NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Aku Hanya Pengganti

Hujan turun deras malam itu.

Air memukul kaca jendela rumah mewah keluarga

Maheswara seperti seseorang yang sedang marah. Kilat beberapa kali menyambar langit, menerangi ruang keluarga yang luas dan dingin.

Semua lampu menyala terang, tetapi entah kenapa rumah itu tetap terasa gelap bagi Nadira.

Ia berdiri di dekat tangga sambil menggenggam ujung sweater abu-abunya erat-erat.

Jantungnya berdebar tidak nyaman.

Sudah hampir satu jam kedua orang tuanya mondar-mandir di ruang tengah sejak menerima telepon misterius itu. Mamanya bahkan masih memakai sandal rumah sebelah kanan terbalik karena terlalu panik.

“Apa rumah sakit sudah menghubungi lagi?” tanya papanya tegang.

“Belum,” jawab sang mama dengan wajah pucat. “Tapi mereka bilang kondisi Nayla kritis…”

Nama itu lagi.

Nayla.

Selalu Nayla.

Nadira menunduk pelan.

Bahkan saat dunia terasa runtuh seperti ini, ia tetap hanya berdiri di sudut ruangan seperti orang asing.

Tak ada yang bertanya apakah dirinya takut.

Tak ada yang peduli apakah ia juga cemas pada saudara kembarnya.

Karena beginilah hidup Nadira sejak kecil.

Kalau Nayla adalah matahari, maka Nadira cuma bayangan samar di belakangnya.

“Kamu masih berdiri di situ ngapain?” suara mamanya tiba-tiba terdengar tajam.

Nadira mengangkat kepala.

“Ma… aku cuma—”

“Ganti baju sana. Kita ke rumah sakit sekarang.”

Nadira sedikit kaget.

“Aku ikut?”

Papanya langsung menoleh cepat. “Ya iyalah ikut! Kamu pikir ini waktunya diam di rumah?”

Nada bicaranya membuat Nadira buru-buru mengangguk.

“Iya…”

Ia berlari kecil naik ke kamar tanpa membalas apa-apa lagi.

Begitulah caranya bertahan selama ini.

Diam.

Jangan membantah.

Jangan membuat masalah.

Karena di rumah ini, Nayla selalu nomor satu.

Sedangkan Nadira… cuma pelengkap.

Tiga puluh menit kemudian, mobil hitam keluarga Maheswara melaju membelah hujan.

Suasana di dalam mobil sunyi mencekam.

Mamanya terus menangis pelan sambil memegang ponsel. Papanya terlihat tegang di kursi depan.

Nadira duduk diam di belakang.

Pikirannya kacau.

Terakhir kali ia bicara dengan Nayla adalah tadi siang. Saudara kembarnya itu pergi menghadiri acara makan malam bersama keluarga

Wijaya—keluarga konglomerat yang akan menjadi calon besannya.

Pertunangan Nayla dengan Arsen Wijaya tinggal menghitung hari.

Semua media bahkan sudah membicarakannya.

Dua keluarga besar.

Bisnis raksasa.

Pernikahan sempurna.

Dan sekarang… kecelakaan?

Mobil berhenti mendadak di depan rumah sakit.

Belum sempat Nadira turun dengan benar, mamanya sudah berlari masuk lebih dulu.

“Bu, tunggu!”

Nadira mengejar dengan napas memburu.

Lorong rumah sakit terasa dingin dan terang menyilaukan. Bau obat-obatan menusuk hidung.

Di ujung lorong, beberapa dokter berdiri dengan wajah serius.

Papanya langsung menghampiri.

“Dokter! Anak saya bagaimana?!”

Dokter itu tampak ragu sesaat.

“Pasien mengalami benturan keras di kepala dan kehilangan banyak darah…”

Mamanya langsung menangis histeris.

“Tolong selamatkan anak saya!”

“Kami sudah berusaha maksimal. Tapi saat ini pasien masih belum sadar.”

Nadira mematung.

Belum sadar…

Artinya Nayla masih hidup.

Ia mengembuskan napas lega kecil.

Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.

Karena dokter berikutnya berkata pelan,

“Ada satu masalah lagi.”

Semua langsung menoleh.

“Besok pagi keluarga Wijaya dijadwalkan datang untuk membahas pertunangan resmi.”

Papanya mengusap wajah kasar.

“Sial…”

Dokter tampak bingung.

“Maaf?”

Papanya cepat menggeleng. “Bukan apa-apa.”

Namun Nadira menangkap sesuatu di mata ayahnya.

Bukan hanya panik.

Tapi juga takut.

Takut pada sesuatu yang lebih besar daripada kecelakaan Nayla.

Dua jam kemudian, Nadira duduk sendirian di depan ruang ICU.

Lampu putih di atas kepalanya membuat matanya perih.

Ia menatap lantai kosong sambil memeluk dirinya sendiri.

Lelah.

Dingin.

Takut.

Namun lebih dari itu… ia merasa aneh.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, Nayla terlihat rapuh.

Selama ini saudara kembarnya selalu sempurna.

Cantik.

Percaya diri.

Disukai semua orang.

Bahkan saat mereka kecil, semua orang selalu berkata hal yang sama.

“Yang ini Nayla ya? Cantik sekali.”

“Kalau yang satu lagi siapa?”

Yang satu lagi.

Bukan nama.

Bukan identitas.

Hanya… yang satu lagi.

“Lagi mikir apa?”

Suara berat tiba-tiba membuat Nadira tersentak.

Ia mendongak cepat.

Dan napasnya langsung tertahan.

Seorang pria berdiri di depannya.

Tubuhnya tinggi.

Rapi.

Tatapannya dingin seperti malam hujan di luar sana.

Setelan hitam mahal membungkus tubuhnya sempurna.

Dan entah kenapa, auranya membuat seluruh lorong terasa makin sunyi.

Nadira mengenal wajah itu.

Arsen Wijaya.

Calon tunangan Nayla.

Pria yang beberapa bulan terakhir terus muncul di berita bisnis.

Dingin.

Kejam.

Sulit didekati.

Dan sekarang… dia berdiri tepat di depan Nadira.

“A-aku…” Nadira gugup. “Aku cuma…”

Arsen memperhatikannya lama.

Tatapannya tajam.

Terlalu tajam.

Seolah sedang mencari sesuatu.

“Kamu bukan Nayla.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Nadira langsung menegang.

“Iya… aku Nadira.”

Arsen tak menjawab.

Ia duduk di kursi seberang tanpa mengalihkan pandangan darinya.

Jantung Nadira makin tidak nyaman.

“Ada apa dengan Nayla?” tanya Arsen akhirnya.

“Kata dokter dia belum sadar.”

Pria itu diam beberapa detik.

Wajahnya tetap datar, tapi rahangnya terlihat mengeras.

“Aku ingin melihatnya.”

“Masih belum boleh masuk.”

Arsen mengangguk pelan.

Sunyi lagi.

Dan anehnya, Nadira merasa pria itu terus memperhatikannya.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

“Kalian sangat mirip.”

Nadira tersenyum hambar.

“Semua orang bilang begitu.”

“Tapi matamu beda.”

Deg.

Nadira bingung harus menjawab apa.

Belum pernah ada yang mengatakan hal seperti itu sebelumnya.

Semua orang selalu fokus pada Nayla.

Tak ada yang benar-benar memperhatikan dirinya.

Namun pria ini… malah melihat perbedaan mereka.

“Apa bedanya?” tanya Nadira tanpa sadar.

Arsen menatap lurus ke arahnya.

“Matanya Nayla penuh ambisi.”

Lalu ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Sedangkan matamu terlihat seperti orang yang terus dipaksa mengalah.”

Nadira membeku.

Kalimat itu menghantam tepat di dadanya.

Dan lebih menyebalkan lagi… pria itu benar.

Pukul dua dini hari.

Mamanya akhirnya keluar dari ruang dokter dengan wajah pucat.

“Nadira.”

“Iya, Ma?”

“Ke ruangan sekarang.”

Nada suaranya membuat perut Nadira langsung mulas.

Ia mengikuti kedua orang tuanya masuk ke ruang konsultasi kecil.

Begitu pintu tertutup, papanya langsung bicara tanpa basa-basi.

“Kamu harus membantu keluarga ini.”

Nadira mengernyit.

“Maksud Papa?”

Mamanya menatapnya serius.

“Besok pagi kamu akan menggantikan Nayla.”

Dunia terasa berhenti sesaat.

“Hah?”

“Kamu akan berpura-pura menjadi Nayla sampai keadaan membaik.”

Nadira menatap mereka tak percaya.

“Apa?!”

Papanya mulai kesal.

“Jangan keras-keras!”

“Mana mungkin aku melakukan itu?!”

“Kenapa tidak?” bentak papanya. “Kalian kembar identik!”

Nadira mundur selangkah.

Dadanya mulai sesak.

“Pa… ini gila…”

Mamanya buru-buru memegang tangannya.

“Dengar Mama dulu. Kalau keluarga Wijaya tahu Nayla koma sebelum pertunangan, kerja sama bisnis bisa batal.”

“Terus?”

“Perusahaan Papa sedang butuh investasi mereka.”

Nadira tertawa kecil tak percaya.

Di tengah kondisi Nayla yang kritis… mereka masih memikirkan bisnis?

“Kalian serius?”

Papanya memukul meja.

“Kamu pikir hidup semudah itu?! Kalau kerja sama gagal, perusahaan kita tamat!”

“Jadi aku harus bohong?”

“Ini demi keluarga!”

Kalimat klasik itu lagi.

Demi keluarga.

Padahal sebenarnya selalu demi Nayla.

Dan sekarang… demi bisnis.

Nadira menggeleng pelan.

“Aku nggak bisa.”

Mamanya langsung menangis.

“Nadira, tolong Mama…”

“Ma…”

“Kamu satu-satunya harapan sekarang.”

Nadira menggigit bibir keras.

Hatinya kacau.

Ia takut.

Takut ketahuan.

Takut menghadapi Arsen.

Takut kehilangan dirinya sendiri.

Namun seperti biasa…

Ia tidak punya pilihan.

Karena sejak kecil, hidupnya memang hanya tentang menjadi cadangan.

Pengganti.

“Cuma sementara?” suaranya lirih.

Papanya langsung menjawab cepat.

“Ya.”

Nadira menatap lantai lama sekali.

Lalu akhirnya…

Ia mengangguk pelan.

Dan keputusan itu menjadi awal dari kehancuran hidupnya.

Pagi harinya.

Langit masih mendung ketika

Nadira berdiri di depan cermin ruang rawat VIP.

Rambutnya ditata sama persis seperti Nayla.

Makeup tipis.

Gaun putih elegan.

Bahkan parfum yang dipakai pun milik saudara kembarnya.

Nadira hampir tak mengenali dirinya sendiri.

Atau mungkin…

Ia memang sudah kehilangan dirinya sejak lama.

“Kamu harus ingat,” kata mamanya sambil membenarkan anting di telinganya. “Jangan bicara terlalu lembut. Nayla lebih percaya diri.”

“Iya…”

“Dan jangan terlalu banyak diam.”

Nadira menahan napas.

Ia merasa seperti boneka yang sedang dipersiapkan untuk pertunjukan.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat.

Keluarga Wijaya datang.

Papanya langsung berubah ramah seketika.

“Selamat datang!”

Beberapa orang masuk ke ruangan bersama aroma parfum mahal dan aura kekuasaan yang kuat.

Dan di antara mereka…

Arsen berjalan paling belakang.

Tatapannya langsung bertemu mata Nadira.

Deg.

Entah kenapa jantungnya langsung berdebar kacau.

Pria itu berhenti melangkah.

Menatapnya.

Lama sekali.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Mamanya cepat menyikut tangan Nadira pelan.

“Nayla,” bisiknya mengingatkan.

Nadira buru-buru tersenyum.

“Selamat pagi.”

Suasana hening sesaat.

Lalu ibu Arsen tersenyum hangat.

“Syukurlah kamu baik-baik saja. Kami dengar kamu kecelakaan kecil.”

Kecil?

Nayla hampir mati.

Namun keluarga kaya memang sering menyederhanakan tragedi demi menjaga citra.

“Iya Tante… aku nggak apa-apa.”

Nadira hampir lupa menggunakan nada bicara Nayla.

Untung tidak ada yang menyadari.

Atau setidaknya begitu pikirnya.

Karena Arsen masih menatapnya tanpa berkedip.

Dan itu membuat Nadira makin gugup.

Acara makan siang berlangsung canggung.

Semua orang sibuk membicarakan bisnis dan rencana pertunangan.

Sedangkan Nadira nyaris tak bisa makan.

Ia takut salah bicara.

Salah tersenyum.

Salah menjadi Nayla.

“Nayla.”

Suara Arsen tiba-tiba membuat semua orang diam.

“Iya?” jawab Nadira pelan.

“Kamu lupa sesuatu.”

Nadira membeku.

“Apa?”

“Kamu biasanya tidak minum teh manis.”

Jantungnya hampir jatuh.

Mamanya langsung pucat.

Namun Arsen belum selesai.

“Kamu juga benci stroberi.”

Tatapan pria itu tajam menusuk.

Sedangkan di tangan Nadira ada sendok kecil berisi potongan stroberi.

Sial.

Ia lupa.

Karena Nadira sendiri sangat suka stroberi.

Ruangan mendadak terasa sempit.

Papanya cepat tertawa palsu.

“Haha, mungkin sejak kecelakaan jadi berubah.”

Namun Arsen tetap tak mengalihkan pandangan.

Dan untuk pertama kalinya…

Nadira merasa pria itu tahu semuanya.

Malam harinya, Nadira berdiri sendirian di balkon rumah sakit.

Angin dingin menerpa wajahnya.

Ia lelah.

Sangat lelah.

Baru sehari menjadi Nayla saja rasanya seperti tenggelam dalam hidup orang lain.

“Sulit ya?”

Suara itu muncul lagi.

Arsen.

Pria itu berdiri di belakangnya sambil memasukkan tangan ke saku celana.

Nadira buru-buru memalingkan wajah.

“Aku nggak ngerti maksudmu.”

“Aku juga nggak bilang apa-apa.”

Nadira menegang.

Arsen berjalan mendekat perlahan.

“Kenapa kamu melakukannya?”

Napas Nadira tercekat.

Dia tahu.

Dia benar-benar tahu.

“A-aku…”

“Tenang.” Nada suaranya rendah. “Aku belum bilang pada siapa pun.”

Nadira langsung menatapnya cepat.

“Kenapa?”

Arsen diam sebentar.

Tatapannya jatuh pada hujan di luar balkon.

Lalu ia berkata pelan,

“Karena aku penasaran.”

“Penasaran apa?”

“Kenapa seseorang rela menghilang demi saudara kembarnya.”

Kalimat itu terasa menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya.

Nadira menunduk.

Karena jawabannya sederhana.

Ia melakukan ini karena sepanjang hidupnya…

Ia memang tak pernah benar-benar dianggap ada.

Dan malam itu, tanpa Nadira sadari—

Permainan berbahaya itu baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!