Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Di Balik Pelukan Pura-Pura
Zelia membuka pintu tanpa melihat lebih dulu, mengira makanan pesanannya sudah datang. Namun begitu pintu terbuka—
“Kau?”
Wajahnya langsung berubah dingin. “Ngapain kamu ke sini?” tanyanya datar.
“Aku ingin bicara denganmu,” ucap Fero.
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Zelia hendak menutup pintu. Namun Fero menahan dan menerobos masuk.
“Fero! Apa yang kau lakukan? Keluar!” seru Zelia tajam.
“Zelia, aku tahu kamu marah. Tapi tolong dengarkan aku. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Desti. Dia… dia yang merayu aku.”
Zelia tersenyum sinis. “Dia yang merayu atau kalian sama-sama mau, aku nggak peduli. Kita sudah selesai. Kau bukan lagi tunanganku. Dan aku sudah menikah. Jadi keluar. Sekarang.”
Ia menekankan kata terakhir dengan nada dingin.
“Zelia, aku mencintaimu. Desti cuma kekhilafan sesaat. Aku tahu kamu juga cinta sama aku. Kamu cuma marah.” Fero meraih tangan Zelia.
“Lepas. Jangan sentuh aku. Aku jijik sama kamu.”
“Zelia—”
Kata-kata Fero terhenti saat terdengar suara keypad pintu ditekan.
“Lepas!” Zelia berusaha menarik tangannya, tapi Fero tetap menggenggam.
Pintu terbuka.
“Ada apa ini?”
Suara Are terdengar tenang dari ambang pintu.
Fero dan Zelia menoleh. Dan saat itulah—
Dug!
“Akh!”
Zelia menendang tulang kering Fero tanpa ragu. Fero melompat sambil meringis menahan sakit.
Zelia buru-buru berlari ke arah Are dan memeluk lengannya.
“Sayang, dia menerobos masuk,” katanya kesal, ekspresinya seperti anak kecil yang mengadu.
Are sedikit menyipitkan mata. Panggilan itu, dan ekspresi Zelia, lagi dan lagi menimbulkan rasa gemas yang tak ingin ia akui. Wajahnya tetap datar saat menatap tajam Fero.
“Kau tidak diterima di rumah ini,” ucapnya tegas. “Silakan pergi.”
Fero tertawa pendek.
“Sok sekali kamu. Kamu cuma pelarian buat Zelia. Dia nggak cinta sama kamu. Kamu cuma dimanfaatkan buat ambil warisan. Dia cuma cinta sama aku. Dia cuma lagi marah.”
“Bohong,” potong Zelia.
Ia menatap Are dengan ekspresi yang lagi-lagi membuat pria itu sulit menjaga jarak.
“Sayang, aku benar-benar sudah selesai sama dia. Mungkin dulu aku suka sama dia. Tapi setelah tahu dia berkhianat… aku jijik.”
Ia memeluk lengan Are sedikit lebih erat.
“Tolong percaya sama aku. Aku memang belum cinta sama kamu… tapi aku akan belajar.”
Tangannya perlahan naik, mengusap rahang tegas Are, lalu turun ke bahu lebar dan dadanya.
“Aku rasa… aku bakal jatuh cinta sama kamu lebih cepat dari yang aku mau.”
Suaranya lembut, menggoda.
Are menelan ludah.
Ada sesuatu yang bergerak pelan di dadanya. Ia tidak menyukai perasaan itu. Terlalu hangat untuk sesuatu yang seharusnya hanya kesepakatan. Namun anehnya… ia tidak ingin menghentikannya.
Jangankan disentuh sedekat ini, tak pernah ada wanita yang ia biarkan mendekat. Namun anehnya, ia tidak marah. Tidak ingin menolak.
Fero tertegun. Selama bersama Zelia, ia tak pernah melihat wanita itu seperti ini. Jangankan menyentuh atau berbicara dengan nada menggoda, Zelia bahkan tak pernah berinisiatif memeluknya, apalagi sampai mengusap rahang, bahu, dan dada seperti barusan.
Selama bertunangan pun, Zelia tak pernah mengizinkannya mencium. Karena itulah, saat Desti datang dengan keintiman yang begitu mudah, Fero tanpa sadar jatuh ke dalam jeratnya.
Are akhirnya berbicara, suaranya rendah dan dingin.
“Sekarang kau sudah dengar sendiri.” Tatapannya menajam. “Dia istriku. Jadi berhenti datang ke sini.”
Aura tekanannya membuat udara terasa berat.
Fero mengatupkan rahang, jelas menahan emosi.
“Kita lihat saja berapa lama sandiwara ini bertahan,” katanya sinis.
Ia menatap Zelia terakhir kali sebelum berbalik dan pergi, membanting pintu cukup keras.
Sunyi langsung memenuhi ruangan.
Zelia mengembuskan napas panjang, lalu perlahan melepaskan pelukannya. Baru saat itu ia sadar betapa dekat posisi mereka. Ia mundur sedikit, berdeham canggung.
“Maaf… tadi cuma biar dia pergi.”
Are menatapnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Aku tahu.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat jantung Zelia berdetak sedikit lebih cepat.
Dan entah kenapa… ia tidak ingin menjauh terlalu jauh.
Setelah keluar dari unit apartemen Zelia, Fero berhenti sejenak dan menatap pintu itu lagi.
“Sial… sulit sekali membujuk dia,” gumamnya kesal. “Padahal selama kami tunangan dia nggak pernah seperti itu. Selalu nurut dan percaya sama aku. Tapi sekarang…”
Ia menendang udara dengan frustrasi, lalu berbalik melangkah pergi.
Begitu masuk ke dalam mobil, Fero langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Halo. Gimana? Sudah dapat info?”
Suara di seberang terdengar cepat menjawab. “Ibunya dirawat di rumah sakit. Masih belum sadar pasca kecelakaan, korban tabrak lari.”
Fero terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apa benar dia cuma tukang parkir?”
“Benar, Bos. Tidak ada data yang menyebutkan dia bekerja di tempat lain. Rumahnya sederhana. Dia hanya tinggal berdua dengan ibunya.”
Fero mengusap wajahnya kasar, rahangnya mengeras.
“Selidiki lebih detail. Apa pun tentang dia.”
Ia langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
Tatapannya kosong beberapa detik sebelum akhirnya menyipit.
“Auranya… seperti orang kelas atas. Bos besar,” gumamnya pelan. “Nggak mungkin dia orang biasa. Pasti ada latar belakang yang nggak sederhana.”
Mobil mulai melaju, tapi pikiran Fero jauh lebih berisik daripada suara mesin.
Sejak pernikahan itu batal, saham perusahaannya goyah. Kepercayaan investor menurun drastis setelah skandal video dirinya dan Desti diputar di depan para tamu undangan. Semua orang tahu Desti adalah adik tiri Zelia… dan saat itu, tunangannya adalah Zelia.
Bukan hanya reputasinya yang hancur. Rencana besar yang sudah disusun bertahun-tahun ikut runtuh.
Seharusnya, jika ia berhasil menikahi Zelia, semuanya akan berjalan sesuai rencana.
Ia dan keluarga Atyasa akan mengendalikan perusahaan melalui pernikahan itu.
Setelah posisi aman, ia akan menceraikan Zelia… lalu menikahi Desti.
Dua perusahaan akan digabung, dan kekuasaan sepenuhnya jatuh ke tangan mereka.
Rencana yang disusun bertahun-tahun.
Rencana yang nyaris sempurna.
Namun sekarang… semuanya runtuh.
***
Di rumah Atyasa, pria itu baru saja pulang. Jasnya masih melekat rapi, tapi wajahnya jelas lelah dan gelap. Ia duduk di ruang tengah bersama Dian dan Desti yang sejak tadi menunggunya dengan gelisah.
“Bagaimana, Pa?” tanya Dian tak sabar. “Papa berhasil mempertahankan posisi CEO?”
Atyasa membuang napas kasar.
“Dia berhasil menduduki posisi itu.”
“Apa?!” sela Desti dengan mata membesar. “Bagaimana bisa? Bukankah para dewan direksi berpihak pada Papa?”
Dian ikut menimpali, suaranya meninggi. “Iya. Kemarin Papa bilang mereka nggak bakal berkhianat. Kenapa sekarang Papa malah mundur dari posisi CEO?”
Atyasa terdiam sejenak, rahangnya mengeras.
“Suami Zelia,” katanya akhirnya dingin. “Dia yang membuat rencanaku runtuh dalam hitungan menit.”
“Hah?” Desti mengernyit. “Gimana bisa, Pa? Bukankah dia cuma tukang parkir?”
Atyasa teringat kembali bagaimana pria itu berbicara di ruang rapat pagi tadi. Tenang, tajam, tanpa ragu.
“Informasi yang Papa dapat memang begitu,” katanya pelan. “Tapi aura dan pembawaannya jelas bukan orang biasa. Kata-katanya tepat… efisien… dan tak bisa dibantah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dian saling pandang dengan Desti, kegelisahan mulai berubah menjadi kekhawatiran.
“Lalu… apa yang akan kita lakukan?” tanya Dian pelan.
Tatapan Atyasa mengeras, dingin seperti baja. “Kita cari tahu siapa dia sebenarnya. Tak ada orang yang benar-benar bersih,” kata Atyasa pelan. “Kita hanya perlu menemukan celahnya.”
Dian menelan ludah. “Kalau… nggak ketemu?”
Atyasa tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
“Kita singkirkan dia.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya.
...✨“Kadang yang paling berbahaya bukan musuh yang terlihat… tapi masa lalu yang belum selesai.”...
...“Tak ada orang yang benar-benar bersih. Hanya soal siapa yang lebih dulu menemukan celah.”...
...“Aku mungkin belum mencintaimu… tapi hatiku sudah mulai berpihak.”...
...“Kau boleh mengusir masa lalu… tapi bukan berarti masa lalu berhenti mengejarmu.”✨...
.
To be continued
Ingatanya kepada Fero, Desti keluar kamar hotel.
Sampai di apartemen Fero - memberitahu kalau diusir dari rumah. Desti dan mamanya - untuk sementara mau tinggal di tempat Fero.
Alih-alih Fero mengijinkan. Malah menyalahkan Desti dan ayahnya.
Fero si tolol tak merasa salah juga. Niatnya mau menikah dengan Zelia tidak tulus. Mau merebut kekayaan milik Zelia. Selingkuh dengan saudara tiri Zelia.
Menjadi CEO berdiri sejajar dengan Zelia cuma mimpi. Sekarang semua hancur.
Wow...Desti yang menjebak duluan. Fero si tolol juga menikmati. Gimana sih.
Saling menyalahkan.
Kedatangannya yang dangan disambut dingin Atyasa.
Salah satu pria menyerahkan sebuah map tebal di meja.
Dokumen pengalihan aset. Aset milik Zelia.
Are bicara sesuai fakta yang ada.
Rumah yang mereka tempati, aset perusahaan, rekening investasi, semua tercatat sebagai warisan dari mendiang Ibu Zelia.
Yang selama ini di kelola Atyasa. Akan dialihkan kepada pemilik sahnya.
Dian, Desti, dan Atyasa, mulai hari ini dimiskinkan.
Zelia dan Are tahu kalau Atyasa tidak akan berhenti. Atyasa pasti akan berulah lagi.
Are punya cara membereskan Atyasa. Tapi Zelia akan terlihat kejam.
Atyasa dimiskinkan.
Agar Atyasa tidak bisa bergerak bebas - Zelia harus mengambil semua aset yang masih ada pada Atyasa.
Are juga berhenti beberapa langkah di belakangnya.
Atyasa merasa Are yang menyebabkan ia mundur.
Apapun kalimat yang terucap dari mulut Atyasa - Are bisa menanggapi dengan tenang.
Atyasa masih percaya diri - Are yang jatuh.
Direktur senior bicara. Direktur lain langsung menimpali.
Dewan memutuskan untuk sementara menonaktifkan Atyasa dari jabatan komisaris sampai investigasi selesai.
Direktur lain lebih keras lagi. Untuk menjaga reputasi perusahaan, dia mengusulkan Atyasa mengundurkan diri.
Keputusan diambil lewat voting. Mayoritas angkat tangan setuju Atyasa mengundurkan diri.
Fero juga kena batunya. Kerja sama dengan perusahaan milik Fero dihentikan. Kontrak yang sedang berjalan ditinjau ulang. Perusahaan dimasukkan dalam daftar hitam mitra bisnis Angkasa Group.
Atyasa tidak protes berarti mengakui kesalahannya.
Masih mau mencari celah - Are yang di tatap.
Bukti rekaman yang didapat Are jelas valid. Dan rumor memang sengaja diciptakan.
Rumor itu hampir meruntuh reputasi Angkasa Group.
Bukan datang dari pesaing luar, melainkan dari orang yang berada di lingkaran sendiri.
Kepentingan pribadi seseorang, hendak mengorbankan perusahaan.
Tinggal menunggu semua bukti dinyatakan sah.
Atyasa masih kelihatan santai. Padahal ketua dewan mengatakan - bukti yang disampaikan menunjukkan keterlibatan Atyasa dalam penyebaran rumor yang merugikan Angkasa Group.
Harusnya sebagai komisaris Atasya memiliki kewajiban untuk melindungi kepentingan perusahaan.
Atyasa malah bicaranya seperti menantang - kita lihat saja siapa yang benar-benar jatuh di akhir permainan ini.