Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Dari ICU
Aroma antiseptik yang menyengat selalu berhasil membuat bulu kuduk Naura meremang.
Namun, sore itu, rasa ngeri di hatinya bukan lagi sekadar reaksi tubuh terhadap atmosfer rumah sakit, melainkan sebuah cengkeraman ketakutan yang nyata. Di balik dinding kaca ruang Intensive Care Unit(ICU), tubuh ringkih sang ayah terbaring tak berdaya.
Berbagai selang dan kabel medis menempel pada kulit keriput pria paruh baya itu, sementara bunyi statis dari monitor jantung menjadi satu-satunya melodi horor yang mengisi keheningan.
Baru tadi pagi, ayahnya, Rahardjo, tersenyum hangat melepas Naura berangkat kerja. Namun, sebuah kecelakaan beruntun di jalan tol telah memutarbalikkan dunia Naura dalam sekejap mata.
Dokter mengatakan ada pendarahan internal yang parah, dan harapan hidup sang ayah kini berada di ujung tanduk.
Dengan langkah gemetar dan air mata yang tak tumpah sejak menginjakkan kaki di rumah sakit, Naura mendorong pintu kaca tersebut. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu berlutut di sisinya.
Digenggamnya tangan sang ayah yang terasa begitu dingin.
"Papa ... " bisik Naura, suaranya serak menahan sesak yang menyumbat tenggorokan.
Perlahan, kelopak mata Rahardjo bergerak. Pria itu membuka matanya dengan sangat kepayahan. Masker oksigen yang menutupi paruh wajahnya mengembun setiap kali ia mengembuskan napas. Ketika melihat sang putri tunggal berada di sana, kilat kepasrahan sekaligus kecemasan terpancar dari sepasang netra yang mulai meredup itu.
Rahardjo menggerakkan jemarinya yang lemah, memberi isyarat agar Naura mendekatkan telinganya. Dengan sisa tenaga yang ada, Rahardjo melepaskan masker oksigennya sedikit demi sedikit, mengabaikan alarm monitor yang mulai berbunyi peringatan.
"Nau ... ra ... " suara itu terputus-putus, nyaris tak terdengar di antara desis mesin medis.
"Iya, Pa. Naura di sini. Papa jangan banyak gerak dulu, ya? Papa harus kuat," tangis Naura akhirnya pecah. Air matanya luruh membasahi punggung tangan sang ayah.
Rahardjo menggeleng lemah.
Ia tahu waktunya tidak banyak lagi. "Dengarkan Papa, Sayang. Di laci meja kerja Papa ... ada sebuah surat. Papa ... Papa sudah mengatur perjodohanmu."
Kata terakhir itu bagaikan petir di siang bolong bagi Naura. Ia mematung, bahkan tangisnya sempat terhenti selama beberapa detik karena rasa terkejut yang luar biasa. "Perjodohan? Maksud Papa apa?"
"Menikahlah ... dengan Arka. Arka Pratama. Dia anak sahabat Papa," bisik Rahardjo, napasnya kian memburu, tersengal-sengal. "Ini ... ini wasiat terakhir Papa, Naura. Tolong, penuhi permintaan Papa. Hanya Arka ... yang bisa menjaga kamu setelah Papa tidak ada."
Jantung Naura berdegup kencang, berpacu dengan ritme monitor jantung di samping mereka. Rasa terkejutnya seketika berubah menjadi gelombang penolakan yang hebat. Kepala Naura menggeleng kuat-kuat.
"Enggak, Pa! Kenapa tiba-tiba begini? Papa tahu sendiri, kan, kalau Naura sudah punya Rama? Papa kenal Rama!" Naura setengah berteriak, panik dan tidak habis pikir.
Bagaimana mungkin ayahnya meminta hal sekrusial ini di saat-saat terakhirnya? Rahardjo sangat mengenal Rama. Rama adalah kekasih Naura selama tiga tahun terakhir. Pria itu sopan, mapan, dan sudah sering datang ke rumah mereka untuk sekadar makan malam bersama.
Ayahnya bahkan selalu menyambut Rama dengan senyuman selama ini. Mengapa sekarang, di ambang kematian, ayahnya justru melemparkan sebuah nama asing yang sama sekali belum pernah Naura dengar?
"Arka ... tidak seperti yang kamu pikirkan. Janji pada Papa, Nau ... nikahi dia ..." genggaman tangan Rahardjo pada jemari Naura mendadak mengencang, sebuah kekuatan terakhir yang dipaksakan. Matanya menatap Naura dengan tatapan memohon yang begitu dalam, seolah seluruh sisa hidupnya dipertaruhkan pada jawaban sang putri.
"Tapi, Pa –"
"Janji ... Naura ..."
Garis di monitor jantung tiba-tiba berfluktuasi dengan ekstrem. Bunyi bip panjang dan nyaring langsung memotong kalimat Naura. Detik itu juga, cengkeraman tangan Rahardjo terlepas. Matanya perlahan terpejam, meninggalkan ekspresi lelah yang kini membeku menjadi kedamaian yang abadi.
"Papa? Papa!" Naura menjerit histeris. Ia mengguncang bahu ayahnya, namun tubuh itu tetap bergeming.
Dokter dan perawat berhamburan masuk ke dalam ruangan, menarik Naura menjauh dari ranjang. Dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian, Naura hanya bisa melihat dari balik punggung para petugas medis yang sedang melakukan resusitasi jantung. Segala upaya dikerahkan, namun takdir telah mengunci pintunya.
Pada pukul lima sore, sang ayah dinyatakan meninggal dunia. Bersamaan dengan itu, kebebasan Naura untuk memilih jalan hidupnya pun ikut mati.
Seminggu setelah pemakaman, rumah kediaman Rahardjo telah sepi dari pelayat.
Namun, bagi Naura, rumah itu terasa jauh lebih dingin dan asing. Ia duduk di lantai kamar kerja ayahnya, dikelilingi oleh berkas-berkas tua.
Di pangkuannya, terdapat sebuah amplop cokelat tebal yang ia temukan di laci rahasia meja kerja sang ayah, persis seperti yang dikatakan mendiang sebelum mengembuskan napas terakhir.
Dengan tangan gemetar, Naura membuka isi amplop tersebut. Di dalamnya terdapat selembar surat perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh ayahnya dan seorang pria bernama Baskoro Pratama, lengkap dengan materai sepuluh ribu yang sudah agak menguning. Di bawah surat itu, terselip sebuah foto seukuran paspor.
Naura mengambil foto tersebut. Di sana tergambar sosok seorang pria muda dengan rahang tegas, alis tebal, dan tatapan mata yang sangat tajam namun tenang. Pria itu sangat tampan, tipe pria yang mungkin akan membuat banyak wanita menoleh di jalanan.
Di balik foto itu tertulis sebuah nama: "ARKA PRATAMA"
"Kenapa, Pa? Kenapa Papa tega melakukan ini sama Naura?" lirih Naura, air matanya menetes mengenai permukaan foto tersebut.
Rasa bingung, sedih, dan marah bercampur aduk di dalam dadanya. Ia merasa dikhianati oleh keputusan sepihak ayahnya. Mengapa ayahnya tega menjodohkannya dengan orang asing? Apakah cinta Naura pada Rama selama tiga tahun ini tidak ada artinya di mata sang ayah?
Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar kerja yang terbuka. Naura menoleh dan mendapati Rama berdiri di sana.
Wajah pria itu tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah matanya karena ikut begadang menemani Naura selama seminggu ini.
"Sayang," panggil Rama lembut. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di samping Naura. Tangannya terulur untuk mengusap air mata di pipi kekasihnya.
"Kamu belum makan dari siang. Jangan seperti ini terus, ya? Aku sedih melihatmu tersiksa."
Melihat wajah tulus Rama, tangis Naura kembali pecah. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu, menumpahkan segala beban yang menghimpit dadanya. Rama mendekapnya erat, mengusap punggung Naura dengan penuh kasih sayang.
"Rama ... Papa ... " Naura terisak di dada Rama.
"Iya, aku tahu kamu kehilangan Om Rahardjo. Tapi ada aku di sini, Nau. Aku akan menjaga kamu. Kita akan hadapi ini sama-sama," ucap Rama menenangkan.
Mendengar janji manis itu, hati Naura justru semakin sakit. Keberaniannya menciut untuk mengatakan kebenaran yang sesungguhnya.
Bagaimana ia harus menjelaskan kepada Rama bahwa ia harus menikah dengan pria lain karena wasiat terakhir ayahnya?
Bagaimana perasaan Rama jika tahu kesetiaannya selama ini dibalas dengan kenyataan sepahit ini?
Naura perlahan melepaskan pelukannya, menatap mata Rama dengan binar keputusasaan. "Ram, kalau ... kalau ada sesuatu yang memaksa kita untuk pisah, apa yang akan kamu lakukan?"
Rama mengernyitkan dahi, bingung dengan pertanyaan acak tersebut. Namun, ia segera tersenyum dan menggenggam kedua tangan Naura. "Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, Naura. Kita sudah sejauh ini. Setelah masa berkabung ini selesai, aku bahkan berniat untuk resmi melamarmu. Kamu tahu itu, kan?"
Kalimat Rama bagaikan belati yang menghujam tepat di jantung Naura.
Sanggupkah ia menghancurkan hati pria sebaik Rama? Namun, di sisi lain, bayangan wajah memohon sang ayah di ruang ICU terus menghantuinya setiap malam. Suara parau ayahnya yang meminta janji terakhir itu terus terngiang-ngiang bagaikan alarm yang tidak bisa dimatikan.
Dua hari kemudian, kenyataan pahit itu benar-benar menjemput Naura. Sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan rumahnya. Dari dalam mobil, turun seorang pria paruh baya yang masih tampak gagah bersama seorang pemuda.
Naura mengenali pemuda itu dari foto di amplop cokelat milik ayahnya. Itu Arka Pratama.
Secara langsung, Arka terlihat jauh lebih mengintimidasi daripada di foto. Pria itu mengenakan kemeja formal hitam yang digulung hingga siku, menampilkan kesan maskulin yang kuat.
Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seolah-olah kedatangannya ke rumah ini hanyalah untuk menghadiri rapat bisnis, bukan untuk membicarakan sebuah pernikahan.
Baskoro, ayah Arka, menyambut Naura dengan senyuman hangat yang penuh rasa duka. "Naura, apa kabarmu, Nak? Om turut berduka atas kepergian Rahardjo. Dia adalah sahabat terbaik Om."
"Kabar baik, Om. Terima kasih sudah datang," jawab Naura seadanya, berusaha bersikap sopan meski dadanya bergemuruh hebat. Tatapannya sesekali melirik ke arah Arka, yang hanya mengangguk pelan memberikan penghormatan formal tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah mereka duduk di ruang tamu, Baskoro langsung membuka inti pembicaraan. "Naura, mungkin ini terasa terlalu cepat dan mengejutkan untukmu. Tapi, sebelum ayahmu tiada, kami sudah sepakat untuk menyatukan kalian berdua. Rahardjo sangat mengkhawatirkan masa depanmu jika dia sudah tidak ada. Karena itu, Om di sini ingin menunaikan janji itu. Arka akan menikahimu."
Naura mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha keras menahan getaran di tubuhnya. Ia menatap Baskoro, lalu beralih menatap Arka yang masih mempertahankan wajah dinginnya.
"Om," suara Naura bergetar namun mencoba terdengar tegas. "Maaf sebelumnya. Tapi ... apakah pernikahan ini harus tetap terjadi? Saya ... saya bahkan tidak mengenal Kak Arka. Dan lagi, saya sudah memiliki kekasih."
Mendengar ucapan blak-blakan Naura, Arka akhirnya menunjukkan reaksi. Alis tebal pria itu sedikit terangkat, dan matanya mengunci pandangan Naura. Ada kilat ketidaksukaan yang samar di sana, namun ia tetap memilih untuk diam, membiarkan ayahnya yang berbicara.
Baskoro menghela napas panjang, tatapannya melunak penuh empati. "Om tahu ini tidak adil untukmu, Naura. Tapi ini adalah wasiat terakhir ayahmu. Perjanjian ini dibuat bukan tanpa alasan yang kuat. Ada hal-hal di masa lalu yang membuat ayahmu mempercayakanmu sepenuhnya kepada Arka. Om mohon, jangan biarkan jiwa ayahmu tidak tenang di sana karena janji terakhirnya tidak terpenuhi."
Kata-kata 'jiwa ayahmu tidak tenang' langsung meruntuhkan seluruh dinding pertahanan Naura. Logikanya berteriak untuk menolak, namun baktinya sebagai anak melumpuhkan segala argumen yang sudah ia susun di kepala.
Naura menunduk, memandangi jemarinya yang saling bertautan. Di dalam benaknya, wajah sang ayah yang tersengal-sengal meminta janji itu kembali berputar.
Dengan berat hati, dengan seluruh impian masa depannya yang runtuh berkeping-keping, Naura akhirnya memejamkan mata.
"Baik, Om. Saya ... saya akan menerima pernikahan ini," ucap Naura pelan, nyaris seperti bisikan pasrah.
Di seberang meja, Arka hanya menatap wanita yang kini resmi menjadi calon istrinya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Pernikahan ini akan dimulai, bukan dengan kelopak bunga mawar dan senyuman bahagia, melainkan dengan air mata penolakan dan rahasia yang terkunci rapat.