Ini adalah kisah tentang seseorang yang masih menginjak usia remaja. Namanya Nicholas Al Gibran Putra. Sebut saja Gibran. Dia bukanlah orang yang termasuk populer di lingkungan sekolah nya. Namun banyak orang yang senang berteman dengan Gibran. Karena sifatnya yang ramah ,rendah hati ,dan dia pandai membuat suasana menjadi seru. Meskipun terkadang suka muncul sifat jahilnya.
Pada suatu hari si Gibran ini terlambat datang ke sekolah nya. Dari parkiran motor ia buru-buru masuk ke dalam kelasnya. Sesampainya di kelas ia melihat Pak Guru Seno sudah mengajar mata pelajaran. Kemudian Gibran mengetuk pintu dan masuk.
"Maaf pak saya terlambat" kata Gibran.
"Kenapa kamu terlambat?! " kata Pak Seno.
"Bangun kesiangan pak" kata Gibran.
"Selalu saja bangun kesiangan yang kamu buat alasan. Saya sudah bosan mendengarnya. Sekarang kamu push up 100 kali." kata Pak Seno.
"Baik pak" kata Gibran.
Setelah push up selesai akhirnya Gibran disuruh duduk oleh Pak Seno. Kemudian Gibran duduk dibangku paling belakang bersama teman-temannya. Oh ya perkenalkan teman-teman si Gibran. Dia ada si Tomy ketua Genk yang terkenal nakal dan fakboy , kemudian ada Rafael yang tampan dan playboy dan yang terakhir ada si Dimas yang tidak terlalu banyak tingkah seperti halnya dengan yang lain. Mereka menjalin pertemanan sejak kelas 1 SMA karena kebetulan mereka selalu satu kelas. Berbeda dengan Tomy dan Rafael yang suka gonta ganti pacar , si Gibran ini belum terlalu memikirkan soal dunia percintaan. Yang dia senangi sekarang adalah dunia pertemanan yang menurutnya sangat mengasikkan. Sampai suatu hari Tomy dan Rafael merencanakan sesuatu. Mereka berniat mencomblangkan Gibran dengan Siska teman sekelasnya. Siska ini termasuk wanita yang lumayan cantik dikelasnya. Dia baik dan terkadang juga mau disuruh menuliskannya tugas milik teman laki-laki nya.
Sampai waktu dimana Rafael diam-diam mendatangi Siska dan berkata :
"Sis , ada yang suka sama kamu" kata Rafael.
"Dih , apaan sih" kata Siska.
"Beneran ,Gibran diam-diam suka sama kamu. Tapi dia masih malu buat bilang ke kamu. Katanya dia mau jadi pacar kamu. Kamu mau gak?" kata Rafael.
Mendengar perkataan itu Siska awalnya mengira Rafael lah yang suka dengan nya. Ternyata malah Gibran yang diam-diam menyukai nya. Karena Siska pikir jika itu Rafael dia jelas tidak mau karena dia tau kalau Rafael seorang playboy. Kemudian Siska bilang ke Rafael .
"Ah terserah ,kalo memang benar, biar dia saja yang bilang ke aku" kata Siska.
Akhirnya Rafael balik ke bangkunya kemudian bilang ke Gibran.
"Eh bran ,tadi gua bilang ke Siska kalo lu sebenarnya suka sama dia" kata Rafael.
Seketika Tomy dan Dimas tertawa geli dengan apa yang dikatakan Rafael.Gibran dengan nada kaget bilang ke Rafael
"Wah gila lu Raf , bener-bener parah lu becandaan nya. Gak lucu tau." kata Gibran dengan nada ketus.
Tomy yang mendengar itu kemudian bilang
"Udah gakpapa ,biar lu gak jomblo lagi. Lagian Siska juga cantik. Apa buat gua aja?!?!" kata Tomy.
Rafael billang " Eh apaan sih lu Tom ,ini jatah si Gibran , lu jangan ikut-ikut". Kemudian Gibran menjawab
" Udah ambil aja Sono" kata Gibran.
" Lu gimana sih bran , gua udah terlanjur bilang sama Siska , pokoknya lu harus tembak Siska secepatnya!!!" kata Rafael.
Keesokan harinya Gibran agak canggung saat bertemu dengan Siska. Tidak seperti biasanya yang suka menyapa teman-teman perempuan sekelasnya. Siska yang melihat gerak-gerik Gibran merasa bahwa Gibran benar-benar suka dengan dirinya. Kemudian Siska bercerita dengan Dinda teman sebangkunya.
"Tau gak , tadi pas Gibran papasan sama aku , dia kelihatan agak aneh. Kayaknya bener dia suka sama aku cuma masih malu buat bilang." kata Siska.
"Emang kamu juga suka sama dia?" tanya Dinda.
"Ya dia ganteng sih , orang nya juga seru. Kalo dia nembak aku ya jelas mau lah" kata Siska.
"Cieee , sama-sama naksir nih yaaa" ejek Dinda.
"Ssstt jangan kenceng-kenceng , ini rahasia kita berdua" kata Siska.
"Tenang kalo sama Dinda, aman deh pokoknya" kata Dinda.
Disisi lain Gibran dan teman-teman nya sedang menjahili Lisa , cewek paling cantik dikelas itu. Selain cantik Lisa juga termasuk anak yang pandai. Meskipun begitu Siska juga tak kalah cantik dengan Lisa. Bahkan mereka berdua lah yang sering berebut peringkat 1 dikelasnya soal mata pelajaran. Gibran dan teman-teman nya ini memang suka menjahili teman perempuan di kelasnya. Terkadang teman perempuan mereka dibuat menangis atas kejahilan mereka. Emang anak bandel yang kelewatan sih mereka. Sampai pas mereka bermain dengan buku Lisa , si Tomy melempar buku itu ke arah Siska dan menyuruh Gibran mengambil buku itu. Dengan sedikit rasa malu Gibran mengambil buku itu kemudian pergi begitu saja. Dinda yang melihat kejadian itu berbisik ke Siska.
"Cieee ,disamperin pangeran nya ,cieee" kata Dinda ke Siska.
"Apaan sih , orang dia aja lagi main tuh sama Lisa.Lihat sendiri kan?!?!" kata Siska
"Ada yang cemburu nih" kata Dinda.
"Ngapain cemburu ? ,gak ada untungnya" kata Siska.
Gibran yang sedang sibuk menjahili Lisa terkadang mencuri-curi pandang ke arah Siska. Gibran beranggapan bahwa Siska ternyata cantik juga. Belum cukup sampai di situ , Gibran juga berinisiatif untuk bergantian untuk menjahili Siska. Dia dengan sengaja melempar buku Lisa ke arah Siska . Dan apa yang terjadi diluar dugaan. Buku itu tepat melayang ke arah Siska namun malah terkena wajahnya dan sempat menyerempet mata Siska. Hingga akhirnya Siska menangis tersedu-sedu. Melihat itu kemudian Gibran menghampiri Siska dan minta maaf. Dia berusaha untuk menenangkan Siska sebisa mungkin. Akan tetapi Siska terus saja menangis sambil memeluk Dinda. Dinda yang mengetahui itu marah-marah ke Gibran. Gibran benar-benar tidak bermaksud untuk membuat Siska menangis . Dan Gibran juga menyesal telah berbuat jahil seperti tadi.
Akhirnya sebagai permintaan maaf Gibran ke Siska nanti sepulang sekolah Gibran mau mengantarkan nya pulang.
"Maaf Sis , tadi gak sengaja. Kamu gapapa kan?" kata Gibran.
(Siska masih saja menangis kecil sambil memeluk Dinda)
"Sebagai permintaan maaf gua , nanti pulang sekolah gua anterin deh , tapi maafin ya" kata Gibran.
Mendengar perkataan itu tangisan Siska lama-kelamaan semakin reda. Dan Dinda berkata kepada Siska.
"Udah jangan nangis lagi , tuh nanti mau dianter pulang sama Gibran." kata Dinda.
Siska yang mendengar itu menggelengkan kepala di dalam pelukan Dinda. Kemudian Dinda bilang ke Gibran untuk meninggalkan nya terlebih dahulu.
Dalam hati Siska masih ragu untuk diantar pulang oleh Gibran. Lagipula dia juga tidak pernah diantar atau dibonceng oleh cowok. Karena dia terbiasa naik angkutan umum bersama teman-temannya.
Gibran kembali lagi bersama teman-temannya dan menyudahi permainan itu. Mereka berempat Tomy ,Rafael , Dimas dan Gibran akhirnya duduk dibangku mereka masing-masing. Dan memilih untuk duduk sambil bercerita sampai mata pelajaran usai.
Waktu pulang sekolah pun telah tiba. Gibran yang tadi sudah berjanji untuk mengantar Siska pulang sudah siap dengan motor kesayangannya. Tak lupa juga dia sudah menyiapkan helm untuk Siska. Yang ia pinjam tadi sama teman satu parkiran nya. Dan Gibran bilang tidak bisa nongkrong dulu sama teman-temannya karena mau mengantar Siska pulang. Dan akhirnya Gibran mendatangi Siska sambil menawarkan nya tumpangan.
"Ayo naik ,aku anterin pulang" kata Gibran ke Siska.
"Gak ah , aku naik angkot aja sama temen-temen" kata Siska.
Kemudian Dinda menyerobot perkataan Siska.
"Udah sana , dia niatnya baik . Kasian Gibran udah bawain helm tuh buat kamu." kata Dinda.
"Tapi kan aku mau pulang sama kamu Din , nanti kamu gak temen lagi." ucap Siska pada Dinda.
"Udah tenang aja ,kan ini masih banyak temen-temen yang lain juga." kata Dinda.
Kemudian Gibran bilang ,
"Nih pake helmnya buruan ,biar aku anter pulang. Aman kok sama aku." kata Gibran.
Dengan berat hati Siska menerima ajakan Gibran.
Dan Dinda bilang ke Gibran titip temannya Siska . Awas kalo sampai kenapa-napa . Dan Gibran meng iyakan ucapan Dinda.
Dalam perjalanan Siska agak canggung dengan Gibran. Siska masih saja berpikir bahwa ini aneh . Dia sebenarnya juga senang bisa diantar pulang oleh Gibran. Namun disisi lain Siska juga tidak tau bagaimana respon orang tua nya ketika melihat Siska pulang diantar oleh seorang laki-laki.
Dalam perjalanan tersebut Gibran meminta maaf lagi ke Siska bahwa tadi sudah melempar buku dan tidak sengaja terkena matanya. Dan Siska mengiyakan.
"Maaf ya soal yang tadi ,gak sengaja malah kena mata kamu" kata Gibran.
"Iya " kata Siska.
"Apa perlu aku anter ke rumah sakit?" tanya Gibran.
"Gak usah . Udah sembuh kok" kata Siska.
"Beneran udah sembuh? Tapi tadi di kelas aku lihat kamu kayak masih nangis terus" ledek Gibran.
"Apaan sih , orang aku tadi pura-pura doang. Perih tau" ucap Siska.
"Tapi tadi nangis beneran kan?" kata Gibran.
"Bisa diem gak?" kata Siska.
Saat perjalanan Gibran terus menggoda dan meledek Siska. Mereka berdua ngobrol banyak hal sambil terkadang dihiasi dengan tawa kecil dari mereka. Mereka sangat menikmati sekali obrolan mereka. Seperti jalanan itu milik mereka berdua saja. Hingga tiba di depan rumah Siska.
Siska mengucapkan terima kasih dan mengajak Gibran untuk mampir ke rumah nya dulu. Tapi Gibran menolak dan beralasan mau ada urusan. Kemudian Gibran pulang ke rumahnya.
Dari situ Gibran jadi sering mengantar Siska untuk pulang. Sampai orang tua Siska mengetahui nya . Respon dari orang tua Siska biasa saja . Malahan ibu Siska dengan nada ketus bilang ke Siska.
"Dia siapa? Pacar kamu?Kok gak disuruh mampir dulu sih . Udah dianterin pulang kok dibiarin gitu aja. Gak baik banget." ucap ibunya Siska.
" Itu Gibran buk ,teman sekelas aku. Udah aku suruh buat mampir. Tapi dianya gak pernah mau." kata Siska.
" Yaudah sana ganti baju terus nanti bantuin ibu masak." kata ibunya Siska
"Iya buk" kata Siska.
Hari demi hari terus berlanjut. Sudah tidak ada lagi rasa canggung diantara Gibran dan Siska. Dan tiba dimana Gibran berencana untuk mengungkapkan perasaan nya selama ini kepada Siska. Bahwa Gibran jatuh cinta pada Siska. Dan Gibran juga tau kalo seperti nya Siska juga memiliki perasaan yang sama dengan nya.
Seperti biasa Gibran mengantar pulang Siska seusai sekolah . Didalam perjalanan Gibran mengajak Siska untuk nanti sore pergi bermain dengannya. Siska menjawab nanti tanya dulu sama ibunya. Setelah sampai di depan rumah Siska, kebetulan ibunya didepan rumah Siska. Dan Siska meminta ijin kepada ibunya untuk nanti sore bermain dengan Gibran. Dan ibunya memperbolehkan nya.
Ibunya Siska menyapa Gibran dan menyuruhnya untuk mampir terlebih dahulu.
"Eh nak Gibran , mampir dulu sini" kata ibunya Siska.
"Iya buk makasih . Oh ya rencana nanti saya mau ajak Siska main. Boleh kan?" kata Gibran.
"Iya silahkan , jangan di nakalin loh ya " kata ibunya Siska.
"Iya buk . Saya mau pamit pulang dulu buk." kata Gibran.
"Iya nak . Hati-hati di jalan." kata ibunya Siska.
Sore pun tiba . Pukul 4 sore Gibran sampai di depan rumah Siska. Dan Siska ternyata sudah menunggu Gibran di depan gerbang rumahnya. Mereka pun pergi jalan-jalan.
Setelah merasa lelah setelah berjalan-jalan. Gibran mengajak untuk mampir makan dulu. Setelah pesanan makanan sampai , akhirnya mereka berdua makan sambil ngobrol. Dan ditengah obrolan mereka Gibran ngomong.
"Eh Sis ,gua mau ngomong sesuatu nih" kata Gibran.
"Ngomong aja,mau ngomong apa emang?" kata Siska.
"Emm sebenarnya aku udah lama suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?" kata Gibran.
"Iya aku mau. Selama ini aku juga suka kok sama kamu. Dan aku juga udah tau sejak lama kalo kamu suka sama aku." kata Siska.
"Loh kok kamu tau kalo aku suka sama kamu???" kata Gibran.
"Rafael yang bilang ke aku waktu itu" kata Siska.
Gibran jadi teringat waktu Rafael bilang ke Siska kalo Gibran suka sama Siska waktu itu. Meskipun sebenarnya waktu itu Gibran belum memiliki perasaan apapun terhadap Siska. Dan Gibran bersikap seolah biasa saja setelah percakapan mereka selesai.
Akhirnya Gibran dan Siska resmi berpacaran . Teman sekelas mereka pun tau akan hal itu. Tomy dan Rafael berhasil menjalankan rencana mereka . Sekarang tinggal kurang si Dimas yang belum memiliki pacar. Dan meskipun Gibran sudah memiliki pacar ,dia tidak lupa akan tongkrongannya. Justru malah teman-temannya gembira dan mendukung Gibran berpacaran dengan Siska.
Disinilah Gibran benar-benar merasa senang. Gibran yang dulunya tidak terlalu memperdulikan soal apa itu cinta terhadap lawan jenis. Jadi tau bahwa hal itu sangat menyenangkan . Karena dulu dia beranggapan bahwa hal seperti itu pasti hanya akan menjemukan begitu saja.
Dia juga berencana untuk membantu Tomy dan Rafael mencari kan pacar untuk Dimas. Agar mereka bisa bermain bersama dan mengajak pasangan nya masing-masing.
~Selesai~