Namaku Dinda umurku 28 tahun aku sudah menikah dan mempunyai suami namanya adalah Krisna dia adalah suami yang paling berharga dan paling aku sayangi, bahkan sekarang aku sedang hamil. Usia kehamilanku sekarang memasuki 3 bulan, kini aku tengah mengendarai mobil untuk pulang ke kampungku saat malam hari suamiku tak bisa menemaniku karena pekerjaannya yang terus menumpuk. Setelah melewati jalan raya yang penuh akan kenderaan ramai sekarang aku telah memasuki jalanan desa yang sepi dan minim penerangan di kampungku penerangannya hanya berupa lentera yang di pasang di sepanjang jalan.
Biiipp biiipp
Handphone ku berdering ternyata ibu menelponku pasti ia khawatir karena aku berangkat kemari saat malam hari terlebih lagi aku berangkat sendiri.
"Halo bu? Ada apa?"
"Dinda? Kamu sudah sampai?"
"Bentar lagi kok bu"
"Hati hati di jalan ya ingat kamu masih hamil muda jaga baik baik kandunganmu ya"
"Iya bu, Dinda tahu"
"Ya sudah ibu hanya mengingatkan saja"
"Iya bu, Dinda tutup ya telefonnya?"
"Iya, hati hati ya"
"Iya bu"
Tuuutt
Setelah aku menutup telfon dari ibu, akhirnya aku sampai di pertigaan dan langsung mengambil jalan yang di kanan, tak berselang lama akupun sampai di kediamanku, hingga.
"Ya ampun!! Darah apa ini?! Darimana asalnya?! Ibu!!" Seruku, tapi tak ada satu orangpun yang menjawab seruanku.
Aku langsung berkeliling rumah membuka semua pintu yang ada, namun aku tak menjumpai seorangpun di dalam akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti jejak darah itu dengan penuh kehati hatian aku mengikutinya hingga aku sampai di halaman belakang dan melihat ibuku yang tergeletak bersimbah darah.
"Astaga tuhan! Ibu! Ibu, bangun ibu! Ibu ini Kirana, bu! Ayo bangun bu!" Seruku seraya menggoncang tubuh ibu
"Dinda....."
"Ibu! Terima kasih tuhan"
"Dinda.... kamu... harus pergi.... darisini nak"
"Apa? Ta-tapi kenapa bu?"
"Dia..... dia.... sudah datang.... dan kini uhuk tengah mencari uhuk uhuk bayi untuk.... di tumbalkan"
"Dia? Dia siapa bu?! Ibu!"
"Ambil.... keris serta buku... diatas meja yang ada.... di kamar ibu... cepat nak"
"Ta-tapi bu"
"Jangan habiskan.... waktumu Kirana"
Aaauuuooo!!
"Ah lolongan itu! Cepat Dinda cepat uhuk jangan pikirkan uhuk ibu!"
Aku langsung berlari kecil menuju kamar ibu dan langsung masuk lalu menutup pintu kamar tersebut aku berjalan cepat ke arah meja dan aku mendapatkan apa yang aku cari keris dan buku tua milik ibu aku mengambil keris itu lalu membuka dan membaca isi buku tersebut.
Kekuatan hitam itu akan terus ada dia pasti akan mendatangi kita, namun kita tak perlu takut karena Tuhan terus bersama kita dan pasti melindungi kita ia juga memberi kita sebuah anugerah yang tak bisa semua orang mendapatkannya di keluarga ini kita di warisi kekuatan yang mampu melawan kekuatan hitam itu, kita memiliki kekuatan putih yang berasal dari kekuatan suci Tuhan yang di berikan pada kita!! Gunakanlah untuk kebajikan jangan pernah menyalahgunakan kekuatan ini cucu cucuku
Setelah membaca tulisan itu aku melihat ke arah bawah buku itu dan mendapati nama nama cabang keluargaku ada empat nama yang di beri warna kuning dan namaku juga ada disana dan di beri warna kuning.
"Apa ini? Apa.... ini artinya.... aku punya kekuatan untuk melawannya?" Tanyaku pada diri sendiri
Ambil keris pusaka peninggalanku lalu pergilah! Cari dia! Dia sedang duduk di bawah pohon tempatnya berada di antara kematian dan kehidupan, jangan menyerang rupanya yang menyeramkan, tetapi seranglah tubuh aslinya! Tusuk lehernya dengan keris itu! Kalian harus menyelesaikannya sebelum semuanya terlambat
Aku menaruh buku tua itu dan langsung berjalan cepat ke arah pintu, namun sebelum aku keluar aku melihat ada sebuah braja (bola api) yang begutu terang tak lama braja itu lenyap dan aku langsung keluar dari rumah lewat halaman belakang dan mencari tempat sosok itu.
'Di antara kematian dan kehidupan'
"Apa jangan jangan di setra?!"
Ya, Setra adalah tempat pemakaman sementara bagi umat Hindu untuk menunggu waktu yang tepat dalam melaksanakan upacara pembakaran mayat (Ngaben). Aku berlari kecil menuju arah utara karena disanalah tempat setra itu dan juga itu adalah satu satunya setra yang ada di kampungku, setelah itu aku mendengar sebuah tawa jahat.
"Bwahahaha!!"
"Tawanya sungguh mengerikan, sepertinya ia di dekat sini aku harus sembunyi"
Ada sebuah gundukan tanah di depan sana akupun bersembunyi lalu sosok itu datang tepat di sampingku, aku hampir pingsan melihat sosok itu. Wajahnya yang seperti babi hutan, lidahnya yang sangat panjang hingga hampir menyentuh tanah, jangan lupakan organ organ tubuhnya yang merah karena darah melayang bersama wajah itu. Aku tak tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi disini, aku berharap ini hanya mimpi buruk lalu aku terbangun dan mendapati aku berkumpul bersama keluargaku ibu, ayah, suamiku, dan adikku.
Hingga sosok itu kembali hilang dalam gelapnya malam aku keluar dari gundukan tanah itu dan kembali berlari menuju setra dan akhirnya aku sampai di depan gapura Pura yang begitu besar.
"Bwahahaha!!!"
Tawa jahat itu terdengar lagi aku langsung masuk kesana, tapi entah darimana tiba tiba muncul sebuah kobaran api besar yang menghalangi pintu masuk Pura itu dan saat aku menoleh ke belakang dan benar saja sosok itu ada disana kini aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Bwahahaha!!!"
"Ayo kemari! Aku tak takut denganmu! Kau.... tak boleh menyentuh janin yang ada dalam kandunganku!!"
"HWAA!!"
Aku mengeluarkan kerisku lalu menusuknya, tapi tak berhasil jadi aku hanya bisa menyayat sosok itu dia terus datang, menghilang, lalu datang lagi terus menerus lama kelamaan kepalaku mulai pusing dunia serasa berputar jika terus seperti ini maka aku akan pingsan.
Jangan menyerang rupanya yang menyeramkan, tetapi seranglah tubuh aslinya!
"Benar juga, aku harus... menyerang tubuh aslinya!"
"HWAAA!!"
"Ayo kemari kau Leak!!"
Dia datang dengan sangat cepat aku sudah bersiap dengan keris dan saat kuku kuku tajamnya ingin menyentuh perutku aku lansung menyayat wajahnya iapun menghilang secara bersamaan api yang ada pintu masuk Pura itu juga menghilang lalu peti peti kayu yang ada di setra itu menyala dengan sendirinya aku berlari kecil dan masuk ke Pura itu hingga aku melihat tubuh seorang wanita yang tengah duduk di bawah pohon aku mendekatinya kepala wanita itu tak ada entah kemana.
Tusuk lehernya dengan keris itu! Kalian harus menyelesaikannya sebelum semuanya terlambat!
"HWAAA!!"
"Dia lagi! Aku harus cepat! Ayo selesaikan sebelum semuanya terlambat!!"
Aku menancapkan keris itu tepat di tengah tengah lehernya seketika Leak itu terbakar api hitam dan menghilang bersama dengan tubuh itu akupun kembali ke rumah dengan berjalan tertatih tatih hingga ada banyak warga yang mendatangi setra mereka menemukanku suamiku juga ada disana, mereka langsung menghampiriku lalu suamiku menggendongku dan membawaku kembali ke rumah
"Kenapa.... kau bisa.... ada di-"
"Ibu yang memberitahuku" jawab Krisna
"Ibu.... masih hidup?"
"Ya dia masih hidup sekarang istirahatlah, jangan terlalu lelah kasihan bayi kita"
THE END
(Di like ya baca juga novelku tinggal klik profilnya aja bye~)