Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 Pindah Ke Kampung
Setelah semuanya diurus oleh Herman, pagi ini keluarga Suhartanto sudah bersiap-siap untuk pindah ke Kampung. Mereka menarget jangka waktu 1 tahun untuk tinggal di kampung. Semua barang-barang seperti baju sudah duluan dibawa oleh anak buah Tri.
“Semuanya sudah siap, Tuan,” seru Wanto.
“Ayo, anak-anak kita berangkat!” seru Daddy Tri.
Istri dan anak-anaknya memperhatikan rumah mereka. “Kita pergi dulu ya, kalian harus jaga rumah ini baik-baik,” perintah Mommy Wita kepada pekerja di rumahnya.
“Baik, Nyonya,” sahut semuanya serempak.
Semuanya pun memasuki salah satu mobil mewah milik Tri. Wanto mulai melajukan mobilnya menuju kampung yang akan menjadi tempat tinggal mereka untuk sementara waktu. Wanto benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisanya keluarga Bosnya ingin merasakan hidup susah.
“Nanti kalau sampai di kampung Lu jangan mengeluh ya, Kak,” seru Syarif.
“Apaan, gue gak bakalan ngeluh. Lebih baik Lu semangati diri Lu sendiri Dek, sebelum Lu nyemangatin gue,” sahut Sherina.
“Sudah jangan berisik, pokoknya nanti di kampung kita harus benar-benar mandiri jangan ada bantuan apa pun,” ucap Daddy Tri.
“Ngomong-ngomong, Mommy bisa masak gak?” tanya Syarif.
Seketika Wita gelagapan. “Bi—bisa dong, tenang saja,” sahut Mommy Wita gugup.
“Kok aku gak yakin Mommy bisa masak? Selama ini aku belum pernah melihat Mommy masak,” celetuk Sherina.
“Jangan sembarangan kamu Sher, Mommy dari dulu bisa masak hanya saja Daddy kalian tidak memperbolehkan Mommy untuk masak, akhirnya Mommy tidak pernah masak lagi,” sahut Mommy Wita sedikit kesal.
“Baguslah kalau Mommy bisa masak, setidaknya nanti kita di kampung tidak akan kelaparan,” ucap Syarif.
Wita seketika terdiam. “Mampus, aku sama sekali tidak bisa masak. Jika aku bilang gak bisa masak, bisa-bisa anak-anak meledek aku dan harga diri aku akan hancur di hadapan anak dan suami aku sebagai seorang ibu karena gak bisa masak,” batin Mommy Wita.
Sejak kapan Wita bisa masak, dia saja terlahir sebagai anak tunggal di keluarganya. Jangankan masak, pergi ke dapur pun dia jarang sekali. Apalagi di rumah dia sekarang, untuk yang masak saja sudah ada chef yang handle.
“Ngapain takut, sekarang ada google tinggal lihat google saja,” batin Mommy Wita dengan percaya diri penuh.
Sementara itu suasana di kampung tampak riuh, saat ada beberapa orang yang memadukan barang-barang ke rumah yang akan ditempati keluarga Suhartanto. “Wuidih, siapa yang membeli rumah Juragan Handoko, ya?” seru Nining.
“Entahlah, yang jelas kita akan mempunyai tetangga baru nanti,” sahut Badru.
“Mudah-mudahan saja tetangga baru kita tidak sombong,” sambung Ismail.
Kampung itu tidak terlalu terpencil bahkan ke pasar pun hanya butuh waktu satu jam. Jalan di kampung itu juga sudah lumayan bagus dan tidak terisolir. Bahkan mobil besar pun sudah masuk ke kampung itu.
Para Ibu-ibu di kampung itu sudah berkumpul melihat barang-barang berdatangan ke rumah itu. “Apa yang menempati rumah itu orang kaya?” seru salah satu Ibu-ibu.
“Entahlah. Tapi kalau orang kaya, ngapain mau pindah ke kampung? Enak tinggal di kota, serba ada,” sahut Ibu yang satunya lagi.
Menjelang siang, mobil mewah milik Tri pun sampai di kampung itu. Warga kampung sampai melongo, bahkan anak-anak kecil sudah pada berlarian mengejar mobil Tri. “Aduh, kenapa anak-anak itu ngejar mobil kita sih? Kalau jatuh bagaimana?” seru Mommy Wita khawatir.
“Mungkin anak-anak di sini baru pertama kali lihat mobil bagus,” sahut Syarif.
“Mereka belum pernah melihat mobil bagus Nyonya, paling yang masuk ke kampung ini hanya mobil bak terbuka untuk mengangkut hasil perkebunan mereka,” ucap Wanto.
“Serius Pak? Mereka gak pernah lihat mobil kaya gini?” tanya Sherina tidak percaya.
“Iya, Non,” sahut Wanto.
Akhirnya Wanto pun menghentikan mobilnya di depan rumah yang Tri beli. Para warga sudah berkumpul di sana, seperti yang sedang melihat sebuah kejadian kriminal kaya di Tv-tv. “Anjir, mobilnya keren banget,” seru Badru.
“Fix mereka orang kaya,” tumpal Ismail.
Tri dan yang lainnya pun keluar dari mobil. Semuanya menyunggingkan senyuman kepada warga di sana sebagai senyuman perkenalan. Semua warga melongo melihat keluarga Tri, aura konglomeratnya terlihat kuat meskipun cara berpakaian mereka sudah sesederhana mungkin.
“Gila, ganteng banget,” seru Nining.
“Bening banget,” seru Badru dan Ismail melihat ke arah Sherina.
“Salam kenal Ibu-ibu, Bapak-bapak, kami penghuni rumah ini semoga kita bisa bertetangga dengan baik,” ucap Daddy Tri.
“Selamat datang Pak Tri, perkenalkan nama saya Joko dan saya RW di kampung Suka Bahagia ini,” seru Pak Joko menghampiri keluarga Tri.
“Mohon bimbingannya Pak, kami baru pertama tinggal di kampung,” seru Mama Wita.
“Iya, Bu.”
Sherina melihat ke arah Nining, Badru, dan Ismail lalu menyunggingkan senyuman membuat Badru dan Ismail salah tingkah. “Ih, kayanya mereka baik deh,” seru Nining.
Keluarga Tri pun masuk ke dalam rumah. Para warga mulai membubarkan diri. “Adem banget rumahnya,” seru Syarif.
“Ini ya, rasanya tinggal di rumah kecil kaya kalangan bawah,” seru Mommy Wita.
“Tidak begitu buruk kok, Mom,” sahut Sherina.
“Kalau di Jakarta, rumah ini sebesar kamar gue,” seru Syarif.
“Mom, Daddy lapar,” celetuk Daddy Tri.
“Sherin juga Mom,” timpal Sherina.
“Syarif juga,” sambung Syarif.
Wita kaget mendengar permintaan suami dan juga anak-anaknya itu. “Nyonya, bahan makanan sudah ada di dalam kulkas dan bumbu-bumbu lainnya, Nyonya tinggal masak saja,” seru Wanto.
“Ah, iya,” sahut Mommy Wita gugup.
Wita pun melangkahkan kakinya ke dapur dengan langkah ragu-ragu. Dia tidak tahu harus masak apa dan bagaimana caranya. “Bagaimana mau masak, cara masaknya saja aku gak tahu,” gumam Mommy Wita.
Wita mengeluarkan ponselnya dan melihat cara memasak di dalam Youtube. Cukup lama Wita memperhatikan, hingga akhirnya dia pun memberanikan diri untuk memulai masak. “Semoga saja berhasil, dan mereka suka dengan masakan aku,” gumam Mommy Wita kembali.
Seperti layaknya wanita yang sedang masak, Wita begitu sangat sibuk meskipun dia juga bingung bumbu apa yang dia masukan ke dalam masakannya. Wanto pamit pulang ke Jakarta karena dia harus mengurus perusahaan Tri bersama Hari. Tri dan kedua anaknya rebahan sembari menunggu Wita selesai masak, Tri tidur di karpet, Sherina di atas sofa, dan Syarif di samping Daddynya.
“Mommy lama banget masaknya,” keluh Sherina.
Saking lamanya menunggu Wita selesai masak, semuanya pun sampai ketiduran. Entah apa yang Wita masak sampai-sampai begitu sangat lama untuk menyelesaikannya. Dua jam pun berlalu, akhirnya masakan Wita selesai.
“Akhirnya selesai juga, pasti mereka makannya lahap,” gumam Mommy Wita dengan kondisi wajahnya yang sudah acak-acakan.
Wita kemudian menghidangkan hasil masakannya di meja makan. Senyuman tersungging di wajah Wita, tapi tidak tahu bagaimana nanti reaksi suami dan kedua anaknya kala mencicipi masakannya itu. Wita berharap mereka suka dan memakan habis hasil kerja kerasnya.