Pada malam hari Aletta tengah berjalan santai menikmati udara malam yang begitu dingin sambil mau makan buah jeruk. Ya Aletta sangat menyukai jeruk mereka seperti sahabat sejati sebab jika Aletta kemana-mana dirinya selalu membawa jeruk. "Tinggal 5 butir dan bijinya ada 7 makan aja deh semuanya." Ucapnya semangat. Aletta langsung memasukkan 5 butir jeruk ke dalam mulutnya saat sedang asyik maunya tiba-tiba Aletta mengalami sesak nafas dan langsung terjatuh.
Uhukkkk....uhukkkk.
"Sesak banget dada gue."
"Sialan ya kali gue metong karena keselek 7 biji jeruk yang bener saja lelucon macam ini." Ucapnya kesal.
Kesadaran Aletta mulai menghilang dan Aletta berdoa kepada Tuhan untuk meminta kehidupan yang kedua.
"Tuhan jika akhir hidupku aku minta ke pada mu kehidupan untuk kedua kalinya aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ingin minta maaf sama Mommy, Daddy dan para Abang lucknut." Ucapnya lirih tersenyum lebar di akhir kesadarannya dan sisa hembusan nafas terakhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Putri Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benarkah Itu Kamu?...
Di Negara Lain,,,
Seorang remaja tengah duduk di bangku kebesarannya memandangi foto yang berisi 3 orang anak remaja yaitu 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan yang tengah tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia sedangkan kedua laki-laki itu merangkul pundak anak perempuan yang berada di tengah-tengah mereka dengan wajah datarnya.
3 remaja itu adalah Azka, Alex dan Aletta. Azka menatap foto itu dengan tetapan sendunya lebih tepatnya menatap foto Aletta adik bungsunya yang sudah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya dari 5 bulan lalu.
Walaupun kematian mandi yang adiknya sudah lumayan lama tapi suasana hati Azka masih dalam suasana berduka yang begitu dalam. Azka yang mengingat kematian adiknya dengan cara tragis menurutnya masih tidak ikhlas dan tidak rela melihat adiknya mati secara mengenaskan.
"Dek, Abang rindu." Ucap Azka lirih.
"Pasti adik sudah bahagia di sana yah? Ade udah gak ngerasain sakit lagi. maafin Abang yang gak bisa mengabulkan permintaan adek buat tunangan sama Galen, tapi abang punya alasannya dek." Ucap Azka terisak pilu. mengepalkan tangannya saat mengingat nama itu, Galen.
Ya Azka sangat benci sama Galen ia tau Galen tidak sebaik yang Aletta ucapkan, di depan Aletta Galen menjadi laki-laki yang baik dan lemah lembut sedangkan di belakang Aletta Galen menjadi laki-laki baj*Ngan.
Azka juga tau kalau Galen dan Cherly sudah bertunangan bahkan keluarga Alexander juga mengetahui hal itu, mereka memberitahu Aletta tentang Galen dan Cherly tapi Aletta tidak mempercayainya dan malah membenci keluarganya tentu saja itu karena hasutan Galen dan Cherly.
"Abang yakin dek bahwa mereka datang di balik semua ini, Abang nggak akan ngelepasin mereka Abang akan buat mereka nyusul kamu dan minta maaf sama kamu di atas sana abang akan mengirim mereka ke neraka langsung." Ucap Azka yang terpancar kilatan amarah.
Diam-diam selama ini Azka memang mencari bukti tentang kematian Aletta, ia merasa janggal dengan kematian sang adik tercintanya. beberapa bulan Azka mencari bukti sedikit demi sedikit Azka telah mengetahui siapa dalangnya dan tebakan Azka benar, semua bukti yang Azka dapatkan mengarah ke Galen dan Cherly.
Dretttttt
Dretttttt
Tiba-tiba ponsel Azka berdering ia langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja kerjanya melihat layar ponselnya ternyata sang Daddy yang meneleponnya. Azka langsung mengangkat panggilan dari sang Daddy.
"Hallo son." Ucap Rafka di sebrang telepon sana.
"Hmmm." Respon Azka yang mendapatkan decakan kesal dari Rafka, tentu saja Azka tidak memperdulikannya.
"Ck, kamu ini." Dengus Rafka. "Pulanglah son mau sampai kapan kamu di sana terus? kamu nggak kangen sama Daddy dan Mommy? kamu gak mau tahu bagaimana hancurnya adik kamu Alex? dia udah gak tinggal di Mansion lagi." Kata Rafka lirih.
Azka tau sangat tau bahwa sang Daddy tengah menahan tangisannya sekuat mungkin, Azka akui Rafka memang cengeng jika menyangkut soal orang yang tersayang apalagi menyangkut Aletta Rafka sangat lemah.
"Kenapa bisa?" Tanya Azka ia merasakan perasaannya mendesir aneh, perasaan yang campur aduk sedih, kecewa dan rindu.
Rafka menarik nafas panjang. "Alex sama seperti kamu son dia juga terpukul dan hancur bahkan berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri untuk menyusul Aletta Alex bilang ia rindu sama Aletta, tapi untungnya aksi Alex selalu digagalkan sama sepupu kamu dan kedua sahabatnya." Ucap Rafka dengan bibir bergetar menahan isakannya.
Azka yang di sana terkejut mendengarnya ia tak menyangka Alex akan melakukan percobaan bunuh diri untuk menyusul Aletta, sedalam itukah kerinduan Alex dan sehancur itukah Alex tanpa Aletta? ikatan batin sodara kembar memang tidak bisa diragukan.
"Azka." Panggil Rafka yang tidak respon oleh Azka.
Sedangkan Azka masih kalut dengan pikirannya sendiri. Azka kira dirinya yang lebih hancur akan kehilangan Aletta tapi Azka salah bahkan ada yang lebih hancur lagi darinya yaitu Alex.
"Azka dengar Daddy?" Panggil Rafka lagi.
Azka langsung tersadar dari lamunannya. "Eh iya Dad aku denger." Ucapnya.
Rafka menghela nafas. "Pulanglah nak Daddy dan Mommy merindukanmu." Ucap Rafka penuh harap.
Azka terdiam memikirkan langkah apa yang ia ambil. Tujuannya ke luar negeri karena Azka ingin menenangkan dirinya atas kematian Aletta tapi sekarang ia mendengar sang Daddy memintanya untuk pulang, sebenarnya Azka berat tapi Azka juga sangat merindukan keluarganya.
"Baiklah Dad aku akan terbang malam ini." Putus Azka. Rafka yang mendengarnya tentu saja tersenyum senang.
"Daddy akan tunggu kamu di mansion dan Daddy akan segera memberitahu Mommy mu tentang ini pasti dia akan senang." Ucap Rafka semangat yang penuh binar di matanya.
"Baiklah aku akan beres-beres barang untuk nanti malam penerbangan." Ucapnya.
"Baiklah kalo gitu Daddy tutup dulu telponnya kamu hati-hati ya nanti jalannya." Ucap Rafka langsung mematikan teleponnya.
Azka menatap layar ponselnya yang tertera nama sang Daddy tersenyum lebar. "Maafkan Azka Dad Mom gak seharusnya Azka ninggalin kalian." Ucapnya lirih. lalu Azka beranjak dari duduknya memutuskan untuk pulang ke mansion pribadi untuk membereskan barang-barangnya yang akan ia bawa.
Di Indonesia,,,
Sedangkan di mansion Alexander Rafka tengah tersenyum manis yang tak pernah pudar. "Sayang tau gak tadi Azka bilang dia mau pulang ke Indonesia dan penerbangan dia nanti malam." Ucap Rafka kepada Kamila penuh dengan excited.
Kamila, Nakula dan Priyanka tersenyum senang mendengarnya akhirnya Azka ingin kembali lagi ke Indonesia dan berkumpul di tengah-tengah mereka.
"Aku seneng banget dengernya aku mau minta maaf sama Azka nanti karena aku gak merhatiin dia dan terlalu fokus sama kematian Aletta." Ucap Kamila sendu.
Rafka yang melihat sang istri sedih langsung memeluknya. "Iya kita minta maaf ya sama dia kalo udah ada di sini dan kita juga minta maaf ke Alex juga sayang."
Kamila mengangguk. "Kita juga harus kasih tau Alex kalo Azka mau ke Indonesia." Ucapnya.
"Kita kasih tau setelah Azka di sini oke?" Ucap Rafka tersenyum lembut ke Kamila.
"Lo harus berusaha buat anak-anak lo gak sedih lagi Raf loh juga harus ngembaliin kebahagiaan mereka walaupun kebahagiaan mereka gak seperti dulu saat masih ada Aletta, lo paham kan apa maksud gue?" Ucap Nakula yang di anggukkan oleh Rafka.
"Makasih sarannya Naku." Ucapnya tulus.
_o0o_
Di sekolah SMA Alexander tepatnya di kelasnya Aretta saat ini sedang jamkos karena guru yang memiliki jadwal mengajar di kelas Aretta izin tidak masuk. siswa-siswi yang mengetahui jamkis bersorak heboh banyak dari mereka yang keluar keluar kelas ada yang pergi ke kantin, ada yang keluar kelas untuk ke taman belakang atau melakukan yang membuat mereka tidak merasa bosan.
Begitupun dengan Aretta yang merasa bingung ingin melakukan apa karena dirinya tengah merasa bosan sebab kedua sahabatnya sudah menyelami mimpi indah mereka.
"Gabut banget deh gue enaknya ke mana yah? keluar aja deh biar gak gabut + bosen² banget." Ucap Aretta yang nanya sendiri lalu menjawab sendiri. emang itu sudah biasa bukan? Wkwkwk.
Aretta beranjak dari tempatnya berjalan keluar kelas menelusuri koridor yang sepi karena memang sedang KBM berlangsung.
"Kemana yah enaknya? Hem keknya ke rooftop enak deh kena angin sepay sepoy." Ucap Aretta mengikuti langkah kakinya yang menuju rooftop.
Sampainya di pintu masuk rooftop Aretta membuka knop pintu rooftop dengan pelan menelusuri pandangannya ke arah rooftop ternyata tidak ada siapa-siapa di sana.
Deg
"Dia dan... perasaan ini." Gumam seseorang yang menatap ke arah Aretta yang berada di pintu rooftop.
Aretta langsung melangkahkan kakinya ke arah sofa yang ada di rooftop menduduki tubuhnya dengan nyaman di sofa empuk itu lalu menyenderkan tubuhnya.
Aretta mendongakkan kepalanya memejamkan matanya sambil menikmati angin yang menerjang seluruh wajahnya ia tersenyum cerah serasa beban yang ia pikuk berkurang.
"Nyaman banget di sini tenang lagi." Ucapnya.
Tanpa Aretta sadari dari kejauhan ada empat pasang mata yang tengah memperhatikan dirinya sedari tadi Aretta memasuki rooftop. awalnya mereka ingin marah kepada orang yang berani memasuki rooftop kawasan mereka tapi setelah melihat Aretta yang langsung menduduki tubuhnya di sofa dan kelihatan gak macem-macem mereka menurunkan niatnya dan lebih memilih memperhatikan gerak-gerik Aretta.
"Benarkah itu kamu." Batin Alex yang memandang Aretta dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Itu cewek siapa?" Tanya Evan. memang dirinya tidak mengenal Aretta karena Aretta yang Evan kenal Aretta yang cupu bukan Aretta yang cantik seperti sekarang.
"Aretta." Ucap Zergan santai.
Evan dan Daniel memandang menatap Zergan seolah bertanya. "Aretta yang cupu itu?"
Zergan yang paham dengan tatapan Evan dan Daniel mengangguk mengiyakan, mendapatkan anggukkan dari Zergan Evan dan Daniel kaget tak menyangka ternyata cewek itu Aretta cupu yang selalu di bully oleh siswa siswi SMA Alexander.
"Aletta." Ucap Alex tiba-tiba yang masih bisa di dengar oleh mereka bertiga.
"Apa maksud Lo Alex?" Tanya Zergan.
"Itu Aletta Gran itu Aletta." Ucap Alex dengan mata berkaca-kaca mata yang memancarkan kerinduan, kebahagiaan, kesakitan dan kehancuran.
"Lex, Aletta udah tenang di sana dia udah bahagia di atas sana Lo ikhlasin yah dia Aretta bukan Aletta princess kita." Ucap Zergan memberi pengertian kepada Alex.
Zergan tau Alex seberapa hancur dan kehilangan Aletta bahkan Alex suka berhalusinasi jika Aletta masih hidup, ketika Zergan tanya jika Aletta masih hidup terus Aletta ada di mana? jawaban Alex selalu bilang Aletta ada di suatu tempat dan tempat itu membuat Aletta tersiksa Aletta disana di siksa, Alex juga memberitahukan kalo ia ikut merasakan sakit yang Aletta rasakan atas siksaan yang Aletta dapatkan.
"Itu Aletta iya itu Aletta." Ucap Alex yang langsung berlari ke arah Aretta yang masih setia duduk di sofa empuk itu. Zergan, Evan, Daniel yang melihat Alex berlari ke arah Aretta langsung mengejarnya.
Brugh
Drepp
"Adek." Ucap Alex lirih memeluk erat Aretta. sedangkan Aretta yang mendapat serangan tiba-tiba dari Alex terkejut bukan main tubuhnya langsung menegang.
"Hiksss adek ini adek kan adeknya Abang." Rancau Alex yang masih memeluk Aretta erat menenggelamkan wajahnya di curug leher Aretta.
Aretta masih mencerna kejadian ini yang secara tiba-tiba. kemudian Aretta tersadar karena merasakan lehernya basah sebab Alex menangis.
Aretta mengusap rambut Alex yang berantakan menatap Alex dengan tatapan sendunya hatinya sesak melihat keadaan Alex saat ini keadaan yang di bilang jauh dari kata baik-baik saja.
"Apa ini saatnya gue bilang yang sebenarnya." Batin Aretta.
"Abang." Panggil Aretta lirih. Alex langsung melepas pelukannya menatap Aretta intens
Begitupun dengan Aretta yang menatap Alex sendu ia terkejut melihat tatapan mata Alex yang kosong, mata yang menghitam, wajahnya kusam sebab Alex adalah orang yang begitu menjaga penampilannya. sebegitu berpengaruhnya kepergian dirinya sampai² Alex terpuruk seperti ini.
"Aletta ini beneran kamu kan?" Tanya Alex.
Aretta mengangguk mengiyakan. "Iya Abang ini adek." Ucap Aretta dengan mata yang berkaca-kaca.
"Beneran? ini beneran adek?" Tanya Alex memastikan.
"Iya Abang ini adek Aletta Xaviera Alexander adek kembarnya Alex Xavier Alexander." Ucap Aretta memastikan Alex.
Bibir Alex bergetar menahan isakannya, Alex senang sangat senang akhirnya menemukan Aletta kembali walaupun banyak pertanyaan di otaknya tapi Alex yakin kalau yang berada di hadapannya adalah Aletta adik kembarnya yang sangat Alex rindukan yang mampu membuat dunia Alex dan keluarga Alexander runtuh karena kehilangan permata mereka untuk selama²nya.
"Bagaimana bisa lo ngaku² sebagai Aletta sedangkan lo adalah Aretta." Ucap Evan. ia masih bingung dengan semua ini kenapa Aretta yang mereka kenal gadis cupu itu ngaku² sebagai Aletta yang jelas² permata Alexander yang sangat berharga.
Aretta yang paham ke bingung mereka memutuskan untuk menjelaskan semuanya. "Sini-sini kalian duduk gue mau dongengin kalian dan dongeng ini begitu panjang." Titah Aretta seperti emak-emak ingin mendongengkan anak-anaknya yang mau tidur.
Tanpa mereka bertiga sadari mereka menurut dengan ucapan Aretta berjalan mendekat ke arah Aretta dan duduk di bawah sofa yang terdapat karpet di sana. begitupun dengan Aretta yang memilih duduk di bawah dengan Alex yang masih setia memeluk erat Aretta menenggelamkan wajahnya di curug leher Aretta karena Alex tidak mau kehilangan adik tersayangnya untuk ke dua kalinya.
"Oke gue akan ngedongeng panjang dan kalian harus dengerin gue tanpa memotong dongeng gue, sebelum perkenalkan gue Aletta Xaviera Alexander yang bertransmigrasi ke dalam tubuh Aretta Gabriela Wilson gadis cupu yang di benci oleh seluruh keluarga Wilson karena salah faham, Aretta yang di perlakukan sangat buruk oleh keluarga Wilson dan di jadikan pembantu di mansionnya." Jelas Aretta yang membuat mereka ber empat emosi.
"Oke kita lanjut dan jangan ada yang potong dongeng gue apa kalian paham?" Ucap Aretta ke pada mereka ber empat yang di angguki paham oleh mereka.
Aretta tersenyum senang lalu ia mulai mendongeng dari jiwa Aletta jalan-jalan malam menelusuri jalan raya waktu masih menjadi Aletta asli, menjahili orang yang tengah pacaran di bawah pohon besar yang di mana si cowok ingin menembak cewek tapi gak jadi karena Aletta berteriak bunga yang di bawa si cowok bunga kamboja yang berarti bunga orang meninggoy yang akhirnya mereka tidak jadi pacaran, Aletta yang mau pulang karena udah malam lalu memakan semua buah jeruk yang sisa 5 butir dengan menghitung biji dari buah jeruk yang tinggal 5 butir itu lalu ia tersedak biji jeruk itu dan meninggoy ia juga bilang dengan pesan terakhirnya yang ingin memperbaiki hubungannya dengan keluarga Alexander, ia juga bercerita saat dia bangun dari kematiannya yang tiba-tiba sudah ada di dalam tubuh Aretta yang sekarang ia tempati, ia juga bercerita kalau ia ketemu jiwa Aretta asli di alam bawah sadar dan meminta tolong untuk membalaskan dendamnya ke keluarganya buat mereka menyesal dan jangan beri mereka maaf dan ampun, ia juga bercerita kalau ia suka di siksa oleh keluarga Wilson di tuduh dan di fitnah oleh sepupunya, jiwa Aletta juga bercerita kalau Aretta asli seorang mafia dan punya perusahaan raksasa yang tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.
Mereka ber empat yang mendengar dongeng Aretta tertawa ngakak terngiang-ngiang jiwa Aletta meninggoy karena keselek 7 biji jeruk.
"Aduh gila perut gue sakit aduh." Ketawa Evan memegangi perutnya yang keram karena banyak tertawa.
"Iya anjir ngakak banget gue meninggoy karena keselek biji jeruk hahaha." Begitupun dengan Daniel yang tertawa puas menertawakan jiwa Aletta.
Sedangkan Aretta mendelik tajam ke arah Evan dan Daniel. "Ck puas lo pada ngetawain gue hah. gue sumpahin nanti lo meninggoy lebih gokil dari gue misalnya lagi tidur lo meninggoy atau lagi pacaran lo meninggoy." Sungut Aretta.
Evan dan Daniel langsung memingkemkan bibirnya rapat agar tidak tertawa lepas bisa-bisa Aretta akan ngamuk. sedangkan Zergan sudah berkaca-kaca ia tak menyangka bahwa adik sepupunya masih hidup walaupun di raga orang lain begitupun dengan Alex yang lebih mengeratkan pelukannya menyalurkan kerinduannya yang selama ini ia pendam.
"Adek." Panggil Zergan. Aletta menoleh lalu tersenyum manis ke arah Zergan lalu merentangkan sebelah tangannya.
Zergan yang paham langsung menubruk Aretta memeluknya erat menyalurkan kerinduannya kepada sang adik sepupunya yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
"Kangen adek hiks." Isak Zergan. akhirnya mereka bertiga berpelukan seperti Teletubbies Daniel dan Evan yang melihat tak kuasa menahan tangisannya.
"Akhirnya princess mereka kembali lagi ya Niel." Ucap Evan sambil mengusap air matanya yang jatuh.
Daniel mengangguk. "Iya Van, awalnya gue gak percaya sama transmigrasi jiwa dan itu cuma di dunia fiksi doang tapi sekarang gue percaya kalo itu beneran ada." Ucap Daniel.
Sebenarnya mereka tidak percaya adanya transmigrasi jiwa mereka kira itu hanya di novel-novel saja tapi setelah jiwa Aletta membongkar rahasia kedua abangnya yang hanya mereka tau sekarang mereka yakin kalau transmigrasi jiwa memang ada dan itu nyata.
Alex dan Zergan melepaskan pelukannya lalu menatap Aretta. "Adek kapan mau pulang? kalo Daddy dan Mommy tau pasti mereka seneng." Ucap Alex.
"Iya dek, Daddy dan Mommy sekarang hancur dek semenjak adek gak ada lebih baik adek cepetan pulang ya kasian Daddy sama Mommy mereka sekarang kurus banget." Timpal Zergan.
Aretta merasa sesak di dadanya ia mengingat ke dua orang tuanya pasti tidak kalah hancurnya sama seperti Alex. Aretta harus nemuin mereka dulu, iya membutuhkan dukungan dari mereka untuk menjalankan rencana balas dendam ini pikir Aretta.
"Besok gue akan temuin Daddy sama Mommy gue mau bicara yang sebenarnya sama mereka." Ucap Aretta.
"Lo yakin?" Tanya Alex.
Aretta mengangguk mantap. "Karena gue juga butuh dukungan dari mereka untuk membalaskan dendam Aretta asli." Ucapnya.
"Baiklah besok kita ke mansion gue akan anter lo dan nemenin Lo." Ucap Alex.
Aretta mengangguk saja lalu ia memikirkan rencana apa yang akan ia jalankan selanjutnya. tiba-tiba tersenyum miring sekarang ia sudah tau rencana apa yang akan ia jalankan.
"Tunggu kejutan dari gue bitch." Batin Aretta tersenyum menyeringai.
"Besok tuan muda daftar jadi siswa Alexander lagi." Celetuk Zergan yang matanya masih terfokus sama ponselnya.
"Apa!!"