NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Hujan belum benar-benar reda di luar sana, namun suasana di dalam ruang tamu rumah keluarga Pak Surya terasa jauh lebih dingin dan mencekam.

Wangi kayu tua dan aroma kopi yang sudah mendingin menguap di udara, bercampur dengan suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur menuju sebuah eksekusi.

Aira duduk bersimpuh di atas karpet tipis, kepalanya tertunduk dalam. Ia bisa merasakan tatapan tajam ayahnya yang duduk di kursi rotan tepat di depannya.

Di samping ayahnya, Bu Lastri, ibunya, hanya bisa mengusap dada dengan wajah cemas, sementara Siska, adik bapak Aira yang baru berusia 22 tahun duduk di pojok ruangan sambil memainkan ponselnya, sesekali melirik dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Keputusan Ayah sudah bulat, Aira. Tidak ada bantahan lagi!" suara Pak Surya menggelegar, memecah kesunyian.

Aira meremas ujung gamisnya. "Tapi, Yah... menikah bukan perkara sepele. Siska ingin menikah dua hari lagi, kenapa Aira yang harus menanggung bebannya?"

"Kamu bertanya kenapa?" Pak Surya berdiri, mondar-mandir dengan napas memburu. "Karena kamu itu kakak! Dalam keluarga kita, tidak ada sejarahnya adik melangkahi kakak. Itu pamali! Kamu mau keluarga kita ditimpa sial? Kamu mau pernikahan adikmu hancur hanya karena kakaknya menjadi perawan tua yang tidak laku-laku?"

Kata-kata 'tidak laku' menghantam jantung Aira seperti godam besar. Di usianya yang ke-27, Aira sebenarnya adalah wanita yang mandiri.

Ia bekerja keras sebagai guru honorer dan memiliki paras yang lembut, namun standar tinggi ayahnya tentang 'calon menantu kaya' selama ini selalu mematahkan setiap pria yang mencoba mendekatinya. Dan kini, pria yang sama menyalahkannya karena tetap melajang.

"Dua hari, Aira. Hanya dua hari," timpal Bu Lastri dengan suara gemetar. "Ayahmu sudah mencarikan jalan keluar. Ada teman lama Ayah yang punya anak laki-laki. Dia bersedia menikahimu secepatnya agar langkah ini terhapus."

Aira mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Siapa dia, Yah? Setidaknya Aira harus tahu siapa pria yang akan menjadi imam Aira."

"Namanya Dewa. Dia baru saja kembali ke desa ini setelah merantau. Ayahnya dulu teman baik Ayah saat masih di proyek. Tidak perlu banyak tanya, yang penting besok dia datang ke sini untuk melamarmu secara resmi, dan lusa kalian akad."

Malam itu, Aira tidak bisa memejamkan mata. Kamarnya yang sempit terasa semakin menghimpit. Di luar jendela, ia mendengar tawa kecil Siska yang sedang menelepon calon suaminya, seorang putra pengusaha sukses di kecamatan sebelah.

Kontras itu terasa begitu nyata. Siska akan menikah dengan pesta pora, sementara ia? Ia akan dilempar kepada siapa pun asalkan syarat itu terpenuhi.

Keesokan paginya, suasana rumah sudah mulai sibuk dengan persiapan kecil pernikahan Siska. Tenda-tenda mulai dipasang, namun Aira merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Hingga sebuah suara knalpot motor yang batuk-batuk menghentikan aktivitas di halaman.

Prett... pret... bleeem!

Sebuah motor bebek tua yang sudah berkarat dan mengeluarkan asap hitam pekat berhenti tepat di depan pagar.

Pengendaranya turun, membuka helm cetoknya yang lecet di sana-sini. Pria itu mengenakan jaket jeans yang sudah pudar warnanya, kaos oblong putih yang sedikit kekuningan di bagian kerah, dan celana kain yang tampak kebesaran.

Siska yang sedang berdiri di teras tertawa kecil sambil menutup hidungnya. "Aduh, polusi! Mbak Aira, itu mungkin pangeran berkuda besimu sudah datang."

Aira keluar dengan langkah berat. Ia menatap pria itu. Wajahnya tertutup masker hitam yang lusuh, namun matanya... mata itu terlihat sangat tenang, hampir terlalu tenang untuk seseorang yang datang dengan penampilan seburuk itu.

"Ini rumah Pak Surya?" tanya pria itu. Suaranya bariton, berat dan stabil.

"Iya, benar. Saya Aira," jawab Aira dengan suara nyaris berbisik.

Pria itu membuka maskernya. Wajahnya tidak buruk, bahkan bisa dibilang tegas dengan rahang yang kuat namun penampilannya yang berantakan menutupi segalanya. Rambutnya sedikit acak-acakkan, dan ada noda cat kering di ujung jarinya.

"Saya Dewa. Ayah saya bilang, saya harus ke sini hari ini," ucapnya datar, tanpa ada nada romantis sedikit pun.

Pak Surya keluar dari dalam rumah, wajahnya sempat berubah saat melihat motor tua yang terparkir di halamannya. Namun, egonya jauh lebih besar daripada rasa malu itu. Baginya, martabat keluarganya yang terancam oleh mitos 'langkah' jauh lebih penting daripada status menantunya saat ini.

"Masuk, Dewa! Masuk!" seru Pak Surya, meski nadanya tidak seramah saat menyambut calon menantunya yang lain.

Di dalam ruang tamu, percakapan itu berlangsung singkat dan dingin. Pak Surya menjelaskan situasinya tanpa basa-basi, sementara Dewa hanya mendengarkan sambil mengangguk sesekali.

"Jadi, kamu sanggup menikahi Aira besok lusa? Maharnya tidak usah muluk-muluk, yang penting sah secara agama dan negara," ujar Pak Surya.

Dewa melirik Aira yang duduk di sudut ruangan. Pandangan mereka bertemu. Aira melihat ada kilatan aneh di mata pria itu, sesuatu yang bukan merupakan rasa rendah diri meski ia sedang dipandang sebelah mata oleh semua orang di rumah ini.

"Saya sanggup, Pak. Tapi jujur saja, saya tidak punya apa-apa sekarang. Saya hanya punya motor itu dan tabungan yang tidak seberapa. Jika Aira bersedia hidup sulit bersama saya di kontrakan saya di kota, saya akan menjaganya," jawab Dewa jujur.

Siska yang menguping dari balik tirai mendengus pelan. "Hidup sulit katanya? Hih, malang sekali nasibmu, Mbak."

Aira merasa dunianya runtuh. Menikah dengan orang asing saja sudah berat, apalagi dengan pria yang secara terang-terangan mengakui bahwa dirinya tidak punya apa-apa.

Namun, saat ia melihat wajah ayahnya yang sudah siap meledak jika ia menolak, dan melihat ibunya yang terus-menerus menyeka air mata, Aira tahu ia tidak punya pilihan.

Ia tidak ingin menjadi penyebab kegagalan pernikahan adiknya. Ia tidak ingin dicap sebagai anak durhaka pembawa sial.

Aira menarik napas panjang, mencoba menekan sesak di dadanya. "Jika ini memang keinginan Ayah dan Ibu... Aira bersedia."

Dewa menatap Aira dengan intens. "Kamu yakin, Aira? Saya bukan pria kaya yang bisa memberikanmu pesta seperti adikmu."

Aira menatap Dewa balik, mencoba mencari secercah harapan di mata pria itu. "Harta bisa dicari, Mas. Yang saya butuhkan adalah ketenangan di rumah ini."

Pak Surya memukul meja dengan puas. "Bagus! Deal. Lusa, sebelum akad nikah Siska dimulai, kalian harus sudah sah. Dewa, persiapkan dirimu. Bawa wali dan dokumenmu lusa pagi-pagi sekali."

Dewa berdiri, menyalami Pak Surya dengan sopan. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan Aira. "Terima kasih sudah memilih saya, Aira. Sampai bertemu lusa."

Dewa berjalan menuju motor tuanya. Asap hitam kembali mengepul saat ia menyalakan mesin. Dari kejauhan, Aira melihat pria itu pergi, menghilang di balik tikungan desa.

Aira berdiri mematung di ambang pintu. Tangannya gemetar. Di satu sisi, ia merasa lega karena badai di rumahnya mereda. Namun di sisi lain, ia sadar bahwa ia baru saja menyerahkan seluruh hidupnya kepada pria misterius yang bahkan tak mampu membelikan dirinya sendiri sepasang sepatu yang layak.

Ia tidak tahu, bahwa di balik jaket jeans lusuh itu, Dewa baru saja mematikan notifikasi di jam tangan pintarnya yang sengaja ia sembunyikan di dalam saku, sebuah notifikasi tentang transfer dividen sebesar 40 miliar rupiah yang baru saja masuk ke rekening pribadinya.

Akad lusa bukan hanya akan menjadi penghapus sial bagi keluarga Surya, tapi akan menjadi awal dari kejutan yang akan mengguncang seluruh desa. Namun bagi Aira, malam itu adalah malam terakhirnya sebagai wanita bebas, sebelum ia resmi menjadi istri dari seorang pria yang ia kira adalah seorang fakir.

...----------------...

**To Be Continue ....**

**~~~~~~**

**Hai para pembaca setia Miss Ra ❤️**

**Miss Ra hadir lagi dengan karya terbaru yang sudah dipersiapkan khusus untuk kalian semua. Terima kasih karena selalu setia menemani perjalanan setiap cerita yang Miss Ra tulis. Dukungan kalian adalah alasan terbesar Miss Ra terus berkarya.**

**Miss Ra juga ingin meminta maaf karena karya "Istri Kecil Sang CEO " terpaksa dihapus. Meski belum mendapatkan banyak perhatian, cerita itu tetap menjadi bagian dari perjuangan Miss Ra dalam menghadirkan kisah terbaik untuk para pembaca tercinta.**

**Tapi tenang yaa…**

**Miss Ra tidak akan berhenti sampai di situ. Saat Miss Ra jarang update, bukan berarti menghilang, melainkan sedang menyiapkan cerita baru dengan alur yang lebih spesial, lebih emosional, dan tentunya lebih membuat kalian susah move on... 😭**

**Dan kali ini…**

**bersiaplah untuk tenggelam dalam kisah penuh luka, cinta, pengorbanan, dan air mata dari Aira dan Dewa.**

**Akankah cinta mereka berakhir bahagia?**

**Atau justru meninggalkan luka yang membuat hati kalian ikut tercabik-cabik?**

**Jangan lupa terus dukung karya terbaru Miss Ra yaa.... Karena setiap vote, komentar, dan dukungan kalian sangat berarti untuk Miss Ra...**

**Oke, selamat membaca semuanya, semoga suka dengan cerita baru ini, sampai jumpa di Up selanjutnya....**

**See You**....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!