"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANG KODE DAN PIJATAN MAUT
Malam itu, kediaman Dirgantara tidak lagi menyerupai rumah mewah, melainkan markas operasi rahasia. Di ruang kerja Arkan yang luas, Aletta duduk bersila di kursi kebesaran suaminya. Ia mengenakan piyama bergambar dinosaurus, kacamata anti-radiasi, dan ikat rambut yang dihiasi jepit bebek kuning. Di depannya, tiga monitor besar menyala dengan barisan kode hijau yang mengalir deras seperti air terjun digital.
"Mas Arkan! Kopinya mana? Kecepatan otakku mulai turun ke level manusia biasa!" seru Aletta tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Arkan masuk membawakan nampan berisi kopi espresso ganda dan sepiring kecil biskuit. Ia menggelengkan kepala melihat pemandangan di depannya. Pria itu sudah melepas jasnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, menonjolkan urat-urat tangan yang maskulin.
"Ini kopi keduabelasmu dalam enam jam, Al. Jika jantungmu meledak, aku tidak akan punya istri yang bisa memasang jebakan kaleng lagi," ucap Arkan sambil meletakkan nampan itu dengan hati-hati.
Aletta menyambar kopinya, meneguknya sekali habis, lalu kembali mengetik dengan kecepatan yang tidak masuk akal. "Aku sudah masuk ke server bayangan Radit. Pria itu bodoh sekali, dia menggunakan tanggal lahir ibuku sebagai salah satu lapisan keamanan. Dia benar-benar terobsesi dengan masa lalu."
Arkan berdiri di belakang Aletta. Ia meletakkan tangannya di bahu mungil istrinya dan mulai memijatnya perlahan. Sentuhan tangan Arkan yang besar dan hangat terasa begitu kontras dengan dinginnya udara AC ruangan itu.
"Hhh... sedikit ke kiri, Mas... ya, di situ," gumam Aletta, matanya terpejam sejenak menikmati pijatan suaminya. "Kau punya bakat jadi tukang pijat kalau Dirgantara Corp bangkrut nanti."
Arkan terkekeh rendah, suara baritonnya terasa bergetar di dekat telinga Aletta. "Jangan menghinaku. Pijatan ini harganya lebih mahal dari seluruh saham perusahaan rintisan di luar sana."
Tiba-tiba, sebuah alarm merah berbunyi di layar.
"Sial! Dia punya firewall berlapis. Dia mulai sadar ada penyusup!" Aletta kembali ke mode serius. Jarinya menari di atas keyboard seperti sedang memainkan simfoni maut. "Arkan, aku butuh bantuanmu. Masuk ke laptop cadangan di sampingmu. Masukkan kode enkripsi yang kukirim ke ponselmu. Kita harus menyerang dari dua arah!"
Arkan duduk di samping Aletta, wajahnya berubah sangat dewasa dan fokus. Meskipun ia bukan ahli kode seperti Aletta, ia adalah pakar strategi. "Katakan apa yang harus kulakukan."
"Cukup masukkan perintah 'DELETE' pada folder bernama 'Project Phoenix' saat aku memberi aba-aba. Itu adalah data penggelapan dana yang ia gunakan untuk memeras ayahku," perintah Aletta.
Namun, di tengah ketegangan itu, sifat "ajaib" Aletta muncul. "Tapi sebelum itu... Mas Arkan, bisakah kau mengetikkan 'Radit Bau Kaki' di kolom komentar perintahnya? Aku ingin dia tahu siapa yang menyerangnya."
Arkan tertegun. "Al, kita sedang meretas penjahat internasional, bukan sedang merundung teman sekolah."
"Lakukan saja! Itu bagian dari perang psikologis!" paksa Aletta keras kepala.
Arkan menghela napas, namun ia tetap mengetikkan kalimat konyol itu. Klik.
"Sekarang! Masukkan kodenya!"
Arkan menekan tombol Enter. Layar di depan mereka sempat membeku, lalu sebuah grafik menunjukkan data yang terhapus secara permanen. Aletta bersorak kegirangan, ia melompat ke pelukan Arkan hingga pria itu hampir terjatuh dari kursinya.
"Kita berhasil! Kita punya bukti penggelapan dan pencucian uangnya! Radit tidak punya kartu as lagi untuk mengancam Ayah!"
Arkan memeluk pinggang Aletta, mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di atas meja kerja, tepat di antara tumpukan dokumen penting. Ia menatap mata Aletta dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan.
"Kau luar biasa, Aletta Maheswari," bisik Arkan. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Tapi kau juga sangat menyebalkan karena membuatku mengetik hal konyol tadi."
Aletta tersenyum nakal, tangannya melingkar di leher Arkan. "Itu agar kau tetap rendah hati, Tuan Dirgantara. Ingat, di balik pria perkasa, ada istri yang hobi mengerjainya."
Arkan baru saja hendak mencium bibir Aletta saat pintu ruang kerja didobrak terbuka.
"TUAN ARKAN! ADA SERANGAN!" Pak Dirman masuk dengan wajah pucat.
Suara tembakan terdengar dari arah taman depan. Lampu luar rumah mendadak padam. Arkan langsung menarik Aletta turun dari meja dan menyembunyikannya di bawah meja kayu jati yang sangat tebal.
"Jangan keluar, apapun yang terjadi!" perintah Arkan. Ia merogoh laci mejanya, mengeluarkan sebuah benda hitam yang terlihat sangat berbahaya. Wajah Arkan kini kembali menjadi "Serigala Dirgantara"—dingin, tajam, dan siap memangsa.
"Mas Arkan! Hati-hati!" teriak Aletta tertahan.
Arkan menoleh sejenak, memberikan senyum tipis yang sangat maskulin. "Aku punya 'Unicorn' yang menungguku di sini. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh rumah ini."
Arkan melangkah keluar ruangan bersama tim keamanannya. Aletta duduk di kegelapan bawah meja, memeluk tas kura-kuranya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada penjahat, tapi karena takut kehilangan pria yang baru saja ia sadari telah mencuri seluruh hatinya.
Tiba-tiba, ponsel Aletta bergetar. Sebuah pesan dari Ayahnya masuk.
“Maafkan Ayah, Al. Ayah sedang menuju rumahmu. Jangan percayai siapapun malam ini, bahkan Arkan sekalipun. Semuanya adalah jebakan.”
Aletta mengerutkan kening. Apa maksud Ayahnya? Di luar, suara baku hantam dan teriakan terdengar semakin jelas. Aletta tahu ia tidak bisa diam saja. Ia meraih botol "Napas Naga" cadangan dan sebuah kabel LAN yang panjang.
"Kalau mereka mau masuk, mereka harus melewati jebakan kura-kura dulu!" gumam Aletta, sifat keras kepalanya bangkit di tengah bahaya.
Ia mulai merayap keluar, bersiap memasang kabel di sepanjang lantai lorong untuk membuat siapapun yang masuk tersandung. Namun, saat ia sampai di ambang pintu, ia melihat sesosok bayangan besar berdiri di sana. Bukan Arkan, melainkan Radit Verhoeven dengan luka di wajahnya dan sebuah pistol di tangan.
"Di mana suamimu, Nona Maheswari? Dia terlalu sibuk mengurusi anak buahku di depan hingga lupa mengunci pintu belakang," ucap Radit dengan tawa kering yang mengerikan.
Aletta berdiri tegak, meski kakinya gemetar. Ia menatap Radit dengan wibawa seorang CEO. "Suamiku sedang menyiapkan pemakamanmu, Radit. Dan aku? Aku sedang menyiapkan menu penutupnya."
Aletta dengan cepat menyemprotkan "Napas Naga" ke arah wajah Radit, lalu menarik kabel LAN yang sudah ia ikat di kaki kursi. Radit yang terkejut dan kesakitan kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal ke belakang.
Tepat saat itu, Arkan muncul dari arah lain, langsung menendang pistol dari tangan Radit dan mengunci gerakan pria itu di lantai dengan teknik bela diri yang sangat profesional.
"Kau terlambat, Arkan! Ayah istrimu sudah dalam perjalanan ke sini untuk menjemput kematiannya sendiri!" teriak Radit sambil terbatuk karena pedasnya semprotan cabai Aletta.
Arkan menatap Aletta yang berdiri terengah-engah dengan botol cabai di tangan. "Kau tidak apa-apa, Al?"
Aletta mengangguk, lalu ia menunjukkan pesan dari ayahnya. "Mas Arkan, Ayah bilang ini semua jebakan. Apa maksudnya?"
Arkan terdiam sejenak, menatap Radit yang tertawa sinis di bawah kakinya. "Artinya... musuh yang sebenarnya bukan pria ini, Al. Radit hanyalah pion. Ada seseorang yang lebih besar di belakangnya yang ingin menghancurkan Maheswari dan Dirgantara sekaligus agar bisa menguasai pasar."
"Siapa?" tanya Aletta lirih.
Sebuah suara langkah kaki tenang terdengar dari arah koridor. Seorang wanita dengan gaun sutra yang elegan masuk ke dalam ruangan, memegang sebuah alat peledak kecil di tangannya.
"Aku yang akan menjawabnya, Sayang," ucap Ny. Saraswati—ibu Arkan.
Aletta dan Arkan membeku. Pengkhianatan terbesar ternyata lahir dari dalam istana yang mereka kira paling aman.
Mengapa Ibu Arkan ingin menghancurkan anak dan menantunya sendiri? Rahasia kelam apa yang ia simpan tentang persaingan bisnis masa lalu? Dan bagaimana Aletta dan Arkan akan lolos dari ancaman bom yang dipegang oleh orang yang mereka hormati?
Jangan lewatkan bab selanjutnya: "Pengkhianatan Sang Ratu", di mana Aletta akan menggunakan kecerdikan random-nya untuk menjinakkan bom, sementara Arkan harus memilih antara ibunya atau istrinya.
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx