NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

*Novel ini hanya imajinasi pengarang saja, bila ada persamaan, nama tokoh, nama tempat, serta isi cerita, itu hanya kebetulan belaka, tidak ada unsur kesengajaan*.

Bermula.

Pagi itu suasana SMA Kebangsaan, sebuah SMA swasta, sudah ramai dengan para murid yang masing masing kelompok dengan kehebohan mereka masing masing.

Namun di sudut belakang sekolah, nampak seorang anak duduk menghadap tembok dengan meletakan wajah nya bertumpu diatas kedua lutut nya.

Dari bahunya yang terlihat terguncang turun naik, bisa dipastikan jika anak remaja tanggung ini sedang menangis tanpa suara.

"Tuhan!, hamba tidak meminta banyak, hanya kuatkan hati hamba, bimbing setiap langkah hamba, berikan kesabaran, keikhlasan dan ketabahan di hati hamba, dalam menjalani takdir yang telah engkau gariskan untuk hamba!" sebait doa terbit dari sela dua bibirnya yang pecah dan berdarah, dan dari sela sela isakan halus nya.

Remaja ini bernama Kaenan atau Muhammad Kaenan, baru berusia empat belas tahun, namun sudah duduk di bangku kelas sebelas SMA Kebangsaan.

Sepintas, semua orang akan heran, dengan usia semuda itu sudah duduk di bangku kelas sebelas.

Tentu saja itu karena remaja ini memiliki IQ diatas rata rata, dia menghabiskan waktu di sekolah dasar yang seharus nya enam tahun, hanya empat tahun, dengan dua kali jamping kelas, dan di sekolah menengah pertama hanya dua tahun dengan sekali jamping kelas, yaitu saat di kelas dua, dia diikutkan ujian nasional dan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Karena itulah, dia mendapat beasiswa prestasi dari yayasan untuk melanjutkan ke jenjang SMA.

Kaenan mengangkat wajah nya yang basah dengan airmata, nampak kini wajah itu penuh dengan biru lebam dan bonyok bonyok, serta baju nya pun koyak besar di belakang.

Tadi, karena pergi ke sekolah dengan hanya berjalan kaki, saat tiba di sekolah, pintu gerbang sekolah sudah hampir di tutup, maka dia berlari agar sempat masuk.

Sementara itu, di halaman sekolah, nampak beberapa kelompok pelajar sedang berbicara sambil bercanda ria.

Mungkin karena dari seluruh siswa, dia yang paling muda, berbadan paling kecil, sehingga bullying dan perundungan dari beberapa siswa, sering di alami oleh Kaenan.

Sekolah Kebangsaan ini merupakan sebuah Komplek sekolah, dari SMP, SMA, hingga SMK, sehingga dari awal SMP hingga sekarang kelas sebelas SMA, Kaenan bersekolah di tempat ini.

Diantara para perundung nya yang sangat membenci serta seolah olah alergi dengan Kaenan adalah Syafea, gadis tercantik di sekolah Kebangsaan ini, yang kumpul satu kelas semenjak kelas sepuluh SMA.

Gadis bernama Syafea ini adalah putri tunggal oleh orang terkaya di kota ini yang bernama Irfan Hanggada, pemilik kompleks sekolah kebangsaan ini. Mangkanya, seburuk apapun sifat Syafea ini, nyaris tidak ada seorang guru pun yang berani menegur dan memberi sangsi kepadanya.

Mungkin karena itulah, sifat Syafea ini semakin hari, semakin menjadi jadi kepada Kaenan.

Tadi pagi, karena takut terlambat, Kaenan berlari lari memasuki gerbang sekolah.

Dihalaman sekolah, terlihat Syafea, remaja usia tujuh belas tahun, satu kelas dengan Kaenan, sedang berjalan dengan teman satu geng nya, Pratiwi, Yosefa, Harsini dan Joane.

Sementara itu, tidak jauh di depan kelima sahabat ini, ada lima orang remaja putra yang tergabung dalam geng nya Agung, yaitu Agung sendiri, lalu Jhonatan, Stevanus, Miguel, dan Judanto.

Melihat Kaenan berjalan terburu buru sambil menundukkan kepala nya, secara iseng, Jhonatan mengait kaki Kaenan dari belakang.

"Grubyak!" ....

"Cup!" ....

Karena kaki nya dikit oleh Jhonatan dari belakang, otomatis Kaenan terjungkal kedepan. Dan celakanya lagi, di depan nya, ada Syafea and the geng yang sedang bercanda, sehingga tubuh Kaenan rubuh menimpa tubuh gadis tercantik di sekolah itu, lebih celaka lagi, bibir Kaenan dan bibir Gadis itu sempat beradu.

Agung and the geng tertawa melihat hal yang mereka anggap sangat lucu itu.

Berbeda dengan Syafea yang memang alergi pada Kaenan, wajah nya spontan menjadi merah padam menatap kearah Kaenan. Lalu tanpa basa basi lagi, kaki dan tangan nya bergerak kearah tubuh remaja tanggung ini.

"Bak!, buk!" ....

"Bak!, buk!" ....

"Bak!, buk!" ....

"Bak!, buk!" ....

Tanpa ampun, kaki dan tangan Syafea melayang kearah wajah dan tubuh Kaenan, dan lebih celaka nya lagi, Jhonatan dan kawan kawan nya mengambil kesempatan untuk ikut menggebuki tubuh Kaenan.

Untung pada saat itu, ada beberapa guru yang sedang berbincang bincang di depan kelas, sempat memperhatikan peristiwa itu mulai dari awal.

Mereka segera melerai pemukulan itu, dan membawa para pelaku serta Kaenan sendiri ke ruang kepala sekolah.

"Apa yang kalian lakukan heh?" tanya pak Adnan, sang kepala sekolah sambil menatap kearah Syafea.

"Si sampah ini telah melakukan pelecehan kepada saya pak, dia harus dihukum berat, keluarkan dia dari sekolah ini!" teriak gadis itu.

Pak Adnan menatap kearah Kaenan, ada rasa iba dihati pria paruh baya itu melihat keadaan tubuh remaja itu.

"Benarkah itu Kaenan?" tanya kepala sekolah.

Karena Tertunduk tanpa menjawab sepatah kata pun.

"Jawab goblok!, dasar sampah dungu, jawab!" teriak Syafea murka.

Kaenan masih tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun juga.

"Plak! ....

"Plak!" ....

Dua kali tamparan tangan Syafea mampir di wajah Kaenan, hingga kedua bibirnya pecah.

"Hentikan!, jangan main hakim sendiri!" bentak kepala sekolah marah.

Namun Syafea bukannya takut, malahan menatap kearah pak Adnan dengan mata melotot.

"Bapak membela si sampah ini?" teriak nya.

"Saya tidak membela siapa siapa, tetapi tolong jangan pakai kekerasan, sekolah ini punya aturan" ujar pak Adnan.

Aturan sekolah ini adalah kami pak, sekolah ini milik kakek saya, mudah saja jika saya ingin memberhentikan bapak!" ancam Syafea marah.

"Ya!, kau bisa saja menghentikan saya, tapi kau tidak bisa menghentikan aturan dan undang undang hukum pidana, jika dia mati karena perbuatan mu, jangankan hanya kakek mu, leluhur mu pun tidak bisa membela mu, dua puluh tahun penjara menanti mu, kau mengerti?, kau akan membusuk dipenjara!" ujar pak Adnan dengan suara agak meninggi.

"Tapi dia melakukan pelecehan kepada saya pak, semua orang melihat!" sanggah Syafea marah.

"Ya kau benar! Semua orang melihat, kami juga melihat nya!" tambah pak Bambang guru olahraga.

"Nah iya kan pak!" Syafea tambah merasa diatas angin.

Sebenarnya semua guru tahu, jika gadis bernama Syafea ini sedari awal kelas satu, sangat membenci Kaenan, nyaris setiap hari ada saja perundungan yang di lakukan nya pada Kaenan. Bekal Kaenan dicampur tanah, pasir bahkan tai kerbau pun sudah biasa.

Remaja empat belas tahun berbadan kurus itu tidak pernah membalas nya, hanya menerima dengan pasrah.

"Ya!, kami melihat jika Jhonatan mengait kaki Kaenan dari belakang, sehingga tubuh Kaenan rubuh kearah mu, lalu tanpa bertanya lagi, kau menghajar nya habis habisan, padahal letak kesalahan ada pada Jhonatan, dan aneh nya, Jhonatan bukan nya melerai serta minta maaf, malahan ikut memukuli Kaenan, seolah olah Kaenan memang bersalah!" tambah pak Bambang.

"Bapak memfitnah saya demi membela si sampah ini!" teriak Jhonatan.

Jhonatan ini sebenarnya salah seorang pengagum kecantikan Syafea, berbagai cara di lakukan nya agar bisa dekat dan dapat mengambil simpati dari gadis itu. Namun hingga menjelang semester ganjil kelas sebelas ini, dia belum juga mendapatkan simpati apapun dari gadis itu.

"Fitnah?, pak Asep, pak Bayu, bu Hani dan bu Maya juga melihat, murid murid yang lain juga melihat, bahkan ada cctv juga, tinggal diperiksa saja!" balas pak Bambang kurang suka dengan sikap Jhonatan dan Syafea yang semena mena ini.

Mendengar ucapan pak Bambang tadi, wajah Jhonatan dan Syafea langsung menjadi pucat.

"Sudahlah!, sekarang keluar semua nya!, Kaenan!, kau langsung ke ruang UKS!" ujar pak Adnan.

Seberat apapun kesalahan Syafea, dia tidak berani menghukum gadis itu, karena nasib jabatan nya, ada pada orang tua Syafea.

Dengan hati yang masih diliputi rasa dongkol dan kebencian pada Kaenan, Syafea melangkah keluar dari ruangan kepala sekolah itu.

Kaenan juga keluar, namun tidak ke ruang UKS, tetapi ke belakang sekolah, duduk menghadap ke tembok sekolah, mencurahkan kesedihan dan air mata nya disana.

Entah apa sebab nya, semenjak masuk sekolah SMA Kebangsaan ini, Syafea sangat membenci Kaenan. Dan hal itu diikuti oleh orang orang yang menyukai dan mencari perhatian gadis tercantik disekolah itu, terutama Jhonatan. Nyaris setiap hari, ada ada saja yang mereka lakukan untuk menjahati Kaenan.

Kaenan hidup berdua dengan ibu nya yang seorang penderita odgj, dan tinggal di sebuah pondok kecil di pinggir sebuah TPS, bersama beberapa pemulung lain nya.

Ibu Halimah, meskipun seorang penderita odgj, namun naluri dan kasih sayang nya pada Kaenan sangat luar biasa. Dia setiap hari memulung sampah plastik, makan dari makanan sisa orang, namun hasil dari dia memulung, dia pergunakan untuk membeli nasi kucing (nasi bungkus kecil, dengan lauk ikan teri dan sambal terasi) untuk makan Kaenan. Seolah olah dia tidak rela putranya makan makanan sisa.

Konon menurut Mak Ijah, senior di tempat pemulungan itu, gangguan jiwa yang dialami mbak Limah ini sudah cukup lama, semenjak Kaenan berusia sekitar dua tahun, Sabran suami Mbak Limah tewas tertabrak mobil saat sedang memulung. Dan semenjak itulah, kejiwaan mbak Limah terganggu.

Sebenar nya mbak Limah belumlah terlalu tua, usia nya baru tiga puluh lima tahun, namun karena beban penderitaan hidup nya, tubuh nya terlihat jauh lebih tua dari usia sebenar nya.

Awal mula Kaenan Bersekolah adalah saat Kaenan berusia lima tahun, saat bu Limah sibuk memulung di depan sebuah pondok pesantren Al Ilmi yang berdiri sekitar satu kilometer dari TPS, Kaenan yang berada didalam gendongan di belakang bu Limah menangis karena merasa lapar, sementara bu Limah belum mendapatkan uang sepeser pun juga.

Saat itu, bu Limah tidak pernah memberikan makan Kaenan dari sisa makanan orang, dia rela lapar asal Kaenan jangan makan makanan sisa.

Dengan keterbatasan akal nya, Limah mencoba membujuk Kaenan seadaanya, namun tangis Kaenan semakin menjadi jadi.

Beberapa orang anak mulai mengejek dan menyoraki Limah dengan kata kata "orang gila!" .

Ada beberapa orang yang lewat bersimpati dan ingin mengambil Kaenan, namun Limah tidak pernah mengijinkan Kaenan terpisah dari diri nya.

Sambil mendekap tubuh kurus Kaenan, Limah mengusir orang orang yang ingin meminta putra nya.

"Tidak!, pergi kalian!, pergi!, pergi!" teriak Limah sambil mengacungkan sepotong kayu sebesar pergelangan tangan.

Akhirnya, tidak ada seorangpun yang berani mendekati Limah.

...****************...

1
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!