Jonathan membimbing Lisa dengan hati-hati menuju tempat tidur.
Dengan perlahan, dia memapah istrinya yang lelah itu. Lembut, dia membantu Lisa melepas sepasang high heels yang telah menemani langkahnya sepanjang malam.
Ketika gaun ketat berwarna hitam yang membalut tubuh Lisa terlihat jelas, Jonathan hanya bisa menahan napas untuk sesaat, menikmati keindahan garis tubuh Lisa yang memikat di balik kain itu.
Jonathan bergegas, seolah melarikan diri dari magnet yang tercipta oleh pesona istrinya. Dia berniat untuk segera pergi, namun secara tidak terduga, Lisa menarik tangannya, dan tanpa bisa dihindari, bibir mereka bersentuhan dalam ciuman yang singkat.
Jantung Jonathan seketika berdetak kencang, saat lampu menyoroti wajah Lisa yang begitu memikat, menelan ludahnya menjadi suatu usaha, perasaannya bercampur aduk antara keinginan dan kewajiban.
Jonathan berbalik dan melangkah pergi dengan langkah panjang dan cepat, meninggalkan ruang yang dipenuhi dengan ketegangan.
Kemarahannya yang telah memuncak sepertinya akan meledak kapan saja, tapi tepat saat dia akan melangkah lebih jauh, dia merasakan sentuhan lembut bibir Lisa pada bibirnya
Sentuhan itu seperti sihir, meredakan kemarahannya yang mulai meluap, membuat langkahnya melambat dan napasnya lebih tenang.
Untuk beberapa saat, Jonathan berhenti melangkah, membiarkan dirinya merasakan kehangatan sentuhan itu. Dia menutup mata, membiarkan kenangan manis itu memenuhi pikirannya.
Ciuman singkat itu sepertinya membawa pengaruh besar pada dirinya, mengubah arah kemarahannya menjadi sesuatu yang lebih lembut dan penuh kasih.
Dengan hati yang lebih ringan, Jonathan membuka mata dan melanjutkan langkahnya, tapi kali ini dengan langkah yang lebih santai dan penuh harapan.
Di pagi hari, Lisa membuka matanya perlahan-lahan, dan sinar matahari yang cerah menyambutnya dengan hangat. Namun, sinar itu juga membuatnya merasa silau dan kepalanya terasa sakit.
Dia memegang sisi kepalanya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Memori tentang berpesta ke bar dan mabuk perlahan-lahan muncul, tapi ada bagian yang masih kabur.
"Siapa yang membawaku ke sini?"
Dia bertanya pada dirinya sendiri, mencoba mengingat wajah-wajah yang ada di sekitarnya saat itu.
"Apa itu Anna yang membantuku?" gumamnya mencoba untuk mengingat, tapi jawabannya masih belum jelas.
Dengan hati yang penasaran, Lisa mencoba bangun dari tempat tidur dan mencari jawaban atas pertanyaannya.
Lisa berhenti sejenak di anak tangga, matanya menyempit saat melihat Jonathan yang sudah duduk di meja makan dengan senyum tipis.
"Ayo turun dan sarapan!" kata Jonathan dengan nada yang santai namun penuh perintah, seakan tidak ingin dibantah.
Lisa merasa sedikit kesal dengan nada Jonathan, tapi dia tidak ingin memperpanjang konflik, jadi dia melanjutkan langkahnya turun ke ruang makan dengan wajah yang masih murung.
Saat dia duduk di seberang Jonathan, dia merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan pria itu yang terus mengawasinya.
"Kemana kamu semalam?" tanya Jonathan dengan nada yang santai, sembari mengoleskan selai ke roti dengan gerakan yang lembut.
Lisa merasa jantungnya berdeg-degan, tapi kemudian dia ingat bahwa Jonathanlah yang membawanya pulang dari bar.
"Kamu sudah tahu, mengapa masih bertanya," jawab Lisa dengan nada acuh, mencoba menyembunyikan rasa tidak nyaman di balik tatapan mata Jonathan yang tajam.
Dia mengambil secangkir teh dan meminumnya perlahan-lahan, berusaha menghindari kontak mata dengan Jonathan.
"Seharusnya kamu menjelaskannya padaku," ucap Jonathan dengan nada yang tegas, memberikan Lisa peringatan mengenai status mereka sebagai pasangan.
Lisa tertawa garing, suara yang kasar dan tidak menyenangkan.
"Untuk apa memberitahumu? Kamu saja menghabiskan waktu dengan cinta pertamamu, jadi kita tidak ada bedanya," balas Lisa dengan nada yang sedikit menusuk, menyinggung tentang hubungan Jonathan dengan cinta pertamanya yang masih membekas di hatinya.
Tatapan mata mereka bertemu, dan ketegangan di antara mereka meningkat.
"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, dia demam dan memerlukan bantuanku," kata Jonathan dengan nada yang sabar, mencoba menjelaskan situasinya.
Namun, Lisa tidak mau mendengarkan.
"Apa dia tidak bisa menelepon dokter? Kenapa kau yang dihubunginya, yang notabene adalah suami orang lain," balas Lisa dengan nada yang penuh dengan rasa tidak percaya dan kesal, menyinggung tentang hubungan Jonathan dengan wanita lain yang masih membangkitkan kecemburuannya.
Nada suaranya meninggi, menunjukkan bahwa dia tidak percaya dengan penjelasan Jonathan.
"Sudahlah, aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku berjanji tidak ingin tahu apa yang kamu kerjakan, tapi jangan usik urusan pribadiku!" ungkap Lisa dengan nada dingin, menatap Jonathan dengan rasa benci dan kesal yang sudah mencapai puncaknya.
Setelah itu, dia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang makan, tidak ingin lagi berlama-lama di situ.
"Aku tidak butuh sarapan," katanya singkat sebelum dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras, menunjukkan bahwa dia sudah tidak ingin lagi berdebat atau berbicara dengan Jonathan.
Pintu diketuk berulang kali, tapi Lisa tetap tidak ingin membukakannya.
Dia lebih memilih untuk tetap di dalam kamar, sibuk melihat ponselnya yang penuh dengan cerita komedi yang membuatnya tertawa dan melupakan masalahnya sejenak.
Dia berharap dengan cara itu, dia bisa mengalihkan perhatiannya dari pertengkaran dengan Jonathan dan menemukan sedikit ketenangan.
Dengan senyum di wajahnya, dia terus membaca cerita-cerita lucu di ponselnya, berusaha untuk tidak memikirkan apa yang terjadi di luar kamar.
Setelah memastikan tidak ada orang yang mengawasi, Lisa menyelinap keluar dari kamarnya dengan hati-hati, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Dia melangkah dengan perlahan-lahan, seperti seorang yang sedang menjalankan misi rahasia. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat dia mendengar suara yang familiar.
"Menyelinap seperti seorang pencuri," ucap suara itu dengan nada yang sedikit mengolok-olok, membuat Lisa merasa seperti tertangkap basah.
Lisa menoleh ke sumber suara dengan cepat, dan jantungnya berdeg-degan saat dia melihat Jonathan berdiri di sana dengan senyum tipis di wajahnya.
Senyum itu membuat Lisa merasa tidak nyaman, seperti dia sedang diejek.
Dia tersenyum kikuk, berusaha untuk menutupi rasa malunya.
"Aku hanya... ingin mengambil sesuatu," kata Lisa dengan nada yang tidak meyakinkan, berusaha untuk mencari alasan yang masuk akal.
Tapi Jonathan tidak percaya. Dia tahu bahwa Lisa sedang mencoba untuk menghindarinya, dan itu membuatnya penasaran.
"Apa yang kamu cari?" tanya Jonathan dengan nada yang sedikit serius, membuat Lisa merasa seperti sedang diinterogasi.
Dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu, jadi dia hanya diam dan menundukkan kepala, merasa seperti seorang yang tertangkap basah.
Tatapan mata Jonathan membuatnya merasa tidak nyaman, seperti dia sedang dibaca pikirannya.
"Sudah aku katakan, apapun yang aku lakukan tidak akan memberitahumu. Ingat, jangan mengusik urusan pribadiku!" ketus Lisa dengan nada keras, menunjuk wajah Jonathan dengan jari yang gemetar sedikit karena emosi.
Dia menggertak pria itu dengan sedikit ancaman, mata mereka bertemu dalam pertarungan tatapan yang intens.
"Jangan coba-coba untuk tahu lebih banyak," tambahnya dengan suara yang tegas, menunjukkan bahwa dia tidak akan mentolerir campur tangan Jonathan dalam urusan pribadinya.
Jonathan memperhatikan Lisa dengan seksama, mencoba membaca ekspresi wajahnya, tapi Lisa berhasil menjaga wajahnya tetap keras dan tidak menunjukkan kelemahan.
“Tidak ada yang bisa membantah, kalau kamu itu istriku!” ucap Jonathan setelah menarik pinggang ramping Lisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments