Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suara Yvaine yang barusan terdengar di ruang makan masih seolah menggema di dalam kepala para pelayan. Tidak keras, tidak pula terburu-buru namun cukup tegas untuk membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan tekanan yang tak kasat mata.
Di tengah sisa keheningan itu, sebuah suara kecil terdengar pelan.
“Mom..”
Joy menatapnya dari pelukan, matanya ragu-ragu, seolah masih mencoba memahami perubahan yang terjadi begitu cepat.
Yvaine menunduk, lalu tersenyum lembut. Tanpa menjawab di tempat, ia justru mengangkat tubuh kecil itu sedikit lebih nyaman dalam pelukannya.
“Ayo,” katanya pelan.
Ia membawa Joy kembali ke kamar.
Begitu sampai, Yvaine meletakkan Joy di atas tempat tidur dengan hati-hati. Tangannya terulur, mengelus rambut lembut anak itu dengan gerakan yang pelan dan menenangkan.
“Ada apa?” tanyanya, suaranya jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.
Joy menatapnya lama. Mata polos itu tampak penuh pertanyaan yang belum sempat terucap.
“Mom..” ia ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya, “kamu akan menceraikan Daddy?”
Pertanyaan itu sederhana, namun cukup untuk membuat Yvaine terdiam.
Untuk sesaat, ia hanya menatap wajah kecil di hadapannya.
Rasa bersalah tiba-tiba muncul dalam hati Yvaine, namun ia tidak menunjukkannya.
Ia tetap tersenyum.
“Iya,” jawabnya pelan. “Mom dan Daddy akan berpisah.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi anak itu untuk mencerna kata-katanya, sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih hangat.
“Jadi Mommy tidak akan tinggal di sini lagi.”
Joy tampak sedikit bingung.
“Tidak tinggal di sini?” ulangnya lirih.
Yvaine mengangguk pelan, lalu menatapnya lebih dalam.
“Mommy akan pindah,” lanjutnya. “Kamu mau ikut Mommy?”
Ada jeda singkat.
Joy tampak berpikir, meski pikirannya masih sederhana.
“Pindah ya..” gumamnya, seperti mencoba memahami arti kata itu.
Yvaine tidak memaksanya menjawab. Ia hanya bertanya lagi, kali ini lebih pelan,
“Atau kamu lebih ingin tinggal dengan Daddy?”
Reaksi Joy langsung berubah, ia menggeleng keras, hampir tanpa jeda.
“Tidak! Aku mau sama Mommy!”
Jawabannya cepat, tegas, dan penuh kepanikan yang tidak bisa disembunyikan.
Bagi Joy, sosok ayah bukanlah seseorang yang benar-benar hadir dalam hidupnya. Bahkan ketika berada di rumah yang sama, jarak di antara mereka seperti tidak pernah bisa dijangkau.
Sebaliknya, kehangatan yang baru saja ia rasakan dari Yvaine terasa sangat nyata.
“Mom..” suaranya melemah, kini terdengar lebih pelan. “Mommy akan selalu menyayangi aku, kan?”
Yvaine membeku, iaa bisa melihat keraguan di mata anak itu, ketakutan yang tersimpan, seolah ia sudah terlalu sering kehilangan hingga takut berharap lagi.
Perlahan, Yvaine mengangkat kedua tangannya, memegang wajah kecil Joy dengan hati-hati.
“Aku akan selalu menyayangimu,” katanya pelan, namun jelas. “Selalu.”
Tidak ada keraguan dalam suaranya.
Joy menatapnya sejenak, seolah memastikan kebenaran dari kata-kata itu. Lalu, perlahan, ia mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memeluk leher Yvaine erat-erat.
“Kalau begitu aku ikut Mommy.”
Yvaine tersenyum, mengusap punggungnya dengan lembut.
Beberapa detik kemudian, Joy kembali berbicara, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ringan.
“Tuan Butler ikut juga?”
Yvaine tertawa kecil.
“Tidak,” jawabnya. “Tapi kalau kamu rindu, Mommy akan mengajakmu kembali untuk bertemu dengannya.”
Joy tampak berpikir lalu akhirnya mengangguk pelan. “Okey.."
***
Seperti yang diduga, kabar itu tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke telinga Tobias.
Di ruang kerja yang luas dan sunyi, kepala pelayan tua berdiri tegak di hadapannya, menyampaikan semua permintaan Yvaine tanpa melewatkan satu kata pun.
Tobias mendengarkan dengan ekspresi datar.
Setelah selesai, ia hanya mengernyit sedikit.
“Cuma itu?” tanyanya singkat.
Kepala pelayan hampir kehilangan kendali atas ekspresinya.
Permintaan untuk membawa satu-satunya pewaris keluarga dianggap sepele?
Namun di hadapan pria itu, ia tidak berani menunjukkan apa pun.
Sementara itu, Tobias tetap terlihat tenang.
Baginya, Joy bukan sesuatu yang penting.
Anak itu hanyalah hasil dari pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Sebuah ikatan yang dipaksakan dan sekarang, wanita itu ingin menggunakannya lagi sebagai alat tawar?
“Apakah ada yang kamu sembunyikan?” tanyanya tiba-tiba.
Kepala pelayan terdiam sesaat, lalu menggeleng.
“Tidak, Tuan. Itu semua yang Nyonya katakan.”
Ia pun mengulang kembali, termasuk sindiran halus yang Yvaine lontarkan.
Baru saja Sang Butler mengulang pesan dari Yvaine, ada suara tawa kecil memecah suasana.
Seorang wanita keluar dari kamar di sisi lain ruangan.
Sofia berjalan santai, langkahnya ringan namun penuh percaya diri. Tanpa ragu, ia mendekati Tobias, lalu menyandarkan tubuhnya di bahu pria itu dengan akrab.
“Wanita itu cukup menarik,” katanya sambil tersenyum tipis. “Berani sekali dia meremehkanmu seperti itu.”
Ia memiringkan kepala, menatap Tobias.
“Kenapa tidak kamu pikirkan lagi soal perceraian ini?”
Namun Tobias tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah tidak terpengaruh oleh kehadiran siapa pun di sekitarnya.
Beberapa detik berlalu, baru kemudian ia berbicara.
“Sampaikan padanya..” suaranya rendah dan dingin, “aku setuju.”
Kepala pelayan tertegun.
“Tuan?”
Namun Tobias tidak mengubah ekspresinya.
“Pernikahan ini akan berakhir,” lanjutnya singkat, seolah keputusan adalah hal yang paling ia inginkan.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆