NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Kebencian Kaelen dan Topeng Sang Pangeran Merman

"Cukup, sialan! Kau tidak usah banyak berbohong!"

Kaelen menyadari bahwa menginterogasi Evelyn tidak akan membuahkan hasil. Dengan urat-urat leher yang menegang, tangan Kaelen bergerak naik, mencengkeram erat leher Evelyn hingga gadis itu kesulitan bernapas.

"Le-paskan... a-ku..." Punggung tangan Evelyn memukul-mukul dada Kaelen, mencoba mencari celah udara.

"Keluarkan... muntahkan benda itu sekarang juga!" desis Kaelen kejam tepat di depan wajah Evelyn, mengabaikan paras sang gadis yang mulai memucat kehabisan oksigen.

Evelyn menggeleng lemah. Ia sudah tidak sanggup menahan cengkeraman tangan Kaelen yang kian mencekik lehernya, memutus pasokan udara ke paru-parunya. "Berhenti... sakit..." bisiknya parau.

Kaelen tidak menghiraukan rintihan itu. Dengan tangan yang masih mencengkeram leher Evelyn, ia justru mengguncang tubuh gadis itu dengan kasar. Namun, ada satu hal aneh yang membuat gerakan Kaelen mendadak tertahan. Gadis di depannya tidak menangis. Sama sekali tidak ada genangan air mata di kelopak matanya yang sayu.

Tatapan itu... Kaelen mengingatnya dengan sangat jelas. Itu adalah ekspresi yang sama persis ketika Evelyn melihat mendiang ayahnya tewas dulu. Datar, kosong, dan dipenuhi kehampaan yang kelam.

Kaelen tidak tahu bahwa Evelyn bukannya tidak ingin menangis, melainkan ia tidak bisa melakukannya. Air matanya seolah telah mengering total.

Di saat kehancuran mental itulah, gejala awal glioblastoma—kanker otak mematikan yang kini menggerogoti tubuhnya—mulai muncul. Penyakit terkutuk yang vonisnya telah menjatuhkan hitungan mundur: sisa hidup Evelyn hanya tinggal tiga bulan lagi.

"Argh!" Kaelen mengerang frustrasi.

Didorong oleh rasa dongkol yang tak beralasan, ia akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Evelyn langsung merosot dan terduduk lemas di lantai dapur. Punggung dan belakang kepalanya bersandar pasrah pada dinding tembok yang dingin, napasnya terengah-engah meraup oksigen.

Kaelen ikut berjongkok, menyamakan tingginya dengan Evelyn. Tatapannya masih sedingin es.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang setelah kau merampas benda paling berharga milikku, Evelyn. Ingat itu."

Pemuda itu bangkit berdiri, bersiap melangkah pergi meninggalkan dapur. Namun, suara lirih Evelyn menghentikan pergerakannya.

"Kau masih membenciku karena kejadian itu, bukan?" Evelyn menyunggingkan senyum miris. "Kenapa... kenapa kau begitu membenciku? Padahal aku tidak tahu apa-apa. Bahkan aku tidak pernah tahu jika ayahku adalah seorang Ghost Hunter."

Kaelen mengepalkan tinjunya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berbalik, menatap Evelyn dengan kilat murka yang kembali menyala. "Aku tidak peduli! Yang jelas, darah bajingan itu mengalir di dalam tubuhmu!"

"Kalau begitu, aku mengerti. Habisi aku sekarang juga, jika itu memang yang kau inginkan," ucap Evelyn tenang, nyaris tanpa beban.

Pikiran Evelyn mendadak melayang pada kejadian semalam. Percobaan bunuh diri yang gagal total karena tali tambang di kamarnya mendadak putus. Kini, ibunya telah tiada. Ia sebatang kara dan tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Mati di tangan Kaelen terasa jauh lebih baik daripada harus tersiksa oleh penyakitnya selama tiga bulan ke depan.

Kaelen tertegun. Kata-kata Evelyn barusan menghantam dadanya dengan telak. Entah karena efek The Heart Pearl yang mulai menyatu atau sisa nuraninya, Kaelen merasakan jantungnya mendadak berdenyut nyeri—sebuah rasa sakit yang asing dan tidak rasional.

"Ayo lakukan, Kaelen. Cekik aku lagi sampai mati," tantang Evelyn, menatap lurus ke dalam manik mata biru safir pemuda itu. "Jika itu bisa menghapus dendammu dan membuatmu puas, lakukanlah sekarang."

"Kau..." desis Kaelen, bersiap melangkah maju untuk kembali mendekati Evelyn. Namun, seruan lantang Nerissa dari arah depan seketika memecah situasi tegang di antara mereka.

"Kael! Tolong ke sini dulu, bantu Nenek di depan!" teriak wanita itu.

Kaelen menghela napas panjang untuk meredam emosinya. Tanpa sudi menoleh lagi, ia berbalik dan meninggalkan Evelyn yang masih terduduk lemas di atas lantai dapur yang dingin.

Evelyn terkekeh miris setelah punggung Kaelen menghilang di balik tirai. "Kukira hari ini akan benar-benar menjadi akhir dari segalanya," bisiknya pada kesunyian.

Ia bangkit berdiri perlahan, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, lalu melangkah kembali ke area luar toko. Evelyn mengambil jepitan mutiara hitam yang sempat menarik perhatiannya tadi, lalu menghampiri Sofia yang ternyata masih sibuk memilih gantungan kunci di tempat semula. Evelyn mendesah lega dalam hati. Beruntung, Sofia tidak menaruh curiga atau menyadari keterlambatannya.

Sementara itu, suasana di dalam toko souvenir menjadi semakin ramai oleh kedatangan para turis dan murid-murid Vesperanian High School lainnya.

"Sofia, sudah belum?" tanya Evelyn, berusaha keras menyuarakan nada bicara yang tenang, meski lehernya masih berdenyut nyeri akibat bekas cekikan Kaelen.

"Iya, sudah. Bagaimana denganmu, apa kau sudah menemukan barang incaranmu?" Sofia berbalik seraya memamerkan beberapa gantungan kunci di tangannya.

Evelyn menunjukkan jepitan di genggamannya. "Ini, bagus, kan?"

"Wah, kau pandai sekali memilih barang. Kau hanya beli satu?"

"Hmm, satu saja cukup."

"Oke, ayo sekarang kita mengantre di kasir," ajak Sofia bersemangat.

Keduanya melangkah menuju meja kasir. Di sana, Kaelen tampak sedang sibuk melayani antrean pembeli yang hendak membayar.

"Hei, Eve. Lihat pria di kasir itu. Dia tampan sekali," bisik Sofia takjub dengan mata berbinar-binar.

Evelyn hanya bisa meringis tipis dan mengangguk formal. Sofia tentu tidak tahu bahwa pemuda di depan mereka adalah mantan teman sekelas Evelyn saat masih bersekolah di Luminara High School dulu.

"Dia benar-benar tipeku, Eve. Lihatlah saat dia tersenyum pada pelanggan. Ramah dan sangat sopan," tambah Sofia lagi dengan suara yang sangat pelan.

Evelyn memilih untuk bungkam. Ia membiarkan sahabatnya itu mengagumi sosok pemuda yang beberapa menit lalu hampir merenggut nyawanya di dapur belakang.

Kau tidak tahu, Sofia... dia sama sekali tidak sebaik dan seramah yang kau kira, batin Evelyn getir seraya menatap punggung tegap Kaelen yang sedang memakai topeng kepalsuannya di depan manusia.

"Sofia, bisakah kau membantuku membayarnya? Aku ingin ke toilet dulu, perutku mendadak sakit. Ini, tolong, ya!"

Evelyn benar-benar tidak sanggup lagi jika harus bertatap muka langsung dengan pemuda itu. Apalagi ketika antrean di depan mereka semakin menipis, nyali Evelyn mendadak ciut. Jantungnya berdegup liar karena panik. Terpaksa, ia menyusun kebohongan instan itu sembari menyodorkan jepitan mutiara hitam beserta selembar uang kertas ke tangan Sofia.

Belum sempat Sofia memberikan jawaban, Evelyn sudah berbalik dan melangkah cepat—hampir berlari—keluar dari toko souvenir tersebut.

"Kau ini ada-ada saja, Eve," gumam Sofia seraya menggelengkan kepala, menatap heran kepergian sahabatnya yang begitu tiba-tiba.

Sementara itu, setelah berhasil keluar dari atmosfer mencekam di dalam toko, Evelyn berjalan menjauh menuju bibir pantai. Ia sengaja mencari area yang agak sepi dari kerumunan murid untuk menyendiri. Rasa pening di kepalanya masih menyisakan sedikit denyutan, namun ia mencoba mengabaikannya.

Evelyn akhirnya mendudukkan diri di atas pasir yang mulai menghangat, menikmati embusan angin laut yang menerpa wajahnya di bawah naungan pohon palem yang rindang. Di tempat itu, di tengah deburan ombak yang konstan, ia mencoba menata kembali hatinya yang porak-poranda oleh takdir mengejutkan hari ini.

"Anginnya sangat menyejukkan, namun tetap tidak bisa membuatku tenang,"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!