Bianca berjalan seorang diri menyusuri taman yang mulai sepi pengunjung. Taman yang biasanya ramai lalu lalang orang-orang berolahraga lari ataupun jalan santai. Suasana dingin mulai menusuk kedalam jiwanya, Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang terdapat beberapa bintang. Sesekali ia mengasihani dirinya sendiri, "Pekerjaan bagus,pendidikan bagus semua berjalan sesuai keinginan,tapi entah kenapa rasanya semua hampa.." gumamnya. "Bugh bugh bugh.." Terdengar suara pukulan tak jauh dari tempatnya berdiri,ia segera berlari sembunyi di salah satu pohon besar. "Aku ga salah denger kan,kaya ada yang sedang dihajar.." bathinnya dengan perasaan was-was. Hampir 10 menit ia duduk bersandar dibawah pohon tersebut,merasa aman dengan keadaan ia berjalan keluar sedikit berlari. "Tolonggg aakuuu.." Ucap seseorang dibalik semak-semak tak jauh dari tempat ia bersembunyi. "Astaagaaa.." "Kenapa ini..apa yang terjadii.." ucap bianca meraih tangan seseorang pemuda yang berjalan gontai menghampirinya. Pria tersebut langsung jatuh kepelukan bianca, Darah yang menetes dari sudut bibirnya menetes mengenai sisi bahu bianca.
Bab 11
Bab 11
"Hai bianca.."
"Devan!!.."
bianca menoleh kebelakang ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
Bianca yang sudah berkali-kali mengatakan kepada devan bahwa ia sudah tidak ingin terlibat hubungan apapun dengannya.
Pesan dan panggilan telfon yang ia abaikan tak membuat devan berhenti.
"Ngapain kamu kesini..?" Ucap nadisya yang kini terlihat sedikit kesal denga kehadiran devan.
"Mau mencoba mendekati bianca lagi hah!.."
"Aku cuma ingin berdamai dengan bianca nad.."
"Aku ingin menebus kesalahanku dua tahun lalu.."
"Ga perlu devan..lagi ngapain si masih kesini-sini terus.."
"Stop lah ganggu kehidupan aku.."
Pinta bianca dengan bada suara datar.
"Kamu pergi deh dari sini.."
"Kita lagi mau makan,jangan bikin kita kehilangan nafsu makan.." ucap nadisya yang kini mengusir devan.
"Tapi bi.."
"Udah sana pergi.." ucap bianca dengan nada tinggi.
Beberapa pengunjung yang mendengar langsung menatap tajam ke arah mereka.
Bianca yang kini tertunduk,dan nadisya yang masih berdiri membuat devan akhirnya memilih pergi.
"Kok bisa loh dia sekarang begini,jadi kaya terobsesi begitu sama kamu.." ucap nadisya sembari meneguk es teh manisnya yang baru saja datang.
Ting "aku ga bohong soal ucapanku kemarin bi.."
Ting "ibuku terus menanyakanmu.."
Ting "kalau memang tidak bisa di ulang setidaknya temui ibuku sekali saja..
Ting "(gambar) ini dia sedang di ruang perawatan.."
"Devan..apa mungkin cara ini bisa membuatnya berhenti mengejarku.." bathin bianca tanpa memperdulilkan nadisya yang masih nyerocos kesal.
Sore itu bianca dan jonathan terlihat keluar kantor bersama.
Keduanya memang sudah resmi menikah namun jonathan menghargai keputusan bianca untuk tidak ingin memperlihatkan hubungannya di depan orang lain termasuk para pegawai kantor,dan para sahabat-sahabat bianca.
Keduanya masing-masing mengendarai mobil yang berbeda.
Dengan tetap mengekor dibelakang mobil bianca,jonathan mengikuti setiap jalan yang di tempuh bianca.
Bianca melirik ke arah belakang melalui kaca spionnya. "Duh jo ngapain si ngikutin terus.."
"Jadi kaya tahanan yang kemana-mana dikawal.." gerutu bianca di dalam mobilnya.
Kini keduanya sama-sama memasuki lift.
"Kamu yakin ga mau tinggal bersama.."
"Engga..aku baru beberapa bulan beli apartemen ini,jadi aku masih ingin menikmatinya sendiri.."
"Kan sama saja bianca.."
"Justru kalau kita tinggal bareng kita bisa dengan mudah..."
"Justru aku menghindari itu.."
Ucap bianca lalu mundur ke sudut lift.
Pov : jonathan.
Suasana malam hari dengan angin yang berhembus kencang,benda kecil berwarna putih yang ia hisap perlahan,serta sebotol minuman lengkap dengan gelas kecil di sebelahnya.
tak henti-hentinya ia memikirkan bianca.
Ada keresahan yang sedang menyiksa bathinnya.
"Ah ada apa ini.."
Jonathan menggerutu seolah tak ada habisnya,
Ingin sekali ia bertindak sedikit keras,memaksa bianca untuk terus bersamanya,
Tapi ia pun merasa kalah karna semua yang ia mulai karna paksaan.
Mau tak mau jonathan pun menuruti setiap kemauan bianca.
"Devan..jadi dia beberapa kali sudah datang ke kantor.."
"Kalau sampai dia berani menyentuh bianca,aku akan membuatnya menyesal.." gerutu jonathan setelah melihat seseorang mengiriminya pesan berisi foto dan bianca di resto siang tadi.
Lalu jonathan mengirim pesan kepada bianca.
"Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau.."
"Aku tidak akan melarangmu.."
"Asal kamu tau batasannya.."
Jonathan kembali meneguk minumannya setelah kemudian ia memutuskan untuk masuk ke kamar tidurnya.