NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.

"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."

(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)

—Gabriella Queensa Vanessa, tinggal dengan sepupunya di London-sebagai mahasiswi baru di Oxford University bersama dua sahabat barunya, Sabrina dan Emilia. Tapi ada lagi sahabat baru Gaby yang bernama Melvin Jabulani-Blackwood. Dia awalnya baik, tapi....

Daripada kepo-mending chek it out ke ceritanya langsung!!!

Happy Reading~

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Sabrina

Udah lama nggk up, waktunya up~

 

Cahaya bulan purnama malam itu begitu terang, seolah-olah ingin menelan seluruh kegelapan di langit. Sinar perak itu merayap masuk melalui pintu kaca balkon, membelah kegelapan kamar Gaby dan menciptakan genangan cahaya dingin di lantai marmer yang dingin.

Gaby bersandar di kepala kasur, terdiam lemah seolah separuh nyawanya telah direnggut. Matanya tertuju kosong ke arah bulan, namun pikirannya melayang jauh, menembus jarak ratusan kilometer, kembali ke sebuah pulau yang kini hanya tinggal kenangan dan luka.

Dia selamat. Kata-kata itu seharusnya menjadi mantra yang melegakan. Dia berhasil lolos dari cengkeraman Melvin, dari isolasi di pulau pribadi pria itu, dan kini dia telah kembali ke pelukan Emrys, kakak yang selalu menyayanginya dengan tulus dan menunggu kepulangannya dengan sabar. Secara logika, hidupnya seharusnya sudah kembali normal. Seharusnya.

Namun, kenapa dada ini terasa sesak? Kenapa keheningan kamar ini justru membuat suara-suara masa lalu berbisik semakin keras?

Sudah lebih setahun dia hidup bersama Melvin. Satu tahun yang terasa seperti se-abad, penuh dengan ketakutan, namun juga... keintiman yang membingungkan. Ingatan itu datang menyerbu tanpa izin, satu per satu, seperti ombak yang menghantam karang.

Dia teringat bagaimana Melvin selalu memeluknya posesif setiap malam. Tidak pernah melepaskannya barang sejenak, hingga fajar menyingsing.

Apalagi, setiap kali makan bersama—ia akan selalu duduk di pangkuan pria itu.. menerima setiap suapan yang ia berikan.

Lalu ada musik. Lagu-lagu yang diputar Melvin untuknya selalu menjadi penenang di antara rasa dinginnya dominasi pria itu. Mereka pernah berdansa lambat di ruang tengah, tanpa alas kaki, sementara badai mengamuk di luar jendela. Dan ciuman-ciuman itu... Gaby menutup mata rapat-rapat. Ciuman Melvin tidak pernah setengah-setengah. Itu selalu penuh gairah, posesif, seolah Melvin ingin menelan jiwa Gaby dan menjadikannya bagian tak terpisahkan dari dirinya. Meskipun, pria itu tidak pernah berani melakukan hal lebih padanya—selain daripada ciuman saja. Itu malah menjadi nilai plus untuknya dari Gaby...

"Kenapa..." bisik Gaby, suaranya serak tertahan.

Rasa tidak tenang itu merambat di seluruh tubuhnya. Ini gila. Dia membenci situasi itu. Dia membenci fakta bahwa dia diculik, ditahan, dan dimanipulasi. Tapi hatinya... hatinya ternyata pengkhianat yang ulung.

Ia rindu cara Melvin memeluknya setiap hari. Pelukan yang kuat, hampir menyakitkan, yang membuat Gaby merasa kecil, terlindungi, dan... dimiliki sepenuhnya. Ada semacam intensitas dalam hubungan toxik itu yang meninggalkan jejak mendalam di alam bawah sadarnya, sebuah ikatan Stockholm yang rumit dan berbahaya.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, panas dan perih. Tanpa sadar, sebutir air mata luruh, mengikuti garis pipinya hingga jatuh ke atas selimut.

Gaby tersentak sadar. Ia buru-buru mengusap wajahnya dengan punggung tangan, mencoba menghapus bukti kelemahan itu.

"Bodoh..." umpatnya pelan, suaranya bergetar menahan isak. "Kenapa aku malah menginginkannya? Dasar Gaby payah!"

Ia memeluk lututnya sendiri, menggantikan posisi pelukan yang dirindukannya. Di luar, bulan tetap bersinar dingin, tak peduli pada pergolakan batin seorang wanita yang terjebak antara rasa syukur atas kebebasannya dan kerinduan haram pada sang penculiknya.

.

.

.

Sementara itu, di belahan langit yang berbeda, sebuah jet pribadi milik keluarga Jabulani-Blackwood mendarat mulus di landasan pacu pribadi mansion utama. Melvin turun dengan langkah berat, wajahnya tertutup bayangan kelelahan yang bercampur dengan obsesi yang belum terpuaskan. Ia tidak langsung mencari Gaby. Tidak. Ia tahu itu bukan saatnya. Belum.

Begitu pintu mansion terbuka, aroma kayu mahoni dan lilin malam menyambutnya, namun ketenangan itu segera pecah. Sabrina, adiknya, sudah menunggu di lobi dengan mata membara. Gadis itu menatap kakaknya nyalang, seolah ingin menembus jiwa Melvin hanya dengan tatapan.

Dia telah menunggu disana, saat daddynya mengatakan sang kakak akan pulang.

"Kak?" suara Sabrina bergetar, campuran antara kemarahan dan kekecewaan. "Benar kau yang telah menculik Gaby?"

Melvin tidak menjawab. Rahangnya mengeras, matanya yang gelap menatap lurus ke depan sambil melewatkan adiknya begitu saja. Ia berjalan menuju tangga besar, langkahnya bergema di lantai marmer, dingin dan tak terbantahkan.

Sabrina tidak tinggal diam. Ia berlari kecil mengikuti jejak kakaknya, suaranya menggema di lorong sunyi. "Di mana Gaby sekarang, Melvin? Jawab aku! Aku dan Emilia merindukannya! Kami butuh sahabat kami!"

"Diamlah, Bri," desis Melvin pelan, namun nada itu tajam seperti silet yang baru diasah. Ia tidak berhenti berjalan.

"Lalu apa yang akan terjadi jika aku tetap diam, hah?" Sabrina mengepalkan tangan, menghalangi jalan Melvin di depan pintu kamar sang kakak. "Kau akan tetap mengurung Gaby? Kau tidak berpikir tentang perasaan orang lain sama sekali, ya?"

Tiba-tiba, Melvin berbalik dengan gerakan cepat. Wajahnya yang biasanya tenang kini retak oleh amarah yang tertahan. "AKU BERPIKIR!" teriaknya, suaranya meledak di wajah Sabrina, membuat gadis itu mundur selangkah karena kaget.

Sabrina terdiam, napasnya tersengal, matanya berkaca-kaca melihat ledakan emosi kakaknya yang sudah setahun penuh meninggalkan rumah.

Dari arah koridor samping, sosok tinggi tegap muncul membawa aura wibawa yang tak terbantahkan. Lord Alistair, ayah mereka, melangkah dengan mantap. Jas hitamnya rapi, namun matanya menyiratkan kekhawatiran seorang ayah.

"Cukup, Sabrina," ucap Lord Alistair dengan suara bariton yang dalam, memotong ketegangan di udara. "Jangan ganggu kakakmu saat dia baru pulang. Dan kau, Melvin..." Tatapannya beralih tajam pada putra sulungnya. "Jangan pernah lagi membentak adikmu seperti itu."

"Tapi, Daddy!" protes Sabrina, air matanya mulai jatuh. "Dia merebut kebahagiaan seorang gadis! Dia menghancurkan hidup Gaby!"

"Sabrina!" Lord Alistair menekan bahu putrinya dengan lembut namun tegas untuk menenangkannya. Ia kemudian menatap Melvin lekat-lekat, mencari kebenaran di balik mata gelap anaknya. "Melvin, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi di kepalamu?"

Melvin menarik napas panjang, mencoba meredam badai dalam dadanya. Bahunya yang tegap sedikit turun, namun api di matanya tidak padam. "Aku tidak diam, Dad. Aku juga sedang berpikir," ucapnya, suaranya kini lebih rendah, penuh dengan determinasi yang menakutkan. "Aku sedang berfikir cara apa yang benar-benar bagus untuk mendekap nya kembali."

Lord Alistair terkesiap. Sabrina menggeleng tidak percaya.

"Kau gila, Kak!" bisik Sabrina horor.

Melvin hanya menyeringai tipis, senyum yang tidak mencapai matanya, senyum yang penuh dengan kegilaan dan kepemilikan mutlak.

Melvin segera berbalik, membuka pintu kamarnya, dan masuk dengan cepat sebelum siapa pun bisa menahan langkahnya. Pintu tertutup dengan bunyi blam yang final, mengisolasi dirinya bersama rencana-rencana gelap yang mulai bersarang di benaknya.

1
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!