"Pfuuuh........" aku meniup telinga Angel, tubuhnya begetar. "Nafas manusia serigala itu begitu hangat ditelinga..."
"Sudahlah Rin kau menakutinya!" bentak Tori menghancurkan suasana.
"Tidak kok. Angel beranikan?" tanyaku pada gadis kecil bermata biru di depanku ini.
"Tentu saja aku suka dengan cerita seram kakak."
"Kalau begitu. Manusia serigala itu menyerang...! Grrr......! Am..... Am...." aku mengelitiki Angel sampai berguling-guling. Sudah puas menggelitiki Angel aku berbalik melirik tajam ke arah Tori.
"Apa yang ingin kau lakukan? Kenapa kau menatapku seperti itu?' kata Tori yang perlahan-lahan melangkah mundur.
"Sang manusia serigala mencari mangsa baru di. Bawah sinar bulan purnama," aku mengejar Tori sambil menirukan seorang manusia serigala yang kelaparan mencari mangsa.
Kami adalah baby sister Angel. Kami biasa di pangil untuk menjaga Angel saat ayah dan ibunya sedang berkerja lembur di kantor atau ada hal lain yang membuat mereka harus pulang larut malam. Aku sering di pangil Rin oleh teman-temanku. Aku memiliki rambut pirang kemerahan dengan garis merah terang di sebelah kiri. Aku juga tidak tahu mengapa rambutku seperti ini, tapi bagiku itu tidak penting. Seperti yang kalian ketahui aku tidak sendirian. Aku bersama adiku, namanya Tori. Umur kami tidak terlapau jauh hanya berselang 2 tahun saja, tapi kami sering di sebut kembar apabila berjalan bersama. Kenapa tidak, warna rambut kami sama, walau Tori tidak memiliki garis merah di rambutnya. Tapi untuk yang lain seperti mata, bentuk hidung, tinggi badan bahkan pakaian pun sama. Ibu kami suka sekali membelikan pakaian yang sama karna ia ingin sekali memiliki anak kembar. Tapi tidak terwujud sebab itulah dilampiaskan pada kami.
"Bruuuk......!" Tori terjatuh karna menyengol kaki meja. Ia jatuh dengan wajah mendarat duluan. Ingin ketawa ada, tapi kasian adik sendiri.
"Tori kau tidak apa-apa?"
"Aduh........ Kepalamu tidak apa, sakit tahu!!"
"Maaf maaf," aku membatu Tori berdiri.
Ding. Dong..
Suara bel rumah dibunyikan.
"Hore.... Ayah ibu pulang..." kata Angel riang. Ia langsung berlari ke luar dari kamar menyambut kepulangan orang tuanya. Kami mengikuti ia dari belakang.
Angel langsung memeluk ayah dan ibunya ketika mereka baru saja masuk ke rumah. Ayah Angel menggendong putri mereka yang baru berusia 5 tahun itu. Ibu Angel memberi kami sejumlah uang, tanda terima kasih telah menjaga putri mereka. Kami menerima uang itu dan mohon pamit untuk pulang karna sudah larut juga.
Rumah kami tidak terlalu jauh, hanya berjarak 100 m dari rumah Angel. Kami biasa berjalan kaki menelusuri trotoar. Dengan penerangan lampu jalan sudah cukup menerangi jalan kami. Malam ini cukup aneh atau hanya perasaanku saja.
"Bulan malam ini terang sekali," kata Tori memecah keheningan.
"Kau benar," memang malam ini adalah malam bulan purnama sempurna. "Tori apa kau tahu pada? Malam sepertu inilah manusia serigala suka berkeliaran mencari mangsa," kataku mulai menakutinya dengan cerita seram.
"Rin jangan begitu! Aku jadi takut tahu."
"Hihi.... Bencanda, jangan takut manusia serigala itu tidak ada."
Auuuuu...........!!
Terdengar lolongan anjing liar yang samar-samar dari kejauhan. Hal itu membuat langkah kami berhenti. Tori segerah memeluk erat tanganku, ia ketakutan.
"Suara apa itu Rin?" tanya Tori gemetar.
"Tidak apa itu hanya anjing, sebaiknya kita cepat pulang."
Kami kembali menyelusuri jalan untuk kembali pulang. Entah mengapa, sudah lama kami berjalan tapi tidak kunjung sampai juga. Aneh? Di tambah lagimalam inisepih sekali, biasanya saat kami pulang ada saja beberapa orang yang lewat. Aku melihat ke jam tanganku. Jam baru menunjukan pukul 20.33 ini belum terlalu larut. Tiba-tiba terdengar suara bengemerisik di balik semak-semak membuat kami terkejut dan segerah waspada. Suara itu semakin mendekat ke arah kami. Semakin dekat dan semakin dekat..... Itu hanya seekor anak anjing.
"Bikin kaget saja."
"Hei Rin lihat. Husky, anjing siapa ini," Tori mencoba mengelus kepala anjing itu.
"Tunggu Tori! Jangan sentu dia!"
"Kenapa? Dia lucu tahu."
"Kita tidak tahu itu anjing siapa? Ia bisa menggigitmu!" aku mencoba memperingatkan Tori tapi ia tetap ngeyel.
"Aww..........!"
Baru saja aku bilang tangan Tori sudah digigit oleh anjing itu. Aku mengeluarkan sapu tanganku dan melilitkannya di tangan Tori yang terkena gigitan anjing tadi. Lukanya tidak besar, hanya goresan kecil tapi berdarah.
"Sudah kubilang jangan pengang, tapi kau ngeyel! Digigitkan!!" kataku pada Tori. Tapi ia diam saja. Aku melihat ke wajah Tori, ia hanya tertunduk tidak berbicara dan bergerak sedikitpun ketika aku mengajaknya pulang. Ada apa dengannya? "Tori kau tidak apa-apa?"
"Err..........!! Grr..........!!"
Tiba-tiba Tori mengeluarkan suara aneh tapj pelan. Tanpa aku sadari aku melangka mundur. "Apa yang terjadi? Tidak mungkin hanya digigit anjing kecil saja Tori bisa begini?" pikir ku.
Tangan Tori begetar hebat, ia mengangkat wajahnya melirik tajam ke arahku. Matanya yang biru terang bercahaya di bawah sinar bulan. Aku semakin takut dan terus berteriak memanggilnya. Tidak ada jawaban. Ia hanya melangka perlahan ke arahku. Aku baru menyadari diselah-selah bibir mungilnya ada sepasang taring yang keluar.
"Ada yang tidak beres disini."
Aku berbalik dan berlari secepat mungkin ketika Tori melesat cepat ke arahku. Aku melirik ke belakang, kulihat ia masih mengejar sambil mengeluarkan suara geraman yang mengerikan. Aku terus berlari tanpa aku sadari aku berlari menuju taman yang ada di sebrang rumahku. Aku bersembunyi di balik pohon. Aku beristirahat sebentar mengatur nafasku yang terputus-putus dan memikirkan cara bagaimana aku kembali kerumah.
Aku duduk di bawah pohon sambil menangis dan terus menyalakan diriku sendiri. Kenapa tidak, semua inimemang salahku. Seharusnya aku lebih tegas lagi melarangnya untuk tidak mendekati anjing itu. Apa mungkin manusia serigala itu ada? Tidak! Tidak mungkin!! Tapi apa yang terjadi dengan Tori malam ini sama seperti cerita-ceritaku yang lain.
"Grr.............!! Auuu.........!!!!"
Suara itu tepat ada di belakangku. Aku tersadar dan sontak langsung menoleh. Ku dapati Tori.... tidak dia bukan Tori! Melainkan seorang gadis seumuran denganku. Ia sudah ada di belakangku, mengintip di balik pohon sambil memamerkan taring-taringnya yang panjang, mengkilat dan penuh darah. Tiba-tiba dengan cepat ia menyerang. Aku berhasil menghindar walau tanganku terkena cakaran kukunya yang tajam. Aku kembali berlari. Rumah sudah terlihat jelas di depan. Sampai di depan pintu, aku menggedor pintu rumah berkali-kali sambil terus memanggil orang tuaku. Tidak ada jawaban.
Tidak jauh dari belakang kulihat Tori.... (Kali ini itu memang dia) dengan cepat mengejar. Aku mencoba memutar knop pintu ternyata tidak dikunci. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk dan menutup pintu itu rapat-rapat. Beberapa kali pintu didorong dengan kuat. Aku berusaha menahannya. Beberapa saat kemudian, pintu tidak lagi didorong. Aku mengintip dibalik lubang kunci, tidak ada siapa-siapa. Aku merasa lega.
Aku baru menyadari kalau keadaan rumah kacau balau. Semuanya berhamburan di lantai lagi-lagi kekahwatiran menyelimuti diriku. Sekarang apa lagi? Aku naik ke atas menuju lantai dua mencaru tahu apa yang terjadi. Sampai di lantai dua ruang keluarga. Betapa terkejutnya aku mendapati seluruh anggota keluargaku terbaring tak berdaya bersimbah darah. Ayah, ibu, adik kecilku, paman, bibi dan kedua sepupuku. 'Mereka ada disini?'
"T I D A K . . . . . . . . . . . . . . . ! ! ! ! ! ! Apa yang terjadi?" aku menangis sejadi-jadinya, terduduk lesuh. Kaki ku tak sangup berdiri lagi. Air mata tak terbendung lagi. "Kenapa?!! Kenapa semua ini bisa terjadi?!!"
Tiba-tiba sebuah botol jatuh dari atas meja seperti ada yang menyenggolnya. Aku perhatikan baik-baik arah jatuhnya botol tadi, ada sesuatu yang bergerak disana. Samar-samar cahaya bulan masuk melalui jendela yang terbuka. Aku melihat sosok tinggi besar berwarna hitam dan memiliki bulu disekujur tubuhnya, mata merah menyalah. Sosok itu memperlihatkan taringnya yang penuh darah. Ia berjalan mendekat ke arahku. Aku tidak bisa pergi kemana-mana pintu tiba-tiba terkunci. Sosok itu semakin dekat, semakin dekat dan melesat cepat ke arahku...
"Ah........!!!"
Aku pasrah. Aku hanya menutup mataku dengan kedua tangan.
Duar....!!
Sebuah confatty meledak ke arahku. Pita-pita kecil berhamburan. Lampu dinyalakan dan suara terompet kecil bersaut-sautan.
"Apa? Apa yang terjadi?" aku membuka mataku. Nafasku terengah-engah karna takut. Kelihat semua orang tertawa riang sambil meniup terompet masing-masing. Balon warna-warni bertebaran dimana-mana. Aku masih bingung dan lilung atas apa yang terjadi.
Aku lihat Tori berjalan mendekat sambil membawa kue dengan lilin menyala di atasnya. Lilin itu berbentuk angka 12.
"Selamat ulang tahun kakak ku," kata Tori tersenyum manis.
"Jadi... Jadi semua ini hanya tipuan. Hanya untuk membuatku mati ketakutan!"
"Kami tidak bermasud begitu. Semua ini adalah ide adikmu," kata bibiku. Ia menepuk pundak Tori.
"Aku baru tahu kalau pendongeng kita orang yang penakut," ejek Tori membuatku kesal.
"Siapa yang tidak takut kalau seperti tadi! Kalian kerterlaluan!!"
"Tentu saja. Untuk membuatmu takut sampai segitunya, memerlukan usaha yang ekstra," kata seseorang yang menyamar sebagai manusia serigala. Ia melepaskan topengnya. Itu adalah Onoval teman sekelasku. Selain dia, ada Marry dan Nic juga. Rumah mereka memang dekat. Kami adalah teman sepermainan.
"Sudah-sudah. Rin tiup lilin ulang tahunmu," kata ibuku lembut.
Aku meniup lilin itu di sambut tepuk tangan yang meria. Pesta ulang tahun berjalan lancar dengan aku yang menjadi korban. Di keriuhan pesta. Tori, Marry, Nic dan Onoval duduk berderet dengan aku yang berada di tengah-tengah. Mereka tidak berganti baju. Onoval masih saja memakai kostum manusia serigala dan yang lain masih mengenakan pakaian penuh darah buatan.
"Kalian terlalu serius mengerjaiku. Lihat tanganku sampai terluka," aku memperlihatkan tanganku yang terkena cakaran gadis tadi. Masih meneteskan darah.
"Astaga Rin, bagaimana bisa tanganmu terluka seperti itu?" tanya Marry.
"Bukannya kau yang menyamar dan menyerangku di bawah pohon?" tanyaku bingung karna aku yakin sekali itu bukan Tori dan teman perempuanku yang ikut mengambil alih dalam kejadian ini hanya Marry.
"Tidak. Aku hanya membatu menyiapkan semua ini di rumahmu. Aku tidak perna pergi keluar."
"Lalu gadis yang menyerangku di bawah pohon itu siapa dong?"
Semua terdiam dan melihat ke arahku. Tori dan Marry yang duduk di sebelahku bergerak menjauh. Dari bisingnya musik yang di putar samar-samar aku mendengar lolongan serigala seperti memanggil.....
TAMAT