Nayara Almeera adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, wanita yang saat ini sudah terbiasa berdiri di kakinya sendiri setelah drama dikhianati oleh kisah masa lalunya membuat Nayara menjadi sosok yang lebih tertutup.
Sampai akhirnya sebuah perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, mempertemukan Nayara dengan Adrian seorang CEO yang lebih tenang, dewasa dan sulit untuk ditebak atas akan yang dilakukan olehnya.
Berawal dari sebuah kesepakatan yang perlahan berubah menjadi sebuah kisah yang tidak pernah
Nayara bayangkan.
Mendapatkan kasih sayang dan dicintai dengan cara yang begitu tulus, tanpa Nayara sadari perjodohan itu tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga telah mengubah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Sebuah Keputusan Yang Tidak Pernah Terduga
Sore ini cuaca sedang menunjukkan ketenangan dengan turunnya hujan, dibalik jendela yang cukup besar disebuah gedung Nayara Almeera kini berdiri dengan keheningan.
Kedua tangannya kini dilipat rapih didepan dadanya, tatapannya kini lurus menebus kaca dihadapannya memperhatikan rintik hujan yang jatuh tanpa henti. Entah mengapa sore ini terasa lebih sunyi dari hari biasanya, padahal ruang kerja Nayara berada dilantai dua puluh gedung Almeera Group yang selalu dipenuhi dengan aktifitas cukup tinggi.
Pikiran Nayara sepertinya sedang tidak berada disana, sama sekali tidak " cinta itu hanya membuat seseorang menjadi orang yang bodoh" kalimat itu pernah Nayara ucapkan untuk dirinya sendiri dua tahun lalu.
Dan sampai sekarang....
Nayara masih percaya dengan kalimat itu, pernah mencintai seseorang dengan begitu hebat dan dalam memberikan rasa kepercayaan tanpa ragu. Tapi ternyata Nayara mendapatkan sebuah pengkhianatan yang begitu menyakitkan bahkan memberikan perubahan yang begitu besar untuk dirinya sendiri.
Sejak saat itu Nayara kini belajar satu hal jika " hidup akan lebih baik jika berdiri pada kaki sendiri" .
Tok... Tok... Tok...
" Masuk" suara ketukan pintuk yang secara mendadak membuat lamunan Nayara kini terpecah.
Pintu ruangan kerja terbuka secara perlahan dan munculah sekretarisnya, Livia dengan tablet berada ditangannya.
" Maaf mengganggu, Nona Nayara. Tuan Rendra meminta Anda untuk pulang kerumah utama malam ini".
" Ayah?" Nayara mengangkat kedua alisnya.
" Benar, Nona. Menurut Tuan ada hal penting yang ingin disampaikan untuk keluarga dan semua anggota keluarga lengkap akan berkumpul tanpa terkecuali" Livia menjelaskan dengan tenang dan cukup jelas.
Nayara hanya bisa menghela nafasnya pelan, Rendra sang Ayah bukanlah tipe orang yang mengumpulkan seluruh keluarga tanpa alasan.
" Baiklah, Livia. Tolong batalkan meeting mku setelah jam lima sore".
" Baik, Nona"
Setelah pintu tertutup kembali dengan sempurna, Nayara kembali menolehkan wajahnya menuju kearah menja kerjanya. Entah mengapa saat ini hatinya merasa tidak nyaman, seolah firasatnya sedang tidak baik-baik saja.
Malam telah hadir menyapa anggota keluarga Almeera yang terlihat lengkap membuat rumah utama lebih ramai dari biasanya, lampu-lampu taman menyala dengan terang menyambut anggota keluarga yang kini telah berkumpul diruang keluarga.
Damar Almeera, Kakak pertama laki-lakinya kini terlihat duduk santai dengan tangan memegang secangkir kopi untuk diminum. Alina Almeera, Kakak perempuannya yang terlihat tengah sibuk menggoda putri kecilnya yang sedang bermain dikarpet tebal.
Begitu Nayara masuk semua mata langsung tertuju padanya.
" Ahhhh akhirnya si bungsu pulang juga" Damar tersenyum tipis menatap wajah datar sang adik.
" Sejak kapan Kakak-kakakku berkumpul lengkap seperti ini?" Nayara kini mendundukkan tubuhnya di sofa.
" Ayah yang meminta, Dek" Sinta sang Ibu kini tengah menatapnya dengan kelembutan yang menyejukkan hati.
Tak lama langkah kaki berat terdengar dari arah ruang kerja menuju ruang keluarga, Rendra Almeera keluar dengan wajah yang serius membuat semua orang menutup mulutnya.
" Nayara" suara beratnya kini menyapa sang anak bungsu.
" Iya, Yah"
" Ayah ingin bicara penting, tolong didengarkan dan jangan ada yang memotong"
Nayara kini menatap wajah sang Ayah dengan tenang, meskipun sebenarnya hatinya mulai bertanya-tanya. Rendra duduk dikursi utama dan menatap putri bungsunya cukup lama.
" Mungkin ini akan terdengar mendadak dan terkesan egois, tapi Ayah dan sahabat lama ayah sudah membuat keputusan jika kamu akan Ayah jodohkan dengan anak sahabat Ayah" Rendra menarik nafasnya dalam.
Ruangan keluarga yang tadi ramai mendadak terasa sunyi, seolah udara berhenti bergerak sedangkan Alina langsung menutup mulutnya kaget. Damar bahkan hampir menumpahkan kopi ditangannya, sementara Nayara hanya diam tanpa ekspresi.
" Dengan siapa?" beberapa detik berlalu akhirnya Nayara bersuara tanpa drama bahkan nadanya terdengar tenang.
" Namanya Adrian Mahendra, putra tunggal dari keluarga Mahendra " Rendra kini menatap sang anak bungsu dengan dalam.
Nama itu terasa asing bagi Nayara, ia menyilangkan kaki dan menatap wajah sang Ayah tanpa emosi, tanpa suara tinggi, apalagi drama tangisan. Nayara tidak langsung menjawab, ia hanya menatap meja dihadapan beberapa detik.
" Ayah ingin aku menikah dengan pria yang belum pernah aku kenal sama sekali?" perlahan Nayara mengangkat kepalanya untuk menatap wajah sang Ayah.
" Dek, ini bukan sebuah paksaan jika kamu menolak Ayah tidak akan marah, tapi keluarga Mahendra adalah keluarga yang baik" Sinta sang Ibu langsung menggenggam tangan Nayara setelah mendengar jawaban sang suami.
" Kalau kamu merasa tidak nyaman, tidak apa-apa kamu bisa menolaknya tidak perlu memaksa diri, Dek". Damar ikut menimpali.
" Baik, Aku tidak keberatan. Nayara menerima perjodohan ini" Nayara kini bersandar santai di sofa.
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nayara membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
" Apa kamu serius dengan apa yang baru saja diucapkan?" tanya Alina tidak percaya.
" Aku hanya memiliki satu syarat" Nayara kini menatap wajah keluarganya satu per satu.
" Apa itu?" tanya Rendra.
" Aku ingin bertemu dengannya, dan beri waktu satu bulan untuk kamu saling mengenal satu sama lain.... " Nayara mengehentikan ucapannya.
" Dan jika setelah itu kamu merasa nyaman, aku setuju untuk menikah dengannya"
Rendra menatap putri bungsunya cukup lama sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
" Baik, Ayah setuju"
Namun Nayara belum sadar akan keputusan sederhana yang baru saja ia buat malam ini, dimana akan membawa dirinya bertemu dengan seorang pria yang perlahan mengubah hidupnya. Bahkan tanpa ia sadari Adrian Mahendra akan mengubah hatinya yang selama ini terkunci.
🌟
Sedangkan ditempat lain, dimalam yang sama seorang laki-laki berdiri tegap dibalkon apartemen mewah sambil menatap lampu kota.
Dddrrrtttt.... Dddrrrtttt...
Ponselnya berdering dengan nama sang Ayah yang muncul dilayar.
" Iya, Ayah?"
" Adrian, kamu akan segera bertemu dengan perempuan yang akan menjadi istrimu" Suara Arkana Mahendra terdengar diseberang sana.
" Istri?" Adrian mengangkat kedua alisnya.
" Namanya Nayara Almeera" Jawab Arkana.
" Menarik.... Kalau begitu aku ingin segera bertemu dengannya, Ayah" Adrian tersenyum tipis dan kembali menatap langit malam yang gelap.
Dan tanpa Adrian sadari jika wanita yang belum pernah ia kenal, akan menjadi seseorang yang paling ia cintai begitu hebat dalam hidupnya.