Pagi ini ibu sedikit aneh di rumah. Tidak seperti biasanya, ibu selalu bangun pagi dan membuatkan aku sarapan pagi. Namun pagi ini berbeda, ibu terlambat bangun dan tidak membuatkanku sarapan. Mungkin ibu sedang sakit? Karena memikirkan ayah yang meninggal kemarin. Aku memakluminya, aku tak menghiraukan sikap ibu yang berubah. Aku harus cepat sekolah.
Sial! Pekerjaan rumah belum selesai karena kemarin rumah sangat ramai berdatangan orang. Aku tak bisa fokus mengerjakan tugas. Semua orang menangis, berduka. Tangisan ibu paling keras. Sekarang siapa yang akan bertanggung jawab jika guru memarahiku karena aku tak mengerjakan sedikitpun pekerjaan rumah ini. Sial! Sial!
"IBUU!" Teriakku menyerukan panggilan ibu.
Ia tak menghiraukan teriakanku. Mau tak mau aku akan mendatangi wanita paruh baya yang sedang mengaduk teh di dapur. Wajahnya begitu pucat dan hanya menantap dinding, hingga tak sadar jika air tehnya tumpah.
"Ibu apakah ibu akan bertanggung jawab jika guru mencoret namaku karena tak mengerjakan PR? Karena tangisanmu ibu, aku tak sempat mengerjakan tugas ini!"
Perlahan wanita yang sedang mengaduk teh itu memutar kepalanya dan menatapku lamat-lamat. Wajah pucat yang tak ada senyum-senyumnya itu mulai membuka mulut.
"Kau... mau jadi anakku?" Ucapnya dengan suara serak.
"Aku anakmu."
"Hihihihi" Wajah datar itu kini tersenyum sangat lebar, sehingga dapat menyobek pipinya.
Apa? Ibu sungguh aneh hari ini. Menyebalkan. Kuraih teh yang penuh itu dan segera meminumnya. Cih... hambar, lalu mengapa ibu mengaduk teh yang tidak ada gulanya ini? Bahkan mengaduk hingga tak sadar airnya tumpah.
DEG!
Jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang. Seolah ada sesuatu di dalamnya. Kenapa sangat terasa sesak, jika begini aku tak bisa keluar rumah. Tolong keluarkan aku dari rumah. Aku tak mau bersama wanita ini. Dia bukan ibuku. Pandanganku mulai kabur, perlahan aku merasakan tubuhku mulai menabrak lantai-lantai dapur.
Saat kubuka mata, aku berada di kamar yang sangat kukenali. Kamarku. Pintu kamar terbuka sedikit, aku bisa melihat keluar dari posisi tidurku ini. Badanku terasa berat sekali, apa yang terjadi padaku? Aku tak bisa menggerakkan tanganku sedikitpun. Dengingan telinga pun tak kunjung berhenti. Aku hanya bisa berbicara dalam hati, sungguh berat sekali untuk membuka mulut. Sudahlah, semakin kupaksa maka dengingan di telingaku semakin nyaring.
Aku berbaring dan hanya menatap ruang depan melalui pintu kamar yang terbuka sedikit. Kulihat ibu sedang menyapu di depan. Bagaimana ibu bisa membawaku ke kamar? Badanku terbilang sangat berat untuk ukuran wanita. Sesekali ibu menatap ke arahku dan tersenyum. Sepertinya depan kamarku sangat kotor, ibu tidak sangat lama menyapu di depan kamar. Jika ada ayah pasti ibu dimarahi karena menyapu pukul 2 pagi. Akhirnya ia selesai menyapu dan pergi ke arah dapur lagi. Badanku yang semula kaku tak bisa digerakkan kini lemas.
Tok tok tok. Suara pintu depan, siapa itu? Segera aku berdiri meskipun sangat letih. Aku terkejut, wanita yang dihadapanku adalah... ibu! Lantas siapa yang ke arah dapur dan menyapu sedari tadi? Ibu yang mengetuk pintu ini wajahnya lebih segar dan tersenyum sambil menangis. Ia sangat kecewa denganku.
"I-Ibu dari mana? di belakang kan nggak ada pintunya? Kok bisa langsung ke depan?"
"Apanya yang ke depan? Ibu barusan pulang dari pemakaman ayahmu! Kenapa kamu ga ikut juga?"
Jika ini ibu, lalu yang dibelakang?
"KENAPA BINGUNG YA? HIHIHIHI, KAN KAMU YANG BERHARAP AYAHMU MATI... SAMPAI SAMPAI PANGGIL AKU."
Suara dari mana? Suaranya sangat dekat, dimana??
"I-Ibu... ayah mati kemarin kan?"
Plak! Tamparan ibu menusuk di pipi.
"Bicara apa kamu?!?? Ayahmu barusan meninggal kecelakaan mobil, menabrak pohon beringin!!"
"..." Sungguh aku tak percaya dengan ucapannya ini.
"Kalau kamu ga ngelakuim hal-hal aneh di kamar sampai bawa-bawa dupa hal ini ga bakal terjadi..."
APAAA? Dupa? Aku yang tak percaya dengan perkataan ibu segera menengok ke kamar untuk memastikan. Ugh! Baunya menyengat bau dupa, menyan, bunga dan... bau darah! Sangat berbeda ketika aku terbangun tadi.
"Tapi ibu..."
"Mulai sekarang aku bukan ibumu!"
"HIHIHIHI.... KAAAAANNN AKU UDAH BILANG, SEKARANG AYO IKUT AKU ANAKKU. HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."