NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 2: "Sang Singa di Sangkar Pesantren"

​Gerbang kayu jati ukiran kaligrafi itu terbuka perlahan, menyambut mobil SUV hitam milik keluarga Muammar. Di baliknya, terbentang pemandangan yang membuat Shania Ayunda Salsabilla ingin sekali meloncat keluar dan lari sekencang mungkin.

Bangunan-bangunan asrama yang berderet rapi, para santri berbaju koko dan sarung yang berlalu-lalang, serta suara riuh rendah hafalan Al-Qur’an yang menggema dari pengeras suara masjid. ​Ini adalah neraka bagi Shania. Neraka berpagar tinggi bernama Pondok Pesantren Al-Muammar.

​"Turun!" perintah Zain singkat.

Suaranya datar, namun tak terbantahkan.

​Shania, yang masih mengenakan hoodie abu-abu longgar dan celana kulot hitam—hasil kompromi sengit dengan Zain agar ia tidak memakai jeans sobeknya—hanya mendengus. Ia sengaja menghentakkan pintu mobil dengan keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang memicu perhatian beberapa santriwati yang lewat.

​"Pelankan tanganmu, Shania. Kamu tidak sedang di bengkel balap," tegur Zain tanpa menoleh, sembari mengambil koper besar istrinya dari bagasi.

​"Biarin! Biar semua orang tahu kalau aku nggak sudi ada di sini!" balas Shania ketus.

​Namun, keberanian Shania mendadak menciut saat melihat sosok Kiai Abdullah dan Umi Zainab berdiri di teras ndalem—kediaman pengasuh pondok. Wajah teduh Umi Zainab yang tersenyum menyambut mereka membuat Shania merasa kikuk. Ia teringat pesan papanya:

“Jaga nama baik Papa di depan Kiai Abdullah, Shania. Sekali saja kamu bikin malu, Papa cabut semua fasilitas kuliahmu di Jakarta nanti.”

​"Assalamualaikum, Umi, Abah," Zain melangkah maju, mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim.

​Shania mengekor di belakang. Saat berhadapan dengan Umi Zainab, gadis itu terpaksa mengulurkan tangan. Ia merasa aneh, telapak tangan Umi begitu lembut dan hangat, sangat kontras dengan hatinya yang membeku karena amarah.

​"Masya Allah, menantu Umi cantik sekali. Selamat datang di rumah baru kalian, Nak Shania," ucap Umi Zainab tulus, lalu memeluk Shania.

​Bau parfum gaharu dan melati yang menenangkan dari tubuh Umi sempat membuat Shania terdiam. Namun, sifat pemberontaknya segera mengambil alih. Ia melepaskan pelukan itu dengan gerakan yang sedikit canggung.

​"I-iya, Umi. Makasih," jawab Shania singkat. Matanya melirik ke arah Zain yang sedang berbincang serius dengan Abahnya.

Pria itu tampak sangat berwibawa di lingkungannya sendiri. Para santri yang lewat menunduk dalam saat berpapasan dengan Zain, tanda hormat yang luar biasa.

​"Ayo masuk, Nak. Umi sudah siapkan makan siang kesukaan Zain, semoga kamu juga suka," ajak Umi.

​Di ruang makan, suasana terasa sangat formal bagi Shania. Ia duduk di sebelah Zain, berhadapan dengan Kiai Abdullah. Ia berusaha makan dengan sopan, meski rasanya ingin sekali berteriak karena bosan mendengar obrolan seputar jadwal pengajian dan pembangunan laboratorium bahasa di pesantren.

​"Zain, mulai besok kamu sudah bisa kembali memegang kelas kitab Fathul Qorib. Dan untuk Shania..."

Kiai Abdullah menatap menantunya dengan senyum kebapakan.

"Mungkin dia bisa mulai beradaptasi dengan lingkungan asrama putri. Umi, akan membimbingnya."

​Shania nyaris tersedak tempe bacem.

"Eh, tunggu, Bah. Maksudnya saya harus... ikut pengajian juga?"

​"Tentu, Nak. Di sini kita semua belajar," sahut Umi lembut.

​Shania melirik Zain, berharap pria itu membela "perjanjian" mereka semalam. Namun, Zain hanya mengangguk pelan.

"Benar, Abah. Shania butuh banyak belajar dari dasar. Saya sendiri yang akan memastikan dia tidak ketinggalan."

'​Dasar munafik!' maki Shania dalam hati.

Ia memberikan tatapan tajam pada Zain, namun pria itu justru sibuk mengupas jeruk untuk Uminya seolah tak terjadi apa-apa.

​Selesai acara penyambutan, Zain membawa Shania menuju sebuah bangunan kecil yang terletak di bagian belakang kompleks utama ndalem. Itu adalah sebuah rumah mungil namun asri yang dikelilingi taman kecil penuh bunga krisan.

​"Ini rumah kita. Terpisah dari bangunan utama agar kamu punya privasi," jelas Zain saat mereka masuk ke dalam.

​Begitu pintu tertutup rapat dan mereka hanya berdua, topeng "gadis manis" Shania langsung tanggal. Ia melemparkan tasnya ke atas sofa kulit dan berbalik menatap Zain dengan tangan di pinggang.

​"Maksud kamu apa tadi di depan, Abah? 'Saya sendiri yang akan memastikan dia tidak ketinggalan'? Heh, Ustadz! Kita udah sepakat ya, urusan masing-masing!" teriak Shania bak singa betina yang baru dilepas dari kandang.

​Zain meletakkan koper Shania di dekat lemari, lalu berbalik dengan perlahan. Ia tidak terpancing emosi. Ketenangannya justru membuat Shania semakin geram.

​"Kesepakatan kita adalah saya tidak menyentuhmu tanpa izin. Tapi soal pendidikanmu, itu mutlak tanggung jawab saya sebagai suami," ujar Zain dengan suara bariton yang berat.

​"Aku, nggak mau sekolah lagi di sini! Aku mau kuliah di Jakarta, bukan jadi santriwati yang pakai daster panjang tiap hari!"

​"Kamu, akan tetap kuliah, Shania. Papa kamu sudah mendaftarkanmu di universitas Islam terdekat dari sini untuk semester depan. Tapi selama masa jeda ini, kamu adalah santri saya."

​Shania tertawa meremehkan.

"Santri? Kamu pikir aku bakal nurut? Jangan mimpi! Aku bakal bikin masalah tiap hari sampai orang tua kamu nendang aku dari sini!"

​Zain melangkah mendekat. Langkahnya pelan namun penuh intimidasi. Shania refleks mundur hingga punggungnya tertahan di daun pintu. Zain menumpukan satu tangannya di pintu, tepat di samping kepala Shania, mengunci pergerakan gadis itu.

​"Dengarkan saya baik-baik, Shania Ayunda," bisik Zain.

Aroma parfum sandalwood yang maskulin dari tubuh Zain menyerbu indra penciuman Shania, membuatnya sedikit pening.

"Kamu, boleh berteriak di kamar ini sesukamu. Tapi di luar sana, jika kamu mempermalukan orang tua saya atau orang tuamu dengan kelakuan liarmu, saya punya hak penuh untuk mendisiplinkanmu."

​"Caranya? Mau pukul aku?" tantang Shania dengan dagu terangkat, meski jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang hanya beberapa inci.

​Zain memberikan senyum tipis—jenis senyum yang tidak sampai ke mata.

"Memukul wanita bukan jalan saya. Tapi saya bisa menyita ponselmu, memutus koneksi internetmu, dan mengurungmu di perpustakaan kitab kuning selama dua puluh empat jam penuh. Kamu tahu apa artinya itu? Kamu akan mati kebosanan tanpa bisa melihat dunia luar."

​Shania ternganga.

"Kamu... kamu jahat banget!"

​"Saya tegas, bukan jahat. Saya sedang menjalankan mahar saya, Shania. Seperangkat alat shalat dan mushaf Al-Qur'an itu bukan pajangan. Itu adalah simbol bahwa saya telah membeli 'keliaranmu' untuk saya arahkan menuju jalan yang benar."

​Zain menarik diri, memberikan ruang bagi Shania untuk bernapas. Ia mengambil sebuah kain panjang dari dalam koper Shania—sebuah mukena yang sepertinya baru dibelikan ibunya.

​"Sekarang, bersihkan dirimu. Sebentar lagi ashar. Kamu akan shalat berjamaah dengan saya di sini, di rumah ini. Hanya kita berdua."

​"Kalau aku nggak mau?"

​Zain melirik jam tangannya.

"Jika dalam sepuluh menit kamu belum berwudhu, saya akan menyeretmu ke kamar mandi dan membasuhmu sendiri. Sebagai suami, saya diperbolehkan menyentuh istri untuk tujuan mendidik yang mendesak. Mau coba?"

​Shania melihat kilat keseriusan di mata Zain. Pria ini tidak sedang bercanda. Dengan perasaan dongkol yang luar biasa, ia menyambar mukena itu dan melesat ke kamar mandi.

​"Awas kamu ya, Ustadz kaku! Aku bakal bikin kamu jatuh cinta sama aku, terus setelah kamu tergila-gila, aku bakal tinggalin kamu biar kamu tahu rasanya sakit hati!" teriak Shania dari dalam kamar mandi.

​Zain yang berdiri di luar hanya menggelengkan kepala. Ia duduk di sajadahnya, menanti istrinya dengan sabar.

"Jatuh cinta?" gumamnya pelan pada diri sendiri. "Kita lihat saja, siapa yang akan bertekuk lutut lebih dulu, Shania. Hatimu yang liar, atau prinsipku yang teguh."

​Sore itu, untuk pertama kalinya, Shania shalat diimami oleh suaminya di rumah baru mereka. Suara Zain saat melantunkan ayat-ayat suci begitu merdu, menggetarkan sanubari Shania yang selama ini gersang. Namun, ego Shania terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia sedikit terpesona.

​Selesai shalat, Zain tidak langsung berdiri. Ia berdzikir dengan tenang. Shania yang sudah tidak tahan ingin segera melepas mukenanya, tertahan oleh teguran Zain.

​"Jangan beranjak dulu. Sini."

Zain menunjuk tempat di sampingnya.

​"Apa lagi sih?"

​"Cium tangan suamimu. Itu adab minimal setelah shalat," perintah Zain.

​Shania merengut, namun ia mendekat. Ia meraih tangan kanan Zain dan menciumnya dengan kasar. Namun, sebelum ia sempat menarik tangannya, Zain justru menggenggam jemari Shania dengan kuat namun lembut.

​Zain kemudian meletakkan telapak tangan kanannya di atas ubun-ubun Shania. Gadis itu terkesiap, tubuhnya membeku.

​"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha ‘alaihi..." Zain merapalkan doa dengan sangat khusyuk.

​Shania merasakan kehangatan menjalar dari puncak kepalanya. Ada rasa damai yang asing menyelinap, namun ia segera menepisnya. Ia menarik kepalanya dengan kasar.

​"Nggak usah pakai doa-doa segala! Aku bukan setan yang perlu diusir!"

​Zain berdiri dengan tenang, merapikan sarungnya.

"Itu doa untuk memohon kebaikan dari seorang istri. Karena sejujurnya, Shania, di balik lisanmu yang tajam, saya tahu ada hati yang sedang terluka dan mencari arah. Dan saya di sini untuk menjadi kompasmu, suka atau tidak."

​Zain melangkah keluar kamar, meninggalkan Shania yang terpaku sendirian. Shania menatap pantulan dirinya di cermin—seorang gadis dengan mukena putih yang tampak sangat berbeda dari biasanya.

​"Kompas? Jangan harap! Aku bakal bikin kompas kamu rusak, Zain Malik Muammar!"

​Malam pertamanya di pesantren baru saja dimulai. Di luar, suara santri yang sedang mendaras Al-Qur'an bersahut-sahutan dengan suara jangkrik. Shania merebahkan diri di ranjang luas yang terasa asing. Tak lama kemudian, Zain masuk membawa beberapa buku tebal.

​"Apa itu?" tanya Shania sinis.

​"Kitab dasar akhlak. Besok pagi setelah subuh, kita mulai belajar satu bab," jawab Zain sambil merebahkan diri di sofa panjang, posisi yang sama seperti malam sebelumnya.

​"Nggak mau! Aku mau tidur!"

​"Tidurlah. Tapi ingat, jam 4 subuh, jika kamu tidak bangun karena adzan, kamu akan bangun karena percikan air yang lebih banyak dari tadi pagi."

​Shania menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Ia bersumpah dalam hati, esok ia akan mencari cara untuk kabur dari penjara suci ini. Namun, ia tidak tahu bahwa Zain telah memerintahkan dua penjaga pesantren untuk berjaga di depan rumah mereka selama 24 jam.

​Membelenggu Shania ternyata lebih sulit daripada menjinakkan kuda liar, namun bagi Zain, ini adalah jihad pribadinya. Sebuah pertempuran antara kerasnya kepala dan lembutnya doa.

Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!