Menjadi seorang manusia tak luput dari kata butuh. Semua orang selalu mengatakan bahwa dia sedang membutuhkannya. Jika tidak butuh dia tidak akan memaksakan diri bangun dari tidur lebih pagi atau memaksakan diri bekerja dengan lebih keras. Butuh kata yang lebih dalam daripada kebutuhan itu sendiri.
Bulan ini, Suami memberiku gaji sebesar satu juta lima ratus ribu. Sebagian orang mengatakan jumlah itu besar, cukup untuk makan dan kebutuhan selama sebulan bahkan ada yang mengatakan mampu menabung sedikit.
Bagi ku itu kurang. Di pertengahan bulan uang itu lenyap entah kemana. Aku tinggal bersama kedua putri dan ibu ku. Ditinggalkan bekerja selama 27 hari oleh Suami yang bekerja jauh di luar kota. Dia pulang selama 3 hari dalam sebulan. Kadang tak pulang jika ada satu hal lain yang memaksanya tak pulang.
Uang sebanyak apapun yang aku miliki selalu habis, Suami mungkin semakin bosan mendengar ku meminta uang tambahan di pertengahan bulan. Hingga akhirnya aku punya ide untuk usaha sendiri.
Aku meminjam uang dari orang Medan yang biasa menagih hutang pada ibu ku dulu. Orang-orang menyebutnya Batak, profesional menyebutnya rentenir. Aku menyebutnya Dewi uang. Hehe..!
Dia memberiku pinjaman sebesar 200ribu yang harus ku bayar setiap minggunya 30ribu sebanyak 8 kali. Aku menggunakannya untuk memulai sebuah usaha menitipkan makanan kemasan ke warung-warung terdekat.
Awal yang baik, semua warung yang ku titipkan makanan ku, laku dan habis tak sampai seminggu. Aku mulai merasa ini akan jadi usaha ku untuk menambah penghasilan dan tak mengemis lagi pada Suami di pertengahan bulan.
Senyum tersungging di bibir ku merasa semua akan berjalan dengan lancar.
Aku meminjam uang tanpa persetujuan Suami. Perasaan bersalah pasti ada namun tertutupi saat ingat dia tak pernah peduli jika uang yang dia beri kurang atau tidak.
Ingin rasanya aku tulis list pembayaran yang harus ku bayar menggunakan uang yang dia beri. Namun aku tak ingin bertengkar dengannya saat dia pulang dalam waktu yang singkat.
Kalau ada kesempatan, mungkin akan ku katakan semuanya.
"Sayang! Uang mu ku pakai bayar cicilan rumah kita yang nun jauh di sana sebesar 500ribu. Aku juga membayar cicilan motor yang kau kredit sebesar 450ribu. Kau juga jangan lupa, kasur yang kita pakai buat berhubungan badan pun belum lunas sebesar 330ribu. Sisa nya ku pakai KB dan makan untukku, anak-anak dan ibu ku. Terimakasih sayang, kau sudah memberi banyak kepusingan untukku, Hahaha!"
Aku hanya bisa berlatih mengucapkan semua itu di depan kaca setelah mandi sehabis merapikan rumah. Hufffhhhh kepada siapa Istri harus menceritakan isi hatinya. Diary sudah tak jaman, bicara sendiri lama kelamaan bisa gila. Sosial media hanya menjadi alat meretakkan rumah tangga.
Akhirnya aku diam dan menjalani semuanya dengan berjalan perlahan.
Awal ku pinjam uang 200ribu, ku lunasi dan ku pinjam lagi. Ya, usaha ku lancar. Warung tempat titipan ku bertambah. Suami tak dengar lagi aku mengemis di tengah bulan. Dia malah senang dan semakin buncit perutnya.
Kini pinjaman ku sudah mencapai 1juta, dengan pembayaran 150ribu perminggu. Wah....taraf hutang ku meningkat, menandakan penghasilan ku selain gaji Suami juga meningkat. Ada beberapa orang yang bilang semakin dia terlihat kaya semakin banyak juga hutangnya. Hehe....itu juga terjadi padaku. Aku menghasilkan uang lebih banyak namun hutang ku pun mengimbanginya.
Roda berputar, tak selamanya waktu dan keadaan berpihak pada ku. Ada waktu dimana aku kehilangan pelanggan dan makanan ku tak laku. Modal harus terus ada, Dewi uang ku pun tetap menagih tak mau tahu. Sekali dua kali alasan tak bisa bayar, itu masih dimaklumi. Namun jika hingga berkali-kali Dewi uang pun murka. Akhirnya aku putuskan untuk mengatakannya pada Suami.
Suami menggelengkan kepalanya, sesekali menepuk jidatnya. Dia bilang,
"Ku kira, kau berhasil karena menyisihkan uang dari gaji yang ku beri Sayang!" ucapnya dengan sabar.
Tapi yang ku dengar hanya bahwa dia sedang mengejekku.
Meski begitu, dia membayarkan sisa hutang ku. Dia baik sekali, beruntung aku memiliki Suami yang penyabar.
Semua hutang lunas, gaji Suami utuh. Tapi aku mulai menyekolahkan anak sulung ku di TK. Uang pendaftaran, pakaian, tas dan buku juga uang jajan nya diambil dari uang yang diberi Suami.
Situasi itu datang lagi. Uang nya tak cukup, kurang lagi di pertengahan bulan. Aku sudah kapok takkan meminjam lagi. Ku putuskan menghubungi Suami dan mengemis lagi. Kadang dengan berderai air mata, kadang dengan ancaman kata cerai.
Huffhhhh apapun itu, bagaimanapun caranya dia tak pernah memberikannya karena mungkin memang tak ada. Aku memutar otak kembali. Bukan dengan memutarkan kepala ku, itu sangat berbahaya.
Godaan itu datang lagi, pelanggan ku mulai menanyakan lagi makanan yang ku buat dan memesan. Tapi aku sama sekali tak punya uang untuk membeli bahan. Dewi uang lewat di depanku saat aku melamun. Dia sedang menagih hutang ke tetangga ku. Aku pura-pura tak melihatnya, strategi agar dia menanyakan apa yang sedang ku lakukan.
Akhirnya berhasil, dia menghampiri dan bertanya.
"Teteh sedang apa? Kok lesu begitu!" tanya Dewi uang.
"Bingung Tante, banyak yang pesen tapi ga punya uang buat modal. Pusing!" ucap ku lesu.
"Kan ada suaminya!" ucapnya.
"Mana ada uang Tante, dia cuma supir pribadi. Gaji ya gaji saja" keluh ku memasang wajah lesu.
"Teteh butuh berapa gitu?" tanya Dewi uang.
#jackpot, berhasil# pikir ku.
"Modal bikin itu cuma 200ribu" ucap ku acuh.
"Aku pinjemin lagi, tapi bayar nya yang bener ya Teteh, jangan kayak yang terakhir!" ucapnya mengingatkan.
"Ya...kalo masih percaya ya saya terima Tante" ucap ku jual mahal.
Akhirnya dimulai lagi, aku meminjam uang.
Ku modal kan lagi, semua berjalan lancar lagi. Kali ini aku menjualnya ke orang tua murid di TK anak. Ada yang sampai memesan berpuluh-puluh bungkus. Ah senang nya! Produksi ku bertambah, warung yang ku titipkan bertambah lagi. Dan lagi-lagi hutang ku ke Dewi uang juga bertambah.
Oh ya, selain kehidupan rumah tangga ku aku juga menanggung sebagian hutang yang ibu ku pinjam dari Bank kecil dengan jaminan sertifikat rumah. Hanya saja, ibu punya sifat tak mau telat bayar hutang. Hutang yang hanya tinggal 8 juta menjadi bebannya setelah aku memutuskan untuk sibuk dengan usaha ku sendiri.
Dia memutuskan menjual rumah dan pindah ke daerah lain. Fix, ibu tak punya hutang. Rumahnya menjadi lebih kecil dan punya 2 buah kontrakan. Dia pintar soal mengelola uang, pengalaman nya tak bisa diragukan lagi. Hanya saja dia sakit-sakitan hingga aku merasa tak bisa meninggalkan nya.
Aku yang awalnya akan pindah ke rumah ku di tempat yang lumayan jauh, mengurungkan niatku dan tetap tinggal bersama ibu. Pikir ku, aku akan mengabdikan diri di sisa umur nya. Lain hal dengan Suami, dia menganggap aku pembohong dan tak bisa menepati janji untuk pindah dan berumah tangga sendiri.
Pandangan nya terhadapku menjadi kebencian, terlebih uang pemberian ibuku hasil jual rumah ku bayarkan semua pada hutang ku. Dia semakin geram merasa tak dianggap.
Kekesalan nya dia lampiaskan dengan main kembali dengan reunian sekolahnya. Sayang nya dia bertemu dengan wanita yang dianggapnya sebagai panutan wanita yang baik untuk dijadikan istri. Wanita yang memiliki suami dan 3 anak. Baginya dia sempurna, tak ada hutang dan hidup seadanya serta menurut pada suami.
Curhatannya pada wanita itu mengena dan mendapat jawaban yang dia inginkan. Hubungan yang sudah terjalin sejak dulu semakin melekat saat dia mencurahkan keluh kesahnya dan membandingkan ku dengannya.
Lalu, aku yang mengetahui hubungan mereka sudah tak merasa heran karena dulu juga dia melakukan hal yang sama padaku. Menceritakan kejelekan istrinya dan menginginkan ku yang saat itu dimatanya sangat sempurna. Aku hanya menyunggingkan senyum ketir dan menyembunyikan tangis dalam dada.
Aku meminta cerai darinya, kalimat yang sudah sering kali ku ucap saat dia tak mendengar dan mengirimkan uang di pertengahan bulan