NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

‎Risa melangkah masuk, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia menutup pintu di belakangnya perlahan, lalu berhenti beberapa langkah di depan meja kerja besar.

‎‎Di balik meja itu, duduk seorang pria dengan postur tegap, mengenakan kemeja putih rapi dengan lengan digulung sebatas siku, menampakkan pergelangan tangan yang kokoh. Wajahnya tegas, rahangnya terlihat jelas, dan sepasang mata gelapnya menatap lurus ke arahnya - menyelidik namun tanpa kesan mengintimidasi secara berlebihan.

‎‎"Selamat pagi, Pak," sapa Risa dengan suara lembut. Ia sedikit membungkukkan badan sebagai tanda hormat.

‎‎"Pagi. Silakan duduk."

‎‎Perintah itu singkat dan lugas, tanpa embel-embel.

‎‎Risa mengangguk perlahan, lalu melangkah mendekat dan duduk dengan posisi punggung lurus, meletakkan tas kerjanya di pangkuan agar tetap rapi. Ia menatap balik Regan dengan pandangan yang tenang, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya sebaik mungkin.

‎‎"Juna sudah menyampaikan sedikit tentang dirimu," ucapnya, suaranya tetap datar dan dingin. "Kamu lulusan desain, tapi berhenti bekerja selama beberapa tahun untuk mengurus rumah tangga. Mengapa sekarang ingin kembali?"

‎‎Pertanyaan itu langsung ke inti, tanpa basa-basi yang biasa terjadi dalam wawancara. Risa menarik napas pendek, mengumpulkan keberaniannya, lalu menjawab dengan nada yang tenang dan jelas.

‎‎"Benar, Pak. Selama lima tahun ini saya tidak bekerja secara resmi, tapi saya tidak pernah benar-benar berhenti mengikuti perkembangan dunia desain dan mengasah keterampilan saya. Sekarang saya ingin kembali berkarya karena ini adalah bidang yang saya cintai, dan saya ingin membangun jalan hidup saya sendiri dengan kemampuan yang saya miliki."

‎‎Regan sedikit mengerutkan dahi, tatapannya semakin tajam.

‎‎"Lima tahun bukan waktu yang singkat. Tren berubah cepat, standar kerja juga semakin tinggi. Apa jaminanmu bahwa kamu masih bisa mengikuti kecepatan dan kualitas yang kami butuhkan disini? Jangan harap kami akan memberikan perlakuan khusus hanya karena alasan pribadi apapun."

‎‎Kata-katanya tegas dan sedikit menusuk, tidak memberi ruang untuk rasa iba.

‎‎Risa menahan diri agar tidak terlihat tertekan. Sebaliknya, ia justru merasa tantangan itu membuatnya semakin fokus. Dengan tenang, ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan portofolio yang telah disusun rapi, lalu meletakkannya di atas meja, mendorongnya sedikit ke arah Regan.

‎‎"Saya tidak meminta perlakuan khusus, Pak. Ini hasil karya saya, mulai dari masa kuliah hingga rancangan terbaru yang saya buat belakangan ini. Jika Bapak melihatnya dan merasa kualitasnya belum memenuhi standar RTF Corp, saya akan menerima keputusan itu dengan lapang dada. Saya hanya meminta kesempatan untuk membuktikannya."

‎‎Regan melirik portofolio itu sekilas, lalu kembali menatap wajah Risa. Ada sedikit perubahan samar di sorot matanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menjangkau berkas itu dan mulai membukanya satu persatu, meneliti setiap lembaran gambar dengan saksama.

‎‎Risa duduk diam, menahan napasnya sedikit, hanya menunggu penilaian itu selesai.

‎‎Setelah sekitar lima menit yang terasa sangat lama, Regan menutup portofolio itu perlahan, lalu menatap kembali ke arah Risa dengan tatapan yang tetap tajam dan dalam.

‎‎"Karya-karyamu rapi, terstruktur, dan memiliki karakter yang jelas," ucapnya akhirnya, suaranya tetap dingin dan datar. "Tidak terlihat seperti hasil tangan orang yang sudah berhenti berkarya selama lima tahun. Bahkan beberapa rancangan terakhirmu menunjukkan pemahaman yang cukup baik terhadap tren terkini."

‎‎Mendengar itu, hati Risa terasa sedikit lega, namun ia tetap menjaga sikapnya agar tidak terlihat terlalu bersemangat. Ia hanya mengangguk sopan.

‎‎"Terimakasih atas penilaiannya, Pak. Saya selalu meluangkan waktu setiap hari untuk menggambar dan mengikuti perkembangan dunia desain, meskipun hanya di rumah," jawabnya tenang.

‎‎Regan bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan kedua tangannya di dada, dan melanjutkan dengan nada yang semakin tegas.

‎‎"Tapi keterampilan menggambar saja belum cukup. Disini kamu akan bekerja dengan tenggat waktu yang ketat, berkoordinasi dengan tim, menghadapi revisi yang mungkin berulang kali, dan bekerja di bawah tekanan. Apakah kamu siap menghadapi ritme kerja yang berat itu? Bukan lagi suasana santai di rumah, melainkan lingkungan profesional yang menuntut hasil maksimal setiap harinya."

‎‎"Saya sangat paham perbedaannya, Pak," jawab Risa tegas, matanya menatap lurus ke arah Regan tanpa ragu. "Saya siap belajar lebih giat, bekerja lebih keras, dan menyesuaikan diri dengan standar perusahaan ini. Jika saya melakukan kesalahan, saya siap menerima koreksi dan memperbaikinya."

‎‎Regan menatapnya dalam diam selama beberapa detik, seolah ingin menilai apakah kata-kata itu hanya ucapan kosong atau benar-benar didasari tekad yang kuat.

‎‎"Baiklah," ucapnya akhirnya, memecah keheningan dengan nada yang masih tegas namun sudah tidak sekeras sebelumnya. "Saya akan memberikan kesempatan ini. Kamu diterima di divisi desain busana wanita dengan status masa percobaan selama tiga bulan."

‎‎Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan penekanan yang jelas.

‎‎"Selama masa itu, kinerjamu akan dipantau secara ketat. Kecepatan kerja, kualitas hasil, kemampuan bekerjasama, dan kedisiplinan, semuanya dinilai. Jika di akhir periode kamu memenuhi semua standar, maka posisimu akan tetap. Jika tidak, kita harus berpisah jalan tanpa pertimbangan lebih lanjut. Saya tidak mempertahankan orang yang hanya berjanji tapi tidak membuktikan."

‎‎Risa tertegun sejenak, lalu senyum tipis namun tulus terukir di wajahnya. "Terimakasih banyak, Pak Regan. Saya akan berusaha sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan kepercayaan Bapak."

‎‎Regan mengangguk singkat sebagai balasan.

‎‎"Besok pagi pukul delapan tepat, lapor ke bagian administrasi untuk mengurus kartu identitas dan berkas kerja. Setelah itu, Juna akan mengantarmu ke ruang desain dan memperkenalkan kepada kepala divisi serta anggota tim lainnya. Ingat satu hal, disini semua orang diperlakukan sama, tidak ada yang istimewa, tidak ada pengecualian.”

‎‎"Saya mengerti, Pak. Saya akan mengikuti semua peraturan dan tata tertib yang berlaku," jawab Risa sopan.

‎‎"Baik. Kalau begitu, pertemuan kita selesai untuk hari ini," kata Regan sambil kembali meraih dokumen di hadapannya, memberi isyarat bahwa wawancara sudah berakhir.

‎‎Risa segera berdiri, melipat kembali portofolionya dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam tas.

‎‎"Sekali lagi terimakasih, Pak. Saya permisi keluar."

‎‎"Silakan," jawab Regan tanpa mengangkat wajah.

‎‎Begitu Risa melangkah keluar dan menutup pintu ruangan itu, barulah Regan mengangkat kepalanya kembali. Pandangannya tertuju pada pintu yang sudah tertutup, dan seulas senyum tipis samar terukir di sudut bibirnya.

‎‎"Wanita ini berbeda dari yang aku duga. Kupikir dia hanya seorang istri yang tiba-tiba ingin bekerja karena bosan di rumah. Ternyata dia punya keteguhan hati dan kesungguhan yang tidak sembarangan." gumamnya dalam hati, sebelum kembali memfokuskan perhatian pada pekerjaannya.

-

-

-

‎Raga tiba di kantornya dengan penampilan yang sedikit berantakan dan wajah yang pucat serta lelah. Matanya terlihat sayu, seolah tidak tidur semalaman. Ia masuk tanpa menyapa siapa pun, berjalan langsung menuju ruang kerjanya.

‎‎Belum sempat ia duduk, Amelia sudah mengikuti dari belakang, wajahnya tampak kesal dan tidak sabar. Ia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat, lalu berdiri menghadap Raga.

‎‎"Kemarin kamu kemana saja? Kenapa tidak masuk kantor, tidak mengangkat telepon, dan juga tidak membalas satu pun pesanku?!" sergah Amelia, suaranya terdengar mendesak.

‎‎Namun Raga hanya diam, lalu duduk dan membuka tumpukan berkas tanpa menoleh sedikit pun. Wajahnya datar, bahkan terlihat dingin dan tak acuh.

‎‎"Ada urusan penting. Tidak sempat mengangkatnya," jawabnya singkat dan datar, "Sebaiknya kamu keluar, dan jangan sembarang keluar masuk ruanganku. Ruanganku bukan wc umum yang bisa dimasuki sembarang karyawan."

‎‎Ucapan Raga itu terasa seperti tamparan keras bagi Amelia. Ia melangkah lebih dekat ke meja.

‎‎"Bukan sembarang karyawan? Mas, apa maksudmu bicara begitu padaku? Kemarin aku menunggumu berjam-jam, menghubungimu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Dan sekarang kamu malah mengusirku dengan kata-kata kasar seperti ini?!" bentaknya dengan pandangan tajam.

‎‎Raga tetap tidak menoleh, jemarinya sibuk membalik halaman berkas seolah tidak ada hal penting yang dibicarakan. Ia hanya menghela napas panjang, terlihat sangat lelah dan kacau di dalam hatinya.

‎‎"Aku sedang tidak ingin berdebat, Amelia. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan aku butuh ketenangan," jawabnya datar.

‎‎"Ketenangan? Kamu pikir aku bisa tenang melihat sikapmu yang tiba-tiba berubah seperti ini?!" sergah Amelia lagi, matanya berkaca-kaca. "Katakan. Apakah selama ini aku hanya menjadi pelarianmu saja?!"

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
tunggu nanti w ketawa ngakak disaat/Smug//Smug//Smug//Smug/ ada kata menyesal dari mulut mu
°RhaiKen™
ehh.. jangan dulu pak dokter 🤣🤣 biar sidang nya selesai dulu resmi bercerai nah baru deh kasih kesaksian 🤣🤣🤣✌️
🔥Violetta🔥: Mulut pak dokter sudah gatel pengen ngomong 😂😂😂
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗
🔥Violetta🔥: Asiap 🙏😁
total 1 replies
nayla tsaqif
Klo amelia tau raga mandul sblm mrk nikah,, amelia pasti kabur thor,, berubah haluan ngejar regan,,, 😌
🔥Violetta🔥: Depak aja dia kalau berani deketin pak Bos, kak 😂😂😂
total 1 replies
partini
mantap , menunggu berapa bab lagi sidang nya Thor
🔥Violetta🔥: Betul Kakak.. biar cepat cerai 😁
total 1 replies
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!