NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Perhatian yang mengetuk hati

Gatra keluar kamar mandi melangkah menuju lemari untuk mencari pakaian santai untuk pergi keluar mencari makan siang. Sejak kejadian semalam, ia lebih memilih untuk berhenti sebentar membeli makanan secara online.

Sebut saja Gatra trauma walaupun sudah meyakinkan dirinya kalau tak semua makanan yang di beli online sama, tapi keinginannya untuk membeli tanpa pergi ke tempatnya langsung benar-benar hilang.

Pria itu juga sudah meninggalkan komentar pada makanannya dengan harapan tak ada orang lain yang bernasib yang sama dengannya lagi.

Sebenarnya bisa saja Gatra masak mengingat dirinya bisa melakukan itu hingga bisa terjamin kesehatannya, tapi karna sedang malas juga ingin menyegarkan pikirkan, membuatnya memilih untuk sekalian saja keluar.

Sampai tiba-tiba saja pria itu mengingat Rayyan. Gatra menggeleng membuang pemikiran tentang bocah yang akuinya sangat pintar mendekati orang. Pantang mundur sekalipun sudah diusir.

"Entah apa yang bikin anak itu jadi ngga kenal takut sampai batu banget. Kalau saya jadi Rayyan mendingan saya main sama teman sebaya dari pada nyari kerjaan." Gumam Gatra. "Tapi seumur-umur baru kali ini saya ketemu anak kayak gitu, lebih parah ngga pernah mikir saya orang jahat. Dia juga ngga gampang di usir dari yang baik sampai ngancam ngga pernah mempan. Anehnya saya juga merasa sedikit terhibur sekaligus terganggu secara bersamaan, yang enggak pernah saya rasakan. Apa mungkin karna kue itu? Ah, jangan gila mana ada kayak gitu lagi! Kayaknya saya harus bicarain ini secepatnya ke psikolog."

Setelah memuntahkan isi perutnya, Gatra menemukan Rayyan yang menatapnya khawatir. Ia sudah mengusir anak itu, tapi Rayyan menolak dengan alasan kasihan karna tidak ada orang yang akan menjaganya saat sakit.

Entah pengaruh suasana hatinya atau apa, tapi Gatra tersentuh mendengarnya hingga membiarkan Rayyan membantunya untuk ke kamar. Anak itu juga mengambilkan minum dan memaksa agar ia mengisi sedikit perutnya dengan kue yang di bawanya.

"Om, cepat hubungi teman kencannya supaya dia ngga marah." Rayyan juga mengingatkan alasannya menolak menerima kue buatan Mama anak itu. "Nanti pacar Om marah karna orang yang di tunggu ngga dateng."

"Tanpa kamu suruh saya sudah melakukannya, bocah!" Kata Gatra tentu tak ingin tambah malu lagi.

"Kapan? Kok aku ngga lihat."

"Emang saya harus lihatin ke kamu?" Balas Gatra walau kondisinya masih lemah, tapi kesinisannya tidak berkurang. Tapi melihat ekspresi terluka dari Rayyan membuat Gatra merasa bersalah lalu memutuskan untuk meneruskan kebohongannya lagi. "Dia bilang ngga papa, beruntung saya ngabarin dia cepat karna dia belum berangkat ke restorannya."

Rayyan mengangguk singkat. "Untung aja, Om. Soalnya cewek itu ribet. Ada dulu Rayyan ngga jadi ketemu karna ngga mau bohongin Mama lagi terus aku di putusin."

"Putus? Kamu punya pacar?" Gatra tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar apa yang di sampaikan Rayyan tanpa di sadari bocah itu. "Kamu masih kelas tujuh kan? Astaga, tapi kamu udah pacaran?"

"Om salah denger, tadi–"

"Kamu pikir saya percaya? Cepat cerita sama siapa kamu pacaran?"

"Bukan pacar tapi teman aja kok, Om."

"Kamu pikir saya budeg?" Gatra menggeleng pelan. "Sekarang umurmu berapa? Dan sejak kapan mulai punya pacar?"

"Aku ngga–"

"Mau saya bilang ke Mamamu kalau anaknya sering bohong?"

"Jangan!" Larang Rayyan cepat lalu menundukkan pandangan dengan malu-malu. "Iya, Rayyan udah punya pacar dari pertama masuk SMP, sama cewek beda kelas, tapi cuma beberapa Minggu aja, Om."

"Kalau sekarang siapa pacarmu?" Tanya Gatra iseng sadar seru juga mengerjai anak-anak. Tiba-tiba Gatra jadi mengingat dirinya seusia Rayyan juga sudah mulai suka-suka, tapi belum seberani itu menyatakan perasaan. "Jangan bilang anak SD?"

"Enggak! Enak aja bilang Rayyan pacaran sama anak kecil!"

"Hei, Kamu juga masih kecil, bocah!"

"Anak kecil mau gede, Om. Beda sama anak SD, mereka cuma tahunya main-main aja."

Gatra menggeleng. "Perasaan sama aja, tapi terserahlah. Mendingan kamu pulang, udah jam berapa ini?" usirnya.

"Rayyan mau tetap di sini aja, Om. Di rumah ada Tante Hapisa yang bikin rumah berisik," ungkap Rayyan setelah tadi saat ingin keluar dari unit apartemen ke lantai pertama untuk membuang sampah dirinya malah melihat sahabat Mamanya, akhirnya mengurungkan niatnya. Rayyan membuang sampah itu di tong yang ada di dalam unit Gatra. "Tahu ngga Om, dia juga suka narik pipiku terus ngomong ke Mama, pengen punya satu kayak gini."

"Terus apa masalahnya? Tapi dia emang berisik mana kepo, suka makan, ngga sopan bangat orangnya lagi."

"Rayyan ngga suka aja, apa lagi sama suaminya. Dia diam terus, pas ajak ngomong ngga pernah nyaut masa harus Rayyan terus yang cerita sementara dia cuma diam dengerin? Kan capek ya, Om. Terus..."

Setelahnya mengallirlah cerita Rayyan tentang suami dari sahabat Mamanya yang menurut anak itu sangat melelahkan. Gatra awalnya tampak ogah-ogahan mendengarnya sekarang malah menikmatinya.

Pria itu baru menyadari kalau Rayyan punya banyak stok cerita yang masuk di akal serta membuatnya tak bosan mendengarkannya sampai tiba-tiba saja anak itu meminta makan.

Gatra tidak ingin masak atau meminta Rayyan untuk makan di rumahnya saja, sebut saja sebagai ucapan terima kasihnya hingga ia memutuskan membuatkannya mie instan.

Saat itu Gatra benar-benar tak peduli Rayyan tidak di bolehkan oleh Nayra memakan makanan kurang sehat itu, tapi dengan kondisinya seperti ini, memasak makan berat atau membeli makan di luar tak bisa di lakukannya.

Tepat ketika mie anak itu habis terdengar bel apartemennya berbunyi, membuat Gatra turun dari ranjangnya, menemukan Rayyan masih duduk di sofa apartemen dan buru-buru membuka pintu dan menemukan Nayra sebagai tamu tak di sangkanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!