Tahun 1989, desa Suka tani belum tersentuh yang nama teknologi canggih tidak seperti di kotanya. Desa itu mengandalkan alat tradisional khasnya sendiri.
Lampu lentera minyak tanah atau obor minyak tanah menjadi alat utama penerangan rumah, berpergian malam hari. bisa juga di gunakan sebagai penerangan kegiatan pribadi.
Tidak ada namanya motor dan mobil mewah . Delman dan sepeda ontel menjadi opsi alat transportasi. Itu pun hanya di miliki oleh orang kaya saja, orang sederhana tidak memiliki. Mereka mengandalkan kakinya.
Tidak ada ponsel canggih, hanya ada ponsel jadul harus memasuki wilayah terdapat sinyal agar bisa di gunakan menghubungi seorang. Namun ponsel tidak berguna di desa itu. Di mana tidak terdapat listrik.
Tidak ada namanya SMS, maupun pesan teks seperti WA. Orang mengirim pesan lewat surat tertulis di kirim lepat kantor pos maupun lewat temannya hanya sekedar berpesan pada kekasih.
Sebagian besar penduduk asli desa suka tani menekuni sebagai petani, dan nelayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amatir author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lentera dinding minyak tanah
"Tidak Bu Wina, Asep tidak hutang. Asep bawa uang." Jawabnya .
"Ini uangnya, Asep ingin beli minyak tanah seperempat liter." Tambahnya menunjukkan uang logamnya dan botol plastik kosong bekas minuman.
"Oh..
"Baguslah, disini tidak menerima orang hutang!"
Bu Wina bergegas mengambil botol plastik dan tuangkan minyak tanah kedalamnya seperempat liter.
"Ini minyaknya, 450!"
Bu Wina menyerahkan botol plastik berisi minyak tanah.
"Terimakasih Bu, ini uangnya. 50 nya pensil saja."
Asep menerima botolnya, menyerahkan uang logam 500 emisi 1980-nya.
Bu Wina menerima sedikit kasar, mengambil pensil dan menyerahkan dengan tatapan masih sama dari sebelumnya.
Bu Wina bersikap seperti itu karena merasa kesal bahwa ibunya Asep sering bon dulu, di bayar setelah pulang kerja jika mendapatkan gajinya. Sering kali di bayar lambat dua hari.
"Terimakasih Bu."
Asep menerima pensilnya, membalikkan badannya, melangkah pergi.
"Dasar orang miskin tukang kasbon, tumben sekali hari ini langsung bayar! Dia memiliki uang?" Guman bu Wina menatap jijik kearah Asep .
"Huh..
Asep hanya menghela nafas panjang saja mendengar ucapan Bu Wina.
Sesampainya di rumahnya, Asep mengambil semua lentera dinding minyak tanah. membuka tutupnya, menuangkan minyak tanah mengisi lentera dindingnya secukupnya.
Dalam beberapa 3 menit, Asep sudah selesai mengisi ulang lentera dinding minyak tanahnya.
"Huh...
"Akhirnya selesai, aku tidak kawatir lagi kehabisan cahaya saat belajar nanti malam."
Asep beranjak berdiri melangkah ke setiap sudut ruangan rumah, memasang kembali lentera dinding minyak tanahnya ( damar).
"Sebaiknya aku bersiap-siap, setelah itu berangkat mencari sisa panen bawang."
" lagi musim panen bawang, harga bawang lagi bagus." Gumannya.
Asep bersiap siap, menutup dan mengunci pintu rumahnya. bergegas pergi.
"Tunggu, kamu ingin kenapa membawa kantong plastik itu. Sebaiknya kita main, sudah tunggu di lapangan."
Seorang anak laki-laki menjegal langkah kaki Asep baru melangkah beberapa meter dari pintu rumahnya.
Langkah Asep terhenti menatap anak itu.
"Kamu ji, aku ingin ke sawah cari sisa panen bawang. Maaf mungkin aku tidak bisa ikut main. Kamu mau ikut?" Jawabnya menolak.
"Oh.. Aku tidak ikut."
Tolak temannya dengan baik. Dia bernama Panji.
"ya sudah aku pergi. Nanti aku bilang ke teman lainnya." Ucapnya lagi
"Aku pergi, terimakasih."
"wassalamu'alaikum.."
Asep melangkah pergi.
"Walikumsalam.."
"Bocah tekun, calon wong sugih. Wong berbakti wong tua. Tidak malu dengan keadaan." Guman panji menatap punggung temannya semakin menjauh dengan bahasa daerah kelahirannya sedikit tercampur bahasa Indonesia.
panji melangkah pergi beda arah dengan arah Asep pergi.
Sesampainya di sawah dituju, Asep menatap luas arena sawah itu. Terlihat ada kesibukkan orang akan selesai panen bawang.
"Huh...
"Nasib-nasib, gini lah menjadi orang pinggiran, hanya bisa bertarung dengan kotornya tanah dan panasnya matahari. Bau tanah dan kulit terbakar sudah menjadi aroma ku." Gumannya.
Melangkah kaki kecilnya, ke bekas tanaman bawang. mulai mencari sisa bawang tertinggal oleh pemiliknya.
Dia ambil bawang dia temukan, dalam keadaan busuk maupun keadaan bagus.
Dalam beberapa jam, dia sampai di penghujung sawah. terlihat karung plastik terisi penuh dengan bawang dia dapat.
"Huh..
"Capeknya, panas juga, haus lagi!"
Asep menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di bawah pohon pepaya hanya sekedar berteduh dan istirahat.
"Nak, mau di jual tidak bawangnya." Ucap seorang ibu tua membawa bakul bawang di tangannya.
Asep mengalihkan pandangan menatap ibu tua itu, seorang pengepul bawang kecil kecilan.
"Iya, aku jual bi. Tunggu dulu aku pisah bawang busuknya. bawang busuknya akan aku buat bawang goreng."jawabnya.
Asep menumpahkan bawangnya di tanah, memisahkan bawang busuk dan bagusnya di bantu pengepul bawang itu.
"iya nak, kamu sendirian. Di mana teman mu?" tanya pengepul bawang itu sambil memisahkan bawang busuk dan bagus milik Asep.
"temanku lagi main, biarkan saja mereka main. Aku butuh uang." jawabnya santai.
"oh..
Guman pengepul
"Sudah, ini yang aku jual. Ini tidak aku jual." Ucap Asep.
"Baiklah aku timbang dulu, harga sesuai pasar perkilonya.." Jawabnya.
Pengepul bawang itu menimbang bawang kebetulan pengepul bawang itu membawa timbangan.
Biasanya pengepul membeli dengan cari perkiraan saja.
"Hem..
"3 kilo, harga pasar 100 perak. Jadi 300 perak." Guman pengepul bawang itu.
"Ini uangnya."
Pengepul bawang menyerahkan 2 uang koin 100 bergambar rumah gadang tebal Tahun 1973 dan 2 uang koin 50 bergambar komodo tahun 1991–1998 berwarna kuning keemasan yang sangat ikonik.
Harga bawang dulu hanya 100 perak perkilonya. Itu harga bawang kecil dan berkualitas biasa saja. Kualitas tinggi dan besar mencapai 300 perak perkilonya.
"Terimakasih.."
Asep menarima uang itu, dan masukkan ke saku celana bajunya.
"Iya!"
Pengepul bawang bergegas pergi setelah mengucapkan salam membawa bawangnya yang dia beli.
"Lumayan dapat 300 perak, bisa buat pegangan jajan dua hari di sekolah besok dan lusa." Gumannya sambil beranjak berdiri dari duduknya.
Asep melangkah membawa bawang setengah busuk dan kualitas buruk.
Hari sudah menjelang siang hari, matahari hampir di atas kepala.membakar rambut hitamnya.
Asep pulang, mandi. bergegas pergi lagi ke lapangan menemui temannya. Dia berharap masih sempat untuk bergabung ikut main.
Sedangkan di sisi lain tempat kerja Bu asri, ibunya Asep.
Seorang wanita rekan kerja Bu asri yang tidak suka dengan Bu Asri saat bekerja menanam jagung.
Mereka merasa kesal saat di tegur oleh Bu asri karena salah menanam biji jagung dengan jarak sangat dekat satu sama lainnya.
Mereka sekarang bersama dengan pengawas sedang mengadu atas apa yang terjadi pada mereka.
Dia bernama Kardi, pengawas pekerja andalan juragan bawang.
Mereka memfitnah Bu asri Bahwa sudah melakukan pemukulan terhadap mereka.
"Sudahlah, kalian jangan menyebarkan hal tidak baik. Jangan memfitnah nya. Aku tahu kejadian itu." Jawab pengawas itu terlihat muram menatap kedua pekerjanya.
"Fitnah itu tidak baik. Sebaiknya kalian melanjutkan pekerjaan, jika tidak ingin di potong komisi."
"Tapi...
"Apa lagi, segera bekerja, jangan sampai aku melaporkan kalian pada juragan!!" Bentak pak Kardi memotong perkataan kedua pekerjanya.
"Huh..
Keduanya hanya menghela nafas kesal saja, rencananya tidak berjalan mulus. mendapatkan teguran saja.
"Kita cari cara lain saja, adukkan saja pada juragan bawangnya." Guman keduanya.
"Sebaiknya kalian urungkan niat kalian, jika ingin kehilangan pekerjaan kalian. aku akan melaporkan kinerja kalian!" Seru pak Kardi terlihat muram.
Bu asri menghiraukan obrolan itu , dia fokus menaruh biji jagung ke lubang tanam. Namun kegiatannya terhenti melihat juragan bawang datang dan menghampirinya.
Dia bernama pak Harto juragan bawang, ayah dari Selly.
"Siang juragan." ucapnya sopan sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap.
"Akhirnya juragan datang, habis sudah wanita sialan itu. Pasti akan di marahi juragan."
Ucap salah satu wanita tadi, dia terlihat tersenyum penuh kemenangan. tidak sabar melihat Bu asri di marahi dan pecat karena di anggap salah dalam menanam jagung.
"Kamu bernama Bu asri?" Tanyanya.
"Itu.. itu..
Guman bu asri terlihat panik.
"Iya, aku sendiri. Ada apa pak juragan mencari ku? Apa aku melakukan kesalahan?" jawab Bu asri terus menundukkan kepalanya.
"Jangan banyak bertanya, Siapa yang berani mencari masalah dengan mu, apa mereka sudah memiliki nyali!" Ucapnya.
Pak juragan Harto terlihat tertarik dengan Bu asri semenjak melihat keuletan dalam bekerja dan memahami di bidang pertanian.
"Tidak ada pak juragan, tidak ada orang menggangu ku." Jawabnya berbohong.
"Jangan takut, katakan saja. Aku akan memperhitungkan mereka mencari masalah dengan mu."ucap juragan Harto.
"Ini.. ini..
Bu asri tidak bisa berkata apa-apa.
"Ha ha..
"Terlihat wanita sialan itu ketakutan, mendapatkan kemarahan dari boss! Rasakan itu." Guman pekerja tadi terlihat puas.
Dia menyangka bahwa Bu asri sedang di marahi dan tegur. Padahal dia lagi di paksa ngaku orang yang mencari masalah dan membuat onar padanya.
Pengawas pekerja menghampiri juragan Harto dan membisikan sesuatu.
Juragan Harto terlihat muram di raut wajahnya setelah mendengar bisikan pengawasnya. mengalihkan pandangan ke arah kedua pekerjanya yang di maksud oleh pengawas andalan nya.
"Kalian berdua, Sekarang kalian di pecat atas perlakuan kalian menindas pekerja lain dan terus melakukan kesalahan. Kalian bekerja tidak sesuai dengan arahan pengawas." Ucapnya tegas.
"Ini .
Keduanya terkejut mendengar pernyataan itu. Tidak sesuai yang mereka inginkan.
"Apa maksud juragan, itu sebuah kebohongan. Aku tidak melakukan hal seperti itu pada pekerja lain, kerja ku sesuai arahan pengawas." Belanya.
"Iya boss, kami bekerja sesuai arahan. Tidak melakukan penindasan pada pekerja lain." Timpal temannya.
"Sudahlah, kalian jangan banyak bacot, ini bayaran kalian. mulai besok jangan datang lagi disini!!" Ucapnya dengan nada tinggi mencela kedua pekerjanya.
"Huh...
"Baik pak, semoga keputusan mu sangat tepat." Ucapnya pasrah menerima itu semua.
Dia merasa tidak ada gunanya melawan, tidak memiliki daya melawan.
"Keputusan ku sangat tepat memberhentikan kalian." Ucap juragan Harto.
pak juragan Harto mengalihkan pandangan ke arah Bu asri terlihat tersenyum samar di sudut mulutnya.
"Iya bu asri, waktu bekerja sudah habis. Bu asri pulang, lanjutkan besok saja." Ucapnya pelan .
"Ini...
"Apa boss ku ini ada masalah? Mungkinkah boss tertarik pada Bu asri? Sejak kapan mulai tertarik?" Guman pengawas pak Kardi di kepalanya ada berjuta pertanyaan yang butuh jawaban.
"Baik boss!" Jawab Bu asri sambil beranjak naik ke atas tanggul sawah.
"Seharusnya seperti itu." Ucap juragan Harto.
"Iya Bu asri, boleh aku antarkan pulang? Kita naik delman. Pasti Bu asri belum merasakan rasanya naik delman." Ucapnya.
"Ini..
Bu asri tidak bisa berkata apa-apa.
Pengawas pekerja pak Kardi juga hanya menggelengkan kepalanya. Dia sekarang paham apa yang terjadi. Boss nya ada rasa suka dengan Bu asri.
Bu asri membereskan barangnya.
"Maaf juragan, aku.. aku.." ucap Bu asri.
Dia tidak tahu ingin berkata apa lagi, melanjutkan kalimatnya. Dia Ingin menolak, apa menerima ajakan boss nya.
"Bu asri jangan kawatir, tidak akan ada orang yang marah." Ucap pengawas pekerja pak Kardi meyakinkan.
"HM... HM..
Guman Bu asri berpikir cukup lama.
"Baiklah."
Bu asri akhirnya menerima ajakan itu, setelah mempertimbangkan segala resiko dan apa yang terjadi kedepannya.
Dia takut di pandang salah paham oleh orang lain yang melihatnya dekat dengan boss nya.
Dia tahu sebagian besar penduduk desa suka tani tidak suka kehadirannya di anggap pembawa sial atas kematian suaminya setelah kelahiran anak pertamanya.
Semua orang menganggap kematian suaminya akibat sial kelahiran anaknya.
"Mari ikut aku, tidak perlu merasa sungkan. Dan merasa mengotori delmanku." Ucap juragan Harto.
Mereka melangkah bersama naik di atas delman. pengawas pak Kardi hanya mengangguk kepalanya saja.
"Jika mereka berjodoh, itu akan menjadi pasangan serasi. juragan seorang duda tampan baik hati. Bu asri janda cantik, penyayang dan pengasih."
"Tentang rumor beredar, aku tidak percaya bahwa Bu asri pembawa sial. Suaminya meninggal saat akan mereka lahir, Itu hanya kehendak Tuhan dan takdir saja." Guman pengawas pekerja pak Kardi.