"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Di sebuah kedai kopi dekat kampus, empat orang duduk di meja pojok yang biasa mereka tempati. Renal, Dimas, Januar, dan Abimanyu. Kopi panas di depan mereka sudah setengah habis, tapi suasana terasa hambar tanpa satu orang yang dulu selalu duduk di kursi paling ujung.
"Ren, lo dari tadi diem aja," ucap Dimas sambil menyeruput kopinya. "Kenapa?"
Renal menghela napas. Ia menatap teman-temannya, lalu meletakkan cangkir kopinya di meja.
"Gue mau cerita sesuatu," katanya.
Januar mengernyit. "Ada apa? Lo bikin tegang aja."
"Rangga kecelakaan."
Suasana meja itu langsung berubah. Senyum di wajah Januar lenyap. Abimanyu yang sedang bermain ponsel menatap Renal dengan mata membelalak. Dimas meletakkan cangkirnya terlalu keras hingga sedikit kopi tumpah ke meja.
"Apa?!" seru Dimas, suaranya terdengar sampai ke meja sebelah. "Kapan?"
"Sekitar tiga hari yang lalu," jawab Renal. "Gue liat sendiri, waktu itu gak sengaja pas gue pulang beli bensin, dipertigaan dekat JPO" Renal menjelaskan dengan detail."kondisi Rangga cukup parah. Pendarahan internal di kepalanya, kemarin langsung di operasi."
"Astagfirullah..." Abimanyu menutup wajah dengan telapak tangannya.
"Terus sekarang gimana? Dia di mana?" tanya Januar. Suaranya terdengar panik.
"Di RS Harapan Bunda"
"Kenapa lo nggak hungungin kita?" tanya Dimas kesal.
"Karena keadaan masih kacau, Mas. Waktu itu gue juga panik, untung saja Om Soerya dan Meysa cepat datangnya."
"Meysa?" potong Januar. "Pembantunya Rangga?"
"Bukan, Meysa—" Renal hampir saja keceplosan, untungnya ia ingat janjinya pada Meysa. Ia ingat bagaimana gadis itu memohon agar pernikahannya dengan Rangga tidak diketahui siapa pun. Ia menelan ludah, lalu mengangguk pelan.
"I—Iya, dia pembantunya. Om Soerya memintanya untuk ikut jagain Rangga."
"Gue mau ke rumah sakit sekarang," kata Dimas sambil berdiri. "Lo semua ikut gak?"
"Gue ikut," jawab Januar.
"Gue juga," sambung Abimanyu.
Renal mengangkat tangannya, menghentikan mereka. "Sabaran, Mas. Gue ngerti lo semua panik, gue juga panik. Tapi kondisi Rangga masih butuh istirahat. Dokter bilang dia nggak boleh keganggu. Gue rasa lebih baik kita tunggu sampai dia benar-benar pulih."
Dimas terdiam. Ia menatap Renal dengan tatapan yang campur aduk, marah, kecewa, tapi juga mengerti.
"Lo bener," ucapnya akhirnya. "Tapi gue nggak bisa diem aja. Ada yang bisa kita lakuin nggak?"
Renal menghela napas. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, membuka folder catatan yang sudah ia persiapkan sejak malam tadi.
"Sebenernya, gue punya rencana."
Dimas, Januar, dan Abimanyu menatapnya dengan penuh tanya.
"Rencana apa?" tanya Abimanyu.
Renal menatap teman-temannya bergantian. "Gue mau balikin nama Rangga. Gue mau buktiin ke semua orang kalo dia nggak bersalah."
"Gimana caranya?" tanya Januar.
"Emily," jawab Renal singkat. "Gue punya firasat kalo semua ini ulah dia. Gue udah dengar dari beberapa sumber kalo Emily pernah dikeluarin dari UGM karena kasus yang sama. Dia suka ngefitnah orang, bikin skandal, lalu hancurin reputasi korban."
Dimas mengerutkan alis. "Lo punya bukti?"
"Belum. Tapi gue bisa nyari. Lo semua mau bantu gue?"
Januar adalah yang pertama mengangguk. "Apapun itu. Gue ikut."
"Gue juga," sahut Abimanyu.
Dimas menatap Renal dalam-dalam. Matanya menyipit, seperti sedang membaca apakah sahabatnya ini serius atau hanya sedang terbawa emosi.
"Lo yakin, Ren?" tanya Dimas. "Setelah lo mukul Rangga, setelah lo ngatain dia di depan umum, sekarang lo mau jadi pahlawan?"
Renal menunduk. Rasa bersalah itu kembali menghantam dadanya.
"Gue salah, Mas," ucapnya dengan lirih. "Gue sadar gue salah. Dan gue nggak bisa ngembaliin waktu. Tapi setidaknya gue mau berusaha buat Rangga. Lo mau bantu gue atau nggak?"
Dimas terdiam beberapa saat, lalu mengulurkan tangannya.
"Oke deh, Gue bantu."
Renal menggenggam tangan Dimas erat-erat. Januar dan Abimanyu ikut menumpangkan tangan mereka di atasnya.
"Oke," kata Renal.
Sepulang dari kedai kopi, Renal memutuskan untuk mampir ke RS Harapan Bunda. Langit sudah mulai gelap saat ia memasuki parkiran rumah sakit. Ia keluar dari mobil, merapikan jaketnya, lalu berjalan menyusuri koridor menuju ruang rawat inap Rangga.
Saat pintu ruangan terbuka, ia melihat Pak Soerya duduk di kursi samping tempat tidur. Pria paruh baya itu tampak lebih segar dari kemarin, tapi raut wajahnya masih lelah. Di sudut ruangan, Meysa yang sedang berkutat dengan laptop, mengisi tugas kuliahnya. Karena sudah tiga hari ia izin..
"Om," sapa Renal sambil menyalami tangan Soerya.
"Renal, kamu datang. Silakan duduk."
Renal menarik kursi di sebelah Pak Soerya. Matanya beralih ke Rangga yang terbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit ruangan. Wajahnya masih pucat, perban di kepalanya mulai diganti dengan yang lebih tipis.
"Gimana keadaan lo, Ga?" tanya Renal mencairkan suasana.
Rangga mengalihkan pandangannya ke Renal. Ia diam beberapa saat, lalu menjawab dengan suara serak, "Kepala masih pusing. Tangan kanan juga masih sakit."
"Ya iyalah, lo kan kecelakaannya tiga hari yang lalu, masak langsung sembuh gitu aja" Renal tersenyum tipis, mencoba sedikit bercanda.
Rangga tidak membalas senyuman itu. Tapi setidaknya ia menjawab.
"Tadi lo ngomong sama siapa?" tanya Rangga tiba-tiba.
Renal diam sesaat."Siapa? Gue sama Om Soerya dari tadi."
"Bukan. Tadi di pintu. Lo ngomong di ponsel?"
Renal tertawa kecil. "Oh, itu. Gue lagi telpon tetangga. Soalnya motor gue semalem mogok di jalan, nitip di rumah dia."
Pak Soerya yang dari tadi diam, menatap Meysa. "Nak, kamu sudah hampir seminggu di sini. Pulanglah sebentar. Istirahat, bersih-bersih apartemen. Biar Ayah yang jaga Rangga malam ini."
Meysa menggeleng. "Ayah sudah sering jaga. Meysa tidak—"
"Meysa," potong Pak Soerya lembut tapi tegas. "Ayah tahu kamu sayang sama Rangga. Tapi kamu juga butuh istirahat. Lihat wajahmu, sudah pucat."
Meysa menunduk. Ia tidak bisa membantah.
"Om, kebetulan saya mau pulang," ucap Renal. "Biar saya aja yang anter Meysa. Rumahnya kan satu arah."
Pak Soerya mengangguk setuju. "Iya, silakan. Terima kasih, Renal."
Meysa berdiri, mengambil tas selempangnya dari kursi dekat jendela, lalu berjalan mendekati tempat tidur Rangga.
"Meysa pulang dulu, Mas. Besok Meysa balik lagi."
Namun Rangga tidak menjawabnya, ia malah memalingkan wajah ke lain arah..
***
Di dalam mobil Renal, suasana sunyi.
Meysa duduk di kursi penumpang, memegang erat tasnya di pangkuan. Jalanan mulai lengang, lampu-lampu kota berlalu di balik kaca mobil.
"Lo baik-baik aja, Cha?" tanya Renal melirik sekilas.
"Iya, Mas," jawab Meysa pelan.
Mobil melaju di jalan yang lurus. Beberapa menit berlalu dalam diam.
Tiba-tiba, Meysa merasakan sesuatu yang aneh di perutnya.
"Mas Renal... jendelanya dibuka sebentar, boleh?" pinta Meysa, suaranya terdengar sedikit terengah.
Renal menurut. Ia menekan tombol otomatis di sampingnya, kaca jendela terbuka perlahan. Angin malam masuk, menerpa wajah Meysa yang mulai pucat.
"Lo kenapa, Cha? Sakit?" tanya Renal khawatir.
"Kepala saya pusing, perut saya juga mual" mas tolong, berhenti dulu didepan,
Renal menghentikan laju mobilnya, lalu Meysa cepat-cepat keluar, dan memuntahkan isi perutnya...
Pria berbadan tinggi itu, membantu Meysa memijat pundaknya, lalu ia berlari menuju minimarket yang tak jauh berada disana.."Cha, Lo tunggu disini, gue beli minum dulu!
Meysa duduk terdiam di bangku taman dekat parkiran rumah sakit, badannya terasa lemas. Angin malam menerpa wajahnya yang pucat, tapi tidak cukup untuk menyegarkan pikirannya yang kacau.
Tak lama, Renal datang dari arah parkiran sambil membawa sebuah kantong plastik kecil. Ia berjalan cepat menghampiri Meysa, lalu duduk di sampingnya.
"Minum dulu, Cha," ucap Renal sambil mengeluarkan sebotol air mineral. "Tadi lo bilang pusing."
Meysa menerimanya, membuka tutup botol, lalu meneguknya perlahan.
Renal mengamatinya sejenak, lalu tangannya merogoh kantong plastik itu lagi. Ia mengeluarkan sesuatu, sebuah botol kecil berwarna hijau tua, dengan label yang sudah sedikit lusuh.
"Ini, minum dulu."
"Terima kasih, Mas Renal."
"Ya, sama-sama."
Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing...
Meysa memejamkan matanya. Tangannya tanpa sadar memegang perutnya..
"Jangan-jangan..." ucap Meysa dalam hatinya..
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey