Aku berjalan-jalan berkeliling komplek, menghirup udara di sore hari ditemani Surya yang jingga. Suatu ketika si perut demo, mengeluarkan suara-suara aungan singa, padahal isinya cacing. Tidak apa cacing kalo lapar bisa jadi ganas kayak singa, ya 'kan?
Di penghujung jalan terempatan, seorang dengan lihai memasukkan bola besar menggiurkan. Aku tergoda dan mendekat ke aroma nikmatnya.
"Bang, bakso satu," ucapku melihat-lihat panci kuah memastikan masihkah ada.
"Bungkus apa makan sini, Neng?" Bang Bakso bertanya dengan meletakkan mangkoknya.
"Bungkus, pedas."
Bang Bakso sigap sekali, tangan terampilnya mencomot sana, mencomot sini. Seolah hapal betul tata letaknya.
"Neng, cari kerjaan sekarang sulit," ujarnya menaburkan bawang goreng. Lah, terus?
"Nggeh," jawabku. Mungkin si Abang cuman pingin basa-basi.
"Saya mau jadi pencuri, Neng, boleh?"
Pertanyaan yang membuatku tidak mengerti, ini orang kenapa? Mau jadi pencuri bilangnya ke aku, emang aku emaknya? Dengan alis merapat mata menyipit aku menatap si Abang Bakso.
"Mau curi hati, Neng," pungkasnya yang kemudian disusul cengar-cengir.
"Nih, Bang, makasih," jawabku menyodorkan uang dan kemudian pergi meninggalkan si Abang Bakso sendiri. Tamat.
Tag~Abang Bakso