"Diva, apa kabar?"
Sapa sebuah suara yang sudah lama tidak kudengar. Aku merindukan suara itu. Tapi aku pun tau dia tidak akan pernah datang lagi.
"Diva sadar. Jangan halu terus" Kesalnya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Kamu nggak halu Va. Ini aku."
Perlahan Diva membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat sosok yang berdiri dihadapannya.
"Kamu. Kamu nggak mungkin ada di sini. Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?"
Sosok itu hanya tersenyum. Seolah dia sudah menantikan pertemuan ini sejak lama.
"Aku merindukanmu Diva"
***
Hosh...Hosh.... Diva terbangun dari tidurnya. Peluh membanjiri tubuhnya dan jantungnya berdetak begitu kencang. Hanya mimpi. Mimpi yang menyebalkan.
Tidak ingin terlalu lama mengingat mimpinya, Diva beranjak turun dari ranjangnya. Bersiap memulai aktivitas hari ini. Setelah bersiap dia keluar dari kamarnya menuju meja makan. Dan seperti biasa orang tuanya telah berangkat bekerja. Hanya ada segelas susu dan uang untuk Diva.
Diva menghela napas. Dia segera menghabiskan segelas susu dan mengambil uang sakunya. Lalu dia berpamitan seolah-olah orang tuanya ada di sana.
"Pagi ma. Pagi pa. Diva berangkat sekolah dulu."
Sepi. Diva tersenyum tipis. Entah kapan ada yang membalas ucapannya ini. Diva tidak tahu. Dia sudah terlanjur terbiasa dengan situasinya sekarang. Diva berjalan perlahan menuju halte bus yang melalui sekolahnya.
Diva Anastasia. Seorang gadis 18 tahun yang selalu dikucilkan di sekolah maupun di rumah. Berasal dari keluarga yang tergolong kaya. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai dokter di sebuah rumah sakit ternama di kotanya. Berasal dari keluarga kaya tidak membuat seorang Diva bahagia. Keinginannya sederhana, dia hanya ingin kehadiran orang tuanya.
Akhirnya Diva sampai di sekolahnya. Sekolah yang menurut banyak orang tempat yang menyenangkan namun tidak untuk Diva. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Dia benar-benar sendirian di manapun dia berada.
"Hi guys nanti sepulang sekolah jadi kan kita ke cafe x?" Ucap Friska.
"Jadi dong. Kan kamu ulang tahun hari ini." Balas Reta bersemangat.
Percakapan yang tidak sengaja masuk ke telingaku.
"Tapi kamu undang dia nggak?" Tanya Shifa ke Friska dengan nada yang dipelankan.
"Siapa?" Tanya Friska pura-pura tidak tahu.
"Ya dia" Tunjuk Shifa mengarah ke Diva.
Lagi-lagi percakapan yang tidak sengaja ku dengar. Sayup-sayup dibalik earphone yang tidak dihidupkan musiknya, Diva mendengar dengan jelas percakapan teman-teman sekelasnya yang membicarakan dirinya.
"Apa salahku Tuhan. Hingga mereka memperlakukan begini." Lirihnya dalam hati.
Begitulah hidup seorang Diva. Di sekolah maupun di rumah. Dia sebenarnya bosan tapi tidak ada yang bisa dilakukannya.
***
"Rasanya melegakan tiba di rumah. Aku tidak akan mendengar pembicaraan mereka lagi tentang diriku." Tak lama kemudian Diva tertidur dengan seragam yang masih dikenakannya.
"Ya ampun Diva. Apa yang sedang kamu lakukan. Bangun." Teriak ibu Diva.
"Ibu. Sudah pulang?"
"Bangun Diva. Sudah malam. Dan kamu masih mengenakan seragam sekolahmu. Bersihkan dirimu lalu turun ke meja makan. Malam ini kita akan makan malam bersama." Tutur ibunya.
"Baik Bu."
Diva membersihkan dirinya lalu turun untuk makan malam bersama kedua orang tuanya. Hal yang jarang mereka lakukan. Kecuali di hari ulang tahun Diva. Dan Diva baru menyadari bahwa besok dia berulang tahun.
Malam ini orang tua Diva benar-benar bersikap seperti keluarga yang bahagia. Mereka memanjakan Diva seperti orang tua pada umumnya. Hingga larut malam mereka pamit kembali ke rumah sakit. Tapi tidak mengapa Diva sudah bahagia.
Dia beranjak tidur karena hari sudah menunjukkan pukul 23.55.
"Diva"
"Siapa? Siapa di sana?" Tanya Diva.
"Ini aku Diva. Steven." Jawab suara itu.
"Steven? Nggak mungkin Steven. Kamu udah meninggal Steven. Nggak mungkin itu kamu. Nggak mungkin." Histeris Diva.
"Itu bohong Diva. Aku masih hidup." Steven menyanggah ucapan Diva.
Diva menggeleng. Dia tidak percaya.
"Aku merindukanmu Diva" Ucap Steven.
Mimpi itu lagi batin Diva.
Diva terbangun dengan kondisi yang sama setiap bangun tidur. Mimpi yang sama dan berulang-ulang beberapa hari terakhir ini.
Karena hari sudah siang, Diva bergegas berangkat ke sekolah. Dia tidak tahu bahwa teman-temannya menyiapkan kejutan untuk dirinya.
Tak lama kemudian Diva tiba disekolah. Di lorong kelas XI IPA Friska tiba-tiba menarik dirinya. Tanpa bertanya hendak kemana, Diva mengikuti langkah Friska. Tak lama kemudian Friska menghentikan langkahny di depan sebuah kelas yang sudah lama tidak ditempati karena keangkerannya.
"Kenapa kamu membawa aku ke sini Friska?"
"Udah masuk aja deh. Nggak usah banyak tanya."
Diva perlahan memasuki ruangan. Dari luar Friska tersenyum.
"Selamat ulang tahun Diva. Semoga kamu bahagia di dalam ruangan ini ya."
Pintu dikunci dari luar oleh Friska.
"Friska, buka pintunya. Aku nggak bisa di ruangan yang gelap. Friska, buka pintunya." Sekeras apa pun Diva berteriak tidak ada yang akan merespon teriakannya. Ruangan kelas ini terletak jauh dari ruangan lainnya.
Diva mencari handphonenya. Dia ingin menghubungi siapapun yang bisa dihubungi. Sialnya Diva lupa membawanya.
Minimnya cahaya membuat kepala Diva pusing. Tak lama kemudian karena tidak tahan lagi Diva pun tak sadarkan diri.
Cukup lama Diva pingsan di dalam ruangan itu.
Teman-temannya bahkan lupa keberadaan diva. Hingga malam hari, pak satpam yang hendak meletakkan kursi yang patah di kelas itu menemukan Diva. Diva segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Semenjak kejadian itu orang tua Diva lebih memperhatikan keadaan Diva. Mereka berusaha meluangkan waktu di akhir pekan bersama keluarga.
Juga teman-teman Diva menyesal telah melakukan hal tersebut kepada Diva. Friska minta maaf karena dia lupa Diva masih di dalam kelas itu. Rencana mereka jam istirahat mereka akan mengeluarkan Diva dari sana tapi siapa sangka tidak ada yang mengingat keberadaan Diva.
Sekarang Diva bukanlah seorang gadis yang kesepian lagi. Dia dapat berkumpul bersama keluarganya dan juga memiliki teman-teman yang baik.
Dan mimpi buruk tentang sahabatnya yang selalu hadir itu juga sudah tidak pernah datang lagi. Juga phobia gelapnya, Diva sudah melakukan terapi untuk menyembuhkannya.