Sebelum naik bis menuju kampus, seperti biasa aku sarapan dulu di warung makan pakdhe Suryo.
"Selamat pagi mbak Rina, sarapan pake apa pagi ini? Sapa pakdhe Suryo.
" Em.. Bubur gudeg, sambel goreng sama telur bacem pak, minumnya air putih hangat."
"Silahkan mbak, selamat makan." Pakdhe Suryo menaruh sepiring bubur dan air minum dihadapanku.
Segera aku melahapnya.
"Tumben sepi, pakdhe. Budhe mana nih?"
"Lagi beres-beres." Sahut pakdhe singkat.
Satu minggu ini, aku ada kegiatan di kampus full dari pagi hingga sore. Untuk menjaga kondisi tubuhku, pantang bagiku melewati sarapan. Jadi tiap pagi, sebelum naik bis, aku sarapan dulu ditempat biasa. Hingga pada suatu petang turun dari bis aku berniat membeli makan di warung pakdhe Suryo.
"Lho, tumben sudah tutup pakde?"
Pakdhe yang sedang asik duduk di depan warungnya hanya tersenyum.
Senyum pakdhe tampak aneh, bajunya pun kaya ga pernah ganti-ganti selama beberapa hari ini. Kaos oblong hitam, celana selutut garis-garis dan peci.
Ketika sampai kost, teman-teman dan juga ibu kostku tampak asik berbincang. Sudah jadi kebiasaan kami ngobrol sambil menunggu waktu isya.
"Eh, Rin ini ada nasi komplit. Semua dapat juga." Ujar ibu kost sambil memberikan 1 buah besek untukku.
"Wah.. Lumayan, ada rejeki. Untung tadi aku belum beli makan. Syukur deh." Sambutku gembira.
"Ngomong-ngomong darimana nih nasinya bu?"
"Selametan mitungdino-nya pak Suryo, tetangga seberang jalan yang punya warung makan itu lho mbak Rin."
"Apa?? Pakdhe Suryo sudah meninggal maksud ibu?"
"Lha ini, mitungdino berarti satu minggu yang lalu mbak. Pak Suryo terkena serangan jantung, mendadak."
"Astaga..." Pekikku.
"Kenapa mbak Rin, mbak?"
Jadi yang kemaren-kemaren kasih aku sarapan sama tadi sore duduk di warung makan itu... siapa???