Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Reklame Milik Irwan Berkembang Pesat
Suara mesin printer besar memenuhi ruko kecil milik Irwan pagi itu. Bau cat tinta bercampur lem banner begitu pekat di udara, tetapi Irwan justru tersenyum puas melihat beberapa pekerja sibuk menyelesaikan pesanan yang menumpuk.
“Mas Irwan, desain yang toko bangunan udah jadi!” teriak salah satu karyawannya.
“Pasang sore ini ya, jangan sampai telat,” jawab Irwan cepat sambil memeriksa catatan pesanan di tangannya.
Sudah hampir tiga bulan terakhir usaha reklamenya berkembang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Pesanan banner, baliho, neon box, sampai stiker toko datang silih berganti. Bahkan beberapa toko besar di kota mulai mempercayakan pemasangan reklame kepada Irwan.
Padahal dulu semuanya dimulai dari garasi rumah sempit dan satu komputer bekas.
Irwan masih ingat bagaimana ia pernah kehujanan saat memasang spanduk tengah malam demi mendapatkan uang seratus ribu. Tangannya lecet, bajunya kotor, bahkan motornya sering mogok di jalan.
Namun semua perjuangan itu perlahan mulai membuahkan hasil.
“Mas, ini nota pembayaran dari klien baru,” ucap karyawan lain.
Irwan melihat nominal transfer yang masuk ke rekeningnya lalu menghela napas lega.
“Alhamdulillah...” gumamnya pelan.
Tak jauh dari sana, Sulis datang membawa dua bungkus nasi dan es teh untuk suaminya. Wanita itu tersenyum melihat ruko kecil mereka yang kini mulai ramai.
“Belum makan lagi ya?” tegurnya lembut.
Irwan langsung mendekat. “Ya ampun, istriku datang.”
“Gombal.”
“Beneran. Semangat kerja aku langsung naik.”
Salah satu karyawan tertawa kecil melihat bosnya berubah manis ketika bersama istri.
“Mas Irwan kalau sama Mbak Sulis beda banget ya.”
“Namanya juga takut istri,” celetuk karyawan lain.
“Enak aja!” protes Irwan sambil tertawa.
Sulis menggeleng pelan melihat tingkah mereka. Meski usaha mulai berkembang, Irwan tidak berubah menjadi orang sombong. Ia masih suka bercanda dengan para pekerjanya dan tetap pulang membawa senyum untuk keluarga.
“Capek nggak?” tanya Sulis pelan saat mereka duduk di sudut ruko.
“Capek sih... tapi seneng.”
Irwan membuka bungkus nasi lalu mulai makan dengan lahap.
“Pesanan lagi banyak banget sekarang. Bahkan tadi pagi ada perusahaan dari kota sebelah minta dibuatkan billboard.”
Mata Sulis berbinar bangga.
“Serius?”
Irwan mengangguk cepat. “Kalau lancar, mungkin bulan depan kita bisa pindah tempat usaha yang lebih besar.”
Sulis tersenyum haru. Dulu mereka bahkan kesulitan membeli susu anak, sekarang suaminya mulai berbicara soal memperbesar usaha.
“Mas hebat...” bisiknya tulus.
Irwan menatap istrinya beberapa detik sebelum tersenyum kecil.
“Bukan aku yang hebat.”
“Terus?”
“Kalau dulu kamu ninggalin aku karena miskin, mungkin aku nggak bakal sampai sejauh ini.”
Sulis langsung memukul lengan suaminya pelan.
“Ih ngomong apa sih.”
“Tapi bener kan?” Irwan terkekeh kecil. “Dulu hidup sama aku susah banget.”
Sulis terdiam sesaat.
Memang benar. Awal pernikahan mereka penuh kekurangan. Rumah bocor, motor sering rusak, listrik pernah hampir diputus karena telat bayar.
Namun Sulis tidak pernah merasa menderita,sebab Irwan selalu membuatnya merasa dicintai.
“Yang penting kita makan bareng,” jawab Sulis pelan.
Irwan tersenyum hangat mendengar itu.
Malam harinya, rumah kecil mereka terlihat lebih ramai dari biasanya. Dito dan Rara sibuk membuka kantong belanja yang dibawa Irwan.
“Yeaaay sepatu baru!” teriak Dito kegirangan.
Rara tak kalah heboh saat mendapat boneka kelinci berwarna pink.
“Papa baik banget!”
Irwan tertawa melihat kedua anaknya melonjak bahagia.
“Papa kan kerja buat kalian.”
Sulis keluar dari kamar sambil membawa teh hangat. Saat melihat beberapa kantong belanja di ruang tamu, ia langsung mengerutkan dahi.
“Mas, kok belanja banyak banget?”
“Sesekali lah.”
“Uangnya jangan dihambur-hamburin.”
Irwan mendekat lalu merangkul bahu istrinya.
“Tenang, Bu Menteri Keuangan. Sekarang rezeki kita lagi bagus.”
Sulis menghela napas kecil, tetapi dalam hati ia juga ikut bahagia.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, mereka bisa menikmati hidup lebih layak.
Malam itu hujan turun deras di luar rumah. Namun di dalam, suasana terasa hangat oleh tawa keluarga kecil itu.Irwan duduk di lantai bermain ular tangga bersama anak-anaknya, sementara Sulis memperhatikan dari sofa sambil tersenyum kecil.
Setelah permainan ular tangga selesai, Dito dan Rara mulai mengantuk. Kedua anak itu tertidur di karpet ruang tamu dengan posisi berantakan. Dito masih memeluk dadu permainan, sementara Rara tertidur di paha ayahnya.Sulis tertawa kecil melihat tingkah laku anak dan suaminya.
“Kasihan, pindahin ke kamar sana,” ucapnya pelan.
Irwan mengangguk lalu mengangkat tubuh Rara hati-hati agar tidak terbangun. Meski tubuhnya lelah setelah bekerja seharian, pria itu tetap telaten menyelimuti anak-anaknya satu per satu.
Sulis berdiri di ambang pintu kamar sambil memperhatikan suaminya diam-diam.
Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan setiap melihat Irwan bersama anak-anak mereka. Pria itu memang keras bekerja, tetapi hatinya selalu lembut untuk keluarga.
“Kenapa lihat-lihat?” tanya Irwan tiba-tiba sambil menoleh.
Sulis tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Irwan berjalan mendekat lalu meraih pinggang istrinya pelan.
“Kamu lagi mikirin apa?”
Sulis menggeleng kecil. “Cuma seneng aja.”
“Seneng kenapa?”
“Karena sekarang hidup kita udah lebih baik.”
Irwan terdiam sesaat mendengar itu. Pandangannya perlahan beralih ke kamar anak-anak yang pintunya masih sedikit terbuka.
“Aku pengen bikin kalian lebih bahagia lagi,” gumamnya lirih.
Sulis menatap wajah suaminya lekat-lekat. Di mata pria itu ada ambisi besar yang dulu tidak pernah ia lihat. Irwan kini seperti memiliki tujuan hidup baru,yaitu mengejar keberhasilan setinggi mungkin.
Namun Sulis tidak merasa takut,Ia justru bangga.
“Pelan-pelan aja, Mas,” ucap Sulis lembut. “Aku nggak minta hidup mewah.”
Irwan tersenyum tipis lalu mengusap kepala istrinya pelan.
“Tapi aku mau kasih yang terbaik buat kalian.”
Malam semakin larut. Hujan di luar mulai reda, menyisakan aroma tanah basah yang masuk lewat jendela ruang tamu.
Irwan kembali membuka laptopnya di meja kecil dekat televisi. Beberapa desain reklame tampak memenuhi layar. Tangannya bergerak cepat memperbaiki tulisan dan warna banner pesanan klien.
Sulis yang awalnya duduk menemani lama-lama menguap kecil.
“Tidur dulu sana,” ujar Irwan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Kamu?”
“Nanti nyusul.”
“Jangan begadang terus.”
“Iya cerewet.”
Sulis mencubit lengan suaminya pelan sebelum akhirnya masuk kamar.Namun sekitar setengah jam kemudian, ia kembali keluar sambil membawa segelas kopi panas.
“Nih.”
Irwan mendongak lalu tersenyum kecil.
“Wah, layanan malam.”
“Biar nggak tumbang.”
Irwan menerima kopi itu lalu menarik tangan Sulis agar duduk di pangkuannya.
“Mas...” Sulis tertawa malu.
“Kenapa? Anak-anak udah tidur.”
Sulis menggeleng geli melihat tingkah suaminya yang masih sering bersikap manja meski usia pernikahan mereka sudah hampir sepuluh tahun.
“Aku serius loh,” ujar Irwan pelan sambil memeluk istrinya. “Makasih ya udah nemenin aku dari nol.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Sulis menghangat,Ia menyandarkan kepalanya di bahu Irwan perlahan.Di luar, suara tetesan hujan masih terdengar samar. Sementara di dalam rumah kecil itu, dua insan yang saling mencintai sedang menikmati kebahagiaan sederhana mereka.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .