NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pelatihan hari pertama. membucat kimi kebingungan, Ia sudah absen seminggu, jadi wajar bila merasa tertinggal lumayan jauh. Satu jam penuh diisi materi yang sebenarnya sudah pernah ia pelajari di kampus, hanya sa,ja kali îni berbasis data langsung dari salah satu anak perusahaan Charley.

Satu jam berikutnya mereka membahas struktur organisasi super luas dari seluruh Charley Group. Kimi yang matanya sudah berkunang-kunang akhirnya nekat mengangkat tangan. Si pembimbing keuangan mempersilakannya bertanya.

"Maaf, Pak. Apa itu harus dihafalkan semuanya?"

Pembimbing tersenyum bijak. "Tidak semua, kim. Kamu hanya perlu menghafal eksekutif dari tiap perusahaan, Chairman kita tetap Nyonya Verila Alexandria Charley."

Kimi menelan ludah, Itu saja jumlahnya sudah hampir seratus orang. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri. Bagaimana cara menghafal nama Blakely, Maverick, Seichii, atau Seo-joon tanpa membuat otaknya keriting?

Setelah perjuangan-yang bagi kimi masih setengah penting itu selesai, lima orang di kelasnya memilih keluar dan duduk di lorong kampus. Selain Kimi, ada Febi, Marey, Desi, serta Anela yang katanya belum pulit betul. "Yang lain di bagian apa aja?" tanya kimi, jiwa keponya otomatis kambuh.

Desi meneguk air botol sebelum menjawab. "IT ada Juli, Janu, sama 0kta. Pengembangan itu Ruby, Apri, sama Nove. Marketing sisanya." Kimi mengangguk-angguk. Jadi Meisy, Juni, Septi, dan Agus termasuk marketing.

"Kelas mereka-" belum sempat Kimi selesai, pintu kelas lain terbuka.

Saat semua peserta keluar sambil menyapa, pandangan kimi otomatis tertuju pada satu orang yang berjalan paling belakang. Ruby. Semakin lama ia perhatikan, semakin besar pula rasa penasarannya.

"Hei, mata lo kemana?" tegur Juli sambil merangkul Kimi menuju tangga ke lantai bawah.

"Cuma penasaran sama gedungnya," elak kimi kalem, kampus kecil ini memiliki empat lantai dengan fungsi yang tidak semuanya jelas. Menurut kimi, banyak ruangan dibiarkan kosong karena dari tahun ke tahun peserta pelatihan semakin sedikit.

Di lantai paling bawah bagian belakang, ada kantin Kini yang sengaja dibuat agar para calon merasa bernostalgia seperti masa kuliah. Karena pesertanya hanya sedikit, stand yang buka pun cuma satu, Menunya berganti setiap hari, tapi nasi tetap jadi primadona untuk makan siang.

Hari ini tersedia mie ayam, cukup berat tapi Kimi tetap memesannya. Mereka bebas makan jam berapa saja karena kantin buka hingga sore. Satu pekerja wajib berjaga, memastikan tidak ada yang kelaparan.

Tempat duduknya bergaya kafe, menghadap pemandangan indah di bawah sana. Udara sejuk dengan gerimis kecil menambah nunsa syahdu. Lebih bikin ngantuk kalau perut sedang penuh. "Nih, mie ayamnya, Lo biasanya abis makan ginian jam segini, ntar jam dua belas atau jam satu makan nasi lagi?" tanya Okta sambil meletakkan mangkuk di depan Kimi.

"Aku makannya nanti jam tiga. Tapi dikit aja," jawab Kimi sambil mengaduk mienya.

"Terus malemnya?" tanya Febi.

"Ya makan lagi. Dikit juga."

"Sumpah, dia mirip si Marey sama Anela," Septi cekikikan.

"Gw gak gitu, njir," Marey mendengus.

"Biji lo gak gitu. Lo itu kalau makan dikit-dikit banget, kadang malem gak makan," Juni tergelak.

Marey mengangkat bahu. "Ya gimana. Gw ada bakat gendut dari mama."

"Gibah terus," sindlir kimi, lalu melanjutkan, "Eh, yang namanya Anela yang mana sih? Udah lama sakit?"

Desi langsung menyambar, "Itu bukan gibah tau. Kan orangnya di sini. Si Anela udah dua hari demam. Dia lagi di klinik, bentar lagi juga masuk,"

"Oohhhr oiya., Pak Mumud bilang aku harus pelajari materi sebelumnya. Soalnya ketinggalan seminggu," kata Kimi murung.

Mereka saling pandang, sampai Juli tiba-tiba nyeletuk, "Mumud teh saha?"

"Pak Mahmud," sahut kimi.

"Nah, gw lo panggil apa?" tanya Janu sambil menunjuk dirinya.

Kimi tersenyum jahil. "Jajan."

"Dih, males," Janu memutar mata, yang lain langsung terkikik geli.

"Udah wOy. Untuk urusan belajar mah gampang. Nanti sama kita aja," sahut Febi.

Kimi mengangguk cepat, meski ia tahu tiga teman barunya itu pasti bakal stres setengah mati kalau harus ngajarin dia.

Sementara semuanya sibuk makan sambil mengobrol, pandangan kimi lagi-lagi melirik ke meja pojok. Ruby duduk sendirian, makan tanpa menoleh sedikit pun. Kimi tahu gadis itu pintar, sama seperti yang lain.

Sementara dirinya?

Sejujurnya, Kimi bukanlah mahasiswa berprestasi saat kuliah. Karena itu ia masih bingung bagaimana bisa lolos tes masuk pelatihan ini. Dari gosip yang ia dengar, Charley memang punya satu atau dua mata-mata di tiap kampus. Tapi apa yang membuat mereka merasa dirinya pantas ada di sini? Nilainya? Mustahil. Prestasinya ? Jangan harap. Atau jangan-jangan tingkat kepo yang kelewat akut itu dianggap sebagai bakat? Jadi sebenarnya apa standar penerimaan calon karyawan di Charley group? Nah kan, dia penasaran lagi. Harus tanya siapa? Verila si bos besar?

**

Pelatihan selesai pukul tiga sore. Setelahnya, para calon bebas melakukan apa pun. Kimi, si ratu mager level dewa, memilih rebahan di kamar sambil menatap ponsel dengan ekspresi duka cita. "Serius gak ada sinyal? Apa ini artinya aku beneran dikarantina?" gumamnya lesu.,

Ia diam beberapa menit, lalu tiba-tiba terduduk dengan wajah tegang. Matanya membelalak. Tangan meremas rambutnya sendiri seperti orang baru sadar dunia ini berputar. Semakin ia mencoba gak mikir, semakin liar otaknya. "Gila, kalau ini eksperimen rahasia pemerintah gimana? Atau bisa jadi lembaga cuci otak terselubung.."

Ia menatap langit-langit, merasa ngeri sendiri.

Baru saja mau lanjut halu, langkah kaki terdengar di depan kamarnya. Ia langsung melompat turun dari kasur dan menghambur ke pintu.

Ruby-dengan setelan olahraga dan wa.jah datar- berhenti mendadak saat pintu terbuka dengan brutal. Pikirnya, kimi pasti baru lihat kecoa. Atau biawak. Mungkin dua-duanya.

"Ru-Ruby! Di sini ada jalur evakuasi gak?" tanya Kimi panik.

Ruby mengernyit. "Buat apa?"

"Ya buat kabur lah kalau ad apa-apa!" seru kimi cepat. "Bayangin, kita terisolasi loh di sini! Emang kamu gak mikir apa aja bisa kejadian?"

"Lo kenapa sih?" Ruby menghela napas sabar. "Oke, kayak apa contohnya?"

Kimi langsung menegakkan badan. "Serangan teroris. UFO mendarat di hutan, Virus zombi. Atau-" ia mencondongkan tubuh, menatap Ruby penuh kecurigaan, "parasit yang bikin otak jadi cabul. Kita gak bakal bisa kabur kan?"

Ruby cuma bengong. Tangannya sempat terangkat, hampir mau nyentuh kening kimi buat ngecek demam, "Itu kejauhan banget," ujarnya pelan. "kita emang agak terisolasi, tapi ini bukan film The walking Dead. Coba mikirnya yang realistis dikit."

Kimi mengerjap. "Oh.."

Ia lalu menatap Ruby dari ujung kepala sampai kaki.

Baru sadar cewek itu pakai training pendek dan sepatu lari.

"kamu mau olahraga ya?" tanyanya.

"Iya. gw duluan,"

Ruby jalan pergi tanpa menoleh lagi, tapi kimi tentu tak bisa membiarkan momen emas itu lewat begitu saja. Ruby \= olahraga \= tubuh ideal \= bahan penelitian sosial tingkat lanjut.

"Aku ikut dong! Tungguin!" teriaknya, lalu buru-buru menutup pintu kamar.

Ruby sempat menoleh sebentar, tapi akhirnya lanjut jalan, Lapangan ada di depan, tidak mungkin Kimi nyasar. Lagipula mereka tidak akrab, dan ia jugca tak mau gadis itu jadi dikucilkan seperti dirinya.

Sementara itu di kamar, Kimi ganti baju secepat kilat. Lima detik. Gila, calon masuk rekor nasional. Begitu pintu dibuka, Ruby sudah lenyap dari pandangan kimi berdiri di depan pintu, mendengus kecewa tapi tak bisa protes.

"Dia. ninggalin aku? Jahat amat," gumamnya pelan.

Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah serius. " Ini tantangan. kalau terlalu gampang, hasilnya gak memuaskan," Ia mengangguk sendiri, melangkah keluar dengan penuh tekad dan nekat.

Begitu sampai di lapangan, kimi langsung terpaku. Ruby sedang berlari sendirian mengitari lintasan, rambutnya berkibar kanan kiri, gerakannya stabil, nafasnya.. entah, gak kelihatan.

Sementara itu, yang lain sibuk dengan dunia. masing- masing. Ada yang main basket, ada yang bulu tangkis, dan ada juga yang merenung sambil menatap kosong ke langit.

"Woy, kim!" teriak Janu yang sedang main basket sambil menyeka keringat dengan kaosnya. "Tadi diajakin gak mau, sekarang nongol. Kesambet apa lo?"

"Aku cuma mau nonton," jawab Kimi santai. Lalu ia menoleh ke Marey dan Desi yang duduk di pinggir. " Nah, ini nih klub yang kucari. klub rebahan outdoor."

Marey melambaikan tangan, seperti menerima anggota klub dengan tangan terbuka.

"Yang cantik mah duduk aja," celetuk Desi kalem.

Kimi terkekeh, lalu duduk di sebelah Marey. Tatapannya mengamati semua orang, tapi bergabung? Entar dulu deh.

Yang main basket: Juli, Janu, Nove, Mei, dan Apri. Teriakan Mei mendominasi, soalnya tiap dua menit kena sikut kanan-kiri. Bukan salah siapa-siapa, cuma dia paling pendek di antara raksasa semua.

Kimi meringis, sedikit kasihan. Tapi mental Mei patut diacungi jempol. Yang main bulu tangkis ada Febi, Juni, Agus, dan Septi. Sekilas terlihat serius, tapi lebih banyak adu mulut gara-gara rebutan posisi.

"Okta mana?" tanya kimi tiba-tiba.

"Mules dia, kebanyakan makan sambel," jawab Desi lagi-lagi kalem.

Kimi hanya ber-'oh', soalnya Okta memang bar-bar menambah sambal waktu makan mie ayam tadi siang. Tatapannya kembali ke Ruby yang baru selesai lari. Gadis itu duduk sendirian di sisi lain lapangan, menyeka keringat pakai handuk kecil, lalu meneguk air mineral botol. Semua tampak tenang, terlalu tenang, dan itu membuat Kimi makin penasaran.

"Dia abis ini mau ngapain ya? Basket? Angkat barbel terbang?" gumam kimi pelan.

"kenapa, kim?" Marley menoleh.

Kimi buru-buru menggeleng, lalu kembali fokus ke depan. Bukannya bergabung, Ruby malah berdiri dan berjalan pergi.

"Eh, Ruby mau ke mana?" tanya kimi bingung.

Marey dan Desi ikut melirik ke arah Ruby. "Paling ke ruang gym," jawab Marey cuek.

Kimi melongo. "Emang ada gym?"

"Ya ampun, ini anak dari planet mana sih. JULI!" teriak Marey ke arah lapangan, "Sini lo! Ada tugas penting!"

Juli yang rambut merahnya berantakan datang sambil ngos-ngosan, lalu langsung ducduk di sebelah Kimi. Tanpa izin, tentu saja. Ia dengan cuek kipas-kipas dengan kaosnya.

"Hei, nyiprat," protes kimi, geser-geser dikit.

"Maaf, maaf." Juli langsung berhenti. "Ada apaan, Mar?"

"Nih anak ajak keliling gih. Kesian dia kayak bocil nyasar," sahut Marey.

"Yaelah. Yaudah ntar gw ajak keliling. Sekalian kenalan sama penghuni sini."

"Enggak deh, makasih, Emangnya itu tugas kamu ya?" tanya kimi polos.

"Bukan tugas, tapi anak-anak aja udah kebiasaan nyuruh gw."

"Lo kan babu kita," ceplos Desi.

"Anjir lo," lalu Juli menun juk lapangan, "Yang dituakan tetep Janu sama Febi."

"Kenapa gitu?"

Juli menatap tak percaya. "Karena... kita kan semua lahir di tahun yang sama, kim. Mereka awal tahun."

"Nah, itu, Lo kan lebih muda, jadi nurut-nurut sama gw," kata Marey ke Juli, lalu dia beralih ke kimi. "Lo lahir bulan apa?"

"Sebelas."

"Oh, masih adek-adek. Berarti lo kudu akrab sama si Nove."

Kimi berpikir sejenak, lalu mengangguk, Ia tak keberatan akrab dengan siapa sa ja, terutama Ruby. Saat ia menoleh ke Juli, gadis itu baru saja mengusap wajahnya dengan kaos. kimi langsung melongo. Juli reflek meraba wajahnya sendiri. "Kenapa? Ada apa di muka gw? Ampas mata ya?"

"Kamu serem banget!" kata kimi panik.

Semua langsung menoleh. Juli makin bingung, tapi Marey malah terbahak bersama Desi. Smoky eyes Juli yang hitam legam luntur karena keringat, membentuk efek eyeliner hantu tengah malam. Bagaimana Kimi tak histeris?

~

Ruang gym itu sunyi. Hanya ada Ruby yang sedang memakai delt fly. kimi mengintip dari pintu yang ia buka sedikit, berharap Ruby tidak melihatnya. Posisi Ruby yang membelakangi membuat kimi bisa bernapas lega. Kimi tidak tiba-tiba terbang ke sini. Begitu Juli ke toilet untuk cuci muka, ia kabur dan diam-diam menyusul Ruby. Sebenarnya cara ini menurut kimi "enggak banget", tapi ia tidak punya pilihan lain demi misi keponya itu.

"Masuk aja."

Kimi langsung terpaku. Suara Ruby bergema, padahal ia belum sempat bernafas pelan-pelan versi ninja. Ia menegakkan tubuhnya, lalu masuk dengan ekspresi sok santai.

Ruby akhirnya menoleh, "Suka. banget ngintip. Gak takut bintitan?"

"Bukan gitu. Aku kan ragu mau masuk, takut ganggu,"

"Ini tempat umum, bukan punya gw," kata Ruby sebelum kembali ke alatnya.

"Lagi latihan apa, Uby?" tanya kimi dengan nada terlalu ramah, hampir meluber.

"Uby?"

"Iya. Panggilan akrab. Lucu kan?" kimi cengengesan.,

"Kita gak akrab. Lagian lo kenapa sok asik banget sih? Selalu begini ya sama orang yang gak dikenal?"

"Jahat banget, padahal kita tetanggaan, " gerutu Kimi dengan mulut mengerucut kesal.

Ruby sempat terdiam dua detik, lalu bangkit. "Lo mau nge-gym juga, yaudah sana.

"Ajarin dong. Ntar salah gerakan bisa encok aku."

"Emang gak pernah nge-gym?"

Kimi menggeleng polos. Bohong, tentu sa.ja. Dia sering ke gym, diajak abang bersama teman-temannya. Tapi biasanya cuma numpang ngadem, foto di depan cermin, dan mengeluh capek padahal baru stretching.

"Yaudah duduk aja," kata Ruby cuek, lalu pindah ke alat lain.

Ah, begitu ya. Tipe yang keras di luar, lembut didalam. Atau.. keras di luar, dalamnya juga beton? Batin Kimi sambil mengerutkan dahi.

Ia melirik alat-alat di sekitar, lalu menunjuk salah satu dengan gaya polos. "Yang itu buat apa?"

"Buat orang yang ngerti cara pakainya," jawab Ruby tanpa menoleh.

kimi memutar mata. Dia pikir Ruby bakal ngajarin. Ternyata.. oh, mungkin penyuka sejenis itu memang selalu cuek, jutek, sebodo-bodo. Tapi tunggu.. loh?

Mereka kan suka cewek. tarusnya ramah ke cewek kan? Kepala amatir Kimi langsung ribut. Jadi berarti aku termasuk tipe yang "enggak masuk hitungan"? Atau dia cuma suka yang lebih cantik, lebih tinggi, lebih atletis, lebih ngeri daripada aku? Terus... salahnya aku apa kalau terlahir imut-imut?

Tapi kimi tidak menyerah. Matanya mengikuti setiap gerakan Ruby, dan di kepalanya lagi-lagi muncul pertanyaan aneh: kalau dipeluk, keras gak ya? kayaknya keras deh, Tapi enak juga kali, kayak guling premium, Oh, tunggu. Gak mungkin sekeras cowok kan? Tapi cowok punya sesuatu yang bisa mengeras- kimi mulai berpikir hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan di tempat umum. Belum sempat ia menyentuh alat apapun, Juli muncul di pintu sambil ngos-ngosan.

"Kim! Lo kabur sendirian? Pengen nyasar apa gimana?"

kimi ngakak kecil. "Nih tempat dipagerin gini. Emang bisa nyasar ke mana?"

Juli mendengus, lalu melangkah masuk. "Eh, Ru. Desain sama konsep buat aplikasinya udah siap? Yang lain udah mulai progres."

"Udah. Nanti gw kasih," jawab Ruby tanpa menoleh.

"Anter ke kamar gw aja sekalian dibahas."

"Males. Entar aja pas makan malam."

Juli menaikkan alis. "Kenape? Takut pacar lo salah paham kalo lo ke kamar gw?" kimi yang tadinya pura-pura fokus ke barbel langsung mendongak. kata 'pacar' bikin radar telinganya berdiri.

"Siapa yang punya pacar?" tanyanya refleks.

Juli langsung menunjuk Ruby. "Tuh. Tapi pacarnya lagi atit." Ruby mengerutkan kening. "Apa sih. lo?"

"Yaelah, segala malu-malu," goda Juli.

Ruby menghela napas panjang, jelas sudah malas menanggapi.

Sementara itu kimi sudah penuh teori konspirasi.

Pacar? Sakit? Siapa? Mesa Anela ? Atau jangan-jangan pacarnya cowok? Loh, tapi katanya... hmm,.. menarik.

Juli menepuk bahu kimi. "Udah yuk, keluar. Anak- anak mau ngemil sore."

"oh, ngemil apaan?" kimi pasrah digeret keluar.

"Gak tau, Es batu, maybe."

Kimi mendengus, tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat menoleh ke Ruby. Gadis itu diam, tapi pandangannya tetap sama. Tatapan itu bikin kimi galau sendiri: ajak, jangan, ajak, jangan.

"Jul, ajak Ruby sekalian gak sih? Kasian dia sendirian," kata kimi pelan.

"Jul? Panjul?" celetuk Juli. "Udahlah, gak usah. Udah dibilangin lo jangan deket-deket dia."

"Tapi temenan kan gak apa-apa."

Juli berhenti, meraih bahu kimi dengan tatapan serius. "Sebelas orang itu gak nyaman, Kim. GW sendiri sih netral, tapi kalau gw lebih dekat lagi sama dia, bisa-bisa gw dikira belok. Udah cukup si Anela aja yang jadi korban, lo gak usah ikutan."

Kimi mendelik. "Korban apaan?"

Juli memutar mata. "Korban kutukan. Namanya: pengasingan."

Kimi manyun, tak bisa membantah. Bagaimana caranya akrab dengan Ruby kalau yang lain tidak merestui?

Tiba-tiba Kimi merasa seperti tokoh di cerita Siti Nurbaya. Cinta bersemi diam-diam-eh, kok jadi cinta-cintaan.

Intinya, mendekati Ruby itu penuh tantangan. Dan bagi kimi Ariana, hal semacam itu justru undangan terbuka untuk membuatnya makin penasaran.

Bahaya? ya. Tapi kimi memang spesialis dalam hal-hal yang seharusnya dihindari.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!