NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan Nyonya Mahendra

"Niaaa!" sambut Nyonya Mahendra heboh seperti biasa. Nia tersenyum lalu mencium tangan Nyonya Mahendra.

"Lama banget sih?" tanya Nyonya Mahendra pada Nia.

"Disuruh Bu Panti sarapan dulu tadi, Tante," jawab Nia.

"Eh? Kok masih Tante? Mama," kata Nyonya Mahendra.

"Maaa... Kemarin baru disuruh panggil Tante, tiba-tiba suruh ganti lagi jadi Mama. Butuh waktu," kata Angkasa. Nyonya Mahendra terlihat merengut.

"Okelah. Nggak apa-apa. Senyamannya Nia dulu," kata Nyonya Mahendra diikuti senyuman dari Nia.

"Eh, kita ngobrol di belakang yuk. Bi Inah, tolong buatkan teh sama siapkan kudapannya sekalian ya. Tolong dibawa ke belakang," kata Nyonya Mahendra pada Nia lalu pada Bi Inah.

"Siap, Nyah,"

Nyonya Mahendra segera berjalan menuju bagian belakang rumah bersama Nia. Angkasa mengekor di belakang keduanya.

"Hei, ini women's talk. Cowok dilarang ikut," kata Nyonya Mahendra pada Angkasa.

"Syukurlah... Angkasa bisa istirahat," kata Angkasa lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Nyonya Mahendra dan Nia saling tatap lalu tersenyum.

Halaman belakang kediaman Mahendra tak kalah luas dengan halaman depannya. Taman bunga berjajar dengan apik disana. Warna-warni mahkota bunga yang tengah mekar menambah semarak suasana halaman belakang. Di sisi sebelah kanan halaman terdapat sebuah bangunan yang seperti paviliun. Nyonya Mahendra memandu Nia berjalan menuju bangunan itu.

Nyonya Mahendra membuka pintu paviliun dan masuk ke dalamnya. Paviliun itu cukup luas dengan ukuran 3mx9m. Begitu memasuki paviliun, Nia dapat merasakan suasana vintage khas Eropa. Lantainya memakai perkat kayu berwarna walnut yang sedikit berkerit saat diinjak. Pentaan perabot disana sangat artistik mencerminkan pemiliknya yang elegan.

"Ini minuman sama kudapannya, Nyah," kata Bi Inah yang sudah menyusul ke paviliun sambil membawa dua cangkir teh lengkap dengan teko kecil dan kudapan yang diminta Nyonya Mahendra.

"Makasih, Bi. Nanti kalo Tuan tanya, saya disini sama calon mantu," kata Nyonya Mahendra dengan senyum lebar. Bi Inah mengangguk paham lalu meninggalkan paviliun.

"Naaah... Enak ngobrol disini. Kesannya private gitu," kata Nyonya Mahendra.

"Eh, ayo duduk. Kok berdiri aja," pinta Nyonya Mahendra pada Nia.

Nia tersenyum lalu duduk di sofa minimalis warna hijau zaitun dekat meja bundar kecil dengan kaki yang memiliki ukiran klasik tempat teh dan kudapan diletakkan. Nyonya Mahendra duduk di samping Nia lalu mengambil cangkir teh dan menyesapnya.

"Jadi... ternyata... kamu gadis di panti yang mengejar mobil kami saat menjemput Angkasa?" tanya Nyonya Mahendra dengan nada serius. Aura riangnya seolah menghilang entah kemana. Senyum Nia yang semula merekah mulai luntur karena takut yang tiba-tiba menjalar.

"I-iya, Tante. Saya pikir... semua rekan bisnis mama tau kalo say..."

"Tante tau. Tante tau kalo kamu bukan puteri kandung Nyonya Lestari," potong Nyonya Mahendra cepat lalu kembali menyesap tehnya dengan anggun.

"Kalo begitu..."

"Kenapa Tante pengen banget kamu yang jadi menantu?" tanya Nyonya Mahendra pada Nia. Nia mengangguk ragu-ragu. Nyonya Mahendra tersenyum lalu meletakkan cangkir tehnya.

"Angkasa itu sudah lama mati demi Tante," kata Nyonya Mahendra. Nia menaikkan kedua alisnya. Nyonya Mahendra tersenyum melihat reaksi Nia.

"Tiga belas tahun lalu... Tante kehilangan putera semata wayang Tante yang Tante dapat dengan perjuangan yang tak sebentar," Nyonya Mahendra memulai ceritanya.

"Itu semua karena kelalaian Tante. Atau... Mas Mahendra menyebutnya kecelakaan," lanjut Nyonya Mahendra. Nia menyimak dengan seksama.

"Sejak kehamilan Tante, Tante dan Om sepakat untuk tidak mengeksposnya. Hingga Awang lahir, kami masih berusaha menyembunyikannya dari publik, bahkan dari keluarga kami," kata Nyonya Mahendra.

"Awang tak pernah kami ajak ke pertemuan keluarga besar, karena Om yakin, ada beberapa anggota keluarga yang menginginkan tempat sebagai penerus bisnis Om," Nyonya Mahendra masih bercerita. Nia masih menyimak.

"Hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Sebaik apapun kami menyimpan Awang dari dunia, sesuatu yang buruk tetap menimpa Awang," airmata Nyonya Mahendra mulai menetes. Nia mengelus punggung Nyonya Mahendra lembut sambil menyodorkan kotak tisu yang tersedia di meja.

"Tante sempat depresi, Nia. Tante sudah divonis dokter nggak bisa hamil lagi dan Tante kehilangan putera satu-satunya yang Tante lahirkan. Kamu pasti paham kan perasaan Tante?" kata Nyonya Mahendra. Airmatanya kini semakin deras membuat Nia ikut meneteskan airmata.

"Dua tahun, Nia. Dua tahun Tante nggak pernah keluar dari rumah kecuali Om ngajak Tante buat berkunjung ke panti asuhan berharap Tante mau mengasuh satu anak dari sana. Tapi... bagi Tante nggak ada yang bisa gantiin Awang," Nyonya Mahendra mengusap airmatanya.

"Sampai pada akhirnya, Tante melihat Angkasa di panti. Wajahnya, senyumnya, tawanya, cerianya, semuanya miriiiip sekali dengan Awang sehingga membuat Tante ingin membawanya pulang," kata Nyonya Mahendra sambil tersenyum tipis.

"Karena luka kehilangan itu masih ada, Tante jadi over protective sama Angkasa dan nggak bolehin Angkasa buat berkunjung ke panti," lanjut Nyonya Mahendra. Nia masih diam menyimak.

"Sampai akhirnya... mungkin Angkasa merasa sangat rindu panti, jadi dia berusaha kabur dari rumah," kata Nyonya Mahendra.

"Tante histeris waktu liat Angkasa nyoba manjat tembok pager samping. Bayangan Awang yang terjatuh dari pagar balkon, kepalanya yang berdarah karena terbentur batu besar membuat Tante seketika berteriak histeris," lanjut Nyonya Mahendra.

"Sejak saat itu, Angkasa tak seceria sebelumnya. Dia menjadi anak yang terlalu penurut. Bahkan saat Tante mengujinya dengan memintanya sekolah di Jepang, dia langsung menyetujui tanpa berpikir panjang," kata Nyonya Mahendra.

"Tante jadi merasa sangat berhutang budi pada anak itu. Angkasa hampir tidak pernah menolak permintaan Tante. Jika dia ingin menolak, dia pasti akan sangat hati-hati memilih kata-kata,"

"Jadi... sebagai bentuk balas budi Tante pada Angkasa, Tante sudah berjanji pada diri Tante akan menikahkan dia dengan wanita pilihannya," kata Nyonya Mahendra sambil mengerling ke arah Nia. Nia menaikkan alisnya.

"Tapi... bagaimana Tante tau kalo..."

"Kalo kamu wanita pilihannya?" potong Nyonya Mahendra cepat.

"Kamu tau? Saat acara jamuan malam itu, tak ada satu pun nona muda disana yang membuat kedua mata Angkasa terpaku saat melihat mereka. Malam itu, cuma ada satu nona muda yang membuatnya terpaku. Dan itu kamu, Nia. Tante yakin, Angkasa tertarik sama kamu," kata Nyonya Mahendra sambil menggenggam tangan Nia, membuat kedua pipi Nia memerah seketika.

Nia menatap Nyonya Mahendra yang tersenyum lebar di hadapannya. Kedua mata Nyonya Besar itu benar-benar menampakkan kebahagiaan yang tulus. Nia tersenyum pada Nyonya Mahendra. Kini dia tahu alasan Nyonya Mahendra begitu menginginkannya menjadi menantu.

'Apa benar kamu tertarik pada ku, Ang? Sebagai wanita? Atau... hanya karena kita pernah tumbuh sama-sama?'

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!