Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 Prolog
Cahaya bulan purnama yang bersinar lembut memantul di air danau yang beriak pelan, suasana yang syahdu itu berbanding terbalik dengan apa yang kini terjadi di dalam bangunan paviliun yang berdiri elegan di samping danau.
Darah terciprat ke dinding, bau amis menyeruak dan di balik ruangan yang di sinari cahaya lilin, sebuah bayangan pria yang berdiri dengan pedangnya terpantul.
Wei Lu menatap pria itu dengan pandangan yang kabur oleh air mata, tubuhnya gemetar menahan takut dan sakit. Ia memohon dan bersujud pada pria tersebut. Namun, tanpa belas kasih pria itu justru mencekik lehernya, membuat tubuhnya terangkat dan tangannya memberontak.
"Hah! Lucu sekali! Apa kamu tak ingat padaku? Kamu sudah lupa, Ibu tiri?" bisik pria itu dengan senyum sinis yang membuat merinding.
Wei Lu menangis semakin histeris tak kala tangan pria itu mengangkat pedang di tangan kirinya. "Ini aku... Lu Shu..." bisik pria itu.
Wei Lu mematung, tatapan matanya mendadak kosong. Ingatannya tiba-tiba berputar ke masa lalu, dan seketika wajah pria di depannya seperti di bayangi oleh rupa seorang anak kecil yang ia kenal.
"Shu... Lu Shu..." gumamnya tanpa sadar.
Lu Shu tertawa nyaring, "Kau ingat ternyata! Ya! Aku adalah anak yang dulu kau siksa!" serunya dengan menggelegar.
Lu Shu melempar Wei Lu hingga tubuhnya menabrak meja dan jatuh berguling di lantai. Lalu dengan tanpa belas kasih ia menendang tubuh wanita itu dan menginjaknya.
"Ibu Wei.. kamu pasti tak pernah menduga jika hari dimana kamu mati adalah di tangan anak sambungmu, yang dulu kau siksa kan.." ujar Lu Shu dengan senyum sinis dan tatapan mata yang merendahkan.
Wei Lu tak mampu berkata-kata, ia hanya meringis dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Dulu kamu memperlakukan ku dan dua adikku dengan tak manusiawi, kami tak lebih dari seekor binatang bagimu. Kau selalu memukul kami setiap kamu merasa kesal, aku sangat muak saat itu. Tapi.. mau bagaimana lagi, aku sungguh tak berdaya."
Lu Shu mencekik perempuan itu dengan sorot mata yang membara, Wei Lu melotot dengan mulut terbuka dan tangan yang memberontak berusaha melepaskan cekikan itu.
"Aku biarkan saat kamu memukul ku, tapi aku tak bisa terima saat kamu dan suami mu menyakiti adik ku yang bahkan baru berusia 8 tahun!" seru Lu Shu dengan penuh kebencian.
"Kamu membuatnya mati dengan hina dan membuat adikku yang lain mati kelaparan!"
Lu Shu kemudian merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan misterius, lalu dengan kasar ia mencengkram wajah Wei Lu dan menjejalkan cairan asing itu ke mulutnya.
"Kamu tau ini apa? Ini adalah obat perangsang! Jadi nikmatilah waktumu.."
"Aku pastikan kematianmu lebih hina dari kematian yang kamu beri untuk adikku! Kamu suka bercinta bukan? Tingkahmu yang selalu selingkuh di belakang suamimu, membuatku jijik! Jadi karena sekarang suamimu sudah mati, kamu bisa bercinta sepuasnya tanpa takut ketahuan." ujar Lu Shu dengan senyum yang menyeringai penuh maksud buruk.
"Seret dia keluar..." perintahnya pada sosok berpakaian hitam yang sedari tadi berdiri di pojokan dalam diam.
"Biarkan dia bercinta sepuasnya dengan seekor babi!" serunya di ikuti suara tawa yang menggelegar.
Wei Lu yang mendengar hal itu, segera beranjak dan mencengkram kaki Lu Shu. Lalu dengan tangis yang pilu dia memohon seraya bersujud.
"Jangan, Lu! Jangan.. aku mengaku salah! Maaf!" serunya dengan membenturkan dahi kelantai. "Ampuni aku! Ampuni aku!"
Namun, Lu Shu tak menghiraukannya. Wei Lu lalu di seret ke kandang babi.
.
.
Seorang perempuan muda dengan raut wajah sedih menatap layar handphonenya, deretan kata dari sebuah paragraf demi paragraf dalam novel online yang tengah ia baca, begitu menghipnotisnya.
"Aih, kasihan sekali tokoh villain ini. Meski dia jahat tapi masa lalunya begitu kelam..." bisiknya dengan iba. "Jika aku yang jadi ibunya, aku pasti beri dia kasih sayang dan masa kecil yang bahagia."
Tiba-tiba layar handphonenya bersinar, begitu terang hingga membuat perempuan itu menjerit dan menutup rapat matanya.
"Tunggu! Apa ini?! Oh! Jangan bilang... ini fenomena fantasi seperti yang di ceritakan di novel?! Tidak! Aku bercanda! Aku tak ingin jadi ibu tiri!" teriaknya dengan putus asa sebelum akhirnya perempuan itu menghilang tersedot ke dalam handphonenya.
.
.
Wei Ying menghela nafas dengan putus asa lalu menghentakkan kakinya kesal. Ia tak pernah menduga jika dirinya yang hidup di dunia modern, dan tak percaya pada hal-hal supranatural kini justru mengalaminya sendiri. Meski dirinya adalah seorang pecinta buku, khususnya buku-buku dengan tema fantasi.
Tapi sepertinya ada baiknya juga dia menyukai novel-novel dengan kisah tak masuk akal, seperti time traveler atau tokoh utama yang memutar waktu. Hal itu membuatnya bisa beradaptasi, meski tetap saja ada keterkejutan yang ektrim.
Wei Ying kemudian mengalihkan tatapannya ke sekitar dan pandangannya langsung terkunci pada sesuatu, tiga orang anak kecil yang babak belur dan saling memeluk di lantai.
Wei Ying terlihat bingung juga khawatir melihat anak-anak itu tampak kesakitan dan berdarah, ia hendak berdiri dan mendekat saat tiba-tiba anak itu justru beringsut mundur dengan sorot mata waspada.
Wei Ying semakin bingung, lalu tatapan matanya melirik ke arah mana yang di tatap anak-anak itu. Alangkah terkejutnya saat ia melihat tangan kanannya memegang balok kayu yang sudah berdarah.
Wei Ying menampar pipinya!
"Beneran! Aku benar-benar masuk ke novel itu!" teriaknya dalam hati.
"Celaka! Ucapan adalah doa! Mulut sialan!"
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭