Prank !!!!!
Guci itu terlempar ke dinding tepat di belakangku. Untungnya aku menundukkan kepala jika tidak maka Pasti kepalaku yang akan pecah.
"Kamu udah gila ya?"
"Iya aku gila. Kenapa kamu pergi sama dia, aku benci kamu, kita gak bisa sahabatan lagi".
"Kamu suka sama aku kan?"
Wanita yang hampir melempariku dengan guci tadi hanya menatapku sambil menangis.
"Iya, Dasar Arya bodoh gak peka, mati kamu sana". Tidak cukup dengan guci sekarang dia mulai melempariku dengan sepatu yang di pakainya.
"Hei hentikan, dengarkan dulu penjelasanku". Bukannya mendengarkan penjelasanku dia malah pergi dengan membanting pintu rumah. Aku mengikutinya hingga kami tiba di sebuah taman. Dan dia duduk di kursi taman dengan tangis sesegukannya. Ahh sial aku membuatnya separah ini.
Aku mengingat beberapa kejadian yang telah lewat, kejadian itu di mulai sekitar 2 bulan yang lalu.
"Anna….. Annaaaaa". Aku berteriak cukup keras untuk memanggilnya keluar rumah.
Seorang wanita yang mengikat rambutnya dan memakai Sweater Hitam pun keluar.
"Loh Ardi, kamu koq teriak teriak?"
"Udah telat tante, maaf ya"
"Yaudah ma aku pergi dulu ya, ini udah hampir tutup gerbang sekolah"
"Yaudah hati-hati ya An, suruh Arya jangan ngebut-ngebut"
"Iya ma"
Wanita itu adalah temanku Namanya Anna dan dia barusan habis pamitan sma ibunya, kami akan berangkat sekolah bareng. Ahh, iya Namaku Arya dwi Prasetya dan temanku Anna AnasDya Ningrum. Kami adalah tetangga, rumahnya tidak jauh dari rumahku dan kami pun sekolah di tempat yang sama. Aku dan Anna pun berangkat dan pulang sekolah bersama-sama hampir setiap hari.
"Arya, aku dapat sms dari Mia katanya di kelas 11 Ips 2 kita ada ank baru."
"Ehm, cewek apa cowok? ".
"Emang kalo cewek kamu mau apa hah".
Nyeri di pinggang membuat ku berteriak.
"Ehh, Aku lagi bawa motor ni, entar kalo kita jatuh gimana, kira-kira lah kalau mau nyubit".
"Habis kamu genit sih"
"Kamu cemburu ya cie cie"
"Enak aja, aku cuma gak mau tukang antar jemput ku di ambil orang lain".
"Sama aja kan heheh… eehh ehh iya iya gak ngeledek lagi aduh sakit nih''.
Kembali anak mencubit pinggangku.
Tak lama kami pun tiba di sekolah, Aku dan Anna duduk sebangku. Mia di depan kami duduk sendirian karena teman sebangkunya pindah. Hiks kasian juga. Tapi itu tidak berlangsung lama karena di samping Mia telah duduk murid baru di kelas kami. Ahh namanya Sinta Berliana, cantik, anggun, rambut hitam panjang dan berkulit putih. Ya Mata Teman sekelasku khususnya para cowok cowok serasa akan meloncat dari tempatnya karena melihat perempuan cantik. Kami pun berteman dengan baik.
Terkadang aku sering mengganggu Sinta untuk melihat tatapan Galak dari Anna, terkadang jika aku sedikit keterlaluan menganggu Sinta, Dia akan memukul Tanganku, memegang paha atau tanganku dengan keras. Entah kenapa aku suka melihat Reaksinya, hingga sesuatu yang tak terduga terjadi saat itu aku sedang latihan basket.
"Arya….. " Aku mendengar teriakan seorang cewek yang ternyata itu Sinta.
"Ehh bentar ya bro kayaknya ad yg perlu ni ma gue". Aku pun meninggalkan teman-temanku tentu dengan ejekan hehehe like this "cie pacarny ya", "pj woii", "wahh mau kena tendangan anna ni kayaknya bocah" dll.
"Iya sinta ada apa?"
"Aku mau ngomong sesuatu tapi bisa gak kita ketempat yang gak terlalu ramai".
Aku gak tau apa yang mau dia omongkan dan hanya mengikutinya hingga ketempat yang lebih sepi, sementara itu aku gak menyadari kalau aku di ikuti oleh seseorang (siapa lagi kalau bukan Anna)
"Ehh, Sinta langsung aja ya sebenarnya Sinta suka sama Arya. Sinta tau karena Arya sering gangguin Sinta, pasti Arya juga merasakan hal yang sama kan?"
"Sinta, ini sepertinya…. "
Tanpa aku duga Sinta memelukku, Aku terkejut karena Sinta lebih agresif dari yang aku duga, aku menyesal pernah menganggunya. Tapi dari pada itu aku lebih ketakutan saat melihat seseorang tidak jauh dari tempatku berada. Anna.
Sial sejak kapan Dia Ada disini. Dan di lihat dari tatapannya seakan dia akan membunuhku.
Aku yakin dia akan menghampiriku tapi Tidak, dia malah pergi membawa wajahnya yang kesal.
Aku melepaskan pelukan Sinta dan memegang bahu Sinta dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf Sinta, kamu salah paham, aku tidak menyukaimu. Aku Sudah menyukai orang lain sejak lama, dan sekarang aku melukai hatinya. Aku minta maaf Sinta".
"Jadi selama ini kamu ganggu aku buat apa".
Aku tidak menjawab, Sinta mulai mengerti dan mendapat jawabannya sendiri.
"Anna kan? ".
Aku mengangguk tanda persetujuan atas pertanyaannya. Dan dengan wajah yang ceria nya berubah jadi datar dan lebih masam dia mengatakan "Maaf jika itu menganggu hubungan kalian". Sinta langsung pergi dari hadapanku. Tidak membiarkan waktu bergulir lebih cepat aku pun segera menyusul Anna.
Dikelas Anna hanya Diam, bahkan setelah pelajaran selesai dan kami akan pulang. "Hari ini aku pulang di jemput Mama, untuk seterusnya kamu gak perlu antar jemput aku lagi".
Sejak saat itu hubungan kami jadi renggang setiap aku mau jemput atau mengantarnya pulang dia selalu menolak. Aku sudah berkali kali menjelaskan kalau aku tidak ada hubungan apapun dengan Sinta. Tapi entah kenapa jadi serumit ini.
Dan terkadang Sinta masih sering bicara denganku seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumny bahkan terkadang dia bicara hal yang tidak aku mengerti seperti ini :
"Arya mau antar Sinta beli buku kan? "
Atau "Hari ini Mau antar Sinta pulang lagi gak?"
Aku hanya menggelengkan kepalaku atau terkadang aku jawab tidak, sementara ada Anna di sebelahku.
Semakin lama hubungan kami semakin renggang dan ini sudah berjalan sebulan.
Akhirnya karena aku tidak tahan lagi, aku datang kerumah Anna untuk menemuinya. Aku berpapasan dengan ibunya yang akan pergi dengan mobilnya. "Arya kamu temenin Anna ya kayaknya dia agak berubah deh, jadi lebih diem kamu juga udah gak pernah antar Anna, kalau ada masalah segera di selesaikan ya". "Iya tante". Ibu Anna pun langsung melajukan mobilnya.
Karena Pintu Rumah memang aku langsung masuk dan memanggil Anna Untuk keluar, tapi bukan keramahan yang aku dapat malah lemparan yang aku dapatkan.
Prank !!!!!
Guci itu terlempar ke dinding tepat di belakangku. Untungnya aku menundukkan kepala jika tidak maka Pasti kepalaku yang akan pecah.
"Kamu udah gila ya?"
"Iya aku gila. Kenapa kamu pergi sama dia, aku benci kamu, kita gak bisa sahabatan lagi".
"Kamu suka sama aku kan?"
Wanita yang hampir melempariku dengan guci tadi hanya menatapku sambil menangis.
"Iya, Dasar Arya bodoh gak peka, mati kamu sana". Tidak cukup dengan guci sekarang dia mulai melempariku dengan sepatu yang di pakainya.
"Hei hentikan, dengarkan dulu penjelasanku". Bukannya mendengarkan penjelasanku dia malah pergi dengan membanting pintu rumah. Aku mengikutinya hingga kami tiba di sebuah taman. Dan dia duduk di kursi taman dengan tangis sesegukannya.
Aku duduk di sebelah Anna dan langsung memeluknya. Awalnya dia melawan, tapi kemudian dia menjadi lebih tenang.
Aku angkat dagunya dan mata kami bertemu, wajahnya sembab, matanya bengkak, dan bawah matanya menghitam. Aku yakin dia banyak menangis. Aku tertegun sebentar untuk seorang Anna bisa menangis separah ini.
"Kenapa kamu menangis seperti ini?"
"Ini semua kan karena kamu"
"Hah, Anna kamu pasti salah paham, Aku gak suka Sinta". Aku menyerahkan Rekaman yang ada di hp ku pada Anna.
"Ehh, Sinta langsung aja ya sebenarnya Sinta suka sama Arya. Sinta tau karena Arya sering gangguin Sinta, pasti Arya juga merasakan hal yang sama kan?"
"Sinta, ini sepertinya…. "
(Terdiam lama)
"Maaf Sinta, kamu salah paham, aku tidak menyukaimu. Aku Sudah menyukai orang lain sejak lama, dan sekarang aku melukai hatinya. Aku minta maaf Sinta".
"Jadi selama ini kamu ganggu aku buat apa".
"Jadi siapa yang kamu suka?"
Aku tersenyum dan mengambil hadiah yang kusiapkan untuk Anna. Yah, sebuah Gelang bertuliskan Anna&AryaForever
Aku memasangkan Gelang di tangan kanannya kemudian menggenggam tangannya.
"Aku sudah menyiapkan ini sejak lama dan ingin memberikannya pada waktu yang tepat". Kemudian aku mencium keningnya.
"Untuk orang yang paling aku cinta dan aku sayangi sepanjang hidupku".
Aku melihat wajah Anna kembali cerah dan senyumnya yang indah itu kembali. Aku bahagia dan memeluknya kembali.
Tapi itu tidak berlangsung lama dia kemudian mencubit pinggangku dan memukulku, karena membuatnya cemburu.
Akhirnya dia kembali menjadi Annaku yang ceria. Aku mencintai Anna. Forever.
End