Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
...[Ancaman yang terpendam]...
...----...
Yumi masih berlutut di hadapan Neysa, pandangannya tertunduk. Tidak berani untuk menatap majikannya itu. Meskipun dulu mereka sangatlah dekat.
Neysa memandangnya dengan penuh pertanyaan, bingung tentang alasan mengapa Yumi bisa berada di hadapannya sekarang, mengenakan nama yang dulu hanya dimiliki oleh Neysa di keluarga Lawrence.
"Kenapa kau memakai nama Yumi?" tanya Neysa dengan suara yang tenang, meski ada gemuruh di dadanya. "Siapa yang menyuruhmu menggantikan posisiku di keluarga Lawrence?"
Yumi mengangkat wajahnya sedikit, matanya bertemu dengan mata Neysa, dan ada sesuatu yang berat dalam pandangannya. Dengan pelan, ia membuka mulut untuk berbicara.
"Kakakmu," jawabnya, suara Yumi terdengar penuh beban. "Dia yang menyuruhku. Karena kau sudah hilang begitu lama, dan keadaan keluarga Lawrence semakin kacau. Ayahmu sakit keras, dan sekarang semuanya berada di bawah kendali Kakakmu."
Neysa tertegun mendengar jawabannya. Kakak angkatnya? Apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Lawrence? Ia merasa gelisah, otaknya berusaha menyusun kepingan informasi yang ia dengar.
"Dia... dia yang menyuruhmu?" ujar Neysa dengan terbata, meskipun sudah mengetahui jawabannya. "Apa yang terjadi di sana? Kenapa aku... kenapa aku tidak tahu apa-apa?"
Yumi menundukkan kepalanya, matanya terlihat penuh rasa penyesalan. "Kondisi keluarga Lawrence semakin buruk, Neysa. Ayahmu hampir tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena penyakitnya. Sekarang, Kakakmu yang mengendalikan segalanya. Dia memerlukan pengganti, seseorang untuk menggantikan posisimu sampai kau ditemukan."
Wajah Neysa memucat. Ia ingat betul bagaimana ia melarikan diri dari cengkeraman Kakak Angkatnya. Namun, saat itu tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di balik pintu rumah keluarga Lawrence. Segalanya terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung.
"Apa yang sebenarnya dia inginkan?"
Yumi menatapnya dengan penuh keprihatinan, tetapi tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Kakak Angkat Neysa. "Aku tidak tahu apa yang dia inginkan, Neysa. Aku hanya menjalankan perintahnya, karena dia yang memegang kendali sekarang."
Neysa merasa seolah ada belati yang menusuk jantungnya. Di balik kata-kata Yumi, ia bisa merasakan ketegangan yang mengerikan. Kakak Angkatnya, yang dulu ia percayai, ternyata telah mengubah segalanya. Rasa sakit itu kembali mengingatkannya pada malam itu—malam ketika ia melarikan diri dari keluarga Lawrence.
Malam itu, saat acara ulang tahun Kakak Angkatnya adalah puncaknya Neysa merasa muak dalam kebohongan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Celine, sahabatnya yang sudah lama mengenalnya, mengetahui bahwa saat itu adalah kesempatan terbaik untuk kabur.
“Aku tidak bisa lagi bertahan, Celine,” kata Neysa dengan suara parau, matanya berkaca-kaca. "Kakakku... dia sudah gila. Dia ingin menikahiku, bahkan ingin tidur denganku. Aku... aku tidak tahu harus bagaimana. Dan, itu hanya karena dia tak mau harta keluarga Lawrence terbagi jika aku menikah."
Celine menatap Neysa dengan penuh perhatian, memegang tangan Neysa dengan lembut. “Kau tidak perlu khawatir, Neysa. Kita akan keluar dari sini, dan aku akan membantumu.”
Dengan bantuan Celine, Neysa berhasil menyelinap keluar dari rumah keluarga Lawrence di tengah malam, saat para tamu masih asyik merayakan ulang tahun Kakak Angkatnya. Mereka melarikan diri ke tempat yang aman, berharap bisa menyelamatkan diri dari cengkeraman keluarga yang seharusnya melindungi Neysa.
Namun, nasib berkata lain. Di tengah pelarian mereka, Neysa berlari tanpa arah dan akhirnya ditemukan oleh seseorang yang sudah lama ia percayai—Nyonya Gie, pengasuhnya semasa kecil yang kini bekerja di keluarga Barnes.
"Nyonya Gie..." bisik Neysa dengan penuh keheranan saat melihat wanita tua yang begitu dikenalnya berdiri di hadapannya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Nyonya Gie tersenyum lembut, namun ada keprihatinan yang terpancar di wajahnya. "Aku tahu kau akan membutuhkan perlindungan, Neysa. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Keluarga Lawrence akan mencarimu."
Dengan hati-hati, Nyonya Gie membawa Neysa ke keluarga Barnes, menyembunyikannya dengan cermat agar posisi Neysa tetap aman. Namun, demi melindungi Neysa, Nyonya Gie memilih untuk mundur dari keluarga Barnes agar tidak ada yang curiga.
“Aku harus pergi, Neysa,” kata Nyonya Gie dengan lembut saat mereka berada di ruang pribadi. "Keluarga Barnes akan melindungimu, tetapi aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama. Jika aku tetap berada di sini, semuanya akan terungkap. Jadi, aku harus pergi agar posisimu tetap aman."
Neysa hanya bisa menatap Nyonya Gie dengan perasaan campur aduk. "Kau... kau akan meninggalkan aku?"
"Ini demi keselamatanmu," jawab Nyonya Gie tegas, meskipun ada air mata yang menggenang di matanya. "Aku tahu kau akan baik-baik saja di sini."
Kembali ke masa kini, setelah mendengar penjelasan Yumi, Neysa merasa hatinya kembali bergejolak. Namun, kali ini, ia tidak merasa cemas. Di balik semua ketegangan ini, Neysa sudah menyusun rencana yang matang untuk masa depannya.
"Aku sudah merencanakan semuanya," katanya dengan tegas, matanya penuh keyakinan. "Sekarang, aku sudah menikah dengan Darren."
Yumi mengernyit, tampaknya sedikit bingung. "Menikah dengan Darren? Tapi... bagaimana dengan Kakak Angkatmu?" tanya Yumi, masih merasa ragu. "Jika dia tahu, dia pasti akan menghancurkan keluarga Darren. Kau tahu dia tidak akan berhenti sampai semuanya hancur."
Neysa tersenyum tipis, matanya menyiratkan keyakinan yang mendalam. "Aku tahu itu, Yumi. Aku sudah memikirkan semuanya. Kakakku tidak bisa apa-apa jika aku sudah menikah dengan Darren. Dengan statusku sebagai istri Darren, dia tidak bisa mengganggu kami."
Namun, Yumi tetap tidak begitu yakin. "Tapi, bagaimana jika Kakakmu mencari tahu? Semua ini bisa jadi bumerang, Neysa. Kakakmu bisa saja menghancurkan keluarga Darren untuk balas dendam."
Neysa menatap Yumi dengan tatapan serius, seolah menguatkan tekadnya. "Apapun yang terjadi, aku akan menanggungnya. Aku sudah siap menghadapi apapun yang akan datang. Mungkin suatu hari nanti, Darren akan dendam padaku karena ini, tetapi aku sudah mempersiapkan diri untuk itu."
Yumi terdiam, menatap Neysa dengan rasa takjub. "Kau benar-benar sudah memikirkannya dengan matang," katanya akhirnya, sedikit takjub. "Aku hanya berharap semuanya berjalan seperti yang kau harapkan."
Neysa mengangguk, meskipun hatinya penuh dengan kecemasan tentang masa depan. Namun, satu hal yang ia tahu pasti—ia tidak akan lari lagi. Kali ini, dia akan melawan, meski segala risiko harus dihadapi.
***
Setelah percakapan yang tegang dengan Yumi, Neysa kembali ke rutinitas seperti biasa, sebagai pelayan. Tidak ada yang berubah—semuanya tampak tetap.
Namun perasaan di dalam dirinya seolah meledak dalam diam. Dia tahu, apapun yang akan terjadi, keputusan besar telah diambil. Kehidupannya kini bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang mempersiapkan diri menghadapi risiko yang tak terelakkan.
Di ruang makan, Jessica duduk dengan tangan terlipat, matanya fokus pada Yumi yang berjalan dengan tenang melewatinya. Tanpa banyak bicara memilih pergi dari kediaman Barnes.
Sesaat, Jessica merasa bingung. Kenapa Yumi sangat membela Neysa? Bahkan sampai menamparnya—sesuatu yang tak pernah ia duga. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan, ikatan kuat antara Yumi dan Neysa yang mungkin tak pernah dia ketahui sebelumnya. Dan pikirannya melayang pada kemungkinan—mungkin, mereka berdua menyimpan rahasia yang tidak diketahui Darren.
Jessica tak bisa duduk diam. Dengan gelisah, ia memutuskan untuk mencari Darren. Lelaki itu harus tahu apa yang sedang terjadi.
Dengan langkah yang mantap, Jessica meninggalkan ruang makan, bertanya pada pelayan yang lewat.
"Di mana Darren?"
Pelayan itu menatapnya sekilas, lalu menjawab, "Tuan Darren sedang di taman belakang, Nyonya. Bersama Nyonya Barnes."
Jessica terdiam sejenak, merasa sedikit terkejut. Sesuatu dalam dirinya merasa miris. Mungkin, keluarga Barnes memang tidak menerima dirinya dengan tulus. Mereka mungkin hanya takut pada kekuasaan keluarga Cadmael yang besar, yang mampu menghancurkan reputasi mereka dalam sekejap.
Ketika Jessica akhirnya sampai di taman belakang, Nyonya Barnes berdiri, mengenakan senyum yang terlalu dipaksakan. Wajah wanita itu terlihat tegang, seolah sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan.
"Nyonya Barnes," Jessica menyapa dengan senyum tipis, lebih terlihat sinis. "Ternyata kalian di sini.
Nyonya Barnes segera berdiri. "Maafkan aku, Jessica. Aku tak bisa menyambutmu di depan tadi. Kalau begitu, kalian bicara berdua saja, aku berharap kalian bisa lebih dekat."
Jessica mengangguk dingin, mengalihkan pandangannya ke arah Darren yang duduk di kursi taman. Darren tampak termenung, wajahnya keras dan terpejam seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Setelah Nyonya Barnes pergi, Jessica mendekati Darren, mencoba untuk tidak menunjukkan kegelisahan di wajahnya.
"Darren," katanya dengan suara lembut namun penuh penekanan, "Tadi Nona Lawrence datang bersamaku. Aku ingin mengenalkannya pada kalian, tapi ... "
Darren tak bergerak. Hanya tatapan kosong yang dia berikan, seolah kata-kata Jessica tidak cukup untuk memancing reaksinya.
Jessica melanjutkan, rasa curiga yang semakin membesar di dadanya membuatnya terus berbicara.
"Aku tidak sengaja menyinggung Neysa, dan Nona Yumi menamparku. Ini bukan soal tamparan. Tetapi kenapa dia melakukannya, yang dimana Neysa hanya seorang pelayan biasa saja di sini. Apa kamu tidak merasa aneh?"
Darren akhirnya menoleh, matanya penuh tanda tanya dan kebingungan yang mendalam. Sesaat, Jessica merasa ada gelombang perasaan yang tak bisa dijelaskan dari pria itu, namun Darren tetap diam, tidak memberi jawaban apapun. Sementara Jessica menunggu respons yang jelas, pikirannya mulai berputar, mempertanyakan siapa sebenarnya Neysa bagi Darren.
"Mungkinkah Neysa mata-mata keluarga Lawrence? Darren, aku mengatakan ini karena mengkhawatirkan keluarga kalian. Jangan sampai dia menjadi boom yang bisa menghancurkan keluarga Barnes," kata Jessica mengingatkan.
B e r s a m b u n g .....
Makasih sudah baca, jangan lupa tinggalkan jejak, yah! (^^)