NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Bencana

"Hati hati nak, hujan masih lebat, lebih baik nanti saja berangkatnya masih ada sisa obat untuk malam ini. "

"Tapi bu, obat yang ibu perlukan sudah habis, biar Rania pergi ke apotik untuk membeli obat, kalau ibu tidak minum obat itu dada ibu pasti akan sakit, dan Ran tidak tega melihat ibu kesakitan. "

Rania tetap dengan pendirian nya untuk tetap membelikan ibunya obat yang harus setiap hari di minum nya, karena jika telat satu kali saja maka ibunya akan merasakan sakit di dadanya, tidak hanya itu, bu Arini akan kejang-kejang. Rania tidak ingin hal itu terjadi sehingga dirinya memaksakan untuk membeli obat yang di perlukan oleh ibunya.

"Baiklah, kalau memang kamu tetap ingin membelinya, tapi tunggu dulu hujan agak reda. "

 Bu Arini merasa khawatir jika Rania tetap pergi, hujan yang terus mengguyur kota dari pagi belum juga berhenti membuat jalanan banjir, karena memang musim hujan.

"Iya bu, Ran akan hati hati. "

"Jangan lupa pakai jas hujan, ibu takut nanti kamu sakit. " Bu Arini memberikan jas hujan pada Rania.

"Ran pergi dulu ya bu. " Pamit Rania sambil mencium punggung tangan ibunya,

Setelah memakai jas hujan serta men starter motornya, Rania tancap gas membelah hujan yang masih saja turun. Tujuan Rania pergi ke apotik yang memang jaraknya dari rumah agak jauh sehingga harus mengendarai motor matic peninggalan ayahnya yang selalu di pakai nya untuk bepergian ataupun untuk kuliah.

Setengah jam kemudian Rania sampai di apotik, kemudian masuk lalu membeli obat untuk ibunya, tidak lama kemudian Rania selesai membeli obat, motor melaju kembali ke jalan untuk pulang, hujan masih belum berhenti.

Namun saat di jalan yang agak sepi, tiba tiba saja motor yang di pakai Rania oleng, dengan hati hati Rania segera menepikan motor nya ke pinggir jalan. Rania mengecek motornya ternyata ban motor kempes.

"Waduh kenapa harus kempes segala ini ban, mana jalan sepi, tukang tambal ban masih jauh. Gimana ini? " Rania bertanya pada dirinya sendiri.

Rania duduk seorang diri di pos ronda karena hujan masih setia turun dengan lebatnya, karena tidak mungkin harus mendorong motornya sampai ke tempat tambal ban yang entah berada dimana tempatnya.

Hari mulai gelap, Rania mulai ketar ketir, selain gelap dan hujan, tempat itu sangat sepi walaupun berada di depan jalan besar, namun tidak ada seorang pun yang lewat jalan itu.

Rania sedang termenung memikirkan ibunya yang pasti sedang menunggu dirinya pulang. Sedangkan hujan tidak ada tanda tanda akan berhenti. Dan di saat Rania sedang termenung, sebuah mobil hitam berhenti di depannya, beberapa orang laki laki berpakaian hitam keluar dari mobil tersebut dan dengan segera menghampiri Rania yang sedang duduk.

"Kamu ikut kami, jangan coba coba untuk melawan karena kamu pasti tidak akan sanggup melawan kami. " Bentak salah seorang dari mereka.

"Kalian siapa mau apa dan kenapa aku harus ikut dengan kian, aku tidak mengenal siapa kalian. " Rania berteriak di hadapan mereka.

"Tidak usah banyak bicara, ayo ikut kami. "

"Tidak, aku tidak akan ikut kalian." Rania berdiri dengan maksud untuk kabur dari tempat tersebut.

"Jangan banyak bacot, kalian angkut perempuan itu. " Perintah nya.

"Aku tidak mau..! "

Tangan Rania yang kecil tidak mampu melawan mereka yang memiliki tubuh kekar dan tinggi.

Salah seorang dari mereka mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya kemudian menghampiri Rania, kemudian membekali Rania hingga tubuhnya lunglai pengaruh obat bius dari saputangan.

"Cepat bawa perempuan itu, bos sudah tidak sabaran, nanti kita akan mendapatkan masalah kalau terlambat. "

" Baik bos,. "jawab mereka.

Rania di bawa kemudian di masukan ke dalam dalam keadaan tidak sadarkan diri. kemudian mobil melaju menembus hujan yang masih turun dengan lebat nya. Motor Rania masih teronggok di pinggir jalan menjadi saksi bisu pemilik motor yang di bawa paksa oleh mereka.

......................

Sementara di rumah, ibu Arini yang sedari tadi hatinya merasa gelisah, karena Rania sudah pergi dari rumahnya sekitar tiga jam yang lalu, walaupun apotik jauh dari rumahnya, namun tidak pernah selama itu.

" Hari sudah malam tapi kenapa Rania belum kembali juga, dan kenapa hatiku sangat gelisah sekali. "

" Ya Tuhan lindungilah Rania dimanapun putriku berada. " Bu Arini hanya bisa berdo'a.

Dengan menahan rasa dingin, nu Arini berdiri di depan teras rumahnya berharap Rania cepat pulang, karena hanya Rania keluarga satu satunya, suaminya sudah lama meninggal sejak Rania kelas tiga sekolah dasar.

"Ya Tuhan kemana putri ku pergi, kenapa belum pulang juga. Kemana aku harus mencarinya, sedangkan hujan masih deras dan hari sudah sangat larut. "

Bu Arini masuk ke dalam rumah karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi berdiri di luar dengan angin yang membuatnya menggigil kedinginan.

"Lebih baik aku sholat dulu meminta perlindungan agar Rania sehat dan selamat. " Bu Arini masuk ke dalam kamarnya menggelar sajadah.

......................

 Di sebuah apartemen yang mewah di dalam sebuah kamar yang luas dengan tempat tidur king size, duduk di sofa seorang laki laki tampan dengan gelisah menggeram ponselnya.

"Bagaimana sudah berhasil mendapatkan nya? ' Tanyanya di ponselnya.

" Sudah tuan, sedang menuju kemari. " jawaban dari sebrang.

" Bagus, tapi ingat hal ini jangan sampai orang lain tahu tentang hal ini, termasuk mamah dan papah. Kalau sampai mereka tahu nyawa kamu taruhannya. "

"Baik tuan, semua aman terkendali. "

Tidak lama kemudian pintu kamar di ketuk dari luar, setelahnya untuk terbuka, tampak seorang laki laki membopong seorang perempuan dengan yang tidak sadarkan diri.

"Letakan gadis itu di tempat tidur. "

"Baik tuan. "

Setelah meletakan gadis tersebut di atas tempat tidur, orang tersebut kembali keluar namun sebelum keluar, pria tampan itu berkata dengan tatapan dingin dan datar.

"Ingat pesanku, kejadian malam ini jangan sampai bocor ke pihak lain, tutu rapat rapat, nyawa kamu yang menjadi jaminannya. "

"Siap tuan, semuanya aman. tidak akan ada orang yang mengetahui hal ini. "

"Baiklah, sekarang pergi dari sini, dan kalian tetap berjaga di depan pintu dan pastikan semua aman. "

"Baik tuan. " Dengan membungkuk kemudian beralih pergi dari depan kamar tersebut.

Setelah menutup pintu kamar, kemudian berjalan ke arah tempat tidur dimana Rania berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah memperhatikan wajah cantik Rania kemudian melepaskan semua pakaiannya lalu naik ke atas tempat tidur dan mulai mencumbu Rania.

Rania mengerjapkan mata, memindai ruangan yang terasa asing yang saat ini terlihat. Kepala nya sangat pusing.

"Apa yang terjadi dengan ku dan di mana aku sekarang? " tanyanya dalam hati.

Rania bangun dari tidur nya melihat sekitar, dan saat matanya melihat seorang pria tidur fi sebelah nya dalam keadaan telanjang dada, , Rania terkejut mulutnya terbuka. Dan dirinya pun dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun menempel di badanya, dan saat akan bergerak inti tubuh terasa sangat sakit.

"Ya Tuhan apa yang telah terjadi ringan diriku? " Rania menangis tertahan saat melihat bercak darah di atas sprei putih. Kemudian mengingat kembali kejadian semalam.

Di lihatnya wajah pria yang sedang tidur dengan damai, wajahnya sangat tampan dengan hidung mancung, alis yang hitam, kulit putih.

"Apakah pria ini yang sudah menodai ku, apa dosa dan salahku padanya, sehingga tega sekali menghancurkan hidup ku. " Rania menangis tergugu.

Rania melihat ke arah dada bidang pria yang sedang terlelap tersebut, di lehernya terlihat sebuah kalung dengan liontin dari giok dengan bentuk bulan sabit, sekolah biasa saja namun di tengahnya terukir sebuah simbol, sekilas tidak terlihat jelas namun jika di perhatikan ada sebuah simbol cinta dengan ukiran yang unik, mungkin pemilik liontin tersebut sangat mencintai giok tersebut.

Perlahan Rania bangkit dengan perlahan karena terasa sangat sakit, dengan pelan tapi pasti, Rania melepaskan liontin tersebut.

" Maaf tuan, aku akan jadikan liontin ini sebagai bukti jika anda sudah menghancurkan hidupku, dan liontin ini yang akan menjadi bukti. Aku akan menyimpan nya, mungkin suatu saat nanti akan berguna jika sesuatu terjadi dengan diriku. "

Rania turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai kemudian memakainya, dengan berjalan perlahan Rania membuka pintu kamar melihat sekeliling ruangan yang sunyi tidak ada orang yang menjaga, dengan menyelinap Rania keluar dari apartemen dan berlari tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Dengan perasaan takut terlihat oleh orang orang yang sudah menculik nya, Rania berjalan ke tempat halte bis, hari masih gelap, namun kendaraan sudah mulai banyak berlalu lalang, Rania duduk di halte berharap ada angkot yang lewat di depannya, dan tidak lama kemudian angkot yang di tunggunya datang. Segera Rania naik ke dalam angkot, perjalanan sekitar setengah jam sudah sampai di depan gang rumah nya.

Rania berjalan ke rumahnya, sampai di depan rumah lalu mengetuk pintu perlahan. Tidak lama kemudian bu Arini keluar masih menggunakan mukena nya dengan wajah sembab.

"Ibu.... " Rania memeluk ibunya serta menangis sejadi jadinya menumpahkan rasa sakit di dadanya.

"Rania apa yang terjadi dengan kamu dan kemana saja semalam kenapa baru pulang, apa yang sudah terjadi nak? " Bu Arini bahagia campur terkejut melihat Rania sudah pulang namun hatinya bertanya tanya apa yang terjadi dengan putrinya sehingga menangis seperti itu.

"Maaf kan Ran bu.. "

"Maaf kenapa nak, katakan pada ibu apa yang sudah terjadi dengan kamu? "

Sambil menangis Rania menceritakan apa yang sudah terjadi dengan dirinya, Bu Arini mendengarkan dengan seksama hingga pecahlah tangis bu Arini.

"Maafkan ibu nak, seandainya kamu tidak membeli obat untuk ibu mungkin hal ini tidak akan terjadi, ibu yang salah. " Bu Arini menangis.

"Tidak bu, ibu tidak salah, Ran yang salah seandainya Ran menuruti perkataan ibu, mungkin kejadian saat ini tidak akan pernah terjadi. Maafkan Ran bu. " Rania menangis dalam pelukan bu Arini.

"Sekarang kamu bersihkan tubuh kamu, lalu sholat. Ibu akan buatkan makanan dan minuman hangat. Kamu jangan banyak pikiran, ada ibu di sampingmu. "

Rania bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke kamar, menutup pintu. Duduk di pinggir tempat, Rania kembali menangis mengenangkan nasib diri yang sudah tidak suci lagi, bagaimana kehidupan nya ke depan, bagaimana kalau dirinya hamil pasti akan menjadi gunjingan orang lain.

Rania mengkhawatirkan kondisi ibunya yang sedang sakit, Rania teringat dengan benda yang di ambil nya dari pria yang telah mengambil kesuciannya. Rania menatap liontin tersebut di pandangi nya kemudian menggenggam nya dengan perasaan sakit yang tak terkira.

"Ya Tuhan apa yang akan terjadi pada diriku di kemudian hari, apakah aku sanggup menghadapi nya jika suatu saat apa yang aku takutkan terjadi. " Rania menangis tergugu.

Tok tok tok...

Suara ketukan menyadarkan Rania dari lamunannya. Kemudian bangkit dari duduknya membukakan pintu kamar.

"Makan bu nak, ibu sudah memasak makanan kesukaan kamu, setelah itu kamu sholat. Berharap semua akan baik baik saja. "

"Iya bu Ran akan mencoba ikhlas dengan cobaan yang Ran hadapi saat ini."

Rania berjalan ke meja. akan di ikuti bu Arini yang sangat prihatin dengan nasib yang buruk yang sedang di hadapi putrinya.

"Bu, bagaimana kalau Ran hamil, pasti akan membuat ibu malu. Karena walau bagaimanapun juga Ran hamil di luar nikah, orang orang hanya akan menghakimi saja tanpa tahu apa penyebab nya. "

"Ibu sudah memikirkan hal tersebut, ibu sudah memutuskan untuk menjual rumah ini dan kita akan pindah dari rumah ini sebelum para tetangga tahu dengan keadaan kamu. "

"Kita akan pindah kemana bu? "

"Kita akan pindah ke luar kota. "

"Menjual rumah itu tidak semudah menjual kacang, pasti akan lama prosesnya. "

"Rumah ini sudah lama di incar juragan beras yang tinggal di ujung gang. Karena menurut nya rumah ini sangat strategis untuk mengembangkan usahanya. Nanti setelah rumah ini terjual, ibu akan melelang barang barang yang sekiranya masih laku di jual. Dan sebagian akan ibu kasih ke tetangga, jadi kita pergi dari rumah ini hanya tinggal membawa baju saja. "

"Ibu maafkan Ran yang sudah membuat ibu susah dan kehilangan rumah ini. "

"Sudahlah jangan di bahas lagi, mungkin semua sudah jalannya hidup kita harus seperti ini, ibu tidak bisa menyalahkan takdir."

Rania hanya menunduk sambil tangannya mengaduk aduk makanan yang ada di hadapan nya. Pikiran nya semrawut, banyak ketakutan dalam pikiran nya, rasa bersalah terhadap ibunya yang menjadi beban untuk pikiran.

"Makanannya di makan jangan hanya dipandang dan di aduk aduk. Setelah itu kamu sholat dan istirahat. "

"Bu, obat punya yang Ran beli kemarin entah ada di mana, mungkin saja terjatuh di jalan. Atau.... " Rania menjeda perkataan nya.

"Atau apa Ran? "

"Atau mungkin masih ada di jok motor yang di tinggal kan di pinggir jalan semalam, mudah mudahan motornya baik baik saja dan masih ada di sana. "

"Semoga saja, apa kamu mau melihat dan mengambil. motor itu? "

"Iya bu, Ran mau ke tempat semalam, melihat keadaan motor, sayang kalau sampai hilang. Cukup kehormatan Ran yang hilang jangan sampai motor peninggalan ayah juga hilang. " Rania kembali menangis.

"Sudah jangan menangis lagi ya. "

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!