"Aaaa aaa aaaa" dengan berlari gadis itu berteriak sepanjang koridor gedung yang bercat putih, tangannya memegang erat bakpao dan botol minuman.
'Brug' tubuh mungilnya menabarak sesuatu yang keras hingga terpental kebelakang hampir tersungkur.
"M ma maaf" desis gadis dengan suara gagap yang akan melangkahkan kaki pendeknya, namun tangan besar menghentikan langkahnya membuat gadis berkuncir seperti ekor kuda itu membalikkan tubuh.
"Man" ujar gadis yang tidak gagap lagi.
"Maaf Agil, temen Saya tidak sengaja menabrak kamu" gadis itu melotot baru menyadari bahwa yang ditabrak adalah pujaan gadis seantero sekolah ini.
"Iya enggak masalah" ujarnya dengan memasukkan telapak tangannya ke saku celana.
"Kamu kalau jalan lihat lihat, coba kalau geng sebelah tahu pasti kamu di cengin habis habisan" cecar teman gadis itu.
"Aku itu lihat ada banyak darah Man" ucap gadis itu bercerita mengenai yang dilihatnya barusan.
"Dimana ada darah banyak?" tanya teman gadis dengan melipat tangan didada.
"Di kamar mandi paling ujung" ceritanya dengan agak geli, pasalnya gadis itu 'pobhia' darah.
"Itu darah cewek PMS Den"
"Elman aku cewek jadi tahu kalau itu bukan darah PMS"
"Dena kalau bukan darah PMS darah apa coba?"
"Ah terserah deh" gadis yang bernama Dena itu meninggalkan pria yang masih berdiri menyandar tembok dengan santai.
***
Keesokan harinya berita hilangnya siswi bernama Zee menyebar, bahkan sampai luar sekolah. Orang tua Zee sudah melapor polisi bahwa putrinya sudah 2 hari tidak pulang ke rumah.
"Tapi kemarin Zee izin ada suratnya kok" ujar ketua kelas 12.
"Kamu dapat darimana suratnya gan?" tanya Elman pada teman sebangkunya.
"Di meja guru udah ada dari pagi" jawab anak yang dipanggil gan oleh Elman.
"Zee itu anaknya polos enggak mungkin Zee kabur dari rumah, tapi kemarin aku... " ucap Dena menggantung.
Dalam pembelajaran Dena berfikir 'kemarin aku lihat bolpoin kesukaan Zee di darah itu' lamunan Dena buyar karena bel istirahat.
Sudah seminggu sejak hilangnya Zee, polisi masih belum menemukan keberadaan Zee.
"Katanya Erin kelas 12 E juga hilang" bisik anak anak yang sedang menikmati makan siang di kantin sekolah.
"Apa kasus penculikan sedang marak maraknya?" tanya gadis yang diketahui namanya dari tanda pengenal, Kayla.
"Entahlah" jawab temannya yang tidak tertarik dengan pembahasan mereka.
"Kalian kalau pulang jangan sendirian bahaya" ujar tukang kantin yang masih terlihat muda dan tampan.
"Okey Mas" jawab mereka bertiga serempak.
***
Pagi hari yang cerah Dena dan kedua temannya berjalan santai menuju sekolah, setelah mereka sampai didepan gerbang sekolah Dena buru buru ke kamar mandi.
"Aku kebelet pipis, kamar mandi dulu ya" ucapnya pada dua temannya dengan lari menuju belakang.
"Mami sih kasih jus pagi pagi kebelet kan" desisnya dengan melangkahkan kaki membuka pintu keluar kamar mandi.
Dena merasakan ada sesuatu yang Ia injak, Dena mengambilnya dan menyamakan barang itu dengan yang biasa dikenakan Erin.
"Pagi pagi udah ke kamar mandi dek"
"Kaget aku Mas" ucap Dena dengan tangan kirinya memegang dada.
"Maaf maaf dek" ucap tukang kantin yang memegangi lap pel dan ember.
"Kok Mas Bimo disini?" tanya Dena penasaran.
"Kang Aceng kan lagi pulang kampung, saya yang gantiin dek. Kemarin disini nah ini ni disini ada darah banyak banget dek" ujarnya dengan menunjuk pojokan kamar mandi.
"Kemarin saya juga lihat Mas, terus yang bersihin Mas Bimo?" tanya Dena penasaran pasalnya Ia waktu itu mengajak Elman untuk melihat darah dilantai kamar mandi, namun setelah sampai di kamar mandi mereka hanya mendapati lantai yang sudah bersih.
"Iya siapa lagi, saya sampai mau pingsan dek" Dena bernapas lega ternyata dirinya tidak berhalusinasi melihat darah.
Pembicaraan mereka terhenti karena bel berbunyi.
Dena menunjukkan jepitan rambut yang sering dipakai Erin pada dua temannya.
"Nih aku tadi nemuin jepitan ini dikamar mandi, menurut kalian gimana?"
"Mungkin aja jatuh" jawab Elman.
"Ini jepitan kuat, enggak mungkin jatuh Man" sanggah Gandi.
Dena menceritakan pada dua temannya, bahwa waktu dia melihat darah memang benar bukan halusinasi.
***
Selasa sore ada berita yang menghebohkan. 'ditemukan mayat perempuan dengan 7 tusukan di area vital dan bekas cekikan di lehernya yang sudah menghitam. Mayat itu meninggal akibat kehabisan darah. '
Semua orang tidak menyangka add orang yang tega membunuh gadis kecil yang usianya belum genap 19 tahun.
"Waktu aku lihat darah itu hari rabu pagi" desis Dena sedang mengira ira apa yang terjadi pada Zee dan Erin, apakah sama dengan yang terjadi pada Kayla.
"Udah jangan mikir yang enggak enggak" sanggah Gandi pada Dena yang menurutnya terlalu jauh.
***
3 hari polisi menyelidiki kasus Kayla belum bisa menemukan pembunuhnya. Bahkan sidik jarinya tidak terlihat sama sekali. Polisi menyatakan bahwa kasus ini kemungkinan dilakukan oleh psikopat.
Sekumpulan polisi yang sedang membicarakan 2 kasus, kasus hilangnya Zee dan Erin serta kasus pembunuhan Kayla.
Tiba tiba gadis berkuncir kuda menyerobot masuk ke kumpulan polisi.
"permisi Pak, saya Almadena Lashira temennya mereka bertiga yang jadi korban" ucap Dena dengan berani.
"Iya kenapa dek Alma" ucap polisi dengan perawakan gagah dan ramah.
"Emm gini Pak Sebelum ada kabar kalau Zee hilang saya melihat darah Pak dipojokan kamar mandi Pak, tapi waktu itu Zee izin tidak masuk sekolah. Yang membuat saya kawatir di darah itu ada bolpoin kesukaan Zee Pak"
"Darah?" ucap polisi dengan nada bertanya kenapa ada darah?
"Yang jelas itu bukan darah PMS" susul Dena yang membuat Elman disebrangnya melototkan matanya.
"Iya iya Pak selidiki nanti" polisi yang muda menganggukkan kepala.
"Ini jepitan milik Erin Pak"
Polisi muda mengambil barang Erin yang di duga hilang, "cantik" desisnya pelan hanya Dena yang bisa dengar.
***
Setelah 3 hari melakukan penyelidikan, berita hilangnya anak SMA itu muncul lagi. Lagi dan lagi menggegerkan sekolah elite itu.
Ryn anak kelas 12 A, Ryn anak yang cerdas Ia selalu mendapatkan peringkat 1 dikelasnya. Ryn juga tidak pandai bergaul, Ia hanya memiliki 1 teman dikelasnya yang bernama Briana. Brianapun sudah pindah sekolah sejak 1 bulan yang lalu.
"Kalau sampai aku tahu siapa dalang dibalik ini semua aku bakalan... "
"Bakalan apa enggak usah ikut ikutan" sanggah Dena pada Elman yang sejak pagi sudah berisik.
"Katanya kemarin Briana juga hilang loh" ucap Gandi yang baru masuk dalam kelas.
"Kenapa jadi rumit sih?" tanya Elman kepada dirinya sendiri.
"Kantin yuk" ajak Dena pada 2 temannya yang diangguki oleh mereka.
Sesampainya dikantin mereka memesan makanan kesukaan masing masing.
"Ini dek pesanannya" Mas Bimo anak tukang kantin sekolah yang membawa pesanan mereka.
"Iya mas makasih"
"Mas Bimo sini dulu saya ceritain kemarin bicara sama polisi"
"Berasa kaya penyelamat ya Den" ledek Gandi pada gadis yang rambutnya sedang terurai.
Dena menceritakan tentang obrolannya dengan polisi dan bagaimana polisi itu bertindak.
***
Selasa sore Dena pulang dari tempatnya les. Dena berjalan agak cepat karena hujan deras membasahi dirinya.
"Kenapa enggak ada tempat buat neduh sih" dengusnya dengan berjalan cepat.
"Minta jemput aja deh" Dena mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari nama yang akan dihubungi.
"Kenapa enggak aktif kemana sih Elman" Dena mulai panik, sedari tadi ada yang mengawasinya buru buru Ia memanggil Gandi. Ia lupa kalau Gandi sedang ada acara keluarga, tanpa berpikir panjang Dena menelpon Agil.
Disebrang telfon pria dengan tubuh tegapnya sedang menonton drama Korea.
"Hallo siapa?" Agil bertanya karena tidak mengenali nomor yang menelponnya.
"Agil ini agil beneran" orang yang sedaritadi mengawasinya ternyata benar mengincar Dena. Dena mulai melangkahkan kakinya.
Jalanan sepi hampir tidak ada lalu lalang orang.
"Tolong agil ini Den aaaaa" terimanya dari sebrang yang membuat Agil berpikir suara itu pernah didengarnya.
'Aaaa aaa aaaa' suara jeritan yang Ia dengar di koridor sekolah, milik Almadena iya Almadena
Dilain sisi saat hujan deras Dena berusaha berdiri, orang itu mengejar Dena membuat Dena berlari tanpa melihat jalan dan kakinya masuk ke luangan. Orang itu terus mendekati Dena, Dena sengaja tidak lari karena kaki kirinya kesleo. Saat orang itu berjongkok, Dena berancang ancang untuk menendang titik kelemahan pada pria.
'Dug'
"Haaah hah aaa" jerit orang yang memakai mantel batman dan sepatu boots yang biasa dipakai untuk ke kebun.
Dena berdiri meraih ponselnya yang jatuh, namun naas layar ponselnya retak dan tidak bisa dinyalakan.
"Heii anak manis"
"Sini anak kecil"
Dena dari tadi tidak melihat wajah orang yang mengejarnya, karena rintikan hujan yang deras menutupi penglihatan Dena yang dilihatnya tidak jelas.
"Nakal kamu ya" orang itu mulai berdiri lagi dan mengejar Dena dengan sempoyongan.
"Sial, aku dimana" Dena mengitari sekelilingnya dengan pandangan bingung, baru pertama kalinya Ia kemari.
Dena berlari sebisanya, yang tersisa sekarang hanyalah pakaian yang basah kuyup. Barang yang Ia bawa tadi dijatuhkan satu persatu di jalan.
Dena melihat orang itu tersenyum di balik hujan, Dena melihat sekilas wajah yang tidak asing baginya.
Orang itu mulai mendekat meraih tangan dingin milik Dena, terlihat jelas siapa orang yang ada didepannya.
"Mas Bimo" suaranya terpekik karena ketakutan.
"Hai Dena" sapanya dengan suara menakutkan.
Bimo anak tukang kantin itu menyeret paksa Dena ke sebuah rumah yang tidak besar juga tidak kecil. Bau amis seperti darah menjalari hidung Dena.
Dena diseret untuk masuk ke ruangan luas namun lusuh, Ia melihat banyak tumpukan kain besar. Ada satu kain yang bergerak.
'Derr'
Suara dentuman pintu yang ditutup oleh Bimo dengan kasar, perlahan terdengarlah suara isakan tangis seorang gadis dari kain besar yang tadi bergetar.
Bimo berjalan menuju kain besar membukanya dengan 1 tarikan, terpampanglah seorang gadis yang dikenali Dena.
Gadis berambut sebahu dan parasnya yang cantik meskipun bagian mata ditutup dengan selendang dan bagian mulut ditutup dengan lakban.
"Brianaa" panggil Dena mendekati bangku yang diduduki gadis itu.
Dena melepaskan selendang yang mengikat mata Briana, namun tangan besar itu menahan Dena membuka ikatannya. Bimo membuka kain kain yang menutupi tubuh kaku yang sudah bau, terlihat ada 3 tubuh yang tertera.
Selendang yang tadi gagal dibuka, perlahan Dena membukanya lagi. Setelah itu dibagian mulut Ia buka dengan perlahan.
"Dena aku takut"Briana memeluk erat Dena dengan suara isakan yang hampir habis.
Dena bingung bagaimana caranya mereka bisa pergi dari tempat itu. Dena memuntahkan isi dalam perutnya karena tidak tahan dengan bau diruangan itu.
"Kenapa Mas Bimo melakukan ini semua Mas?" tanya Dena dengan wajah sayu.
"Ini sangat menyenangkan" Bimo menjawab diiringi dengan tawanya yang mengeleggar.
Bimo bangkit dari duduknya dengan membawa pisau dapur kesayangannya.
Dena tidak bisa berkutik saat pisau itu menempel pada lehernya, dan beralih pada Briana yang disampingnya.
"Karena kamu semua karena kamu" bentaknya pada Briana.
Beralih pada Dena, pisau itu dimainkan ditubuh Dena "Kamu juga salah, kamu menggagalkan rencanaku. Seharusnya kamu diam saja tidak usah berurusan dengan polisi"
Dena mengepalkan telapak tangannya hingga bikin buku jarinya berwarna putih.
"Aku kasih tahu kamu Dena, kamu pasti bingung dengan ketiga bidadari ini kenapa memakai pakaian yang cantik. Itu masih kurang 4 lagi yang harus kubunuh, semua totalnya harus 7 angka yang indah" ucapnya dengan memutari Dena yang bergetar.
"Awalnya kurang 2 tapi, Kayla dia anak aneh coba saja kalau mau ikut denganku pasti dia tidak dikubur, dia akan disini bersama temannya. Kenapa masih bisa lari padahal sudah aku tusuk gadis itu seperti sate"
"Sekarang aku hanya mencari 1 gadis lagi untuk kujadikan permaisuri hihihi, kalian berdua mau siapa dulu yang aku jadikan permaisuri" ujarnya dengan wajah yang girang.
"Aku suka sama kamu kenapa kamu tolak aku heh" bentakan yang diberikan Bimo untuk Briana.
"Andai kamu tidak menolakku di hari selasa tanggal 7 heh"
"Kenapa kamu pindah sekolah"
"CUKUPP KENAPA KAMU BUNUH SEMUA TEMEN TEMENKU KENAPA!??!!! " suara keras dari mulut mungil Briana.
"KENAPA KAMU BUNUH TEMEN BAIKKU KENAPA KAMU BUNUH RYN"
"KENAPA KAMU TAK BUNUH AKU SAJA HANYA AKU SAJA KENAPA??!! "
Bimo marah, Ia menendang dada Dena dengan keras hingga Dena terbentur tembok dan terjatuh.
"Denaaa" teriak Briana.
'Brakkk'
Suara pintu terbuka dengan tendangan keras dari seorang polisi yang gagah dan ramah kalau itu.
"Dek Almadena"
Saat nama Dena disebut, mereka yang masih diluar segera masuk dan melihat Dena yang terkapar lemah.
"Denaa" teriak Elman, Ghandi, dan orang tua Dena.
"Aku akan bunuh Briana kalau kalian mendekat" pisau dapur yang selalu diasah Bimo menempel pada leher jenjang milik Briana.
Polisi yang berbadan tegap dan ramah itu melempar batu pas mengenai jari jari Bimo membuat pisau yang menempel leher itu jatuh.
"Dorr"
Mereka para polisi membawa Bimo ke kantor polisi dan 3 mayat itu diserahkan ke keluarganya dengan dampingan polisi.
★TAMAT★