Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 Sekilas Ingatan dari Wei Lu
Wei Ying berjalan mendekat setelah membuang balok kayunya sembarangan, ia mencoba tersenyum selembut mungkin pada anak-anak itu. Namun, setiap satu langkah ia mendekat, satu langkah pula anak-anak itu mundur menjauh.
Raut kecewa nampak jelas di wajah Wei Ying.
Lalu anak paling kecil, si bungsu yang baru berusia 8 tahun mencoba berbicara, meski suaranya bergetar dan terbata-bata.
"Ibu, kami tidak menginginkan uang santunan dari ayah. Jadi jangan pukul, jangan pukul kakak."
Wei Ying yang memang tak tau apapun tentang masa lalu tubuh ini, merasa tambah pusing seolah ada benda berat yang berputar-putar di dalam kepalanya. Ia memegang dahinya dengan tangan kanan, mata sedikit menyipit karena rasa tidak nyaman yang mulai muncul. Tapi tak butuh waktu lama, rasa sakit yang menusuk seperti tertusuk jarum menghantam kepalanya dengan sangat kuat hingga ia terpaksa jongkok dan menekuk tubuhnya.
Sebuah kilasan dari pemilik tubuh itu sebelum dirinya rasuki muncul dengan sangat jelas, seperti melihat sebuah film yang diputar cepat di depannya.
.
.
Lu Shu mencoba merebut uang santunan yang dari ayahnya dari seorang pria, Wei Ying tak tau siapa pria itu. Tampak Lu Shu begitu panik dan kesusahan untuk meriah kantung uang tersebut.
"Kembalikan! Itu uang santunan dari ayahku!" serunya.
Tapi pria itu tiba-tiba berhenti dan berpaling menghadapnya, kemudian mendorongnya dengan keras menggunakan kedua tangannya hingga membuatnya terjungkal menghantam tanah liat yang berlumpur. Tubuhnya berguling beberapa kali sebelum berhenti, bagian siku dan lututnya langsung terluka dan mengeluarkan darah yang bercampur dengan lumpur.
"Cih, ayahmu sudah mati di medan perang! Semua harta mu sekarang jatuh ke tangan Wei Lu, kakakku! Haha! Terserah dia mau membaginya dengan siapa, lagipula aku adiknya!" Seru pria yang ternyata adalah Wei Xang, adik kandung Wei Lu. Matanya penuh dengan keserakahan saat melihat kantong uang yang masih terpegang erat di tangannya.
Selepas itu ia berbalik memandang Wei Lu dengan senyum licik, lalu berkata, "Kak, kamu tidak perlu khawatir. Serahkan saja uang ini padaku, jangan sampai jatuh ke tangan tiga bocah itu! Mereka hanya akan menyia-nyiakan uang tersebut untuk hal-hal yang tidak penting, belum lagi mereka bukan anak kandungmu juga."
Wei Lu mengangguk setuju tanpa ragu-ragu, wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak jelas apakah itu rasa senang atau hanya rasa tidak peduli. "Iya, kamu benar Xang! Untuk sekarang kamu pegang uang itu, jaga baik-baik. Aku tidak punya waktu untuk mengurus hal semacam ini, lebih baik kamu yang mengelolanya."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Jika kamu memerlukan bantuan apapun, panggil saja aku! Aku akan selalu ada untuk mu, kak!" ujar Wei Xang seraya melempar-lempar kantong uang itu dengan gembira.
.
.
Wei Ying yang kini mendapatkan ingatan dari pemilik asli tubuh itu, yang tak lain adalah Wei Lu, benar-benar tak habis pikir. "Apa-apaan si Wei Lu ini! Sebodoh itu!" serunya dalam hati dengan jengkel.
"Semua harta malah di berikan ke adiknya, kasihan banget anak-anak malang ku ini." bisiknya dengan pilu.
Wei Ying mengingat apa yang pernah dibacanya dalam berbagai cerita web novel tentang orang yang mengalami transmigrasi ke dunia lain. "Jika menurut aturan web novel transmigrasi, aku harus melakukan sebaliknya dari apa yang dilakukan oleh pemilik tubuh sebelumnya. Tiga bocah ini harus kurawat baik-baik, dengan begitu jaminan nyawa ku di masa depan akan terjamin dan aku bisa pulang ke dunia asalku. Lagipula aku juga sudah berjanji secara tak langsung, jika aku menjadi ibu mereka aku akan memberikan kasih sayang dan masa kecil yang indah." Ujarnya dalam hati, sambil menyesuaikan posisi tubuhnya agar bisa berdiri dengan lebih stabil.
Wei Ying menatap ke tiga anak yang masih saling memeluk di lantai, lalu tersenyum kecil.
"Lagipula, aku lumayan suka anak kecil dan wajah mereka sangat lucu. Tak ada salahnya untuk mengasuh mereka hingga dewasa.."
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭