Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.
Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas, Apakah mencintaiku?
Mei selalu punya cara aneh untuk terasa hidup. Udara setelah hujan tidak benar-benar dingin, tapi cukup lembut untuk membuat orang ingin menarik napas lebih lama dari biasanya. Bau tanah basah bercampur dengan aroma daun yang jatuh di trotoar. Kota terlihat lebih bersih—seolah-olah semua yang kotor baru saja dicuci oleh langit.
Andra menyukai malam seperti ini bukan karena hujan, tapi karena perempuan berwajah teduh itu terlihat lebih bahagia dari hari sebelumnya.
Mobil mereka meluncur pelan di jalan yang masih basah. Lampu-lampu kota memantul di aspal seperti serpihan kaca berwarna, tidak banyak kendaraan lewat karena waktu sudah menunjukan hampir pukul sebelas malam.
Di kursi penumpang, ia masih tertawa setiap beberapa detik, mengingat peristiwa yang menurutnya lucu.
“Sayang, kenapa sih ketawa melulu ?”
Ia mengangkat bahunya tanpa menoleh.“Ya habisnya lucu Mas, … Mei masih ingat muka pelayannya.”
Laki laki itu menahan senyum.“ Kamu itu lho dik, membuat pelayan bingung membayar pakai uang receh.”
“Bukan uang receh, Mas," bantahnya cepat.
“Tapi apa ?”
“Itu uang koin peninggalan VOC sangat berharga."
“Berharga?”Andra nyengir menyorot jenaka.
“Buat Mei, uang koin itu harta Mei yang dikumpulin semenjak dua bulan lalu.”
“Untuk apa istri ku cantik?”
“Ya untuk momen dramatis seperti tadi.”
Andra tertawa terbahak bahak," jangan buat masalah dik, mau kamu di tangkap satpam? "
Restoran kecil hampir setiap malam minggu menjadi cerita unik mereka. Tempat itu tidak mewah, bahkan jauh dari kata mewah. Meja kayunya sedikit goyah dan lampu redup seperti orang sakit lever.
Tapi Mei suka tempat itu, makanan di sana terasa seperti rumah, sesuai di lidah tidak menguras kantong. Dan Andra tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya, hanya suka melihat istrinya tersenyum.
Lampu merah di persimpangan mobil berhenti. Wiper bergerak pelan, menyapu sisa air hujan di kaca depan.
Seorang laki laki paruh baya mengendarai motor berhenti di samping, mungkin tukang ojek online mencari konsumen yang tersisa di luar notif, pedagang kaki lima sedang membereskan gerobaknya di pinggir jalan dan perempuan ber-make tebal duduk di trotoar. Dunia berjalan lambat dengan semua cerita malamnya.
Perempuan berwajah teduh itu memandang ke luar jendela, rambutnya basah kehujanan saat masuk kedalam mobil, beberapa helai menempel di pipinya. Tangannya bergerak pelan memainkan sesuatu di jarinya sebuah cincin perak tipis memantulkan cahaya lampu jalan.
"Dik kamu masih ingat nostalgia cincin itu ?" tanyanya tiba tiba
" Ya, Mas, cincin ini adalah harta peninggalan Mas paling berharga."
Andra tersenyum haru, ia tidak pernah menyangka cincin itu sangat berarti bagi anak seorang konglomerat. Cincin itu bukan berasal dari toko perhiasan mahal tanpa kotak beludru. Cerita sederhana dibalik lamaran romantis bucket bunga dan lilin prasmanan. Ia bagaikan laki laki yang terbuang dari dalam lumpur dicuci bersih di sungai mengalir
“Yang ini saja, Mas, lebih simpel.”katanya menunjuk cincin perak bermata safir.
Andra terkejut badan, "'Serius Dik ? Mas..."
“Iya, Mei tahu, Mei gak akan pernah meminta sesuatu secara berlebihan. ”
“Tapi...ini terlalu murah, Mei, apa kamu gak malu memakainya? "
Ia menggeleng, " justru itu yang Mei suka.”
Andra tersentak dari lamunannya, menatap cincin berputar di jari manisnya
--
“Mas Andra.”
“Iya?”
“Apakah Mas pernah takut?”tanya wanita itu menatap keluar jendela, lampu kota bergerak pelan mengikuti jalurnya mobil.
“Takut apa?”
"Eh... Ia tergagap, "seandainya dunia berubah."
“Berubah gimana, Dik?”
“Entahlah.” Ia mengangkat bahu, suaranya tidak sepenuhnya rileks“Mei merasa hidup kita terlalu… tenang.”
“Lha justru itu tenang itu bagus," balas Andra mengulas senyum.
“Ya, tapi kalau terlalu tenang…”Dia berhenti sebentar menarik napas "rasanya seperti... menunggu ”
" Menunggu apa?"
Lampu lalu lintas berubah hijau, mobil di depan mulai bergerak. Andra menginjak gas perlahan.
" Mei gak tahu."
" Jangan pikirkan yang aneh aneh Mei, kita hadapi semua masalah dengan hati lapang .”
“ Mas, gak segampang yang kita pikirkan.”
“Maksud kamu apa sih Mei ? kamu menyesal menikah dengan mas?"
Wajah perempuan itu seketika berubah merah matanya berkaca-kaca" Kenapa mas sampai berpikiran seperti itu ? Mei menerima mas apa adanya."
Andra tercenung, ada perasaan bersalah menggantung di hatinya," M- maaf mas, Dik, mas tahu gimana kamu, tapi entah kenapa hari hari ini sikap kamu lain."
" Lain seperti apa mas?"
" Entah lah, mas gak mengerti, kamu lebih kolok'an manja, kadang prilaku aneh, mas jadi takut."
"'Gak...eh, Mei tidak mengerti, tiba tiba saja datangnya.
“ Udah ya sayang." Andra tersenyum simpul mengobati hatinya, “Kita baru saja menapak hidup baru, tetap semangat ya cantik "
" Mei tidak akan takut kehilangan apa pun,” katanya tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Karena Mas selalu hadir dihati, milik Mei sepenuhnya”
" Ala gombal kamu dik..dik.."
Andra tertawa menggenggam erat tangan nya
“Hari ini Mei jatuh cinta lagi.”jawabnya mengerling jenaka.
“Cie...jatuh cinta, tapi tadi ngeprank waiters.”
“Mei bayar dessert nya ya”
“Tapi dengan uang koin.”
" Ahh .."Perempuan itu mencubit lengannya dengan kuat.
Andra tertawa terkekeh kekeh menahan perih.
---
Mobil melaju melewati persimpangan berikutnya arah Kuningan. Hujan mulai turun lagi tidak begitu deras, rintik kecil jatuh di kaca mobil membuat wiper bergerak lebih cepat.
Lampu-lampu kota berubah menjadi garis-garis cahaya yang memanjang.
Andra fokus ke jalan tidak melihat sesuatu yang aneh, kendaraan mendekat terlalu cepat, suara klakson nyaring, maupun tanda tanda bahaya lainnya, hanya malam biasa di bulan Mei dengan tingkah laku dan cerita istrinya sedikit aneh .
Hingga...
Kilatan cahaya haya putih tiba-tiba meledak dari sisi kanan memedar kuat menyentuh mata, sebuah truk meluncur dari persimpangan.
“Mas Andra—!”
Laki laki itu membanting setir menginjak rem sekuat tenaga, ban mobil menjerit di aspal basah.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—dentuman keras memecah malam.
Suara logam menghantam logam menggema di dalam mobil. Kaca jendela pecah seperti hujan kedua. Dunia berputar dengan kecepatan yang tidak masuk akal, segalanya hanya cahaya, suara, dan tekanan yang menghantam tubuh dari segala arah.
Lalu tiba-tiba—
sunyi.
Hanya suara hujan.
Tipis.
Pelan.
Laki laki itu berusaha menggerakkan tubuh nya, membuka mata, tapi semuanya terlihat kabur.
Lampu mobil berkedip-kedip seperti napas di ruangan ICU. Ada bau asap, dan sesuatu yang hangat mengalir di pelipisnya.
“Mas...…”
Samar bayangan perempuan bersandar di kursi mobil, rambutnya menutupi sebagian wajahnya, ada darah di bibir, pelipis, hampir di seluruh tubuhnya
Tangan kanannya tergeletak di antara pecahan kaca kursi mobil memegang cincin
“M- mas…”
Andra berusaha menggapai tangannya tapi ia sendiri lemah, hanya senyuman kecil yang tidak pernah benar terbentuk dari bibirnya.
Suara sirene terdengar jauh orang-orang mulai berteriak di luar mobil tapi Andra tidak mendengar hanya napas istrinya semakin berat.
“Mas...a- pa be- nar mas men..cintai? "
Laki laki itu menangis air matanya bercampur aduk keringat dan darah.
"Mei...takut... "kalimat itu berhenti di tengah jalan, tangannya perlahan melemah di genggaman. Cincin perak memantulkan cahaya lampu jalan yang berkedip di luar.
Sirene semakin dekat. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu—Andra merasa sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya ketakutan benar-benar nyata