Malam ini suasana sangat dingin, rintikan hujan masih setia membasahi bumi. Diandra baru saja keluar dari cafe setelah mengerjakan tugas kuliah bersama teman kampusnya.
Ia berdiri di depan pintu cafe sebentar lalu membentangkan payung putih yang selalu dibawanya. Jarak cafe dengan tempat kost nya agak lumayan jauh kalau jalan kaki.
Sepanjang jalan ia merapatkan jaketnya untuk menghalau udara dingin yang menusuk tubuh.
Ia berjalan sambil melamun kan memori tiga tahun yang lalu. Hari yang membuat segalanya berubah. Tak sadar air matanya turun dengan cepat ia mengusapnya.
"Don't Cry Diandra!" tegas nya untuk dirinya sendiri.
Malam semakin gelap, tak sengaja matanya menangkap nenek-nenek kehujanan sambil membawa gerobak tua. Kasihan sekali! jiwa empati membuat dirinya tergelak untuk menolong.
"Permisi Nek, Saya bantu dorong dan payungnya nenek bawa aja"
"Tidak usah Nak, nanti merepotkan kamu"
"Saya suka direpotkan kok Nek"
Diandra membantu nenek itu mendorong gerobak, Jalanan yang dilaluinya melewati gang sempit dan menanjak. Dan mereka akhirnya berhenti di depan rumah kecil nan jadul.
"Terimakasih Nak, kau baik sekali" ucap nenek itu.
"Sama sama Nek, Oh ya ini saya punya roti Nenek makan ya"
"Bagaimana dengan mu? "
"Saya tadi sudah makan kok," "Kalau begitu saya pamit ya Nek".
"Tunggu sebentar Nak!" otomotis Diandra menghentikan langkahnya. Nenek itu masuk ke dalam rumah dan beberapa menit kemudian ia keluar.
" Nenek kasih kotak musik buat kamu, hanya satu kali kesempatan dan gunakan dengan baik" ucap nenek itu, Diandra mengambil kotak musik dan memandang lamat.
" satu kali kesem---?" Nenek itu menghilang, cepat sekali.
Diandra terbaring di tempat tidur minimalis nya. Ditatapnya kotak musik antik itu dengan cermat.
"satu kali kesempatan apa ?" monolog diandra.
Diandra memutar kotak musik itu dan tak lama terdengar suara musik yang menenangkan dirinya. Ditaruhnya kotak musik itu di atas meja sampingnya.
Tak terasa dirinya mulai mengantuk dan akhirnya Ia tertidur.
________________^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^______________
DAY 1
"Diandra bangun! Sudah jam setengah tujuh!" Teriak seseorang dari lantai bawah.
Dengan malas Diandra bangkit dari tempat tidur nya. dikucek kedua mata yang gatal itu sambil menguap lebar.
"HOAAM" sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.
BRAK, suara pintu terbuka paksa.
"Ma-Mah!? kapan datang di Kos Diandra!" Tanya Diandra dengan ekspresi kaget.
"Kos apaan! cepat mandi lalu sarapan, sudah ditunggu Vika di bawah"
"Vv-vika bukannya merantau ke Jakarta!?"
"Begini kebiasaan ngelindur, cepat siap siap!" perintah Mama lalu meninggalkan kamar Diandra.
Masih syok dengan situasi, Diandra memikirkan banyak hal! dia mengacak rambutnya gemas.
"What! Rambutku kok jadi Panjang! kemarin baru potong rambut loh!!? " pekiknya. Dengan cepat ia berlari menuju cermin di kamar mandi.
Lagi-lagi ia terkejut dengan penampilan nya. Di usapnya kedua matanya. Ini pasti mimpi! Belum yakin, ia mencubit kedua pipinya.
"Sakiit!" jeritnya. Ini berarti bukan mimpi!
Masih dengan keadaan syok, Ia mandi. Tal lama akhirnya kelar juga. dengan langkah gontai ia kembali masuk ke kamar dan lagi lagi dibuat heran dengan Vika yang memakai seragam SMA.
"Vika! ngapain pakai seragam SMA, ada reuni terus dress code nya itu? Lah! bukannya kamu merantau ke Jakarta buat ambil kuliah disana ya!? " pertanyaan beruntun dari Diandra membuat Vika tertawa.
Vika melangkah mendekati Diandra lalu menempelkan telapak tangan di dahi Diandra.
"Gak panas sih, kepalamu habis kejedok pintu?" tanya Vika heran yang dijawab gelengan diandra.
Diandra sudah siap dengan seragam SMA nya, jadi sekarang dia kembali ke tiga tahun yang lalu? tepat tiga hari sebelum kejadian itu. Apakah tuhan memberikan kesempatan untuk merubah takdir?
__________________^^^^^^^^^^^^^^^^_________________
SMAN 2 Surabaya, sekolah yang penuh cerita dan kenangan bagi Diandra. Dengan gugup ia melangkah mendekati gerbang yang sudah tertutup. Jelas saja ia telat bersama vika.
Setelah berdiri menunggu 30 menit akhirnya gerbang di buka. Disana sudah banyak anggota osis yang berdiri.
Ternyata, yang telat dihukum lari tiga putaran lapangan basket. Dua putaran keadaan Diandra masih baik-baik saja.
DEG,....
Sampai pandangan nya bertemu dengan sosok yang sangat ia rindukan. Tiba-tiba suasana menjadi hening baginya, hanya terfokus dengan kedua mata yang menatap nya. pandangan nya mulai buram ditambah air mata dan kepalanya pusing. sampai akhirnya semua gelap.
Diandra membuka matanya perlahan, atap putih dan bau obat-obatan yang pertama kali ia tangkap.
"Ganes" ucap Diandra pada seseorang disampingnya. dengan cepat Diandra memeluk Ganesha sambil menumpahkan air matanya.
Ganesha adalah kekasih Diandra, mereka sudah menjalani hubungan 2 tahun. Ganesha laki-laki terkenal good boy tapi pada kenyataannya tidak sebaik yang terlihat. Ia menjabat sebagai Ketua Osis dan tahun ini akhir masa jabatanya. Ganesha pewaris satu-satunya PRATAMA Company ia diincar banyak musuh perusahaan.
"Hei kenapa nangis?" Tanya Ganesha pada Diandra yang masih sesegukan.
"Aku kangen kamu bangett! akhirnya kita ketemu lagi. HUWAAA!" Isak Diandra semakin keras.
"Heh! kemarin kita baru ketemu loh"
"Please...Jangan tinggalin aku, jangan pergi ya"
"Iya, janji"
Skip pulang sekolah !
Sore ini Diandra dan Ganesha jalan-jalan di taman kota. Mereka saling menggenggam tangan erat.
"Ganesh, kamu baik-baik saja kan?" tanya diandra, ia heran dengan perubahan ekspresi Ganesh setelah menjawab telepon.
"B-baik kok" ucapnya sedikit gelagapan.
"siapa tadi yang telepon?"
"Orang asing"
Diandra semakin curiga, tapi ia menahan untuk tanya lebih lanjut.
"Ganesh, Lusa jangan pergi kemana-mana ya"
"Emang kenapa? lusa ada penyerahan hak waris keluarga, Aku harus ke rumah kakek"
Mereka sekarang sudah duduk di kursi taman, hanya keheningan yang menemani mereka.
"Kurang dua hari lagi, sebelum kekacauan pesta." batin Diandra gusar.
_________________^^^^^^^^^^^^^^^^^^_______________
DAY 2
Aku dan Ganesh memutuskan untuk pulang sekolah bersama menggunakan motor ninja nya.
beberapa waktu lalu keadaan masih baik baik saja.
"Diandra, pegangan yang erat" Otomatis aku memeluk tubuh Ganesh erat. Ganesha menjalankan laju motor dengan cepat.
Awalnya aku masih tidak tahu kenapa, tapi melihatnya beberapa kali menengok ke arah spion membuatku ikut menengok juga. Ternyata! di belakang ada tiga motor yang mengikuti kita. Semua pengendara berpenampilan serba hitam.
mereka mengikuti kita, saat tiga pengendara itu mendekati kita, Ganesh langsung menambah kecepatannya di atas rata rata.
"Ganesh, mereka siapa?" tanyaku agak berteriak.
"Mereka musuh aku! musuh perusahaan" jawabnya.
Saat ada tikungan, Ganesh malah mempercepat lajunya. Aku takut.
Sial! tiga pengendara itu berhasil menyalip kami. mereka bertiga mengepung di depan. Dengan terpaksa Ganesh menghentikan motornya.
"KAU TURUN! DAN DATANG KEMARI!" Perintah orang asing itu. Ganesh langsung turun dari motornya. kulihat wajahnya terlihat santai tapi juga tegang.
"MAU KAMU APA!" teriak Ganesha.
"MATI! KAMI INGIN KAMU MATI!"
Ganesha meludah tepat di depan orang asing itu, "CIH... SINI LAWAN GUE!" Teriak Ganesha, ia sudah mengabil ancang-ancang.
Aku melihat Ganesha kewalahan menghadapi musuh itu. Aku dengan cepat melapor polisi dan setelahnya ikut gabung melawan. Dimasa lalu aku tidak bisa bela diri karena ada ganesha yang melindungiku. Tapi di masa depan, Aku selalu berlatih taekwondo semenjak kepergian Ganesh.
"DIANDRA! APA YANG KAMU LAKUKAN! CEPAT PERGI" teriak Ganesha Disela-sela perkelahian
"BODOH! MENOLONGMU, JANGAN RAGUKAN KEMAMPUANKU!" Saat tiba-tiba ada yang memukul dengan cepat aku menangkisnya.
Sial! aku belum cukup cepat menghindar dan membuatku terkurung.
"HEH BOCAH HENTIKAN ATAU NYAWA PACARMU HILANG!" Teriak orang yang memegangiku. Dengan Cepat Ganesha mengehntikan dan menoleh ke arahku.
"LEPASKAN GADIS ITU!" Teriak Ganesha.
BUK.. Hantaman keras meluncur di perut Ganesha membuatnya tersungkur. Aku yang masih dikukung pria asing ini mencoba untuk melawan.
"Gansha AWAS!" Teriakku saat melihat seseorang membawa pisau dan mencoba menusuk Ganesh.
Ganesha berhasil menghindari, tapi tangannya seperti tergores.
Pertarungan sengit terjadi diantara Ganesha. Aku berdoa dalam hati, semoga tuhan segera mengirimkan bantuan.
Aku menginjak kaki musuh itu dengan keras, berhasil terlepas aku segera memukul dan menendang perutnya. Aku segera mengambil Spray Cabe lalu menyemprotkan tepat di kedua matanya.
sirine polisis mulai terdengar dan semakin dekat. Tiga orang itu mengumpat kasar lalu cepat kabur.
Dua orang berhasil kabur, dan satunya masih dibawah kekuasaan Ganesha.
Polisi datang dan menanyai kami sebentar lalu membawa pria asing yang ditangkap Ganesha. Kami menuju kantor polisi dan memberikan keterangan.
"Bagaimana bisa pewaris PRATAMA Company bisa terlibat pertikaian." tanya salah satu polisi
"Mereka musuh perusahaan yang mencoba memusnahkan saya"
"Sejak kapan mereka mengusikmu"
"Sudah satu bulan ini"
"Sebaiknya kau berhati hati, apa perlu sementara kamu dijaga polisi sampai biang nya ketangkap?"
"Tidak perlu, saya bisa sendiri"
Bodoh! Ganesha benar benar bodoh ternyata. dengan cepat aku menyela Ganesha.
"Jangan dengarkan perkataan Ganesha Pak! tolong tetap awasi Ganesha terutama hari esok! Saya mohon pak!" Pintaku sambil menangis.
Perdebatan alot antara aku dan Ganesha dimenangkan oleh aku. Sungguh aku ingin merubah takdir, biarkan aku egois!
Kini Kami ada dirumahku, tepatnya di kamar ku. Mama tau dan sekarang ia sedang pergi keluar.
Aku mengobati Ganesha sambil meneteskan air mata, teringat Masa lalu yang ternyata juga sama terjadi dengan ganesha. Tapi dulu aku tidak ikut, karena Ganesha tidak bisa mengantar pulang. Dan kali ini aku memaksanya dan bisa tau jelas kenapa dulu Ganesh punya luka di tangan saat kutanya alasannya jatuh dari motor dan bodohnya aku percaya!.
"Shit" umpatku
"Ganesh, jangan terluka lagi" ucapku sambil sesegukan.
"Hei, beberapa hari ini kamu kok sering nangis sih"
"Ganesh, aku mau bicara serius dengan kamu" ucapku sambil menatap nya.
"Silahkan"
"Tolong dengarkan ucapan ku dan jangan menyela"
ku tarik nafas sedalam mungkin.
"Sebenarnya aku datang dari masa depan" Dia terkekeh, sepertinya ia menggapku bercanda. Aku melotot kearahnya dan dia kembali diam menyimak ku.
"Kau tau kan beberapa hari ini aku seperti cenayang, kau juga yang menjuluki seperti itu,"
"Ingat kemarin sore, aku bilang akan ada yang kecelakaan di depan taman dan terbukti kan! Aku tau kalau hari ini ada ujian mendadak di kelas mu dan aku tahu sebelumnya dan memberitahu m!"
"Aku tau kalau hari ini juga ada penggeledahan, dan sebelum kita pulang sekolah aku memberitahu bukan kalau besok akan ada luka di tanganmu, persis seperti ini!"
"Dulu, aku bodoh mempercayai kalau lukamu terjadi karena jatuh dari motor! Dan tadi memaksa ikut dengamu, dan aku tahu penyabab sebenarnya tanganmu dulu terluka! bedanya aku dulu tidak tahu penyebab utama!"
"Kau pasti kaget bukan tadi aku jago bela diri padahal kemampuanku dulu 0 besar", " dimasa depan Aku mulai belajar karena tidak ada yang melindungi! KK-KAMU PERGI GANESH! KAMU PERGI MENINGGALKAN KU!" Teriakku frustasi.
"Aku percaya! ssut jangan menangis" ucapnya sambil memelukku.
"Jangan pergi seperti dulu, sekarang aku mau merubah takdir tuhan memberiku kesempatan nesh" ucapku di sela tangisan. "Dan aku mau besok jangan datang ke acara Laknat itu!"
Dan aku menceritakan semuanya, tentang dia yang akan pergi dari dunia saat mengikuti pesta itu. Agaknya dia sedikit tercengang dan menormalkan kembali ekspresinya.
"Oke, aku janji gak akan meninggalkan kamu. Oh ya jadi sekarang usiamu berapa?"
" 21 tahun" ucapku. Kini kami tidur sambil berpelukan.
"WAH, jadi mbak-mbak kuliah ya sekarang" kekehnya.
"Ishh" aku ngambek lalu tercengang setelah tiba-tiba Ganesh mengecup bibirku lama. tolong tandai cuma mengecup ya.
___________________^^^^^^^^^^^^^_______________
DAY 3
Hari yang sangat menegangkan, semua rencana sudah Aku, Ganesh, dan polisi rencanakan tadi pagi. Sangat mendadak, tapi aku harap bida berhasil.
Pesta itu diadakan di rumah Kakek Ganesh yang kini sudah terlihat sangat ramai. Aku tidak bisa masuk karena tidak ada undangan, alhasil aku memantau dari jauh bersama Pak Seto-Polisi.
Satu jam pertama masih baik-baik saja. sampai 10 menit tadi aku dan Pak Seto melihat orang mencurigakan. Dengan cepat Pak Seto memberitahu Ganesh lewat earphone.
Keadaan mulai sangat kacau, semua orang keluar dari pesta. terdengar suara tembakan. Dengan cepat aku dan Pak Seto memasuki rumah itu.
Lihat! Ganesh dan beberapa bodyguard sibuk melawan musuh! Bantuan polisi dan ambulance akan datang lima menit lagi.
DORR....DORR..
Suara pistol menggelar, pistol itu mengenai tubuh kami bersamaan.
"Ganesh, kamu kuat ya tunggu aku di masa depan" ucapku lirih sambil menggenggam tangan Ganesh.
"Kamu juga, tolong tunggu aku. Aku Pastikan takdir akan berubah" ucapnya mantap.
kesadaran kami mulai menghilang. Sebelum tertutup srmuanya aku mendengar suara sirine polisi dan ambulan yang saling bersautan. Bantuan datang tepat waktu, aku harap dengan ini takdir bisa berubah.
_____________________^^^^^^^^^^^^^________________
Sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggil namaku, guncangan dibahuku terasa.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali.
"Dokter Dokter!" teriak seseorang. Dokter datang lalu memeriksa ku.
"Mm-ma, Ganesh dimana?" tanyaku
"Ganesh, dari duku gak ada kabar sayang!"
Deg, hatiku seperti tertusuk benda tak kasat mata
"Aku kenapa Ma?" tanyaku.
" Habis pulang dari kerja kelompok, Bis yang kamu tumpangi terlibat kecelakaan beruntun"
Aku ingat! setelah mengantarkan nenek itu aku harus pulang menggunakan bis kota! karena jaraknya jauh.
"Loh, bukannya Diandra pulang dengan selamat? Diandra ingat betul kok bis Diandra gak kenapa-napa, Diandra pulang ke Kost dengan selamat, terus tidur habis itu dian-"
"Mama panggilkan dokter dulu, kayaknya kepalamu ada yang bermasalah" ucap mama.
sudah seminggu semenjak aku sadar di rumah sakit, sekarang aku ada dimasa yang sebenarnya aku tinggali.
Aku duduk di bangku taman favorit Aku dan ganesh. ku pejamkan mataku sambil merasakan angin dan suara kicauan burung.
"Semua ini hanya bunga tidur? kenapa sangat nyata?" Gumamku, aku memandangi kotak musik tua itu.
Kemarin, aku pergi ke rumah nenek tua itu, tapi nihil rumahnya tidak ada sudah menjadi lahan kosong tanpa ada bekas bangunan.
Aku menangis, kutatap langit mendung itu. rintik hujan sudah turun membasahi. Aku masih ditempat belum beranjak meninggalkan bangku taman ini.
Kututup mataku sambil merasakan rintikan yang jatuh mengenai badan dan wajahku.
Aku sudah tisak merasakan rintikan lagi, ku buka mata, ku kira hujan sudah berhenti namun kenyataannya tidak. Hujan masih ada dan ada yang memayungi ku. Baju merah, celana jeans, dan sepatu Converse. Siapa dia? Aku menengadah kan kepala.
Wah sepertinya aku harus memeriksa kepalaku yang sering halusinasi. Kutatap wajah itu dan aku tersenyum getir.
"Habis, kecelakaan otakku bermasalah terus. Selalu menghayal kan hal hal seperti kamu!"
"Wah pelukanmu terasa nyata ya! padahal aku tahu pasti ini fantasi". "Biarkan aku menikmati halusinasiku dulu nesh, satu minggu yang lalu aku ketemu nenek nenek, kasihan terus aku bantu. Dia kasih aku kotak musik tua, terus aku pulang dengan selamat loh pakai bis. terus aku putar musiknya klasik enak di dengerin, gak lama aku tertidur dan saat buka mata aku syok ternyata aku Back to past"
"Aku ketemu kamu, rasanya senang banget, udah lama, saat di hukum aku syok terus pingsan terus meluk kamu sambil nangis" " Aku mencoba merubah takdir tapi apa bisa?" sepertinya itu hayalku saja ya. "
"Diandra, Aku Ganesh dimasa lalu yang berhasil merubah takdir yang kamu perjuangkan"
Aku melepas pelukan itu, dia bersimpuh di depanku.
"Kamu beneran datang di masa laluku, takdir berubah! keadaan berubah! sekarang aku di depNmu dan ini nyata"
"Jangan banyak memikirkan banyak hal, cukup nikmati saja karena kalau dipikir bakal gak ada ujungnya"
"GANESH HWAA" tangisku sambil memeluknya erat.
Ganesh menciumku bukan lagi mengecup. Ntah bagaimana bisa hal ini bisa terjadi. Aku juga tidak tahu ceritanya. Yang aku inginkan hanyalah menikmati momen manis seperti ini walaupun banyak sekali pertanyaan yang ada di otakku.
Ganesh ku kembali, Tuhan mengizinkan ku merubah takdir.
Terimakasih Tuhan :)
____________
HOLA GUYSZ, ceritanya aneh? gak masuk akal? endingnya agak gimana gitu. wkwkkw Aku juga bingung soalnya :(
dua hari aku nemu ide ini langsung kutulis jadi cerpen takut hilang soalnya, kan eman-eman.
Maaf ya kalau agak mengecewakan. rapi, jangan lupa like ya :)