NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:273
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BU HARTINI DAN PAK BUDI

Bu Hartini membuat kue setiap Minggu pagi.

Ini fakta yang Arsa temukan di wawancara keempat — bukan dari Bu Hartini sendiri, tapi dari tetangganya, seorang perempuan enam puluh tahun bernama Bu Lastri yang sudah tinggal di sebelah selama dua puluh tahun dan yang menjawab telepon Arsa dengan cara seseorang yang sudah lama menunggu ada yang bertanya.

"Setiap Minggu tanpa kecuali," kata Bu Lastri. "Bahkan waktu Pak Budi sakit terakhir, Bu Hartini tetap bikin. Katanya itu caranya berdoa — bukan dengan kata-kata tapi dengan tangan."

Arsa mencatat itu. Lalu ia menelepon Bu Hartini dan bertanya langsung.

Hening yang panjang di ujung telepon. Lalu:

"Dari mana Anda tahu?"

"Tetangga Anda cerita. Bu Lastri."

"Ah." Suara yang terdengar seperti seseorang yang kedapatan menyimpan sesuatu tapi tidak terlalu keberatan ketahuan. "Ya. Saya bikin kue setiap Minggu. Sudah empat puluh dua tahun."

"Pak Budi suka kue Anda?"

Jeda yang lebih panjang.

"Pak Budi tidak suka manis," kata Bu Hartini akhirnya. Suaranya tidak pahit — lebih seperti seseorang yang sudah lama damai dengan paradoks. "Tidak pernah suka manis. Tapi setiap Minggu ia duduk di meja dan makan satu potong. Tanpa diminta. Tidak pernah bilang enak, tidak pernah bilang tidak enak. Hanya makan."

Arsa menatap catatannya. "Dan Anda terus membuat."

"Dan saya terus membuat."

"Kenapa?"

Hening yang berbeda dari hening sebelumnya — lebih dalam, lebih berdimensi.

"Karena itu cara kami," kata Bu Hartini akhirnya. "Budi tidak pandai bilang hal-hal langsung. Saya juga tidak. Jadi kami bicara dengan cara-cara lain. Saya bikin kue, ia makan satu potong. Itu artinya: saya masih di sini dan kamu juga."

---

Arsa menceritakan ini kepada Wren malam itu — mereka sedang di apartemennya, Wren mengerjakan sesuatu di laptop dan Arsa duduk di sofa dengan catatan wawancara di tangannya.

Wren berhenti mengetik ketika mendengar cerita tentang kue.

"Satu potong," katanya. "Setiap Minggu. Empat puluh dua tahun."

"Dua ribu sembilan ratus empat belas potong kue, kalau dihitung," kata Arsa. "Masing-masing artinya: saya masih di sini dan kamu juga."

Wren menatapnya. "Pak Budi tidak pernah bilang langsung."

"Tidak pernah. Tapi ia tidak pernah melewatkan satu Minggu pun."

"Itu lebih konsisten dari banyak kata-kata yang pernah diucapkan langsung."

Arsa mengangguk. "Bu Hartini bilang ia baru menyadari ini setelah Pak Budi pergi. Bahwa selama empat puluh dua tahun ia mengira Pak Budi hanya sopan — makan kue karena tidak enak menolak. Ternyata itu bukan sopan. Itu bahasa."

Wren diam sebentar. Lalu: "Ini yang akan jadi inti rekonstruksinya, ya?"

"Ini yang sudah jadi intinya sejak wawancara pertama, saya baru menyadarinya sekarang." Arsa meletakkan catatannya. "Bu Hartini mengira ia tidak mengenal suaminya sepenuhnya. Tapi ternyata ia mengenal — hanya dalam bahasa yang tidak ada namanya di kamus. Dan pekerjaan saya adalah membantunya menerjemahkan bahasa itu."

"Bahasa kue dan satu potong setiap Minggu."

"Bahasa kehadiran yang tidak pakai kata."

Wren menutup laptopnya. Menatap Arsa dengan cara yang sudah sangat ia kenal — cara Wren ketika ia sedang menyimpan sesuatu yang belum ia putuskan akan dikatakan atau tidak.

"Apa?" tanya Arsa.

"Saya sedang berpikir," kata Wren pelan, "bahwa Pak Budi dan Bu Hartini menemukan cara untuk mengatakan saya di sini tanpa pernah mengatakannya. Dan mereka berhasil — empat puluh dua tahun." Ia menatap Arsa. "Tapi ada sesuatu yang hilang dari cara itu juga."

"Apa?"

"Bu Hartini baru tahu artinya setelah Pak Budi pergi." Wren mengambil napas kecil. "Bayangkan kalau Pak Budi pernah sekali — satu kali saja — bilang langsung: Budi makan kue kamu setiap Minggu bukan karena sopan. Tapi karena ini cara Budi bilang saya cinta kamu. Bayangkan kalau Bu Hartini tahu itu waktu Pak Budi masih ada."

Ruang antara mereka terasa berbeda selama beberapa detik.

Arsa menatapnya. "Anda sedang bicara tentang dua hal sekaligus."

"Mungkin." Wren tidak menolak itu. "Tapi saya juga benar-benar memikirkan Bu Hartini."

"Keduanya bisa benar sekaligus," kata Arsa — kalimat yang sudah menjadi semacam mantra di antara mereka.

"Keduanya bisa benar sekaligus," ulang Wren. Lalu, dengan nada yang sedikit berubah: "Arsa. Saya ingin bilang sesuatu yang mungkin sudah Anda ketahui tapi yang belum pernah saya katakan dengan kata-kata yang jelas."

Arsa menunggu.

"Empat bulan terakhir," kata Wren, "adalah empat bulan terbaik dalam hidup saya dalam waktu yang sangat lama. Bukan karena pameran atau podcast atau surat-surat Raka — meski semua itu luar biasa. Tapi karena ada seseorang yang membuat saya merasa bahwa kehadiran saya — bukan suara saya, bukan keahlian saya, tapi saya — cukup dan lebih dari cukup." Ia menatap Arsa langsung. "Saya tidak mau jadi Bu Hartini yang baru tahu ini artinya setelah terlambat. Jadi saya katakan sekarang."

Arsa menatapnya. Sesuatu di dadanya bergerak dengan cara yang tidak butuh nama.

"Wren," katanya. "Anda adalah alasan saya belajar cara ada — bukan hanya hadir secara fisik tapi benar-benar ada — untuk pertama kalinya dalam enam tahun." Ia berhenti sebentar. "Saya juga tidak mau jadi Bu Hartini."

Wren tersenyum — bukan senyum yang ditahan, bukan senyum yang dijaga. Senyum yang penuh dan nyata seperti yang pertama kali ia lihat di teras hotel Bandung.

"Baik," katanya.

"Baik," kata Arsa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!