NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: MAHKOTA YANG TERTUKAR

Aroma lilin lebah dan debu kuno memenuhi udara Basilika San Pietro yang agung, namun bagi Alesha, bau itu terasa seperti aroma pemakaman.

Di balik pintu kayu ek raksasa yang memisahkan ruang rias dengan altar, sayup-sayup terdengar alunan organ yang memainkan lagu pernikahan.

Lagu yang seharusnya menjadi pengantar menuju kebahagiaan, kini terdengar seperti lonceng kematian di telinganya.

"Dia tidak ada! Dia benar-benar pergi!"

Suara cempreng ayahnya, Bramasta, memecah keheningan ruangan.

Pria paruh baya yang biasanya selalu tampil angkuh itu kini tampak kuyu.

Jas tuksedo mahalnya terlihat miring, dan keringat dingin bercucuran di dahinya yang mulai keriput.

Alesha berdiri diam di depan cermin besar setinggi langit-langit.

Ia masih mengenakan jubah sutra tipis, sementara di atas manekin di sampingnya, sebuah gaun pengantin karya desainer ternama Paris yang harganya setara dengan satu unit apartemen mewah di Jakarta terpajang dengan angkuh.

Gaun itu seharusnya milik Kiara, kakak perempuannya yang sempurna.

"Apa maksud Papa?" suara Alesha rendah, tajam seperti pisau bedah.

Bramasta menyodorkan secarik kertas yang sudah remuk karena remasan tangannya.

Dengan tangan gemetar, Alesha mengambil kertas itu.

Hanya ada dua kalimat di sana, ditulis dengan tulisan tangan Kiara yang rapi namun penuh racun.

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”

Darah Alesha mendidih.

Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya.

"Si brengsek itu..." desisnya.

Ia tidak terkejut Kiara kabur, kakaknya itu memang egois.

Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.

"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya.

Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha.

"Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"

Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

"Jadi ini harga dirimu, Pa? Berlutut di depan anak yang selalu Papa abaikan karena Papa lebih memuja Kiara?"

"Ini bukan cuma soal Papa!" tangis Bramasta pecah.

"Pikirkan Mamamu! Dia baru saja melewati operasi jantung bulan lalu. Jika dia tahu Kiara kabur dan kita hancur, jantungnya tidak akan kuat, Alesha. Kau tahu itu!"

Kalimat itu menghantam Alesha tepat di ulu hati.

Ibunya, satu-satunya alasan mengapa Alesha masih menganggap rumah mewah mereka sebagai rumah.

Ibunya yang lembut, yang selalu meminta maaf pada Alesha setiap kali Kiara mendapatkan perlakuan istimewa.

Kemarahan Alesha meledak.

Ia berbalik dan menyambar gaun pengantin di atas manekin itu.

"Papa pengecut! Papa menjualku untuk menutupi kebodohan Papa dan keserakahan Kiara!" teriak Alesha.

Ia mencengkeram kain brokat halus itu dengan kuat, kuku-kukunya hampir merobek kain senilai miliaran rupiah tersebut.

"Aku membenci Papa! Aku membenci Kiara! Dan aku membenci pria kursi roda itu!"

Alesha membanting gaun itu ke lantai.

Ia ingin menginjaknya, ingin merobeknya hingga menjadi serpihan.

Namun, bayangan wajah pucat ibunya di ruang pemulihan rumah sakit menahan kakinya.

Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan emosi yang meluap-luap.

Rasanya, ingin sekali menghancurkan seluruh isi gereja ini dan lari sejauh mungkin.

"Berdiri, Pa," perintah Alesha, suaranya kini sedingin es.

"Jangan berakting seolah Papa adalah korban di sini."

Bramasta mendongak, matanya penuh harapan yang menyedihkan.

"Kau... kau mau melakukannya?"

Alesha tidak menjawab.

Ia memanggil dua perias pengantin yang sedari tadi bersembunyi di balik tirai karena ketakutan.

"Pakaikan gaun ini ke tubuhku. Sekarang!" bentaknya.

Dua jam berikutnya adalah siksaan. Alesha merasa seperti sedang dipersiapkan untuk disembelih.

Korset gaun itu ditarik begitu kencang hingga ia sulit bernapas, namun rasa sesak itu tak sebanding dengan sesak di dadanya.

Perias itu mencoba menutupi wajah Alesha dengan riasan tebal, namun Alesha menepis tangan mereka.

"Gunakan cadar yang paling tebal," perintah Alesha.

"Aku tidak ingin pria itu melihat wajahku, dan aku tidak ingin tamu-tamu Papa melihat bahwa pengantinnya telah ditukar."

Saat bayangan dirinya di cermin telah berubah menjadi sosok pengantin misterius, Alesha mengambil mahkota kecil yang seharusnya dikenakan Kiara.

Alih-alih memasangnya dengan anggun, ia menancapkannya ke sanggulnya dengan kasar hingga kulit kepalanya sedikit perih.

"Mahkota ini milik pencuri," gumamnya pada bayangannya sendiri.

"Dan aku adalah pencuri yang menggantikannya."

Pintu ruang ganti terbuka.

Bramasta berdiri di sana, mencoba tersenyum, namun Alesha melewatinya begitu saja tanpa menoleh.

Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi berbunyi nyaring di lorong-lorong batu Basilika.

Setiap langkah terasa seperti menuju tiang gantungan.

Pintu utama gereja kecil itu terbuka.

Cahaya matahari musim panas di Roma menyilaukan matanya sejenak.

Ratusan tamu berpakaian mewah berdiri serentak. Alesha bisa merasakan tatapan mata mereka, tatapan yang penuh penilaian, rasa ingin tahu, dan keangkuhan.

Ia berjalan di atas karpet merah yang panjangnya terasa seperti berkilo-kilo meter.

Di ujung sana, di depan altar yang megah, berdiri seorang pria. Tidak, pria itu tidak berdiri.

Alesha menahan napas di balik cadar tebalnya. Siluet itu terlihat begitu kaku.

Matteo Al-Ricci duduk di atas kursi roda hitam yang terlihat futuristik namun dingin.

Pria itu membelakanginya, hanya memperlihatkan bahunya yang lebar dan rambut hitam legam yang tertata rapi.

Jantung Alesha berdegup kencang, menghantam rusuknya seolah ingin keluar.

Tangannya yang memegang buket bunga mawar putih bergetar hebat.

Ia ingin berbalik dan lari. Ia ingin berteriak bahwa ini semua adalah penipuan.

Namun, ia terus melangkah.

Langkah terakhirnya berhenti tepat di samping kursi roda itu.

Aroma parfum maskulin yang tajam, campuran kayu cendana dan tembakau mahal merasuk ke indra penciumannya.

Wangi yang sangat dominan, sangat berkuasa, kontras dengan kondisi fisik pria yang memakainya.

Matteo tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke depan, ke arah pendeta.

"Jangan gemetar," sebuah suara bariton, rendah dan penuh otoritas, terdengar dari sampingnya.

Suaranya tidak terdengar seperti pria yang sedang berbahagia di hari pernikahannya.

Suara itu terdengar seperti sebuah ancaman. "Aku bisa mencium ketakutanmu dari sini, Kiara."

Alesha menggigit bibir dalamnya hingga berdarah.

Aku bukan Kiara, pria sombong, batinnya berteriak.

Aku adalah neraka yang akan kau sesali karena telah kau beli.

Pendeta mulai membuka kitab sucinya. Suasana menjadi hening, begitu sunyi hingga Alesha bisa mendengar suara napasnya sendiri yang memburu di balik kain cadar.

Di sinilah ia, terjebak dalam mahkota yang tertukar, di samping pria yang belum pernah ia lihat wajahnya, bersiap mengikat janji dengan pria yang dianggapnya sebagai awal dari kehancurannya.

Matteo Al-Ricci perlahan menggerakkan tangannya, meletakkannya di atas sandaran tangan kursi roda.

Tangan itu terlihat kuat, dengan urat-urat yang menonjol, seolah mampu meremukkan apa saja yang ia sentuh.

Alesha menatap tangan itu, lalu menatap siluet dingin di sampingnya.

Permainan baru saja dimulai, dan Alesha bersumpah, jika ia harus hancur, maka ia akan memastikan pria di kursi roda ini hancur bersamanya.

"Mari kita mulai," bisik Matteo, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Alesha.

Alesha memejamkan mata saat kata-kata pertama dari upacara suci itu diucapkan. Mahkota yang tertukar ini kini telah resmi bertengger dikepalanya.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!