo sudah balapan. Rama akan menjadi liar.
Rama menyuruh Dinda naik ke atas motornya. Dinda menolak, Dinda ingin pakai motor sendiri. Rama masih belum yakin, Dinda masih belum terbiasa menggunakan motor sport.
Dinda merebut kunci yang ada di tangan Rama. Dinda naik ke atas motor sport biru hitam. Dinda menutup helmnya. Dinda menyalakan mesin motor dan tanpa menghiraukan teriakan Rama, Dinda melaju cepat ke jalan raya.
Rama dengan cepat naik ke motor sport hitamnya. Rama menyusul Dinda yang sudah jauh melaju di depan sana. Rama menyaksikan kelincahan Dinda di jalan raya.
Rama menarik full gasnya. Rama menyusul Dinda. Rama memimpin jalan menuju sirkuit kecil di jalan Kecubung. Dinda mengikuti Rama ke arah jalan yang sepi. Hampir tidak terlihat kendaraan yang lewat saat mereka melintasi jalan itu.
Terlihat Rama memperlambat motornya dan masuk ke dalam semak-semak. Dinda yang kebingungan ikut memperlambat motornya dan diam saat Rama menaruh telunjuknya ke atas bibir.
Rama melepas helmnya. Rama memasang satu headset ke telinganya dan memasang satu headset ke telinga Dinda. Rama menerima telepon dari temannya yang saat ini sedang ngobrol bersama beberapa orang.
Rama dan Dinda mendengar suara Kenzo. Kenzo menagih bayaran kepada teman-temannya karena sudah berhasil mendekati Dinda.
Kenzo dan teman-temannya akan memulai taruhan balapan. Siapapun boleh ikut balapan. Jika kali ini Kenzo kalah balapan dari cewek, Kenzo akan menjadi pacar cewek itu dan akan menuruti semua permintaan cewek itu dalam satu minggu.
"Kurang ajar! Jadi selama ini aku jadi target taruhan Kenzo!" Dinda mengepalkan tangannya.
Rama mematikan teleponnya. Rama melepas headset Dinda dan juga dirinya. Rama bisa membaca pikiran Dinda.
"Apa kamu ingin ikut balapan?"
"Iya."
"Dinda, apa kamu yakin?" Rama mengkhawatirkan Dinda.
"Yakin."
"Dinda, Kenzo dan teman-temannya berbahaya. Mereka curang dan melakukan apa saja untuk menang."
"Aku akan ikuti permainan mereka."
"Tapi, Din ...."
Dinda menyalakan mesin motornya. Dinda keluar dari semak-semak dan mencari Kenzo beserta teman-temannya. Dinda melihat ada banyak motor berkumpul dan Dinda bergabung dengan mereka.
Rama berada di belakang Dinda. Rama tahu saat ini Dinda kesal dan marah dalam diamnya. Rama akan menjaga Dinda. Rama memberi kode kepada teman-temannya yang ada di sana untuk menjaga Dinda.
Kenzo berdiri di atas meja kecil. Kenzo akan mengadakan balapan mengelilingi sirkuit dalam dua putaran. Yang menang akan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar dua juta dari Kenzo. Siapapun boleh ikut.
Pintu masuk ke dalam sirkuit terbuka. Kenzo masuk ke dalam disusul pembalap-pembalap yang lain. Dinda kaget ternyata di balik rimbunan pohon terdapat tempat balapan motor yang mirip sirkuit tapi versi lebih kecil.
"Ini sirkuit punya Kenzo," Rama berbisik seolah mengerti isi pikiran Dinda.
Dinda masuk ke dalam sirkuit. Dari sekian motor yang masuk ke dalam, cuman beberapa orang yang ikut balapan. Yang lain cuman duduk di kursi sebagai penonton.
Dinda melihat Wira di antara penonton. Wira memasang helmnya turun dari kursi penonton menuju pinggir sirkuit. Wira naik ke atas motor dan bergabung dengan pembalap lain.
Dinda mengingat warna dan menghapal plat motor Wira. Motor yang dipakai Wira berbeda dengan motor yang dipakainya saat di pantai dulu.
Semua yang ikut balapan bersiap. Dinda memperhatikan lampu merah yang terdiri dari lima lampu itu menyala secara bergantian. Dan ketika kelima lampu itu mati secara bersamaan, semua pembalap mulai menarik full gas motornya.
Dinda yang sebelumnya belum pernah ikut balapan, melaju kencang. Fokus Dinda bukan mencari kemenangan tapi mengejar Wira.
Satu persatu pembalap Dinda lalui. Tikungan tajam dengan mudahnya Dinda taklukkan. Dinda masih belum melihat motor Wira. Sementara itu Rama dan teman-temannya kewalahan mengejar Dinda dari belakang.
Rama dan teman-temannya juga fokus untuk melindungi Dinda. Rama sangat mengenal Kenzo, dia tidak akan mudah membiarkan pembalap lain menang. Kenzo akan melakukan banyak kecurangan.
Apa yang dikhawatirkan Rama terjadi. Dari kejauhan Rama melihat salah seorang pembalap mensejajarkan motornya di sebelah Dinda. Orang itu bersiap menendang kakinya ke motor Dinda.
"DINDA, AWAAAAAAAAAS!" Teriak Rama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...