NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Azalea—Nayla.

Azalea—Nayla.

Azalea—Nayla.

Nayla.

Ia menghela napas panjang, berusaha menanamkan nama itu dalam kepalanya. Bukan lagi Azalea. Bukan lagi dirinya yang lama. Sekarang, untuk sementara atau mungkin selamanya ia adalah Nayla Arabella.

Nama itu terasa asing di lidahnya, seperti mengenakan baju yang bukan miliknya. Tidak terlalu pas, tapi harus dipakai.

“Oke… Nayla,” gumamnya pelan, hampir seperti meyakinkan diri sendiri.

Namun menerima nama baru jauh lebih mudah dibandingkan menerima kenyataan bahwa ia tidak tahu harus pulang ke mana.

Azalea—Nayla—mengusap wajahnya dengan frustasi. Sejak bel pulang sekolah berbunyi, ia sudah berdiri di halte ini selama hampir setengah jam. Ia bahkan sempat berjalan ke sana kemari, berharap tiba-tiba ada ingatan yang muncul begitu saja. Tapi nihil.

Yang ia tahu hanya satu hal, rumah Nayla besar, dominan warna putih, dan itu saja.

Tidak ada alamat.

Tidak ada patokan.

Tidak ada jalan pulang.

“Gila,” gumamnya sambil kembali duduk di bangku halte yang mulai panas terkena matahari siang. “Masa gue jadi gelandangan di dunia orang lain?”

Ia menatap jalanan di depannya yang ramai. Kendaraan lalu lalang tanpa henti, suara klakson bersahutan, dan udara panas bercampur debu terasa menusuk kulit. Sungguh bukan kondisi ideal untuk seseorang yang baru saja mengalami krisis identitas.

Ia menyandarkan punggungnya, lalu menatap langit yang terik.

“Apakah ini bagian dari cerita?” gumamnya lagi. “Atau ini cuma bonus penderitaan buat gue?”

Tangannya kemudian bergerak membuka tas berwarna biru yang sejak tadi ia bawa. Tas itu terasa asing, tapi entah kenapa ia tahu itu miliknya atau lebih tepatnya milik Nayla.

Ia mengeluarkan ponsel dari dalamnya.

“Please… jangan bilang ada password,” desisnya.

Begitu layar menyala, Azalea langsung panik.

Terkunci.

“Ya ampun, kenapa hidup gue ribet banget sih,” keluhnya sambil mengacak rambut.

Namun beberapa detik kemudian ia terdiam.

Sidik jari.

Perlahan, ia menempelkan ibu jarinya ke sensor. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, seolah menunggu hasil dari percobaan sederhana itu.

Klik.

Layar terbuka.

“YES!” serunya pelan, hampir melompat dari tempat duduk.

Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. “Oke, ini bukti valid kalau gue emang Nayla sekarang.”

Tanpa membuang waktu, ia langsung membuka berbagai aplikasi. Kontak. Pesan. Galeri. Ia berharap menemukan sesuatu apa pun yang bisa memberinya petunjuk tentang rumah Nayla.

Namun semakin lama ia mencari, semakin ia merasa frustrasi.

Tidak ada nama “Rumah” di kontak.

Tidak ada alamat yang jelas.

Chat pun kebanyakan tidak membantu, bahkan sebagian membuatnya bingung karena konteksnya tidak ia mengerti.

“Kenapa hidup lo ribet banget sih, Nayla…” gumamnya, kini benar-benar lelah.

Ia menyandarkan kepala ke tiang halte, menutup mata sejenak.

Panas matahari semakin terasa menyengat. Kulitnya mulai terasa perih, keringat mengalir di pelipisnya, dan suara kendaraan semakin memekakkan telinga.

Sekolah di belakangnya sudah mulai sepi. Hanya tersisa beberapa siswa yang mungkin masih memiliki kegiatan. Selebihnya, semua sudah pulang.

Dan dia?

Masih terjebak di sini.

Sendiri.

Tanpa arah.

Tanpa tujuan.

Tanpa tahu jalan pulang.

Beberapa menit berlalu dalam diam. Azalea hanya duduk, menatap kosong ke depan. Sampai akhirnya—

Suara mesin motor besar terdengar mendekat.

Ia mengangkat kepala.

Sebuah motor berhenti tepat di depan halte. Suaranya berat, dalam, dan cukup menarik perhatian siapa pun di sekitarnya.

Azalea otomatis menatap.

“Siapa dia?” batinnya.

Helm full face masih menutupi wajah pengendara itu. Posturnya tinggi, tubuhnya tegap, dan aura yang ia bawa entah kenapa terasa mencolok.

Jantung Azalea tiba-tiba berdegup lebih cepat.

“Jangan-jangan…”

Sebuah kemungkinan langsung muncul di kepalanya.

“Pacarnya Nayla?”

Ia menelan ludah.

Yang ia ingat dari cerita, Nayla memiliki kekasih yang tidak baik. Toxic. Posesif. Dan cukup mengerikan.

Azalea bahkan tidak tahu wajahnya. Ia hanya tahu nama dan sifatnya saja.

Kalau benar ini dia…

“Wah, kacau sih.”

Namun rasa penasaran mengalahkan rasa takut.

“Ya udah, tanya aja,” gumamnya pelan.

Pengendara itu perlahan melepas helmnya.

Dan detik berikutnya—

Azalea terpaku.

Seolah waktu berhenti.

Seolah suara di sekitarnya menghilang.

Satu kata langsung muncul di pikirannya.

Tampan.

Tidak. Bukan sekadar tampan.

Sangat tampan.

Wajahnya tegas, rahangnya jelas, rambutnya sedikit berantakan tapi justru menambah daya tarik. Matanya tajam, namun tidak dingin. Ada sesuatu di sana yang sulit dijelaskan kombinasi antara santai dan serius dalam waktu bersamaan.

Azalea bahkan lupa bernapas sejenak.

“Fokus, bego,” batinnya memaki diri sendiri.

Laki-laki itu turun dari motor, lalu berjalan mendekatinya.

“Lo ngapain di sini?” tanyanya.

Suara itu dalam, santai, dan sedikit berat.

“H-hah?” Azalea refleks menjawab, masih belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.

Ia menatap laki-laki itu tanpa berkedip.

Sumpah, ini terlalu berbahaya.

“Mana pacar lo yang gila itu?” lanjutnya.

Azalea mengernyit.

Pacar yang gila?

Kalimat itu terasa familiar.

Ia menatap laki-laki itu lebih seksama.

Jaket denim.

Aura santai.

Tatapan tajam tapi tidak dingin.

Dan tiba-tiba—

“L-lo… Marvin?” tanyanya ragu.

Laki-laki itu mengangkat alis, lalu tersenyum tipis.

“Ya siapa lagi?”

DEG.

Azalea benar-benar membeku.

Marvin Anggara.

Nama itu seperti lonceng keras di kepalanya.

Di dalam cerita yang ia baca, Marvin adalah karakter antagonis. Licik. Manipulatif. Menyebalkan.

Dan jujur saja—Azalea tidak menyukainya.

Tapi sekarang?

Sekarang orang itu berdiri di depannya.

Dan…

“Ini beda banget anjir,” batinnya.

Tidak ada kesan licik.

Tidak ada aura menyebalkan.

Yang ada justru…

Menarik.

Sangat menarik.

Azalea menelan ludah.

“Hah… apakah ini karena gue ketemu langsung?” gumamnya dalam hati.

Atau…

Apakah dirinya sedang berada di jalur cerita yang berbeda?

Apakah kehadirannya sebagai Azalea di tubuh Nayla akan mengubah semuanya?

“Kenapa lo? Putus?” tanya Marvin tiba-tiba.

Azalea tersentak.

“Hah? E-enggak,” jawabnya terbata.

Marvin mengangguk pelan, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Azalea jadi semakin gugup.

Berada dekat dengan Marvin saja sudah cukup membuatnya kehilangan fokus. Apalagi harus menatap matanya langsung.

“Gila sih kalau dia aja kayak gini, pacarnya Nayla bakal kayak apa…” pikirnya.

Ia langsung membayangkan skenario buruk.

Pingsan.

Fix.

Ia bisa pingsan lagi.

“Tawaran gue masih berlaku, gimana?” ucap Marvin.

Azalea mengernyit.

“Tawaran?”

“Hah? Gimana apanya?”

Beberapa detik berlalu.

Lalu tiba-tiba—

Ia ingat.

Seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.

“Putusin pacar lo dan jadi pacar gue.”

Kalimat itu.

Kalimat yang sama.

Yang dulu ia baca.

Yang dulu ia anggap gila.

Dan sekarang…

Ditawarkan langsung padanya.

Jantung Azalea langsung berdebar lebih cepat.

Ini terlalu menggiurkan.

Sangat menggiurkan.

Tapi…

Ia bukan Azalea sekarang.

Ia Nayla.

Karakter yang berbeda.

Sifat yang berbeda.

Keputusan yang berbeda.

“Oke… masuk karakter,” batinnya.

Ia menarik napas.

Menatap Marvin.

Lalu—

“Enggak.”

Jawaban itu keluar tegas.

Marvin tersenyum tipis.

“Masih ada 65 hari sebelum tawaran gue nggak berlaku.”

Azalea mengernyit.

“Kenapa harus dihitung hari sih…” gumamnya dalam hati.

Apa maksudnya?

Kenapa ada batas waktu?

Kenapa Marvin begitu ngotot?

Padahal…

Dengan wajah seperti itu, dia bisa mendapatkan siapa saja.

Kenapa harus Nayla?

“Gak, makasih,” jawab Azalea lagi, sedikit ketus agar terdengar meyakinkan.

Marvin memiringkan kepala.

Menatapnya lebih dalam.

Dan jujur saja—

Tatapan itu membuat Azalea gugup setengah mati.

“Lo diapain sih sama dia sampai tiga puluh kali lo nolak gue?” tanya Marvin.

Azalea terdiam.

Tiga puluh kali?

“Anjir… segitunya?” batinnya.

Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Karena…

Ia bahkan tidak tahu seperti apa hubungan Nayla dengan pacarnya.

Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi.

Ia tidak tahu apa yang sudah Nayla rasakan.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia bangun di tubuh ini…

Azalea merasa benar-benar tidak siap.

Namun ia tidak bisa terlihat bingung.

Ia tidak boleh ketahuan.

Ia Nayla sekarang.

Dan Nayla… pasti punya alasan.

Azalea menatap Marvin, berusaha terlihat tenang meski dalam hatinya kacau.

“Urusan gue,” jawabnya singkat.

Marvin menghela napas kecil.

Lalu tersenyum samar.

“Lo emang keras kepala, ya.”

Azalea tidak menjawab.

Ia hanya menatap jalanan.

Tapi pikirannya tidak ke sana.

Pikirannya berputar.

Cepat.

Berantakan.

Tentang rumah yang belum ia temukan.

Tentang identitas barunya.

Tentang Marvin.

Dan tentang masa depan yang sama sekali tidak ia pahami.

Satu hal yang pasti—

Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Dan mungkin…

Cerita ini juga tidak akan berjalan seperti yang seharusnya.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!