Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pelukan itu terasa hangat.... terlalu hangat untuk seseorang yang seharusnya sudah ‘hilang’ dari dunia ini.
Tangan Axel Dominic bergetar saat memeluk putrinya. Seolah ia takut – takut jika ini hanya ilusi dan akan menghilang begitu saja.
“Irene... daddy minta maaf... daddy benar-benar minta maaf, Irene...”
Suara pria itu bergetar. Untuk pertama kalinya, sosok dingin dan tegas seperti Axel Dominic runtuh begitu saja.
“Seharusnya daddy bisa lebih tegas menahan mu untuk tidak pergi ke tempat itu,” suaranya masih bergetar dengan penuh penyesalan.
“Ini bukan salah daddy...” ucap Violet pelan. “Aku yang bersikeras untuk tetap pergi saat itu.”
Suasana menjadi hening sejenak. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar saling berdenting dari meja lain.
Violet perlahan melepaskan pelukan itu, menatap pria di depannya – ayah dari jiwa yang menempati tubuh ini.
Mereka menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.
“Daddy... mulai sekarang, panggil aku Violet, ya. Jangan Irene lagi.”
“Baiklah, nak. Daddy akan mengingatnya.”
“Oh iya, daddy. Ada hal yang ingin aku beri tahu sama daddy,” ucap Irene, suaranya menjadi lebih serius.
Daddy Axel yang merasakan keseriusan putrinya, langsung mencoba duduk lebih tegak dengan tatapan yang serius.
Daddy Axel mengernyit. “Apa itu?”
Violet mengeluarkan ponselnya, lalu memutar rekaman CCTV yang sebelumnya ia retas. Layarnya diputar ke arah Axel.
“Ini adalah penyebab sebelum kematian yang menimpa Irene, dad,” ucap Violet.
Daddy Axel menatap layar itu dengan fokus. Detik demi detik berlalu... hingga akhirnya wajahnya berubah drastis saat melihat sosok itu.
“Selena... Bukankah dia temanmu, Irene?! Dia juga yang menjadi tangan kananmu?” gumam Daddy Axel dengan menahan amarah.
“Benar, dad. Waktu itu, dia yang paling bersemangat merekomendasikan aku untuk ikut balapan itu. Namun ternyata, dia malah menjebak ku dengan memotong rem mobilku sebelum balapan.”
Daddy Axel memukul meja dengan keras. “ Sialan!”
“Daddy tenang dulu. Tarik napas lalu keluarkan perlahan.” Hal itu dilakukan oleh Daddy Axel hingga ia benar-benar tenang.
Daddy Axel menarik napas pelan, sebelum akhirnya ia berbicara. “Tapi, apa alasan dia melakukan itu?”
“Itu yang aku belum tahu pasti, dad,” jawab Violet.
“Kamu tenang saja, itu biar menjadi urusan daddy.”
Violet mengangguk.
“Oh iya nak, daddy lihat dari pakaianmu, kamu sepertinya masih sekolah?” tanya daddy Axel.
“Huft. Iya dad, aku kembali bersekolah lagi. Aku harus mengulang kembali pelajaran sebelumnya,” keluh Violet.
“Bukankah putri daddy ini pintar? Jadi, pasti cepat menyelesaikan sekolahnya," ucap Daddy Axel sambil mengusap rambutnya.
“Iya, dad. Tapi sekarang aku harus berurusan dengan brandal dan pembully di sekolah.”
“Kenapa?” tanya Daddy Axel.
“Baru saja aku dipindahkan ke kelas khusus, langsung saja aku mendapat gangguan dari murid laki-laki itu.”
“Kamu tinggal hajar dia, apa susahnya?”
“Iya dad. Tapi seseorang telah membalas perbuatan dia,” jawab Violet dengan sudut bibir yang ditarik ke atas.
“Baguslah. Lalu soal pembully itu, apa yang menjadi masalahnya?”
“Pemilik tubuh ini selalu mendapat bullying dari teman seangkatannya.”
“Apa yang dia perbuat sampai dia harus di bully begitu?”
“Dia selalu mendapat nilai yang bagus dan menjadi kesayangan para guru. Para pembully itu tidak terima, akhirnya ia mendapat bullying itu dan ia juga dijebak tengah tidur dan melakukan tindakan tak senonoh dengan seorang sugar daddy. Padahal pemilik tubuh tidak pernah melakukan itu sama sekali.”
Daddy Axel berusaha menahan amarahnya. “Sialan! Jadi tubuh yang kau tempati sekarang jadi bahan bullyan di sekolah?”
“Benar, dad. Bahkan orang tua pemilik tubuh ini, sampai mengurung putrinya di gudang yang pengap, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”
“Kasian sekali.”
“Tapi, ada yang lebih kasihan lagi dad. Pemilik tubuh dipaksa untuk menggantikan posisi kakaknya untuk menikah dengan Tuan X untuk melunasi hutang keluarganya.”
“Tuan X?”
“Iya, dad. Tapi aku menyetujuinya, agar aku lepas dari keluarga toxic itu. Bahkan untuk menjadi wali nikah putrinya saja, aku harus mengeluarkan uang sebanyak 5 miliar dollar agar aku bisa bebas dari keluarga itu.”
“APA?! Kamu dipaksa?! Siapa yang berani memaksamu untuk menggantikan posisi kakaknya untuk menikah?”
“Keluarga Alexander. Daddy tahu kan?”
“Maksudnya, Darius Alexander?”
“Benar, dad. Apa daddy ada kerja sama dengan perusahaan milik mereka?”
“Ada, tapi kinerja mereka sangat lambat. Sudah lama daddy ingin memutuskan kerja sama itu.”
“Kalau menurutku sekarang, daddy bisa memutuskan kerja sama itu.”
“Betul juga. Besok daddy akan perintahkan orang kepercayaan daddy untuk memutuskan kerja sama itu.”
Tak terasa obrolan mereka menjadi sangat panjang, hingga akhirnya, waktu telah menunjukkan pukul 3 sore.
Violet yang melihat jam tangannya pun terkejut. "Ya ampun..." sambil menepuk jidat. "Sudah jam 3."
“Kenapa, bukankah sekarang masih siang?” tanya Daddy Axel heran.
“Iya, daddy. Tapi, hari ini acara pernikahanku dengan Tuan X.”
“Apa?! Jadi benar kau akan menikah dengan Tuan X?”
“Benar, daddy. Aku tidak bisa mengingkari perjanjian itu. (Selain itu, takdir pasanganku ada di sana),” lanjutnya dalam hati.
Daddy Axel terdiam sesaat.
Tatapannya berubah tajam, namun kali ini bukan karena marah, melainkan seolah seperti menimbang sesuatu.
"Daddy tidak suka ini," ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun terdengar tegas. "Menikah karena paksaan, apalagi demi hutang... ini bukan sesuatu yang pantas untuk putri Daddy."
Violet tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum tenang, yang seolah-olah sudah menerima segalanya.
"Aku tahu dad. Tapi ini jalan tercepat agar aku bisa keluar dari keluarga itu. Lagi pula..." ia berhenti sejenak, matanya meredup, "... aku punya alasan lain."
Daddy Axel menyipitkan matanya. Ia terlalu mengenal 'Irene'-nya. Setiap keputusan yang diambil, pasti telah diperhitungkan dan juga memiliki tujuan tersembunyi.
"Alasan apa? " tanyanya pelan.
Violet tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela restoran, memperhatikan langit siang yang perlahan berubah sedikit demi sedikit menjadi jingga.
"Instingku mengatakan... bahwa ini bukan hanya kebetulan."
Hening.
Kalimat itu menggantung, namun cukup untuk membuat Daddy Axel memahami bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik pernikahan putrinya.
"Apa kamu mengenal siapa Tuan X itu?" tanya Daddy Axel akhirnya.
Violet menggeleng pelan.
"Identitasnya masih rahasia. Tapi yang Ayah Darius katakan bahwa ia hanyalah seorang asisten biasa."
"Asisten biasa? Bukankah itu terlalu..."
"Aku tidak tahu, dad." potong Violet. "Tapi yang pasti, dalam mimpiku menunjukkan bahwa aku harus menikah dengan Tuan X. Karena hanya dia yang bisa membantuku membalas semua rasa sakit Violet."
Daddy Axel menghela napas panjang.
"Semakin misterius, semakin daddy tidak suka."
Ia berdiri, mengambil jasnya, lalu menatap Violet dengan serius.
"Baik, kalau kamu tetap akan melaksanakan pernikahan itu... Daddy hanya ingin memastikan satu hal."
Axel menatap tajam, aura dinginnya kembali muncul, namun kali ini bukan untuk menakuti, melainkan untuk melindungi.
"Tidak ada satu orang pun... yang boleh menyakiti putri daddy, apalagi sampai membuatmu menangis."
Violet tersenyum kecil. Hatinya menghangat. Daddy-nya selalu seperti ini dari dulu.
"Terima kasih, dad."
...... To be continued ... ...