Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Hutang yang Tak Kunjung Lunas
Ardi datang terlalu cepat.
Sepuluh menit sebelum jam sepuluh. Kafe masih sepi. Dua meja terisi: pria dengan laptop di pojok, ibu muda dengan ponsel dekat jendela. Barista menatapnya sekilas, lalu kembali bekerja.
Ardi memilih meja pojok. Menghadap pintu. Tidak duduk dulu. Tangannya di saku jas, jari menyentuh kunci hitam. Dingin. Berat.
Dia duduk. Tidak memesan.
Menunggu.
Pintu terbuka. Pria paruh baya masuk, membeli kopi, keluar.
Ardi tidak bergerak.
Kunci hitam di saku. Jari bergerak maju mundur di sela logam. Ritme kecil yang mungkin tidak disadarinya. Atau dia sadar—dan sengaja mengisi waktu.
Jam di dinding. Jarum panjang bergerak pelan.
Pintu terbuka lagi. Seorang perempuan. Bukan Yuni.
Ardi menarik napas. Melepaskannya perlahan.
Pukul sepuluh lewat tiga.
Pintu terbuka.
Yuni masuk.
Dia berbeda. Dulu, di rumah Menteng, Yuni selalu tenang. Gerakannya terukur, matanya tidak pernah terlalu lama menatap siapa pun. Sekarang dia berdiri di ambang pintu dengan tas kecil digenggam erat, mata bergerak cepat ke kanan dan kiri—seperti orang yang takut diikuti.
Ardi tidak memanggil. Tidak mengangkat tangan.
Yuni menemukannya sendiri. Dia berjalan ke meja, langkah cepat, hampir lari kecil. Di depannya, dia tidak langsung duduk.
“Maaf telat, Pak…”
Suaranya pelan. Gemetar.
Ardi tidak menjawab.
“Duduk.”
Yuni duduk. Tangannya masih menggenggam tas. Buku jari memutih.
Pelayan datang. “Mau pesan, Pak?”
“Kopi hitam.”
Pelayan menatap Yuni. Yuni menggeleng cepat.
Pelayan pergi. Mereka duduk dalam keheningan. Suara mesin kopi di belakang. Suara sendok menyentuh cangkir. Suara Yuni menarik napas—terlalu cepat, terlalu pendek.
“Kamu tidak sendiri,” kata Ardi.
Bukan pertanyaan.
Yuni mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan Ardi sebentar, lalu menghindar. “Saya… nggak tahu harus mulai dari mana.”
“Dari awal.”
Yuni menggenggam tas lebih erat. “Saya cuma ART, Pak. Saya nggak kenal Bapak. Saya cuma disuruh.”
Ardi menunggu.
“Ada yang nyuruh saya rekam.” Suaranya bergetar. “Dia yang kasih kamera. Dia yang kasih tahu waktu yang tepat. Saya cuma ngerjain apa yang dia suruh.”
“Siapa?”
Yuni diam. Matanya ke meja. Jari bergerak di atas tas, membuka ritsleting, lalu menutup lagi.
“Saya nggak bisa sebut nama, Pak.”
Ardi tidak menekan. Hanya menatap Yuni. Cukup lama hingga Yuni mulai gelisah.
“Saya takut.” Suaranya hampir berbisik. “Dia bilang kalau saya cerita, saya yang kena. Saya nggak punya siapa-siapa, Pak. Saya cuma butuh uang.”
Kopi datang. Ardi tidak menyentuh.
“Kamu di sini. Kamu minta ketemu. Pasti ada alasan.”
Yuni mengangkat wajah. Matanya basah. “Saya nggak tega, Pak. Saya lihat Bapak—saya lihat semua hancur. Saya pikir cuma rekaman biasa. Tapi ternyata dia pakai itu untuk hancurin Bapak.”
“Siapa?”
Yuni membuka mulut. Menutup. Membuka lagi.
“Saya hanya perantara.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Yang nyuruh saya, bukan siapa-siapa. Cuma orang suruhan juga.”
Ardi menegang. “Apa maksudmu?”
“Ada orang lain di belakang. Yang lebih besar. Yang nyuruh dia nyuruh saya.” Yuni menelan ludah. “Saya nggak tahu siapa. Tapi saya tahu—dia orang dalam.”
Dingin merambat dari kunci hitam di saku ke seluruh tubuh Ardi.
“Orang dalam perusahaan?”
Yuni menggeleng. “Saya nggak tahu. Tapi dia tahu jadwal Bapak. Dia tahu kapan Bapak di rumah. Dia tahu—” Yuni berhenti, menekan bibir.
“Dia tahu apa?”
“Dia tahu tentang Bapak dan Mbak Maya. Sebelum saya rekam. Dia yang kasih tahu saya waktu yang tepat.”
Ardi menarik napas. Dadanya sesak.
Yuni menunduk. “Saya cuma ART, Pak. Saya nggak tahu semua ini bakal separah ini. Saya cuma butuh uang. Tapi sekarang saya nggak bisa tidur.”
“Dia dekat.” Yuni mengangkat wajah. Matanya kosong. “Saya nggak tahu siapa, tapi dia dekat. Dengan Bapak. Dengan keluarga Bapak.”
“Siapa yang dekat?”
“Saya nggak tahu…” Yuni hampir menangis. “Dia selalu pakai nomor beda. Telepon saya, kasih instruksi, kirim uang. Saya nggak pernah lihat wajahnya.”
“Suaranya?”
“Pria. Muda.” Yuni mengusap mata dengan punggung tangan. “Tapi saya nggak yakin. Mungkin dia pakai suara beda.”
Ardi diam. Pria muda. Dekat dengan keluarga. Tahu jadwal. Tahu hubungan terlarangnya dengan Maya.
“Dia tahu semua jadwal Bapak.” Yuni bicara lebih cepat, seperti takut kehabisan waktu. “Jadwal kantor, jadwal perjalanan, jadwal Bapak di rumah. Dia tahu Mbak Maya juga. Dia tahu Mbak Maya suka ke galeri.”
Ardi membeku. “Galeri?”
“Iya. Dia bilang, kalau Mbak Maya ke galeri, itu waktu yang tepat. Bapak pasti sendiri di rumah.” Yuni menggenggam tasnya. “Tapi saya nggak tahu galerinya di mana. Saya cuma ikut instruksi.”
Ardi menarik napas panjang. Galeri. Tempat Maya dulu bekerja. Tempat yang jarang dia kunjungi.
Siapa yang tahu tentang itu? Hanya orang yang sangat dekat. Hanya orang yang mengenal Maya sebelum menikah.
Ponsel Yuni bergetar di tas. Dia tersentak. Matanya panik. Dia mengeluarkan ponsel, membaca layar—dan wajahnya berubah.
“Saya harus pergi.”
Ardi meraih pergelangan tangannya. “Belum selesai.”
Yuni melepaskan dengan gerakan panik. “Saya nggak bisa. Dia tahu saya di sini. Maaf, Pak. Maaf.”
Dia berdiri, mendorong kursi. Ardi ikut berdiri.
“Yuni.”
Tapi Yuni sudah berjalan cepat ke pintu. Di ambang, dia berbalik sebentar. Wajah pucat, mata basah.
“Yang nyuruh saya, Pak, dia dekat. Saya nggak tahu siapa. Tapi dia tahu semuanya. Dari awal. Dari sebelum saya rekam.”
Pintu terbuka. Yuni menghilang.
---
Ardi berdiri di tengah kafe. Beberapa pengunjung menatap. Barista berhenti sejenak. Ardi tidak peduli.
Dia duduk kembali.
Kopi hitam di depannya sudah tidak mengepul. Ardi tidak menyentuh. Tangannya di saku, menggenggam kunci hitam.
Orang dalam. Bukan Yuni. Bukan Sari. Pria muda. Tahu galeri. Tahu semua dari awal.
Ponsel bergetar. Nomor tidak dikenal.
Yuni sudah kabur. Saya punya lebih banyak dari yang Bapak kira. Kalau Bapak mau tahu siapa di balik semua ini, Bapak harus bayar lebih.
Ardi membaca sekali. Dua kali.
Siapa kamu?
Tiga titik. Mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.
Nanti saya kasih tahu. Bapak tunggu saja. Tapi ingat—ini bukan soal rekaman lagi. Ini soal nama keluarga Bapak.
Ardi menekan tombol mati. Memasukkan ponsel ke saku.
---
Di sisi lain kota, Maya duduk di tepi ranjang hotel.
Di tangannya, ponsel. Layar menampilkan panggilan ke Ardi yang gagal. Empat kali sejak pagi. Tidak ada balasan.
Di atas meja samping tempat tidur, kunci perak tergeletak.
Dia ingat kata Bram: Kunci itu punya maknanya sendiri.
Maya mengambil kunci itu. Merasakan dinginnya logam di telapak tangan.
Dua kunci. Bentuk sama. Satu perak di sini. Satu hitam di tangan Ardi.
Ponsel bergetar. Nomor tidak dikenal.
Hutang lama masih menunggu. Jangan lupa.
Maya membacanya. Jari gemetar. Hutang dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar lunas.
Dia tidak membalas. Mematikan layar.
---
Di kantor, Bram berdiri di depan jendela lantai dua belas.
Rapat selesai. Pengumuman sudah dibuat. Tidak ada yang menunggu di rumah.
Dia membuka ponsel. Chat dengan Ardi. Pesan terakhir: Besok kita bicara. Empat hari lalu.
Jari di atas keyboard. Apa kau baik-baik saja?
Dia menatap kalimat itu. Lalu menghapus.
Mengetik lagi: Maya sudah menghubungimu?
Menghapus lagi.
Dia menutup ponsel. Memasukkannya ke saku.
Di luar, hujan mulai turun. Gerimis tipis membasahi kaca.
---
Ardi masih duduk di kafe.
Kopi sudah dingin berjam-jam. Pria dengan laptop sudah pergi. Ibu muda juga sudah pulang. Kafe kini sepi, hanya dia dan barista yang sibuk membersihkan mesin.
Ardi mengambil kunci hitam dari saku. Meletakkannya di atas meja.
Dia memutar kunci itu dengan jari. Logam berputar di atas kayu.
Orang dalam. Pria muda. Dekat dengan keluarga. Tahu galeri.
Siapa yang tahu Maya suka ke galeri? Siapa yang tahu jadwal Maya?
Dia memikirkan semua orang yang pernah datang ke rumah. Rekan bisnis Bram. Staf pribadi. Teman Maya dari dulu.
Siapa yang punya akses ke semua informasi itu?
Ardi menghentikan putaran kunci. Menatap logam hitam di ujung jarinya.
Dia ingat satu nama. Seseorang yang selalu ada. Yang tahu jadwalnya. Yang tahu jadwal Maya. Yang tahu rumah kosong. Yang bahkan tahu galeri.
Tapi tidak mungkin. Tidak masuk akal. Dia tidak punya motif.
Atau… punya?
Ardi memasukkan kunci ke saku. Membayar kopi yang tidak diminum. Berdiri.
Di luar, hujan turun lebih deras. Jakarta basah, kelabu, dan tidak peduli.
Ardi membuka pintu kafe, menghirup udara yang bercampur bau aspal dan air hujan.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya hancur, dia tidak merasa kosong.
Dia merasa… diawasi.
Dan dia tahu, untuk menemukan jawabannya, dia harus kembali ke satu tempat yang selama ini dia hindari.
Kantor.
Bukan untuk bekerja. Untuk mencari.