NovelToon NovelToon
Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
​Namun, setiap baja memiliki titik retak.
​Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritme Baru di Sullivan Estate

​Cahaya matahari pagi di New York memiliki karakter yang berbeda dengan California; ia lebih lembut, menembus tirai tipis kamar Declan dengan warna perak yang tenang. Nora mengerjapkan matanya, merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia terbangun tanpa rasa sesak di dada atau antisipasi ketakutan akan suasana hati Adrian yang tak menentu.

​Lengan Nora melingkar di atas dada Declan. Ia menyadari bahwa sepanjang malam ia terlelap dengan memeluk pria itu. Alih-alih merasa risih, Nora justru merasakan kedamaian. Detak jantung Declan yang lambat dan stabil di bawah telapak tangannya terasa seperti metronom yang mengatur napasnya sendiri.

​"Selamat pagi, Suami," bisik Nora dengan suara serak khas bangun tidur.

​Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah Declan yang tampak sangat tenang. Tanpa ragu, Nora mengecup pipi pria itu—sebuah kecupan ringan yang jujur, tanpa paksaan. Ia bangkit dari ranjang, meregangkan otot-ototnya, lalu melakukan beberapa gerakan yoga sederhana di atas karpet tebal. Gerakan Surya Namaskara yang ia lakukan terasa lebih ringan; beban yang selama ini menghimpit bahunya seolah luruh bersama keringat tipis yang muncul.

​Tepat saat ia selesai bersiap, seorang perawat laki-laki bernama Markus masuk dengan membawa peralatan medis rutin. Nora menyambutnya dengan senyuman ramah. Ia sudah bertekad bahwa hari ini ia akan mulai belajar menjadi istri seutuhnya bagi pria yang terlelap ini.

​"Selamat pagi, Markus. Biar saya yang menyiapkan bajunya," ujar Nora sembari berjalan menuju walk-in closet.

​Nora memilih kemeja katun tipis berwarna biru langit yang sangat lembut. Ia kembali ke sisi ranjang dan mulai memperhatikan setiap gerakan Markus. Dengan bimbingan perawat itu, Nora belajar bagaimana menyeka tubuh Declan dengan air hangat tanpa membuat kulitnya iritasi. Markus membantu memiringkan tubuh Declan yang berat dengan teknik yang efisien, memungkinkan Nora untuk mengoleskan salep pada luka tekan di punggung bawah Declan.

​"Anda belajar sangat cepat, Nona Sullivan," puji Markus sembari membereskan peralatannya.

​"Saya ingin dia merasa nyaman, Markus. Itu saja," jawab Nora tulus.

​Setelah Markus pamit pulang, Nora berdiri di samping ranjang, menatap suaminya. Declan kini terlihat sangat segar; rambutnya sudah disisir rapi dan aroma sabun cendana yang maskulin menguar dari kulitnya. Nora tersenyum kecil. Ia mencondongkan tubuhnya, memberikan "sentuhan akhir" yang tak diajarkan Lydia: sebuah ciuman lembut di bibir Declan yang dingin namun tetap terasa lembut.

​"Aku mandi dulu, ya. Hari ini aku akan pergi bersama ibumu. Jangan rindu," candanya dengan nada jenaka sembari bersenandung pelan menuju kamar mandi.

​Jam sepuluh tepat, Nora turun ke lobi. Ia mengenakan salah satu dress selutut berwarna peach yang sudah disiapkan Lydia. Potongannya sangat pas, menonjolkan keanggunan alaminya tanpa terlihat berlebihan. Lydia sudah menunggu di dalam limusin dengan senyum yang merekah.

​Tujuan pertama mereka adalah sebuah butik sepatu eksklusif di Fifth Avenue. Di sana, manajer toko langsung menutup pintu untuk pelanggan lain saat melihat Lydia Sullivan masuk. Nora duduk di sofa beludru sementara para pelayan toko membawakan berbagai jenis sepatu.

​Lydia memperhatikan kaki Nora dengan teliti. "Ukuran 38. Ukuran yang sangat proporsional."

​Lydia tidak bertanya mana yang Nora suka. Begitu melihat Nora mencoba sebuah stiletto hitam yang klasik dan sepasang flats berbahan kulit domba yang nyaman, Lydia langsung memberi isyarat pada manajer toko. "Bungkus semua jenis ini. Klasik, formal, santai, dan olahraga. Semua warna dasar dan pastel. Kirim ke alamat kami sore ini."

​Nora terbelalak. "Ibu, itu terlalu banyak..."

​"Tidak ada kata terlalu banyak untuk kebutuhan dasarmu, Sayang," sahut Lydia santai.

​Pemberhentian berikutnya adalah toko perhiasan legendaris. Lydia langsung menunjuk sebuah set perhiasan bertahtakan batu ruby yang membara—kalung, anting, dan gelang yang tampak sangat megah. "Warna merah ini akan sangat cantik di kulitmu yang pucat, Nora."

​Nora menggeleng pelan, ia menarik tangan Lydia menuju etalase yang berisi perhiasan minimalis—seuntai kalung emas tipis dengan liontin berlian kecil dan anting stud yang sederhana. "Saya lebih suka yang seperti ini, Ibu. Sederhana dan tidak mencolok."

​Lydia menatap perhiasan pilihan Nora, lalu kembali menatap set ruby yang harganya mungkin bisa membeli satu pulau kecil. Tanpa pikir panjang, ia berkata pada pelayan toko, "Kami ambil dua-duanya. Yang minimalis untuk keseharian, dan set ruby untuk acara formal keluarga Sullivan."

​Nora hanya bisa menghela napas pasrah, namun di dalam hatinya ia merasa sangat hangat. Ia tahu ini bukan sekadar pamer kekayaan; ini adalah cara Lydia memberikan perlindungan melalui status.

​Mereka menikmati makan siang di sebuah restoran rooftop yang menghadap ke Central Park. Sambil memotong steak-nya, Nora kembali berterima kasih. "Ibu tidak perlu membelikan saya sebanyak itu. Saya tidak ingin menjadi beban."

​Lydia meletakkan garpunya dan menatap Nora dengan serius namun lembut. "Nora, dengarkan aku. Di New York, orang-orang akan menilaimu dalam tiga detik pertama. Seorang Nyonya Sullivan harus terlihat 'mahal'—bukan karena kita sombong, tapi karena itu adalah jirah kita. Aku membelikanmu segalanya agar tidak ada satu orang pun yang berani merendahkanmu atau mempertanyakan kelayakanmu di samping Declan. Kau adalah wajah keluarga ini sekarang."

​Nora mengangguk paham. Ia mulai mengerti bahwa kemewahan di sini memiliki tujuan yang berbeda dengan di keluarga Leone atau Thorne. Di sini, kemewahan adalah benteng.

​Sore harinya, mansion Sullivan dipenuhi dengan tas-tas belanjaan bermerek yang dibawa masuk oleh para pelayan menuju kamar Declan. Nora meminta mereka meletakkan semuanya di atas karpet. Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi panggung pribadinya.

​Dengan jiwa yang merasa bebas, Nora mulai membongkar tas-tas itu. Ia merasa seperti remaja yang baru pertama kali berbelanja. Dengan sedikit centil, ia mulai mencoba setiap sandal teplek, lalu beralih ke high heels yang membuatnya tampak jenjang.

​"Lihat ini, Declan! Ini adalah heels paling tinggi yang pernah kupakai. Jika aku jatuh, kau harus bangun dan menangkapku, ya?" celotehnya sembari beraksi di depan ranjang Declan, berjalan berlenggak-lengkok seolah-olah sedang berada di atas catwalk.

​Ia mencoba gaun demi gaun. Dari baju tidur sutra yang transparan hingga dress santai yang melambai-lambai saat ia berputar. Nora tertawa sendiri, ia bercerita pada Declan tentang betapa lucunya wajah pelayan toko saat Lydia memborong semuanya. Ia memperlihatkan kalung ruby yang berkilau, memegangnya di depan wajah Declan seolah ingin pria itu melihat pantulan cahayanya.

​"Kau tahu, ibumu benar-benar keterlaluan. Dia membelikan perhiasan yang beratnya bisa membuat leherku pegal," Nora tertawa lagi, menyandarkan tubuhnya ke kaki ranjang.

​Waktu berlalu tanpa terasa. Sampai akhirnya, pada gaun terakhir—sebuah gaun malam berwarna biru tua yang sangat indah—Nora merasa kelelahannya memuncak. Kegembiraan hari ini, emosi yang terkuras selama pelarian, dan aktivitas fisik yang padat membuatnya kehilangan tenaga.

​Ia naik ke atas ranjang dengan gaun yang masih melekat di tubuhnya, menyandarkan kepalanya di atas bantal, tepat di samping bahu Declan. Ia mengatur napasnya yang terengah-engah karena tawa dan gerakan centilnya tadi.

​"Hari ini... hari yang sangat baik, Declan," gumamnya dengan mata yang mulai memberat. "Terima kasih sudah 'mendengarkan' semua ceritaku."

​Tangan Nora mencari tangan Declan, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ada. Ia merasakan kehangatan kulit pria itu, sebuah jangkar yang membuatnya merasa tetap membumi. Dalam hitungan detik, rasa kantuk yang dalam menyerangnya. Nora terlelap dalam posisi itu—kepalanya bersandar di samping Declan, dengan gaun mewah yang masih membalut tubuhnya, tertidur dalam pelukan sunyi sang suami yang entah sejak kapan, jari manisnya mulai memberikan tekanan balasan yang sangat halus pada genggaman tangan Nora.

​Di kamar yang kini temaram itu, sisa-sisa trauma California seolah tersapu bersih oleh tumpukan tas belanjaan dan kehangatan yang baru ia temukan. Nora Sullivan telah benar-benar pulang.

1
Arieee
tetep goblok di Adrian 🤣
Arieee
wow👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!