NovelToon NovelToon
Istri Seksi Tuan Arnold

Istri Seksi Tuan Arnold

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Putrichou

"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"

Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.

Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HANYA GADIS DESA YANG POLOS

Di sebuah klinik kesehatan, seorang gadis berlarian di lorong rumah sakit yang ramai dengan perawat yang berlalu lalang, wajah gadis itu tampak khawatir dan di penuhi peluh. Degup jantungnya, rasanya ia ingin menangis kencang saking takutnya.

"KAKAK!"

Gadis tersebut menjatuhkan tas sekolahnya dan menatap seorang pria yang malah tersenyum tipis kepadanya. "Hai, Anjani."

Tangisan gadis itu menggema di ruang kesehatan, ia sangat khawatir terjadi sesuatu kepada Kakak laki-lakinya. Ia berjalan menyeret tas sekolahnya, pria yang ia khawatirkannya malah tersenyum cengengesan dengan bajunya yang sudah berlumuran darah.

"Sudah jangan menangis, Kakak tidak apa-apa."

Pria itu mengelus rambut panjang Adiknya, hanya Adiknya. Tidak ada Ayah, Ibu, atau sanak saudaranya yang datang. Senyuman pria itu memudar kala mendengar tangisan sang Adik semakin menggema.

Anjani Calista Amadea, gadis dua puluh tahun yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Gadis cantik berambut hitam legam, yang tinggal hanya berdua saja dengan Kakak laki-lakinya, tidak memiliki sanak saudaranya ataupun tetangga baik. Anjani adalah seorang yatim piatu sejak kecil, Ayah dan Ibunya meninggal dunia karena kecelakaan saat dirinya berusia lima tahun.

Gadis yang tumbuh dari kasih sayang seorang Kakak, ia tidak mengingat jelas bagaimana wajah kedua orangnya dan tetap mendapatkan perlakukan kurang mengenakkan dari para tetangga sekaligus murid di sekolahnya.

"Sudah jangan menangis, lihat Kakak baik-baik saja." kata pria itu kembali memperlihatkan dirinya dengan penuh semangat. Anjani menghapus air matanya dan mencubit lengan pria itu.

"Bagaimana bisa Kakak di bacok? Jawab aku?!" desak Anjani, gadis itu mendapatkan laporan dari warga desa kalau Kakaknya masuk ke klinik kesehatan karena hampir di rampok dan mengalami luka bacok di dadanya.

"Anjani, jangan memikirkan hal itu, yang terpenting Kakak baik-baik saja."

Arya Sanjaya, pria tiga puluh satu tahun yang sangat tampan dan pekerjaan keras. Pria yang bekerja serabutan demi menafkahi Adiknya, Anjani. Pria itu hanya pria yang tumbuh dengan penuh tanggungjawab setelah orang tua mereka tiada. Kebahagiaan Anjani adalah nomor satu baginya, ia tidak ingin membebankan Anjani dalam hal apapun.

Arya sangat menyayangi Anjani, ia beruntung masih memiliki Anjani yang menjadi pusat semangatnya di kala lelah, ia ingin Anjani memiliki masa depan yang cerah dan bisa mencapai cita-citanya bekerja di perkantoran, tidak seperti dirinya yang memilih untuk berhenti bersekolah saat duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas.

"Permisi, dengan Pak Arya, ya?" tanya seorang perawat yang mengejutkan mereka berdua, Anjani mengangguk dan mendekati perawat tersebut. Sedangkan Arya mulai gelisah saat melihat Adiknya mendekat perawat tersebut.

"Suster, bagaimana keadaan Kakak saya? Semuanya aman, kan?" tanya Anjani membuat perawat tersebut membuka buku laporan kesehatannya.

"Pak Arya harus mendapatkan rujukan ke rumah sakit, Mbak."

DEG ....

"Rumah sakit?"

Arya memejamkan matanya, ia yakin kalau Anjani pasti akan semakin gelisah dan khawatir dengan keadaannya, ia berniat tidak ingin merepotkan sang Adik tetapi keadaan berbanding terbalik seperti yang ia harapkan.

"Iya, Mbak. Di klinik belum ada perlengkapan lengkap seperti di Rumah sakit besar, untuk menangani kasus pembacokan seperti Pak Arya, di perlukan tenaga medis yang profesional dan pengalaman."

Anjani terdiam sejenak, gadis itu melirik Arya yang sudah memalingkan wajahnya. Ia tidak tau harus bagaimana sekarang. "Apa lukanya dalam?"

"Lukanya tidak mengenai alat vital, namun bisa menunggu akan terjadi pendarahan bila tidak di tangani dengan segera. Mbak. Untuk sekarang, Pak Imam cuma bisa menjahit lukanya dan memberikan obat pereda nyeri."

Anjani menghela napas, pikirannya seketika menjadi kosong dan hilang arah. Gadis itu mendekati Arya yang enggan untuk menatapnya. Ia tahu betul Kakaknya bagaimana, pria ini tidak perah menyusahkan dan membebankan apapun kepadanya.

"Kak,"

Arya menggeleng pelan, "Kakak enggak mau di rujuk, An. Kakak baik-baik saja,"

Anjani menatap tangan Kakaknya yang banyak sekali bekas luka yang mulai samar. Anjani meneteskan air matanya, hanya Arya yang ia miliki dan ia tidak ingin kehilangannya.

"Kak, ayo ke rumah sakit."

DEG ....

Bak di sambar petir di siang bolong, pria itu menoleh menatap Anjani dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan. Anjani tersenyum dan mengangguk. Arya meneteskan air matanya, ini pertama kalinya Anjani melihat Arya menangis.

"Kakak baik-baik saja."

Anjani semakin menangis mendengar jawaban itu, Arya selalu mengatakan ia baik-baik saja, namun Anjani mengetahuinya semuanya. Kakaknya kerap di hina, direndahkan, bahkan mendapatkan pembullyan dari para pemudanya desa, sedangkan Arya? Pria itu menyembunyikan semuanya dalam diam.

"Kalau Kakak baik-baik saja, kenapa Kakak tidak pernah bercerita kepadaku kalau mendapatkan perlakukan buruk dari para pemuda desa? Kakak tidak pernah mengatakan kalau Kakak di bully dan direndahkan, bahka juragan beras juga merendahkan Kakak dengan sangat hina."

Arya tampak terdiam lama, entah dari mana sang Adik mengetahui semua kejadian yang ia dapatkan di tempat kerja. Anjani menyembunyikan tangisannya di dada sang Kakak, Arya hanya terdiam merasa lidahnya terasa kelu untuk mengatakan semuanya.

"Aku hanya memiliki Kakak, dan aku tidak ingin kehilangan Kakak. Kita harus mengambil surat rujukan,"

"Tapi kita tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit yang sangat besar itu, Anjani." kata Arya dengan wajah gelisah. Ia tidak ingin mengambil resiko ataupun membuat sang Adik mengambil resiko yang tidak diharapkan.

"Kakak tenang saja, aku memiliki tabungan yang cukup untuk sementara waktu."

Arya menggeleng menolak, ia tidak ingin menggunakan tabungan yang sudah di simpan rapi oleh gadis itu. Lagipula banyak hal yang ingin di beli oleh Anjani menggunakan uang yang tabung, terutama untuk mencapai cita-citanya.

"Jangan ... jangan pernah gunakan tabungan mu, Anjani. Simpan untuk masa depan kamu, "

Anjani menggeleng, masa depan apa yang akan di dapatnya bila Arya tidak berada disebelahnya dan mendukung langkahnya. "Aku tidak ingin Kakak sakit seperti ini,"

...****************...

Pria tua menatap Anjani dengan datar, tak ada senyuman ramah tamah kepada gadis yang duduk di hadapannya. Ia sangat mengenal Anjani, karena gadis itu seumuran dengan anak bungsunya.

"Tumben, Anjani. Kamu ada perlu apa?"

Anjani yang sejak tadi melamun, kini menadah menatap Pak Kades yang kebingungan dengan kedatangannya, hanya Pak Kades yang bisa membantunya. Ia ingin tahu siapa yang melakukan perbuatan hingga Arya harus mengalami luka bacok.

"Kak Arya harus di rujuk ke rumah sakit, karena di bacok, Pak." kata Anjani dengan rasa sesak, ia tidak pernah meminta bantuan kepada orang lain mengingat perlakukan mereka yang cukup buruk kepadanya.

"Astaga, jadi korbannya Arya Kakak kamu itu?"

Anjani mengangguk membenarkan, "Kakak harus di rujuk ke rumah sakit di kota, Pak. Anu ... saya,"

Anjani tampak gugup mengatakan niatnya untuk meminta bantuan kepada Pak Kades, ia tidak ingin meminta bantuan kepada juragan beras, mengingat pria tua jelek itu bertatapan mesum.

"Katakan saja, Nak. Bapak pasti akan bantu semampu, Bapak." ucapan Pak Kades menghangatkan hati seorang Anjani. Gadis itu menghapus air matanya dan tiba-tiba saja berlutut di depan Pak Kades.

"Astaga, apa yang kamu lakukan? Bangun, Anjani!"

Anjani menggeleng, "Pak, tolong saya untuk kali ini saja, saya hanya memiliki Kak Arya. Saya mohon, saya akan segera mengembalikannya."

Pak Kades menjadi tidak enak hati melihat Anjani sampai berlutut kepadanya, pria itu tahu bagaimana kehidupan gadis dua puluh tahun yang tinggal berdua saja dengan Kakaknya, ia menyaksikan semuanya. Bahkan ia mengetahui perjuangan kedua orangtuanya dulu.

"Loh, kok kamu di sini, Anjani?"

Anjani menoleh, teman sekelasnya menatapnya dengan bingung. Anjani hanya diam tak menjawab dan kembali melirik Pak Kades penuh harap. Teman Anjani seketika mengerti dan menggeleng tidak memperbolehkan meminjamkan apapun kepada Anjani.

"Kamu kalau mau pinjam uang, jangan ke Bapak aku aja dong, memangnya Bapak aku jasa pinjaman," jawaban itu sangat ketus, gadis itu duduk di sebelah Pak Kades. "Bapak jangan terlalu baik sama dia, yang ada nanti dia ngelunjak loh."

Anjani mengepalkan kedua tangannya, ia tidak bisa berbuat apapun, hatinya sakit mendekat perkataan gadis di hadapannya. "Saya mohon, Pak. Untuk kali ini saja, Kak Arya harus di rujuk."

"Kok maksa sih, sana pulang."

"Fika, dia kan teman kamu, jangan kasar! Bapak enggak pernah mengajarkan kamu begitu!" tegur Pak Kades membuat Fika mendelik kesal.

"Gara-gara kamu, Bapak marahin aku. Sana pergi,"

BRUK ....

"FIKA!"

Anjani menatap Fika dengan tatapan tajam, ia tidak memiliki sahabat satupun karena Fika selalu menghasut anak desa. Fika berdebat dengan Pak Kades, sedangkan Anjani masih menatap Fika dengan tajam.

"PULANG SANA, SUDAH MISKIN NYUSAHIN PULA!"

Anjani melirik Pak Kades dengan wajah memelas, Fika terkejut saat Anjani berlutut memegangi telapak kaki Ayahnya.

"Pak, saya mohon sekali, saya akan segera mengembalikannya, saya berjanji!" kata Anjani dengan lirih, ia rela menjatuhkan harga diri yang selalu Arya junjung tinggi itu, Fika tidak menyangka gadis seperti Anjani bersimpuh di hadapan Ayahnya.

Gadis ini hanya gadis polos yang tidak tahu apa-apa, aku sangat mengenal kamu, Nak.

1
partini
pesikopet dia mah ,najani the next korban berikutnya OMG moga aja ga methong
partini
tekdung
partini
dua puluh tahun masih SMA Thor sehhh
partini: ok ,, soalnya jarang sih Thor di tempat ku lulus SMA umur 20th kebanyakan 18 dan 19 th
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!